Tag Archive | "Jurnal"

Tags:

Mozaik Gulf 1

Posted on 01 January 2009 by goblog'er

Masih sedang berupaya mengumpulkan serpihan mozaik kehidupan di Gulf. Saya ingin memulainya dari yang ringan-ringan saja. Sebenarnya sesuatu yang tampak kasat mata di depan kita. Jadi bukan sesuatu hal yang istimewa. Hanya saja saat hal itu saya ceritakan pada teman, famili, dan sahabat yang kebetulan hanya bertemu lewat rangkaian kata menjadi sesuatu hal yang baru dan semoga menambah khasanah perbendaharaan hidup mereka. Saya akan mulai cerita soal India pertama kali.

Soal India: Indonesia=India?

Pengetahuan saya soal Gulf sama sekali blank, Nol besar!. Saat menginjakkan kaki di Abu Dhabi yang terpikir masih sebuah pertanyaan,”Apakah saya akan betah tinggal di negeri yang saat musim panas berubah menjadi wajan raksasa yang siap ‘menggoreng’ makhluk yang ada?”. Sekalipun berusaha mencari berbagai jawaban dan beragam pikiran saya kemukakan dalam bentuk intra communication,namun tetap saja jawabannya satu; “Saya Butuh! betah..itu lain persoalan dan lain cerita”. Maka tidak ada itu dalam benak mencari data soal siapa saja yang menghuni Gulf, bagaimana adat isitadat, makanannya apa dlsb. Jadilah saya tidak begitu banyak mempersoalkan dengan siapa saya nanti berhadapan.

Oh ya.., sebelum ke Gulf saya mesti cerita dulu soal film India. India bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Apalagi yang dulu punya kebiasaan Hanging Out depan TPI alias Televisi Pelem India. Saking banyaknya memutarkan film-film dari tanah hindustan ini sampai-sampai TPI dipelesetkan menjadi ikon India banget!. Wajar jika film-film India menghiasi layar kaca kita apalagi saat jam tayang non primetime. Untuk membuat acara sendiri budgetnya gede. Maka jadilah film-film India rajin menyapa kita karena murah meriah dan katakanlah cukup menghibur masyarakat kelas bawah.

Dalam film India masyarakat kecil menemukan kemiripan dengan realitas kehidupan.  Ada tuan Takur sosok yang kaya, jahat, congkak dan licik. Ada polisi culas dan penipu rakyat. Ada pemuda Raj/Raja si miskin yang ingin bahagia dan mencintai Rani,  si jelita yang kaya. Ada politisi korup yang kongkalikong dengan Tuan Takur. Wah serulah! Namun dari semua itu yang paling disukai oleh masyarakat bawah cuma satu sebenarnya. Tuan Takur beserta para konconya PASTI akan KALAH!. Hal yang jarang mereka temukan dalam film Holywood juga pada sinetron-sinetron yang menjual kewahan dan gaya hidup. Hasrat batin para wong cilik akhirnya dapat terpuaskan oleh film-film India yang terasa keberpihakannya pada mereka. Kita seperti sedang menertawakan kehidupan kita sendiri rupanya. India saat itu yang dalam pandangan saya pribadi sendiri dekat di mata juga dekat di hati. Dekat di mata karena saya amati ada yang sampai berulang-ulang film India dengan judul yang sama diputar sampai lecek di salah satu stasiun televisi kita. Saya sampai bertanya mungkin bagian programmer acaranya sudah mengidap Imsonia alias gejala lupa ingatan sementara sampai harus memutar-mutar film itu-itu juga. Dekat di hati karena saya kadung jatuh hati dengan Kajol, lawan main Sakh rukh Khan dalam Kuch-Kuch Hota Hai. Kerlingan sudut matanya bisa membuat saya terpeleset jatuh bangun jadinya.

Soal India: Gulf yang sudah Terwarnai

Sesampainya di Gulf saya mulai tersadar. Saat saya amati tatapan mata, tipikal wajah, gelengan kepala, bahasa yang saya dengar, makanan yang saya temui lengkap dengan kue bola-bolanya, ada sindhu di belahan tengah rambutnya, titik merah di jidat, kalung hitam di leher, gelang tali merah di tangan kiri, dan masih banyak lagi sesuatu yang tidak asing bagi Saya. Gulf adalah negeri pertama yang saya injak selain Indonesia, jadi harus asing buat saya tapi realitasnya berbeda dengan yang dirasakan .

Mengenal India tidak terlalu sulit. Karena secara budaya kita pun sudah banyak mengadopsi cara hidup mereka. Dulu nenek moyang kita menganut agama Hindu dan Budha yang memang berasal dari negeri Hindustan. Saat Islam datang, tidak serta merta hilang 100 persen. Sisa-sisa India masih begitu kuat menempel. Misalnya dari nama-nama orang Indonesia, ada Indra, Wisnu, Jaya, Dewi, Dewa, dlsb. Soal seni dangdut; yang sudah seperti nafasnya masyarakat Indonesia dari mulai diskotek sampai warung kopi,  juga menginduk ke lagu-lagu India. Masakan kari ayam atau chicken curry pun konon berasal dari India. Apakah mungkin ini bisa jadi alasan Indonesia sudah meng- India.

Ternyata bukan hanya Indonesia saja yang terwarnai oleh India tetapi di Gulf pun India aroma India sudah begitu menyengat. Bisa dikatakan denyut nadi Gulf lebih banyak ditentukan oleh ritme gendang para imigran India. Saat winter menjelang dan kebetulan berdekatan dengan pesta Divapali-Diwali, lazimnya mereka menyebutnya sebagai pesta cahaya. Dari toko grosir sampai mall menawarkan aneka produk. Di beberapa zona area perdagangan deretan kain-kain sari dengan aneka corak dan motif dipajang. Toko-toko emas dan berlian biasanya ramai dikunjungi. Motif yang ditawarkan pun sebisa mungkin selaras dengan kain sari yang nanti akan dikenakan. Mereka yang tidak bisa merayakannya di kampung halaman biasanya merayakan pesta Divapali di kota besar seperti Dubai. Tentu hal itu hanya mungkin bagi para imigran India dengan posisi tertentu saja.

Soal India: Lingkup Pergaulan

Dominasi kelompok tertentu akan membawa efek tertentu. Bisa dibilang stereotip terhadap sesuatu yang dominan akan cukup kental. Begitupun dengan imigran India. Wajar saja menurut saya, populasi mereka yang banyak sehingga segala sesuatu lebih mencuat ke permukaan. Di UAE saja, dari sekitar 4 juta penduduk, 1 juta pribumi, 1 juta India, sisanya warga dunia lainnya. Dalam catatan Institut Buruh Migran, India negara kedua terbesar di dunia dalam hal remittance atau penerimaan devisa dari para buruh migrannya. Sampai detik ini saya harus mengacungkan jempol bagi para lelaki India yang rela bekerja jauh ke negeri sebrang, bekerja kasar di tengah sengatan matahari 49 derajat dengan bau yang khas dan dibayar dengan upah yang cukup beli pulsa satu bulan.

Bagi komunitas Indonesia, punya sebutan khas bagi mereka, yaitu; orang bawang. Entah siapa yang memulai. pemberian nama ini bisa jadi karena mereka suka sekali makan bawang dalam resep masakan mereka. Konon bawang adalah pengganti unsur nafsu hewani yang berasal dari tumbuhan. Bagi orang India yang beragama Hindu, mereka adalah vegetarian. Protein hewani salah satu fungsinya adalah memicu ‘nafsu hewan’ manusia. Nafsu hewan ini sebenarnya juga dibutuhkan untuk sex. Nah fungsi bawang itulah pengganti protein hewani agar sex mereka juga tetap tune in.  Maka sejak itulah orang Indonesia menyebut ‘kata sandi’ orang bawang untuk orang India.

Jika hati tidak suka memang akan banyak alasan.  Begitu juga di tempat kerja. Saya harus melihat lebih bijaksana dalam memandang hidup. Mungkin itulah dibalik hikmah sekarang saya berada di tengah-tengah lingkungan kerja dengan aneka suku bangsa dan juga India  salah satunya. Masing-masing membawa karakter sendiri-sendiri. Baik menurut pandangan kita belum tentu baik menurut pandangan bangsa lain, begitu pula sebaliknya. Gesekan sebuah hal yang lumrah dalam sebuah lingkup pergaulan, tinggal bagaimana kita bisa menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam hal menaklukan emosi dan ego kita sendiri, dan itulah sejatinya sebuah pergaulan.  

Hal lainnya saya melihat mereka cukup agresif dalam berbagai hal. Kecakapan berbicara dan punya mental yang cukup kuat. Agresif bagi masyarakat Indonesia sesuatu yang kurang bisa diterima. Budaya kita lebih banyak kesandung dengan urusan perasaan. Inilah rootcausenya. saya bisa ambil contoh dalam pemilihan ketua RT. Untuk mencari siapa yang mau jadi ketua itu akan butuh berhari-hari. KIta lebih memilih sebagai save player dengan kursi yang empuk dan nyaman. Saya pernah ikut dalam sebuah training team building. waktu itu setiap kelompok diminta menentukan siapa yang akan jadi leadernya. Belum sempat kita berbicara dan baru mulai salaing pandang, teman saya yang India sudah mengacungkan jari. “Saya saja leadernya!”

Saya tidak ingin mengajak berpikir negatif untuk hal ini. Mengeneralisasi persoalan untuk menggalang opini negatif hanya melahirkan bola salju yang membesar dan menggelinding menghancurkan siapa saja yang ada di hadapan. Jadi urusan suka dan tidak suka buat saya itu personal.  Lebih baik saya menulis bagaimana kegagapan saya berkomunikasi bahasa tubuh dengan mereka.

Soal India: Bahasa Tubuh

Anda tahukan orang India mempunyai gelengan kepala yang khas? Ya! ini masalah pertama yang saya rasakan dari Inter personal communication. Lazimnya orang akan menganggukkan kepala jika setuju dan menggelengkannya jika tidak. Question; Bagaimana jika setuju dan tidak setuju gelengan kepalanya sama? gelengan kepala India yang khas dengan cara menggoyangkan kepala seperti ada per (spring) di leher kita. Suatu hari saya bertanya kepada rekan kerja. Jawabannya simpel hanya ya atau tidak dengan isyarat tubuh juga boleh. Namun ia menjawab dengan menggelengkan kepala. Saya tanya sampai beberapa kali, tetap saja jawabannya sama, menggelengkan kepala. Saat memesan makanan ke kafetaria, bertanya pada petugas kebersihan, bertemu dengan pegawai bank, mencarter supir taksi, semua sama menggelengkan kepala untuk jawaban ya atau tidak.

Akhir dari semua itu adalah saya temukan kuncinya. Jika ya..ia mengeleng sekali. Jika tidak ia menggeleng dua sampi tiga kali. Jika bingung alias ia sendiri tidak tahu maka ia menggeleng sampai sepuluh kali. Sudahlah, saya harus mempunyai rumus sendiri daripada saya dibiarkan tersesat di belantara kebingungan. Saya persilahkan anda untuk mencobanya menggelengkn kepala saat teman anda bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya simpel, ya atau tidak!.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here