Bagi para pecinta sejati tentu bisa mengetahui bagaimana rasanya bertemu dengan sang kekasih. Perjumpaan adalah momen yang begitu menggelegak seiring dengan riangnya suara hati melatunkan dendang wulan merindu. Iramanya terkadang cepat, riang tak beraturan kemudian pada saat-saat tertentu ia begitu mencemaskan hingga suasana terasa berdebar. Sejuta asa ikut merona seperti menari dalam taman hening dengan semerbak kesturi dan wangi melati yang saling mengejar. Bagi pecinta wajah kekasih adalah cahaya yang dinanti setelah sekian lama gelap mencampakkannya dalam kepliuan. Setelah berjumpa maka setiap detik tak ada yang terlewati selain sebuah harapan yang terus menggelayuti akal dan hati untuk kembali merencanakan perjumpaan berikutnya. Tak ada yang bisa menahan rasa itu, sekalipun ribuan balatentara dikerahkan untuk meredamnya.
Saat ditanya siapakah yang paling layak untuk dicintai? tentunya akan kita berikan pada Ia yang mencurahkan segala bentuk kasih sayang-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Pemurah, yang memberi tanpa meminta imbalan sekalipun sekedar senyuman. Ia yang misteri, Ia yang sembunyi, Ia yang menyimpan keindahan yang tak pernah ada dalam dimensi apapun. Ia yang kekal tak terjerat oleh waktu. Dan Ia Maha segala..Kuperas sekantung hati namun masih tak menemukan hakikat Zat-Nya.
Jika saat hijab terbuka kelak di taman firdaus sana dan Sang Pencipta, dalam metafor keseharian kita seperti bertemu dan diberi kesempatan memandang ‘Wajah-Nya’ sebagai sebuah kenikmatan puncak. On the top of highest peak from everything maka, inginkah kita meraihnya?
Kujejakkan kaki di bumi. kulangkah kaki. meniti jalan-jalan sunyi. Menuju sebuah tempat. Aku percaya langkah-langkah yang aku ayunkan menuju rumah-Nya adalah sebuah mukadimah cinta agarsuatu hari nanti bisa bertemu dengan Sang Khalik. Shalat, yang kita laksanakan 5 kali sehari adalah sebuah ‘mi’raj’ seorang mu’min. Mi’raj dengan analogi berjumpa langsung dengan Sang Khalik. Sebuah hubungan vertikalis tanpa batas atau sekat. Layaknya sebuah perjumpaan. Setiap hari undangan disebarkan lima kali sehari secara terbuka pada semua makhluk. Seperti sebuah ujian dari Sang Maha kepada hamba yang memang ingin rindu berjumpa dengan-Nya.
Maka, tidakkah kita tertarik wahai para lelaki yang merindukan keindahan berjumpa Sang Rabb untuk meniti jalan-jalan sunyi menuju rumah-Nya? Sungguh..perjalanan ini seperti sebuah rekreasi ke kebun-kebun firdaus..mari “Tamasya” ke masjid.
Salam dari tepian teluk Persia,
dari batas empty quarter



