Archive | Geraidinar

Harga Emas Yang Terus Menguat Terhadap Seluruh Mata Uang Kertas

Posted on 09 February 2009 by gobloger

pound1Akhir tahun lalu saya menyajikan prediksi harga emas yang dibuat oleh Citi Group, dan juga prediksi saya sendiri dua minggu kemudian.

 Kali ini saya sajikan prediksi harga emas oleh Merill Lynch pemain utama dunia dibidang corporate finance dan investment banking. Merril Lynch memperkirakan bahwa dalam 12 -15 bulan kedepan harga emas dunia akan mencapai US$ 1,500,-/oz atau naik sekitar 67 % dari harga sekarang.

 

Estimasi Merrill Lynch yang tidak jauh dari estimasi saya ini didasari oleh ketakutan pasar akan terus menurunnya daya beli US Dollar – yang menurut mereka akan berujung pada kenyataan – bahwa daya beli US$ (dan juga mata uang kerttas lainnya) memang bener-bener menurun.

 

Masih menurut Merril Lynch kenaikan ini akan bertahap, dari harga sekarang dikisaran US$ 913/oz akan naik menjadi US$ 1,100/oz pada kwartal ini, kemudian menjadi US$ 1,150/oz kwartal depan dan akan terus beranjak mencapai US$ 1,500/oz kwartal pertama atau kedua tahun depan.

 

Yang menarik adalah, kenaikan harga emas kali ini terjadi ditengah menguatnya US$ terhadap berbagai mata uang kuat dunia. Artinya apa ini semua ?, bila dengan mata uang yang paling kuat di dunia saat ini saja (US$) harga emas terus menanjak – terhadap mata uang lain yang lebih lemah tentu harga emas lebih tinggi lagi kenaikanya.

 

Kita sudah saksikan di Indonesia, harga emas (dan tentu harga Dinar) mencapai titik tertinggi pekan lalu. Di belahan dunia lain-pun demikian. Terhadap mata uang kuat Inggris, harga emas juga mencapai titik tertingginya pekan lalu – lihat illustrasi pada grafik di atas. Grafik yang sama dengan grafik tersebut juga akan kita jumpai pada Euro, Swiss Franc dan Dollar Australlia.

 

Harga emas yang terus menguat terhadap seluruh mata uang kertas ini terus terang menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi saya; saya khawatir prediksi John Naisbitt bahwa orang akan meninggalkan mata uang nasional menuju mata uang privat (benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik) – terjadi lebih cepat dari yang diperkirakannya.

 

Bila hal ini terjadi lebih cepat, sedangkan tangan-tangan umat Islam belum banyak berbuat unttuk menyiapkan system pengganti dari systtem keuangan ribawi…maka bisa jadi belum terpenuhi syarat yang disebutkan disurat Al Hasyr ayat 2 : “…mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

 

Artinya apa ? kalau tangan-tangan kita belum siap berbuat - bisa jadi system yang menggantikan uang kertas bukan system Dinar yang adil – tetapi entah system dhalim apa lagi yang akan muncul. Na’udzubillahi min dzalik.

 

 

Comments (0)

Mumpung Dinar(emas) Lagi Disubsidi Amrik

Posted on 09 February 2009 by gobloger

Sebulan terakhir harga Dinar melonjak diatas 12 % yang disebabkan oleh dua hal, yaitu harga emas dunia dalam US$ yang kembali berada diatas US$ 900/oz dan nilai tukar Rupiah yang melemah sampai Rp 11,750 pada saat artikel ini saya tulis.

Sejak akhir pekan lalu Dinar pada kisaran harga diatas Rp 1,400,000.  Mahalkah Dinar pada kisaran harga ini? Tergantung bagaimana kita melihatnya.

Bila Anda termasuk orang yang beruntung telah membeli Dinar sejak dua tahun lalu pada kisaran harga Rp 800,000 atau setahun lalu pada kisaran harga Rp 1,000,000,- maka harga sekarang tersebut sudah tergolong tinggi. Namun kalau kita melihat kedepan, setahun dua tahun atau bahkan lebih - maka bisa  jadi harga yang sekarang ini masih tergolong sangat rendah. Mengapa ?.

Saat ini harga emas dunia dihitung dan dibeli dengan mata uang fiat yang nilainya sangat dipaksakan. Pemerintah-pemerintah dunia membanjiri ekonominya dengan bail-out demi bail-out agar ekonominya tetap berputar ?.

Dengan apa pemerintah melakukan ini ? dengan menerbitkan hutang baru, dengan mencetak uang baru, dengan memindahkan asset yang buruk dari pihak yang di bail-out ke pemerintah.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan berbagai tindakan bail-out-nya seperti menanam bom waktu. Asset-asset buruk yang mengumpul di tangan pemerintah, hutang yang menumpuk dan uang fiat yang terus dicetak tinggal menunggu waktunya untuk meledak.

Karena yang sangat relevan dengan harga emas dunia adalah nilai Dollar,  melonjaknya harga emas dalam Dollar akhir-akhir ini juga karena para pelaku pasar mulai melihat apa yang ada di bawah permukaan dari pucuk gunung es tersebut diatas.

Subprime mortgage hanyalah pucuk gunung es yang sudah terlihat tersebut diatas; masalah yang berada dibawah permukaan tidak kalah dasyatnya.

Bukan hanya subprime mortgage saja yang sekarang sedang dalam proses menenggelamkan ekonomi ‘titanic’ Amerika. Dari hutang pemerintah dan swasta yang membubung, produk jadi-jadian seperti CDS sampai hutang masyarakatnya dalam bentuk hutang kartu kredit secara keseluruhan dan bersama-sama sedang mengenggelamkan kapal mereka.

Masalahnya adalah ketika nun jauh disana ekonomi ‘titanic’ Amerika tenggelam, pusarannya akan ikut menenggelamkan ekonomi dunia seperti yang dirasakan oleh seluruh dunia empat-lima bulan terkahir. Tidak terkecuali kita yang di Indonesia, bahwasanya Rupiah sekarang berada pada kisaran Rp 11,750 sedangkan tahun lalu hanya sekitar Rp 9,200 – menunjukkan kita tidak bebas dari pusaran ‘titanic’ yang sedang tenggelam tersebut.

Anda yang mulai membeli Dinar setahun dua tahun lalu tentu telah merasakan ini, betapa nilai asset Dinar Anda terjaga (naik significant) di tengah  penurunan asset lain seperti saham yang nilainya anjlog atau deposito uang kertas yang daya belinya menurun drastis.

Bagi yang belum membangun sekoci Dinar ini, kesempatan untuk mulai melakukannya belum terlambat.

Mumpung Amerika presidennya baru, mereka lagi sibuk membangun citranya agar terkesan US$ tetap perkasa, agar ekonomi mereka kelihatan tetap tegar. Dengan apa mereka melakukannya ?, dengan terus menambah hutang, mencetak uang, dan dengan mengumpulkan asset buruk dari  perusahaan-perusahaan swasta yang di bail-out pemerintah.

Ketika mereka melakukan ini, US$ untuk sementara perkasa – dan harga emas dunia untuk sementara tertekan - tertahan dari kenaikan harga yang lebih tinggi.

Artinya apa ini semua ? pemerintah Amerika sejatinya sedang ‘menekan’ harga emas untuk tetap rendah. Tanpa mereka sadari mereka sedang memberikan ‘subsidi’ bagi harga emas dunia.

Jadi meskipun harga emas dunia atau Dinar ini sekarang kelihatan tinggi – sebenarnya harga ini adalah harga yang masih  ‘disubsidi’ oleh pemerintah Amerika dengan presiden baru-nya yang sibuk membangun citra sebagai ‘penyelamat’ ekonomi ‘titanic’ mereka. Ketika mereka tidak kuat lagi ‘mensubsidi’ harga emas dunia, apa yang akan terjadi ? Kita semua hanya bisa menduga-duga tetapi hanya Allahlah yang maha tahu. Wallahu A’lam.

Comments (3)

Tags: ,

Bahkan Investor Besar pun Lari ke Emas

Posted on 09 February 2009 by gobloger

Ada berita menarik yang saya ingin share dengan pembaca situs ini, berita ini dimuat di Blommberg kemarin. Bagi yang tertarik baca beritanya langsung - silahkan klik ke link yang saya berikan ini. Bagi yang tidak sempat baca berikut saya sampaikan inti sarinya.

Dalam sebuah interviewnya  Eric Sprott, Chairman dan pendiri Sprott Asset Management Inc. Canada mengungkapkan bahwa  Amerika baru dalam tahap awal depresi yang akan mendorong harga emas naik lebih dari dua kali dari sekarang - perkiraan dia akan berada pada kisaran angka US$ 2000/ oz.

Pendapat Eric Sprott ini menjadi perhatian dunia karena selain dia mengelola dana yang besarnya US$ 4.5 Milyar; pernyataan-pernyataannya sebelumnya juga banyak yang terbukti. Beberapa bulan sebelum tragedi Lehman Brothers dan Bear Stearns & Co.  misalnya, Eric sudah mengingatkan akan apa yang disebut systemic financial melt down.

Keputusan Eric Sprott yang sejak Maret tahun lalu mulai mengamankan sebagian dana yang dikelolanya ke emas juga terbukti menjadi keputusan yang benar, sejak keputusan tersebut  81 dari Fortune 500 Companies telah mengalami penurunan index sampai 62 %.

Masih dari sumber berita yang sama, sebenarnya bukan hanya Eric Sprott pengelola dana besar yang mulai mengalihkan sebagian dananya ke emas. Di New York ada Green Light Capital, Inc. yang mengelola US$ 5.1 Milyar yang juga sudah mulai membeli emas untuk mengamankan asset-nya.

Pertanyaannya adalah mengapa pengelola dana sekaliber Eric Sprott berpikir untuk mulai mengalihkan dananya ke emas ?. Menurut Eric Sprott, ada kemungkinan segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk menyelamatkan ekonominya akan gagal.

Upaya terbesar dalam menyelamatkan ekonomi Amerika intinya adalah melalui penerbitan hutang baru dalam berbagai bentuknya. Masalahnya sekarang adalah siapa yang akan membeli hutang-hutang baru tersebut ? lha wong seluruh dunia sekarang juga lagi sibuk menyelamatkan ekonominya sendiri.

Sebagaimana prediksi ekonomi pada umumnya, prediksi  Eric bisa benar dan bisa pula keliru. Namun kalau kita invest di emas atau Dinar sekarang - tidak akan ada ruginya - apapun yang terjadi dengan hasil prediksi Eric.

Bila ternyata harga emas melonjak lebih dari dua kalinya dari sekarang (artinya daya beli uang kertas anjlog), kita telah pula menyelamatkan asset kita. Kalau yang terjadi sebaliknya - harga emas turun - kita juga tahu emas atau dinar tidak pernah kehilangan daya belinya. Wallhu A’lam.

 

Comments (0)

Oh Uang Fiat…, Sampai Kapan Engkau Bisa Bertahan…?

Posted on 28 January 2009 by gobloger

Tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapapun, uang fiat yaitu uang yang tidak memiliki nilai intrinsik nilainya terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Hanya saja mayoritas kita tidak menyadari, seberapa burukkah penurunan nilai tersebut.

 Mayoritas kita terkecoh oleh pandangan jangka pendek dimana nilai uang kertas seolah berfluktuasi satu sama lain, kadang naik dan kadang turun. Ini benar kalau yang kita pakai rujukan adalah sesama uang kertas.

 Kaidah menimbang adalah anak timbangan haruslah memiliki berat yang tetap. Kalau kita mau menimbang mentimun di pasar misalnya, kita tidak bisa menimbangnya dengan anak timbangan berupa belewah – karena berat keduanya tidak pasti. Anak timbangan harus pasti dan beratnya teruji.

 Demikian pula menilai daya beli uang kertas; uang Rupiah hanya memiliki nilai relatif terhadap uang US$  misalnya – tetapi daya beli riilnya atau nilai absolutnya tidak bisa ditentukan dengan membandingkan Rupiah dengan US$ - karena keduanya tidak memiliki nilai yang pasti dan teruji.

 Jadi apa yang bisa kita pakai untuk mengukur nilai atau daya beli uang kertas yang akurat ?.  Emas atau Dinar-lah salah satu jawabannya yang paling akurat dan telah teruji selama beribu tahun.

 Selain menggunakan alat ukur yang baku dan teruji, mengukur nilai mata uang juga harus dilakukan dalam rentang waktu yang cukup , misalnya 5 – 10 tahun atau bahkan lebih. Mengapa demikian ?, karena kalau rentang waktu yang digunakan hanya jangka pendek – misalnya hanya dalam tempo satu tahun, orang bisa terkecoh dan keliru dalam mengambil keputusan.

 Perhatikan gambar diatas sebagai contoh. Dalam rentang waktu satu tahun, bila diukur dengan timbangan emas sekalipun (sebagai pembanding nilai yang baku) – maka gejolak nilai mata uang seolah wajar saja.

 Ada mata uang yang nilainya naik dibandingkan emas yaitu Yen (naik 18%); Sementara US$ dan Sing $ relatif tetap (masing-masing ‘hanya’ turun 1% dan 5%). Sedangkan mata uang Euro turun 11%, Rupiah turun 16% dan terparah Poundsterling turun 27%.

 Untuk mengambil keputusan penting, terkait investasi jangka panjang kita sperti biaya pendidikan anak, biaya membangun rumah, biaya kesehatan dan dana pensiun – kita harus menggunakan kacamata daya beli uang dalam jangka waktu yang cukup panjang.

 Perhatikan grafik disamping yang menggambarkan nilai daya beli berbagai mata uang fiat, bila diukur dengan timbangan yang baku berupa nilai emas atau Dinar dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir.

 Dengan mudah kita bisa melihat di grafik bahwa hanya dalam tempo kurang dari sepuluh tahun saja (Tahun 2009 yang kita pakai baru data Januari minggu ke 3), tidak ada satu mata uang fiat-pun yang bisa survive mempertahankan nilai daya belinya.

 US$ yang katanya perkasa, dalam rentang waktu tersebut daya beli belinya terhadap emas tinggal 32 %, sementara Euro tinggal 42%, Yen tinggal 37%, Sing $ tinggal 36%, Poudsterling tinggal 28% dan mata uang kesayangan kita Rupiah tinggal 21% !.

 Bila laju penurunan daya beli uang fiat sepuluh tahun terakhir adalah seperti grafik dan angka-angka diatas; lantas siapa yang bisa menjamin bahwa trend 10 tahun kedepan tidak akan berjalan seperti ini, atau bahkan lebih buruk melihat perkembangan krisis finansial global setahun terakhir ?, Silahkan Anda gunakan asumsi-asumsi Anda sendiri.

 Lantas apa pula pentingnya dua grafik tersebut (untuk grafik lebih detil silahkan click pada grafiknya) pada pengelolaan/perencanaan investasi dan keuangan kita semua ?. Untuk kebutuhan jangka pendek – satu tahun atau kurang misalnya; penggunaan uang fiat bisa jadi masih cukup aman – kalau kondisi finansial secara nasional atau global berjalan tanpa turbulensi yang besar.

 Sebaliknya untuk pengelolaan/perencanaan keuangan dan investasi jangka menengah panjang; Dinar Emas yang dapat mempertahankan daya belinya sepanjang jaman - jelas merupakan salah satu jawabannya. Wallahu A’lam.

 

Comments (2)

Uang Privat Versi John Naisbitt , Versi Sejarah China dan Dinar

Posted on 26 January 2009 by gobloger

Karena masih perkasanya US$ hari-hari ini harga komoditi seperti emas , minyak dlsb. masih terus tertekan atau berarti turun. Di pasar internasional minyak sempat turun 8 % tadi malam dan emas turun sekitar 4%.

 

Harga Emas dan Dinar di GeraiDinar tidak sedrastis ini turunnya karena yang kita perdagangkan fisik, selain faktor trend harga di pasar Internasional – GeraiDinar harus make sure bahwa barangnya bener-bener ada pada harga yang kita cantumkan – inilah maka harga emas fisik di Jakarta khususnya Logam Mulia ikut menentukan harga GeraiDinar.

 

Harga Dinar yang relatif rendah untuk ukuran saat ini (meskipun sangat tinggi dibandingkan dua tiga tahun lalu !), adalah baik bagi proses awal pengenalan Dinar karena Dinar lebih mudah terjangkau oleh masyarakat secara luas.

 

Setelah Dinar menyebar luas di masyarakat dan kemudian digunakan menjadi uang seperti yang kita tawarkan salah satunya dengan M-Dinar, maka fluktuasi harga Dinar terhadap mata uang kertas menjadi tidak terlalu masalah.

 

Harga komoditilah yang menjadi kepentingan kita sesungguhnya – bukan harga uang kertas. Harga komoditi dalam Dinar relatif stabil sepanjang masa – seperti harga kambing yang tetap pada kisaran 1 Dinar sejak zaman Rasulullah SAW 1400 tahun lalu.

 

Sebaliknya kebutuhan hidup kita apabila dibeli dengan uang kertas terus membubung tinggi. Grafik diatas adalah grafik Consumer Price Index untuk segala jenis kebutuhan di Amerika sejak tahun 1800. Bisa dibayangkan tingginya Index harga ini dalam beberapa tahun kedepan karena grafik ini adalah grafik logaritmik.

 

Atas dasar grafik yang dikeluarkan oleh American Institute for Economic Research (AIER) tersebut bahkan ada analis dari warga Amerika sendiri yang memperkirakan uang US$ tidak akan survive sampai tahun 2015.

 

Pertanyaannya adalah kalau US$ saja yang sampai hari-hari ini masih menunjukkan keperkasaannya diperkirakan tidak akan survive; lantas apa jadinya mata uang lain yang relatif lebih lemah ? – tentu peluang survive-nya menjadi lebih kecil lagi.

 

Kemudian apa yang akan menjadi uang pada paska rezim uang kertas ini ?. Menurut John Naisbitt mata uang yang akan datang adalah apa yang disebutnya sebagai mata uang privat yaitu komoditi atau benda riil yang memiliki nilai intrinsik.

 

Komoditi atau benda riil yang memiliki nilai intrinsik apa lagi kalau bukan emas dan perak yang paling sesuai untuk menjadi uang kembali ?.

 

Konsep uang privat yang dicetuskan John Naisbitt tersebut ternyata bukan barang baru.

 

Di China sampai tahun 1927 uang yang banyak beredar adalah ‘uang swasta’ atau ‘private notes’ yang dikeluarkan oleh ‘bank-bank swasta’; yang sejatinya adalah usaha dagang biasa. Private Notes tersebut dapat ditukar kembali menjadi perak ke bank yang mengeluarkannya, dan perak inilah yang menjadi uang masyarakat paling luas di China pada zaman tersebut.

 

Yang terjadi di China dalam sejarah tersebut sangat banyak kemiripannya dengan apa yang terjadi di Dunia Islam pada masa-masa kekhalifahan.

 

Di Islam zaman kekhalifahan dikenal adanya Al-Shuftajah yang bisa dikeluarkan antara lain oleh institusi yang disebut Sharf. Sharf ini adalah sejatinya tempat-tempat penukaran uang, dimana pedagang antar Negara menitipkan hasil jualannya di Sharf negeri tujuan – dan hanya  membawa pulang Al-Shuftajah. Se tiba di negeri asalnya Al-Shuftajah ditukar kembali menjadi emas perak di Sharf yang ada di negeri asal tersebut.

 

Jadi kalau prediksi John Naisbitt benar, bahwa orang akan kembali ke uang privat – maka yang paling siap sesungguhnya adalah umat Islam yang mau belajar dari system keuangannya sendiri. System Dinar dan Dirham bukan hanya teori, melainkan telah ribuan tahun dipraktekkan dengan baik oleh umat ini.

 

Meskipun yang dominan di dunia saat ini adalah masih uang kertas, bukan berarti yang dominan ini yang benar.

 

Meminjam kata-kata Sayyid Quthb dalam bukunya Petunjuk Jalan “ Sementara kepemimpinan dunia masih dipegang oleh pemikiran lain, bangsa lain, pandangan hidup lain…kita harus tetap mengusahakan kebangkitan Islam sejauh apapun jarak yang merentang…..Usaha untuk membangkitkan Islam kembali adalah langkah pertama yang tidak mungkin diabaikan”.

 

Semoga langkah kecil membangkitkan Dinar ini dapat menjadi kontribusi kita dalam upaya membangkitkan Islam kedepan,  sekaligus dalam jangka pendek juga memberi solusi bagi problem umat zaman ini yaitu problem finansial.

 

 

Comments (0)

Dinar Dalam Pecahan Kecil, Mengapa Tidak…?

Posted on 24 January 2009 by gobloger

Sejak saya memperkenalkan Dinar pada hari pertama, orang sudah menanyakan ada tidaknya Dinar dalam pecahan kecil ini.  Soalnya membeli Dinar 1 keping saja harganya sekarang sudah sekitar 1.3 juta, tentu tidak semua orang bisa memilikinya.

 

Sebenarnya Dinar dalam satuan kecil seperti ¼ Dinar; ½ Dinar dlsb. bukan tidak mungkin diproduksi, hanya saja biaya produksinya menjadi terlalu mahal sehingga tidak praktis memproduksi koin Dinar kecil ini.

 

Dengan M-Dinar masalah klasik ini dengan mudah teratasi. Peminat-peminat Dinar dapat mulai memiliki account di M-Dinar walaupun dananya baru cukup untuk membeli ¼ Dinar sekalipun.

 

Caranya sederhana, kunjungi M-Dinar.Com kemudian klik menu Full Web. Di  kiri bawah  dari layar Anda ada menu create an account, klik menu ini dan kemudian ikuti prosedurnya sampai selesai.

 

Setelah Anda aktifasikan Account Anda melalui link atau kode yang dikirim via email; maka account Anda sudah aktif.  Hanya saja kalau Anda belum isi saldo awalnya, maka Anda belum bisa transaksi. Prosedur bagaimana bertransaksi ini dapat dilihat di M-Dinar.Com.

 

Pengisian saldo awal dapat dilakukan melalui pembelian Dinar langsung di GeraiDinar atau dapat dilakukan dengan membawa Dinar yang sudah Anda miliki ke Gerai.  Pengisian saldo awal ini juga dapat dilakukan melalui pemindah bukuan dari account Anda yang lain seperti iQirad, maupun titipan Dinar yang selama ini sudah Anda miliki di GeraiDinar.

 

Dua  lagi masalah terpecahkan dengan M-Dinar ini yaitu pertama masyarakat secara luas bisa mulai memiliki Dinar secara bertahap tergantung dari kemampuan masing-masing. Setelah Dinar menjadi bulatan 1 Dinar, 2 Dinar dst. Pemiliknya dapat mengambil fisik Dinar atau tetap dipertahankan di account M-Dinar sampai waktunya dana tersebut dibutuhkan.

 

Kedua, masyarakat dimanapun berada asal bisa akses internet – dapat memiliki account M-Dinar. M-Dinar tidak mengenal batas wilayah negara, umat Islam di seluruh dunia bahkan yang non-muslim sekalipun dapat memilikinya sebagai uang yang nilainya universal. 

Comments (0)

Tags: , ,

Catatan Akhir Tahun 2008 dan Pengantar 2009 : Insyaallah Dinar Tetap Unggul

Posted on 31 December 2008 by goblog'er

dinar08Tahun 2008 adalah tahun haru biru pasar finansial global yang tentu juga berdampak serius pada pasar Indonesia. Kemarin saya baca di Kompas (31/12) pesan Ibu Menteri Keuangan RI agar tidak menyesali apa yang terjadi di pasar modal di Indonesia sepanjang 2008.

 

Pesan tersebut penting karena Ibu Menteri tentu ingin menyemangati pasar modal yang mengalami keterpurukan luar biasa.  Berdasarkan data harian tersebut IHSG akhir 2008 telah anjlog 51.4% dibandingkan dengan  IHSG tahun sebelumnya.

 

Sementara itu data inflasi (year on year) yang saya akses melalui situs B.I. pagi ini masih menunjukkan posisi inflasi per November 2008 sebesar 11.68% dari yang semula ditargetkan hanya 5%.

 

Di sisi lain Dinar 2008 di GeraiDinar.Com ditutup pada harga Rp 1,345,680/Dinar atau mengalami kenaikan sekitar 23% dibandingkan dengan penutupan akhir tahun lalu yang berada pada angka Rp 1,090,100/Dinar.

 

Apa makna ini semua bagi investasi dan proteksi nilai atas kekayaan Anda ?.

 

Jelas bahwa Dinar emas kembali mengukuhkan keunggulannya ditengah krisis finansial global yang saat ini masih berlangsung, dan belum jelas akan sampai kemana krisis ini membawa kita.

 

Kita bisa bandingkan dengan mudah  melalui contoh berikut :  seandainya kita punya uang Rp 3.3 juta untuk investasi akhir tahun lalu; lalu kita bagi tiga uang tersebut masing masing Rp 1,100,000 dan diinvestasikan di saham, deposito dan Dinar, mka menjadi berapa uang kita sekarang ?.

 

Yang di saham, uang kita akan tinggal Rp 534,600. Yang di deposito menjadi Rp 1,177,000 (asumsi bagi hasil bersih 7%) dan yang dibelikan Dinar menjadi Rp 1,345,680.

 

Contoh diatas menujukkan bahwa investasi kita di saham paling tinggi risikonya, sedangkan di deposito cukup aman tetapi hasilnya jelas tidak dapat mengimbangi inflasi.  Dinar selain aman juga jelas dapat mengungguli inflasi.

 

Apakah naiknya harga Dinar dalam Rupiah hanya karena faktor penurunan nilai Rupiah ?. Sebagiannya memang demikian, dan inilah fungsi proteksi nilai itu. Dikala daya beli Rupiah menurun, Dinar atau emas otomatis menyesuaikan nilainya terhadap Rupiah sehingga Dinar tidak pernah kehilangan daya belinya.

 

Tetapi tidak juga hanya terhadap Rupiah; bahkan terhadap US$ yang mengalami penguatan terhadap mata uang kertas lainnya secara luar biasa sepanjang tahun 2008 –pun Dinar tetap lebih unggul. Pada akhir tahun 2007 nilai tukar Dinar terhadap US$ adalah US$ 117/Dinar, akhir 2008 nilai tukar tersebut menjadi US$ 122/Dinar atau masih mengalami kenaikan sebesar 4%.

 

gold08

Dari data harga emas dunia sepanjang tahun 2008, dan nilai tukar US$  terhadap mata uang lain (dalam hal ini Rupiah) seperti yang saya sajikan di grafik disamping kita bisa baca polanya yang cukup jelas. Harga emas bergerak berlawanan dengan nilai tukar US$. Pada saat nilai tukar US$ naik, harga emas turun dan sebaliknya.

 

Koefisien korelasi keduanya berada pada angka sekitar  minus 0.65; artinya jauh lebih sering gerak berlawanan arah ini terjadi dibandingkan dengan gerak yang searah.

 

Pemahaman atas pola ini akan dapat membantu kita memperkirakan apa yang akan terjadi di tahun 2009.

 

Pada tulisan saya pekan lalu tentang permainan uang kertas, saya sudah sajikan grafik supply uang M1, M2 dan M3 untuk US$. M1 yang naik drastis untuk sementara belum berdampak pada inflasi yang serius karena M3-nya masih menurun.

 

M3 menurun karena pinjaman antar bank dan sejenisnya macet yang berdampak pada macetnya industri dan gelombang pemutusan hubungan kerja. System keuangan ribawi mengandalkan proses money creation ini untuk mambangun likuiditas.

 

Singkatnya untuk mendorong ekonomi berputar, M3 akan segera dipompa naik kembali – yang akan berdampak pada penurunan nilai tukar US$ terhadap mata uang lain. Berdasarkan grafik diatas, kalau US$ turun – emas naik, maka inilah yang insyaallah akan terjadi di tahun 2009 ini.

 

Ada banyak analis yang tidak sepaham dengan analisa saya ini tentu, dan ini wajar saja – namanya juga analisa hasilnya tidak harus sama.

 

Namun yang ingin saya komentari adalah pendapat analis yang menyatakan bahwa, tahun 2009 ini ketika ekonomi mulai pulih dan bursa saham kembali bergairah – maka dana investasi akan kembali mengalir menuju bursa saham dan mengurangi dana yang diinvestasikan ke emas – dampaknya harga emas akan turun.

 

Meskipun analisa tersebut mungkin juga benar, tetapi pendapat saya sendiri tetap sebaliknya. Mengapa ?.

 

Perusahaan-perusahaan yang tahun 2008 terpukul krisis, baru akan menyampaikan laporan tahunannya ke publik pada  kwartal 1 tahun 2009. Karena selama krisis dapat diduga laporan keuangan perusahaan-perusahaan ini akan lebih banyak buruknya dari pada baiknya, maka setelah para investor melihat laporan-laporan keuangan tersebut  daya tarik untuk investasi di bursa saham akan menurun – bukan menaik.

 

Kalau kinerja perusahaan-perusaahaan publik ini tidak segera membaik di tahun 2009 ini ( dan kemungkinan membaik ini juga kecil karena krisis finansial belum akan segera sembuh), maka dengan apa bursa saham akan menarik investor balik ke saham ? Saya tidak melihat jawaban yang mudah untuk ini.

 

Selama ini memang banyak faktor lain – di luar faktor fundamental kinerja perusahaan - yang dapat mendorong investor berburu saham. Namun setelah apa yang terjadi di tahun 2008 lalu dimana IHSG anjlog 51.4% dan kurang lebih demikian pula index-index bursa saham dunia, maka para investor akan lebih cerdas kedepan.

 

Selamat tahun baru 2009, dan selamat menjadi investor yang cerdas…

Comments (0)

Tags: ,

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur’an dan Al- Hadits

Posted on 31 December 2008 by goblog'er

 

Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur’an yang agung, Allah berfirman :”Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun”. (Al-Kahf 019) 
Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 1,171,725) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A’lam bi showab.

 

Comments (0)

Tags: ,

Perbedaan Inflasi Yang Dhalim Dengan Naik-Turunnya Harga Yang Fitrah

Posted on 31 December 2008 by goblog'er

 

Agak teknis sedikit, untuk menjelaskan inflasi yang dhalim saya akan gunakan rumus yang digunakan para monetarist yaitu M x V = P x Q . Dimana M = jumlah uang, V= kecepatan berputar; P= Tingkat harga dan Q = Jumlah barang dan Jasa.

Apabila uang yang kita gunakan adalah uang kertas yang bisa dicetak terus tanpa ada yang membatasinya, kemudian uang tersebut dengan sistem bunga ‘ditarik’ dari peredaran dan disimpan dalam bentuk tabungan , deposito dan lain sebagainya sehingga membuat sektor riil tidak bergerak; maka harga-harga barang akan naik, ini yang disebut inflasi. 

Apabila kenaikan ini berlangsung terus secara spiral akan dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai hiper inflasi. Inflasi yang terjadi melalui proses demikian adalah inflasi yang dhalim karena didorong oleh kedhaliman pencetakan uang yang tidak terkontrol dan menahan uang dari sektor riil melalui meknisme bunga bank yang ribawi. 

Selain kedhaliman dalam jumlah uang yang berlebihan, kenaikan harga juga bisa terjadi karena penimbunan barang dan monopoli yang keduanya juga terlarang dalam Islam. Inflasi atau kenaikan harga-harga yang dhalim demikian –baik karena jumlah uang yang dicetak berlebihan atau ada tindakan yang tidak adil misalnya dalam penimbunan barang dan monopoli– adalah kenaikan harga yang tidak dibolehkan atau bahkan harus dicegah.

Dilain pihak meskipun kita menggunakan uang Dinar dan Dirham, bunga bank atau riba kita tinggalkan, maka kemungkinan naik-turunnya harga akan tetap ada. Namun naik-turunnya harga bukanlah disebabkan oleh kedhaliman, melainkan karena fitrah perdagangan, yaitu keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Apabila barang yang ditawarkan jumlahnya lebih sedikit dari yang dibutuhkan maka tentu saja harga barang tersebut akan naik. Kenaikan harga yang demikian inilah yang juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW tidak mau menghentikan atau mempengaruhi kenaikan harga ini sebagaimana kita bisa lihat dari Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut :

Telah meriwayatkan dari Anas RA., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta’” .

Naik-turunnya harga yang fitrah penyebabnya murni supply and demand, dalam jangka pendek bisa berfluktusi tergantung posisi supply and demand tersebut – tetapi jangka panjang akan cenderung stabil. Stabilitas tercipta oleh mekanisme pasar itu sendiri, yaitu pada saat supply berlebih, harga akan turun – produsen akan mengerem produksinya. Sebaliknya pada saat demand berlebih, harga akan naik – yang mendorong produsen untuk menambah produksi yang kemudian menambah supply dan dampaknya akan mendorong harga turun kembali. 

Dari penjelasan diatas, persamaan pertukaran atau equation of exchange M x V = P x Q dapat dipakai untuk menyimpulkan secara sederhana, mana kebijakan moneter yang fitrah dan memakmurkan rakyat dan mana kebijakan moneter yang dzalim dan menyengsarakan rakyat. Apabila pemerintah mencetak uang, tetapi tidak berdampak pada naiknya ketersediaan barang dan jasa (Q) maka pasti harga(P) yang naik, berarti upaya pemerintah mencetak uang menjadi musibah bagi masyarakat karena inflasi akan menaikkan harga-harga seluruh barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ini yang terjadi di sistem uang fiat yang dianut oleh seluruh pemerintahan di dunia saat ini.

Apabila pemerintah dapat mengendalikan jumlah uang yang ada (M) pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan produksi barang dan jasa, maka jumlah barang dan jasa (Q) naik sementara M relatif tetap, maka pasti harga-harga (P) akan turun, inilah kebijakan pemerintah yang akan memakmurkan rakyat. Ini bisa terjadi apabila uang Dinar dan Dirham dipakai.

Comments (0)

Tags: ,

Ilmu Moneter Yang Menghancurkan dan Yang Memakmurkan…

Posted on 31 December 2008 by goblog'er

 

Kali ini saya tidak specifik menulis masalah Dinar, tetapi sedikit lebih makro yaitu sistem moneter yang kita berada di dalamnya. Ini penting agar kita tahu big picture-nya, konsep ekonomi alternatif seperti apa yang bisa dibawakan dengan Dinar dan Dirham.

Tanpa kita sadari ilmu ekonomi yang berkembang di negeri ini adalah ilmu ekonomi kapitalis yang ribawi, sehingga yang benar menurut teori ekonomi tersebut sering justru terlarang dalam Islam. Berikut adalah contohnya.

Para ahli moneter abad ini misalnya menjelaskan hubungan antara jumlah uang beredar dengan Produk Nasional Bruto atau Gross National Products (GNP) dengan menggunakan rumus persamaan pertukaran atau equation of exchange sebagai berikut :

M x V = P x Q

M = Jumlah uang beredar dalam satuan waktu tertentu
V = Kecepatan perputaran uang rata rata atau berapa kali rata-rata setiap uang berpindah tangan dalam satu tahun
P x Q = Nilai uang pembelanjaan di suatu wilayah negara 
P = Tingkat harga yang berlaku di suatu Negara pada tahun tersebut
Q = Tingkat output riil dari parang dan jasa

Aplikasi rumus ini kami sederhanakan agar dapat digunakan untuk menjelaskan masalah moneter dan perekonomian yang komplek dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Dengan aplikasi yang sederhana dari rumus ini pula tidak harus diperlukan pengamat ekonomi dengan gelar berderet untuk bisa menjelaskan apa yang sedang kita hadapi, bahkan orang kebanyakan yang mengerti arti sebuah persamaan matematis sederhana akan dapat memahami fenomena ekonomi yang sedang kita jelaskan ini.
Dalam satu persamaan linier M x V = P x Q, apabila sisi kiri naik maka otomatis sisi kanan naik. Misalnya negeri ini mencetak uang kertas terus menerus, maka M akan naik. Hal ini tidak harus berdampak negatif apabila uang tersebut dipakai untuk membiayai sektor riil sehingga Q (output) naik. 

Kenaikan uang yang diikuti kenaikan output akan membuat harga relatif tetap artinya masyarakat bisa membeli kebutuhannya dengan harga yang tidak naik. Namun apabila uang yang dicetak tersebut hanya berputar di sektor finansial, menjadi tabungan, pinjaman antar lembaga keuangan, sertifikat bank sentral dan sejenisnya dan tidak dipakai untuk membiayai sector riil, maka Q tetap dan sebaliknya P atau harga-harga akan naik.

Inilah isu serius yang terjadi di Indonesia dan di seluruh Dunia yang menggunakan saat ini seluruhnya menggunakan uang kertas.

Tahun lalu ketika saya menulis buku “Mengengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham” dan melakukan riset kecil-kecilan, Saya peroleh data yang valid dari BI bahwa saat itu dari Rp 272 trilyun uang yang ada di Indonesia, yang benar-benar beredar ternyata hanya sekitar Rp 9 trilyun sedangkan Rp 263 trilyun tersimpan di pundi-pundi BI dan perbankan laainnya. 

Dalam situasi ini pencetakan uang yang dilakukan terus menerus tidak menimbulkan kemakmuran bagi rakyat kebanyakan, malah menyengsarakan karena harga-harga terus menaik (disebut inflasi) sementara penghasilan belum tentu naik. Penghasilan rata-rata penduduk kemungkinan besar tidak naik karena tidak bertambahnya sector riil yang memproduksi sesuatu - artinya tidak ada tambahan kegiatan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja atau menumbuhkan kesempatan bekerja atau berkarya.

Dalam ekonomi yang bersifat ribawi dimana bunga bank dianggap ‘halal’; maka ada kecenderungan masyarakat atau institusi yang memegang uang untuk memilih menaruh uangnya di bank dalam bentuk tabungan, deposito dlsb. Dan setiap kali akan menggunakan uangnya untuk menggerakkan sektor riil akan selalu dibandingkan dengan bunga yang bisa diperoleh apabila uangnya disimpan di bank. 

Semakin suram prediksi ekonomi, semakin takut orang berinvestasi di sektor riil dan semakin banyak yang menaruh uangnya di bank saja karena dianggap aman. Dari pihak bank juga akan terdorong untuk menambah jumlah uang yang beredar dengan pinjaman, tetapi uang ini mutar balik ke bank karena tertarik oleh bunga atau interest– artinya pinjaman tersebut tidak menggerakkan sektor produksi. Karena ini terjadi terus menerus maka akan terjadi spiral penghancuran sector riil yang diitandai dengan membubung tingginya harga-harga dan membengkaknya simpanan di bank yang tidak bisa disalurkan – inilah situasi menjelang krisis yang dikawatirkan banyak pihak. 

Sejauh dalam sistem ekonomi dimungkinkan uang menghasilkan uang, maka akan ada tendensi salah satu pelaku ekonomi menghindar dari perannya untuk berproduksi dan memilih bermain di pasar uang dan investasi di sektor keuangan – bukan sektor riil. Apabila hal ini dilakukan oleh banyak pelaku pada kurun waktu tertentu maka disinilah kehancuran ekonomi itu terjadi. Proses terjadinya penghancuran ekonomi dari dalam atau atau self destructing economics dapat digambarkan seperti di illustrasi dibawah.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Al-Baqarah 276)

Kalau teori ekonomi moneter kapitalis ribawi yang di anut di negeri ini menghancurkan dirinya sendiri, lantas bagiamana solusinya dari Islam ?

Teori bisa sama tetapi apabila diterapkan dalam lingkungan yang berbeda dan sistem yang berbeda hasilnya bisa bertolak belakang 180 derajat. Mari kita gunakan teori yang sama M x V = P x Q untuk menjelaskan sistem ekonomi berbasis Dinar dan Dirham (uang emas atau perak Islam) dan bebas riba dimana bunga bank dianggap haram (dan memang haram !). Teori ini kami sebut ’Teori Kwantitas’ (dibaca teori kwantitas dalam tanda petik), karena teori kwantitas yang asli tidak pernah dimaksudkan untuk diaplikasikan pada Dinar dan Dirham serta lingkungan yang bebas riba.

M relatif tidak naik karena Dinar atau Dirham tidak seperti uang kertas yang bisa dicetak kapan saja. Untuk mencetak Dinar diperlukan emas asli yang tentu jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan hanya ada sekitar 150 ribu ton emas diseluruh dunia saat ini dan setiap tahunnya diperkirakan hanya bertambah sekitar 1.5% dari penambangan emas di seluruh dunia. Perak memang jumlahnya tentu lebih besar dari emas, namun juga terbatas.

Dengan scenario Allah yang telah membuat emas dan perak yang jumlahnya terbatas dan tersebar relatif merata di seluruh dunia – bahkan Amerika Serikat pun yang menganggap dirinya negara adikuasa hanya menguasai sekitar 8,000 ton emas saja atau 5.3 % dari emas dunia – maka seharusnya kemakmuran-pun merata.

Dengan tidak naiknya M, sementara Q atau output harus naik secara gradual sejalan dengan pertumbuhan penduduk dunia dan P relatif tetap (harga barang-banrang apabila dibeli dengan emas akan cenderung tetap dalam jangka panjang), maka harus ada yang bergerak mengimbangi gerakan Q atau output. Tinggal satu faktor yang belum bergerak yaitu V, disinilah rahasianya ekonomi Islam mengapa Islam sangat mendorong perputaran uang yang cepat dari satu tangan ke tangan lainnya. Lebih jauh lagi perputaran ini harus luas tidak hanya berputar di golongan tertentu saja sesuai Ayat Al-Quran 59:7 “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…”.

Segala kebutuhan manusia, termasuk jumlah emas di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan mata uang penduduknya, ternyata juga sudah diatur sedemikian rupa sesuai scenario Allah SWT sehingga akan selalu mencukupi. Diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an QS 54: 49 “ Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Hal ini juga bisa dibuktikan dari satitistik jumlah penduduk dunia dibandingkan dengan jumlah emas yang tersedia sebagaimana yang sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya.

Cepatnya perputaran uang dalam ekonomi Islam ini juga digambarkan dalam suatu Hadits dimana Rasulullah SAW suatu pagi selesai sholat subuh buru-buru pulang kemudian balik lagi ke Masjid untuk melanjutkan dzikir dan doa’nya. Ketika sahabat ada yang bertanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia tadi buru-buru karena ingat ada uang tiga Dirham yang belum disedekahkan.

Pada hadits lain dari Abu Huraira : Rasulullah SAW bersabda , “ Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah tiga hari tidak tersisa satu Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku”. (HR. Bukhari)

Dua contoh diatas menggambarkan seberapa cepat uang seyogyanya berputar diantara kaum muslimin. Apabila uang tersebut uang kecil putaran ini ukurannya satu hari, apabila uang besar atau kekayaan yang banyak maka putarannya tiga hari. Artinya uang bagi kaum muslimin hendaklah terus bergerak, baik itu untuk konsumsi, di sedekahkan/diinfakkan ataupun diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Menyimpan uang Dinar dan Dirham secara berlebihan diluar konteks ketahanan ekonomi tidak termasuk yang dianjurkan, penyimpanan Dinar dan Dirham akan terkena ‘penalty’ berupa zakat apabila Dinar dan Dirham tersebut telah melebihi nisabnya dan disimpan dalam waktu satu tahun. Oleh karena itu bagi yang mendapat amanah untuk mengelola harta anak yatim-pun, juga sangat dianjurkan untuk memutarnya secara hati-hati untuk kegiatan produktif karena apabila tidak maka harta tersebut bisa tergerus terkena zakat dari tahun ke tahun .

Berbeda dengan ekonomi konvensional, dimana orang yang menabung mendapat hadiah berupa bunga bank, di Islam menimbun diharamkan. Uang harus dikembalikan ke fungsi aslinya yaitu sebagai alat tukar, uang tidak boleh menghasilkan uang, tetapi produksi-lah yang menghasilkan uang. Apabila hal ini diikuti maka akan terjaga kestabilan ekonomi. Hal ini bisa juga kita demonstrasikan menggunakan rumus persamaan pertukaran M x V = P x Q dengan penjelasannya sebagai berikut :

Apabila ada kekawatiran ekonomi akan memburuk kedepan, maka orang tidak terdorong untuk berinvestasi, karena menabung berlebihan bukanlah pilihan(tidak ada insentif bunga dan malah terkena zakat), maka pilihannya tinggal di konsumsi atau disedekahkan. Pilihan untuk konsumsi atau sedekah ini akan menaikkan apa yang disebut aggregate demandterhadap produk barang dan jasa. Aggregate demand atau permintaan keseluruhan barang dan jasa yang naik akan mendorong produksi dan tentu akan menarik kembali pemilik dana untuk berinvestasi dan ekonomi akan membaik kembali sebelum sempat menjadi buruk. Putaran stabilitas ekonomi ini disebut Self Balancing Economics yang dapat diilustrasikan seperti gambar disamping.

Nampaknya sunatullah kestabilan ekonomi mengikuti sunatullah kestabilan alam semesta seperti beredarnya bulan pada bumi, dan beredarnya bumi pada matahari dan suterusnya. Nampaknya ini pula hikmahnya mengapa kita diminta memutari Ka’bah atau tawaf setiap kali kita ke baitullah, agar sebagai khalifah di muka bumi kita bisa menjaga kestabilan, kelestarian dan kemakmuran pendghuninya antara lain dengan harta yang berputar cepat ini.

Itulah sebabnya, bagian penting dari pergerakan sosialisasi Dinar dan Dirham ini juga harus diikuti sistem investasi Dinar dan Dirham yang tersu disempurnakan. Yang kita lakukan dengan Program Qirad/Mudharabah Dinar adalah baru awal dari yang harus dibangun ini, tugas kita semua untuk menyempurnakannya. Wallahu a’alam.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here