<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Akang Bagja &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.lawangbagja.com/category/catatan-perjalanan/renungan-catatan-perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lawangbagja.com</link>
	<description>Ti mimiti Dina Hiji Wanci</description>
	<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:52:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Syahwat &#038; Takabbur (Abdi Sumaithi)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/06/04/syahwat-takabbur-abdi-sumaithi/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/06/04/syahwat-takabbur-abdi-sumaithi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 01:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Peluang untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) bagi kemaksiatan yang dipicu syahwat, sangat besar sedangkan harapan untuk memperoleh ampunanNya bagi kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, sangat kecil. Sesungguhnya kemaksiatan Iblis berakar pada kesombongan sedangkan ketergelinciran Adam bersumber dari syahwat.&#8221; (Sufyan al-Tsauri)
oOo
Maghfirah, ampunan dari Allah Swt, adalah karunia yang mutlak diperlukan setiap manusia. Tanpa ampunan-Nya manusia akan mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>&#8220;Peluang untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) bagi kemaksiatan yang dipicu syahwat, sangat besar sedangkan harapan untuk memperoleh ampunanNya bagi kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, sangat kecil. Sesungguhnya kemaksiatan Iblis berakar pada kesombongan sedangkan ketergelinciran Adam bersumber dari syahwat.&#8221; (Sufyan al-Tsauri)</p>
<p>oOo</p>
<p>Maghfirah, ampunan dari Allah Swt, adalah karunia yang mutlak diperlukan setiap manusia. Tanpa ampunan-Nya manusia akan mengalami kesulitan menemukan jalan kembalinya yang benar. Akibatnya ia akan menjadi bulan-bulanan setan yang karenanya ia akan tenggelam dalam lautan kesesatan. Karena kasih sayang-Nya-lah ampunan itu diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya. Dengan ampunan itu ia diperlihatkan kebaikan dan keindahan sifat dan perilakunya serta ditutupi keburukan-keburukannya.</p>
<p>Oleh sebab ia merupakan karunia maka semestinya setiap diri ikut aktif berburu meraihnya. Untuk itu Allah Swt memerintahkan kita agar berlomba-lomba merengkuh maghfirah-Nya, “Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid [57]: 21).</p>
<p>Dosa adalah keburukan. Ia adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah Swt. Suatu perbuatan disebut dosa jika memenuhi unsur pelanggaran dan dilakukan dengan kehendak bebasnya, secara sadar, dan atas dasar pilihan bebasnya pula. Sebab setiap manusia memiliki kehendak bebas untuk secara sadar dan otonom memilih sesuatu. Kebebasan memilih inilah yang memastikannya sebagai makhluk moral. Pilihan yang paling mendasar yang ada pada manusia adalah pilihan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Ketika ia dengan kesadaran telah menjatuhkan satu pilihan untuk tidak taat kepada Allah dan diwujudkannya dalam bentuk perbuatan yang melanggar, maka saat itulah ia berdosa. Perbuatan yang dimaksud mencakup segala bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.</p>
<p>Setiap perbuataan dosa yang dilakukan seseorang pasti mempunyai sejumlah implikasi negatif terhadap kondisi psikologis dan sosiologis dirinya. Antara lain dapat mengakibatkan kegelisahan akut dan rusaknya hubungan antarmanusia. Bahkan, jika dosa yang dilakukan suatu bangsa sampai ke tingkat pembangkangan, maka akibatnya bisa jadi bangsa tersebut dilanda kebinasaan. “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS, al-Ankabut [29] : 40).</p>
<p>Akan tetapi jika seseorang melakukan taubat dan kemudian permohonannya dikabulkan, maka ia akan meraih maghfirah-Nya. Sedangkan esensi tuabat, memohon maghfirah, adalah kesadaran seseorang atas kesalahan tentang masa lalu diri nya. Kesalahan itu baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Tuhannya. Menurut Imam Ghazali, taubat memiliki keterkaitan dengan tiga dimensi waktu sang diri. Keterkaitannya dengan masa lalunya adalah dengan menyesali terhadap kelalaiannya dengan mengqadha jika bisa diqadha. Keterkaitannya dengan masa kininya yaitu dengan meninggalkan dosa kelalaiannya. Sedangkan keterkaitannya dengan masa depan dirinya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan (tidak akan melakukan lagi) dosa yang membuat dirinya kehilangan apa yang dicintainya untuk selama-lamanya. Salah satu wujud otentik maghfirah yang diraihnya ialah menghapus implikasi-implikasi negatif dosa sehingga keburukan-keburukannya terkubur.</p>
<p>Hanya Allah yang menerima dan mengabulkan taubat seseorang. Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat al-Ghaffar (Maha Pengampun). Syekh Ibn Qayyim menegaskan ketakterhinggaan ampunan dan kasih sayang-Nya. Allah berjanji akan menghapus semua akibat buruk dosa orang yang telah bertaubat. Bahkan akan mengganti seluruh keburukan dengan kebaikan. Dia akan menggantikan ketakutan dengan rasa aman, kefakiran dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petunjuk. Firman Allah, “Kecuali orang yang bertobat dan beramal saleh, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QA, al-Furqân: []: 70). Akhirnya taubat akan mengantarkan hamba menjadi kekasih Allah. “Sungguh Allah mencintai orang bertobat dan menyucikan diri (QS, al-Baqarah [2]: 222).<br />
Oleh sebab itu seyogyanya setiap individu membiasakan diri unuk selalu memohon ampunan kepada-Nya atas dosa-dosa yang tampak dan yang tidak tampak. Pembiasaan itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, seorang ma’shum, terbebas dari dosa. “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari. (HR al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ciri seorang mukmin sejati salah satunya serius memohon ampunan dan karenanya tidak pernah meremehkaan sekecil apa pun dosa yang dilakukannya. Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau Ra berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan runtuh dan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Ada dua pemicu utama perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Yaitu nafsu syahwat yang tak terkontrol dan kesombongan. Akan sangat berbahaya jika dosa dan kemaksiatan sudah menjadi budaya dikarenakan akan melenyapkan sifat-sifat baik yang melekat pada manusia. Misalnya hilangnya rasa malu. Sedangkan malu merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan itu. Nabi Saw bersabda, “Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Belakangan ini kaum permisif dan adiktif telah mengobarkan gerakan sosial yang dilandasi kebebasan syahwat melalui jargon kebebasan bereekspresi. Mereka secara masif menggalakkan berbagai jenis kemaksiatan. Mulai dari seks bebas hetero dan homo, persetubuhan di dunia maya melalui hubungan telepon dan situs-situas porno, hingga mengisap nikotin dan mengkonsumsi narkoba. Hal itu jelas menunjukkan kecenderungan manusia modern untuk memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan kecenderungan hawa nafsu selalu mengarahkan sang dirri kepada dosa “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan.” (QS Yusuf [12]: 53).<br />
Menurut Ibnu Hazm, jika nafsu syahwat berhasil mengalahkan akal, ia akan diselimuti awan kegelapan. “Hati menjadi buta, dan ia akan setia mengikuti jalan kemungkaran, dan akhirnya terjatuh dalam jurang kehinaan.” Selanjutnya akan menuhankan hawa nafsunya. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya(QS al-Jaatsiyah [45]: 23).</p>
<p>Kendati demikian, dosa kemaksiatan yang dipicu oleh hawa nafsu peluang memperoleh ampunan Allah, jika pelakunya mau bertaubat, sangatlah terbuka. Berbeda dengan kemaksiatan yang dilandasi oleh kesombongan. Orang yang melakukan kemaksiatan atas dasar kesombongannya sangat kecil akan memperoleh ampunan Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya memendam sebiji sawi dari sifat sombong.&#8221; Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya seorang laki-laki menginginkan pakaian dan sandalnya bagus.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai keindahan. Takabbur itu menolak kebenaran dan menghinakan manusia.” (HR, Muslim).</p>
<p>Secara tersirat apa yang dikemukakan Rasulullah Saw tersebut mengingatkan bahwa sombong atau takabbur, yang didefinisikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai sikap menolak kebenaran dan menghina manusia, akan menjadi tabir pemisah antara seorang hamba dengan surga di akhirat nanti. Sebab kesombongan itu, seperti diungkapkan Imam Ghazali, merupakan penghalang antara seorang hamba dengan berbagai akhlak mulia selama di dunianya.</p>
<p>Takabbur atau sombong, dalam makna generiknya semakna dengan ta&#8217;azhzum, yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar, adalah lawan kata dari tawaddu&#8217; atau rendah hati. Para ulama mengategorikannya sebagai salah satu jenis penyakit hati. Banyak manusia yang telah menjadi mangsa penyakit hati ini. Allah Swt berfirman, yang artinya, &#8220;Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.&#8221; (QS, al-A&#8217;raf [7]: 146).</p>
<p>Penyakit hati tersebut umumnya dipicu oleh kesalahan persepsi tentang keberadaan dirinya. Bahwa dirinya memiliki keunggulan yang melakat dalam asal kejadiannya atau dalam etnisitasnya. Iblis menjadi sombong karena merasa asal usul kejadiannya dari bahan yang mulia, yaitu api. Berbeda dengan manusia yang bahannya dari lumpur yang hina. “Allah berfirman: &#8220;Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?&#8221; Menjawab iblis &#8220;Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah&#8221;(QS, al-A’raf [7]: 12.). Orang yahudi juga menjadi sombong karena dirinya secara etnis memiliki keunggulan. “Kami adalah bangsa pilihan Tuhan.”</p>
<p>Kesalahan persepsi dasar tentang dirinya itu kemudian melahirkan sejumlah sikap yang salah pula yang menyebabkan skala kesombongan semakin meluas. Antara lain menimbulkan kekacauan dalam penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia seperti pandangan kemuliaan seseorang terletak pada harta kekayaan yang dimilikinya, meskipun dia itu ahli maksiat. &#8220;Dan mereka berkata: &#8220;Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (dari pada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehandi-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang di kehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga).&#8221; (QS, Saba&#8217; [34]: 35-37)</p>
<p>Ketika kesombongan semakin mengkristal pada diri seseorang, maka takabbur -merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain- akan semakin membumbung. Ia akan sampai ke tingkat merasa dirinya suci. “Janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS, al-Najm [53]: 32). Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar, ia telah melampaui batas hingga menempatkan dirinya pada posisi Tuhan. Orang seperti ini tentu layak dikenai hukuman berat, yang antara lain menjadi terhalang dapat memasuki surganya. Sebab Allah Swt menyatakan, “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kebebsaran adalah selendang-Ku. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyaingi-Ku dalam salah satunya maka Aku akan menyiksanya.” (HR, Muslim). Wallahu A’lam.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/06/04/syahwat-takabbur-abdi-sumaithi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BERDUSTA ITU MELELAHKAN</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/06/02/berdusta-itu-melelahkan/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/06/02/berdusta-itu-melelahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 01:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1003</guid>
		<description><![CDATA[ Setiap manusia, dalam interaksi dengan di luar diri dan lingkungannya, senantiasa mempunyai harapan agar keadaan sejati dirinya diterima dan dihargai orang lain secara layak. Dalam batas yang proporsional, adanya harapan itu merupakan ciri manusia normal. Pada umumnya, harapan yang bersifat intrinsik itu dapat terpuaskan jika realitas dirinya selaras dengan kehendak dan harapan orang lain.
Dalam kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div> Setiap manusia, dalam interaksi dengan di luar diri dan lingkungannya, senantiasa mempunyai harapan agar keadaan sejati dirinya diterima dan dihargai orang lain secara layak. Dalam batas yang proporsional, adanya harapan itu merupakan ciri manusia normal. Pada umumnya, harapan yang bersifat intrinsik itu dapat terpuaskan jika realitas dirinya selaras dengan kehendak dan harapan orang lain.</div>
<p>Dalam kondisi keselarasan seperti itu, interaksi dan komunikasi dengan orang lain di luar dirinya akan berjalan harmonis, wajar, menyenangkan, dan tanpa beban. Sebagai akibatnya, ia merasakan kepuasan dan kenyamanan. Ia tak menemui problem dengan dirinya sendiri.<br />
Masalahnya, tidak selamanya dalam hubungan dengan sesama manusia realitas sejati diri seseorang selalu selaras dengan harapan dan kehendak orang lain. Ada kalanya realitas sejati dirinya justru bertentangan dengan harapan dan kehendak orang lain yang menyebabkan sang diri mengalami disharmoni dalam interaksinya dengan orang lain serta mengindikasikan adanya problem. Dalam kondisi seperti ini seseorang akan merasa tidak nyaman, bukan hanya dengan orang lain, namun juga dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Apabila sang diri menghadapi kondisi yang dirasa tidak ideal, ia akan berupaya mencari cara-cara yang dapat menghilangkan atau meminimalisasi dampak yang tidak menyenangkan yang ditimbulkannya. Boleh jadi dalam hal ini ia harus melakukan dua kemungkinan tindakan ekstrem; menenggelamkan dirinya kepada harapan dan kehendak orang lain meskipun harus bertentangan dengan realitas sejati dan mengorbankan kepribadiannya, atau meneguhkan realitas sejatinya dengan konsekuensi kehadiran realitas sejati dirinya tidak diterima di tengah lingkungannya.</p>
<p>Seseorang yang cenderung ingin selalu mendapat tempat dan memperoleh penghargaan dari orang lain di lingkungannya, memersepsi nilai <span id="lw_1243988973_0" class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">harga diri</span> semata-mata berkaitan dengan penerimaan dan penolakan orang lain terhadap keadaan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan, bahkan cenderung mati-matian berupaya menenggelamkan dirinya ke dalam harapan dan kehendak orang lain. Ia siap untuk melakukan apa saja untuk merengkuh keinginannya itu, termasuk melakukan kebohongan, sampai ke tingkat merenggut otensitas keperibadiannya. Sesungguhnya, bagaimana pun situasi yang dihadapi, seseorang tidak akan berbohong kalau hati nuraninya tidak bermasalah. “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (QS, al-Najm [53]: 11).(Insya Allah ada lanjutannya)</p>
<div> </div>
<div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div>Secara sunnatullah, begitu seseorang melakukan kebohongan, pada saat itulah ia sesungguhnya mulai menanam dan mengembangkan dusta di dalam dirinya. Dikatakan demikian, karena ia dapat menampilkan &#8216;kebenaran&#8217; di mata orang lain melalui &#8216;pembenaran- pembenaran&#8217; yang terjadi secara individual. Ibnu al-Jauzi dalam al-Thibb al-Ruhani menuturkan, bohong adalah sikap yang lahir dari dorongan nafsu demi kecintaannya pada posisi dan harga diri individunya.</div>
<p>Secara psikologis, dusta memerlukan pengerahan energi jiwa yang lebih banyak dan lebih berat. Sebab dirinya harus menghadapi dua tuntutan yang dalam waktu berbarengan harus dipenuhi. Pertama, tuntutan penyelarasan dengan lingkungannya. Kedua, tuntutan dari dalam diri yang senantiasa mencari kenyamanan dan keharmonisan.</p>
<p>Jika pemenuhan kedua tuntutan itu tidak berjalan harmonis, tak dapat dielakkan akan terjadi berbagai konflik kejiwaan yang tak berkesudahan, atau pertentangan- pertentangan jiwa yang melahirkan perasaan ‘exhaustive’ (habis-habisan mencurahkan energi). Malik bin Dinar mengatakaan, “Kejujuran dan kedustaan bertarung habis-habisan di dalam diri seseorang hingga salah satunya bias terpelanting.” Selanjutnya, kemenangan kedustaan atas kejujuran membuat jiwa akan mengalami kelelahan yang amat sangat.</p>
<p>Oleh sebab itu pada hakikatnya dusta <span id="lw_1243988973_1" class="yshortcuts" style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">merupakan bagian dari</span> tindakan melampaui batas yang karenanya akan sangat membebani jiwanya. “..Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (beban dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu&#8221;. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS, Ghafir [40]: 28).<br />
Rasulullah Saw menegaskan bahwa kebohongan akan menjadi beban yang melelahkan kepada pelakunya dalam sabdanya, “…Aku melihat dua orang yang mendatangiku dan mereka berkata, “Orang yang melihat mulutnya dikoyak tadi adalah seorang pendusta. Ia berbohong hingga kebohongannya itu dibebankan kepadanya sampai mencapai ufuk. Ia diberi beban seperti itu sampai hari Kiamat.” (HR, Bukari dan Muslim).</p>
<div> </div>
<div>
<div>Seseorang bisa saja mendustai atau membohongi orang lain, tapi ia tak akan sanggup mendustai semua orang. Sebab jiwanya tidak akan sanggup menyeret beban kebohongannya. Kebohongan <span id="lw_1243988973_2" class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">yang dilakukan</span> oleh seseorang pada orang lain pada dasarnya bagaikan menimpakan butiran batu sedikit demi sedikit pada diri sendiri. Lama kelamaan butiran itu menjadi bongkahan yang menumpuk, menjadi beban yang memberatkan dan semakin rumit untuk dipecahkan. Rasulullah Saw mengingatkan, “Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya hingga dicatat di sisi Allah Swt sebagai seorang pendusta”. (HR, <span id="lw_1243988973_3" class="yshortcuts">Bukhari</span>).</div>
<p>Beban itu pada akhirnya akan memberatkan perjalanan spiritualnya. Dia akan terus-menerus menyeret beban hingga akhirnya terjerumus dalam neraka. “Berhati-hatilah kalian dari dusta,karena dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menyeretnya ke neraka.” (HR, Bukhari)<br />
Oleh karena itu, menyimpan dan menumpuk kedustaan adalah sauatu tindakan bodoh seseorang yang patut diratapi. Semestinya tindakan itu dibuang jauh-jauh. Sebab kebohongan bagaikan upaya menimbuni diri sendiri dengan dosa yang penuh kesia-siaan. Hidup ini terlalu berharga untuk dilalui dan diakhiri dengan kesia-siaan. Wallahu A’lam</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/06/02/berdusta-itu-melelahkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA JIWA-JIWA DAN MALAIKAT MENANGIS (2-tamat)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-2-tamat/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-2-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 18:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika lisan mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orang yang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya, kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alam azali, “Apakah aku Rabb kalian?” dan kita menjawab, “Benar”, akan menjadi rusak pula karena diperkosa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="yiv908320269">
<div>Ketika lisan mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orang yang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya, kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alam azali, “Apakah aku Rabb kalian?” dan kita menjawab, “Benar”, akan menjadi rusak pula karena diperkosa oleh berbagai produk lisan yang menggencetnya. Akibatnya jiwa pun menangis karenanya. Sebab jiwa pada dasarnya/secara orisinil senantiasa cenderung mencari ketenangan, rasa nyaman dan kepuasan.</p>
<p>Kecenderungan itu akan menuntut pencarian pada segala sesuatu di luar dirinya yang mampu menjaga dan berkesesuaian dengan orisinalitas jiwa. Oleh karena itu, jiwa-jiwa pun akan menjerit bila dibombardir oleh produk lisan yang buruk sebab hal itu sangat bertentangan dengan kecenderungannya. Jika interaksi jiwa dengan produk lisan yang buruk berlangsung secara terus menerus, maka orisinalitas jiwa akan tergerus sedikit demi sedikit yang pada akhirnya akan melahirkan insensifitas yang mengancam keselamatannya. Lebih parah jika sampai pada tingkat kesadaran azalinya terbenam oleh ingar-bingar produk lisan.</p></div>
<div>
Sesungguhnya di dalam hati manusia sudah tertanam percikan sifat-sifat “Illahiah”, sifat-sifat maha mulia Allah Swt, telah bersemayam. Dapat dikatakan, semua yang hak, terindah, dan terbaik bersarang di dalamnya. Melalui pemeliharaan yang serius hati manusia bisa terang benderang, bercahaya dengan cahaya dari sifat-sifat- Nya Yang Maha Mulia, Yang Maha Agung, dan Maha sempurna. Medium pemeliharaaan yang paling efektif adalah dengan makrifat, yakni ilmu-ilmu yang berakar pada tauhid, mengesakan Allah Swt.</p>
<p>Selanjutnya dengan makrifat yang terus mekar di hati, cahaya kebesaran Allah, keindahan, dan keagunganNya akan terus memancar. Kesadaran batinnya tentang yang benar dan salah akan selalu hidup. Dengan cahaya itu ia dapat menagkap kemahamuliaan Allah Swt, mengambil dan mengamalkan segala kehendak-Nya, dan melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat, serta menjauhi sejauh-jauhnya segala yang membawa madarat. Memang hati menjadi pusat kebaikan, ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan hakiki.</p>
<p>Hati yang jernih dan sehat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani yang bening. Socrates mengidentikkan suara hati dengan suara peringatan batin yang diaanggapnya berasal dari Allah. Filosof lain menyebutnya sebagai percikan ilahi yang mampu menyediakan pedoman dalam kehidupan.</p>
<p>Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu berpikir positif, betindak bijak, cerdas, dan berbagai sifat-sifat mulia. Dengan hati yang jernih, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih<br />
produktif untuk meraih kemuliaan hakiki. Sebab, seperti dikemukakan para pemikir, manusia yang suara hatinya jernih karena berada dalam wadah hati yang jernih merupakan fakultas akal yang mampu membedakan yang benar dan yang salah.</p></div>
<div> </div>
<div>Akan tetapi hati tidak akan dapat dijernihkan dengan cahaya ilahiah jika ia teralingi oleh nafsu duniawi dan ternodai oleh maksiat. Kecerahannya ditentukan oleh ketulusannya dalam mempersembahkan dirinya kepada Allah yang merupakan tujuan awal bagi manusia dan kesaksian zalinya.</p>
<p>Ibnu ’Atha`illah dalam al-Hikam mengattakan, ”Bagaimana hati dapat bersinar sementara bayang-bayang dunia terlukis dalam cerminnya? Atau, bagaimana hati dapat berangkat menuju Allah sedangkan ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap hadirat-Nya jika ia belum suci dari ”janabah” kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman rahasia-rahasia sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahannya? .</p>
<p>Lebih dari itu hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya dikarenakan ia tempat bersemayamnya iman. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Bahkan ia adalah sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, dan kecerdasan emosional. Dalam kajian sufi hati menyimpan kecerdasan dan sekaligus kearifan yang terdalam bagi manusia. Ia adalah lokus makrifat, genosis, atau pengetahuan spiritual. Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya hati seorang mukmin mampu memuat segala sesuatu yang tidaka dapat dimuat oleh langit dan bumi.”</p>
<p>Oleh sebab posisi hati adalah terminal yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dan alam, maka kejernihan hati dapat menjadikan hubungan itu sehat, baik, dan konstruktif. Hubungan dengan Tuhannya akan penuh ketundukan dan kecintaan. Hubungan dengan sesamanya akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati sehingga menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Hubungan dengan alam dan lingkungannya dengan etik yang menyebabkan tidak menimbulkan kerusakan.</p></div>
<div> </div>
<div>Begitulah posisi strategis hati sangat menentukan kemanausiaan seseorang. Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Ingatlah sesungguhnya pada jasad itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasad. Ingatlah, ia adalah hati.&#8221;</p>
<p>Oleh sebab itu jika hati rusak maka seluruh tata hubungan menjadi rusak pula yang menyebabkan malaikat pun menangis. Dalam kitab al-Tadzkirah fi Ahwal al-Maut wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dari Imam al-Zuhri, Wahab bin Munabbih, dan lain-lainnya. Dalam riwayat itu diceritakan bahwa ketika itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawakan tanah kepada – Nya.<br />
Ketika diambil oleh Jibril, tanah memohon perlindungan kepada Allah dari Jibril, sehingga Jibril tidak jadi membawanya. Hal yang sama juga terjadi pada Malaikat kedua yang diutus. Akan tetapi, tidak demikian halnya pada malaikat yang ketiga. Ia justru berhasil membawakan tanah kepada Allah swt. Lalu Allah bertanya kepadanya, ”Apakah tanah itu tidak memohon perlindungan kepada- Ku dari kamu ?” Malaikat menjawab, ”Ya”. Allah bertanya lagi, ” Kenapa kamu tidak merasa kasihan kepadanya, seperti kedua tanganmu?”. Malaikat menjawab, ”Aku lebih mengutamakan taat kepada Engkau dari pada mengasihaninya (tanah)”. Allah berfirman, ”Pergilah! Kamu adalah malaikat maut, yang aku beri kuasa untuk mencabut nyawa seluruh makhluk ”. Mendengar itu, malaikat menangis. Kemudian Allah bertanya lagi, ”Kenapa kamu menangis?” Malaikat pun menjawab : ” Ya Tuhan, dari tanah ini Engkau ciptakan para nabi dan makhluk pilihan lainnya. Dan, Engkau tidak menciptakan makhluk yang lebih mereka benci daripada kematian. Jika mereka mengenali aku, mereka pasti membenci dan mencaci maki aku”. Wallahu A’lam</p></div>
<div>Abdi Sumaithi</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-2-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA JIWA-JIWA DAN MALAIKAT MENANGIS (1)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-1/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 18:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[ Dalam memahami firman Allah, ظهر الفساد فى البر و البحر Abu Bakar al-Shiddiq berkata, &#8220;Yang dimaksud dengan al-barru adalah lisan sedangkan yang dimaksud dengan al-bahru adalah kalbu. Jiwa-jiwa akan menangis jika lisan seseorang rusak dan Malaikat akan menangis jika kalbu seseorang rusak &#8221; (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)
oOo
Pada umumnya, apa yang keluar dari tubuh manusia adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div> Dalam memahami firman Allah, ظهر الفساد فى البر و البحر Abu Bakar al-Shiddiq berkata, &#8220;Yang dimaksud dengan al-barru adalah lisan sedangkan yang dimaksud dengan al-bahru adalah kalbu. Jiwa-jiwa akan menangis jika lisan seseorang rusak dan Malaikat akan menangis jika kalbu seseorang rusak &#8221; (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)</p>
<p>oOo</p>
<p>Pada umumnya, apa yang keluar dari tubuh manusia adalah sesuatu yang berbau tidak sedap. Mulai dari bau keringat, bau mulut, hingga bau yang satu itu. Hanya beberapa organ tertentu saja yang masih memungkinkan mengeluarkan keharuman. Lisan dengan kata-katanya yang indah, bermakna, dan menyejukkan, akal dengan gagasan-gagasannya yang baik dan bermanfaat, atau hati (qalb dalam bahasa Arab) seseorang dengan niat tulusnya yang melahirkan amal-amal shalih. Apabila lisan, akal, dan hati seseorang tidak bisa mengeluarkan yang baik, maka dapat dipastikan seluruh tubuhnya hanya akan memproduksi bau busuk.</p>
<p>Kenyataannya, apa yang keluar dari akal, lisan, dan hati manusia memiliki implikasi yang sangat luas terhadap dirinya dan orang lain. Rasulullah Saw melukiskan lisan dan hati sebagai kekayaan yang sangat berharga. ”Abdu bin Humaid menceriterakan ketika ayaat 34 surat al-Taubbah (”dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak”) turun kami sedang dalam suatu perjalanan. Kemudian beberapa orang sahabat berkata, ”Ayat tersebut turun berkenaan dengan emas dan perak. Seandainya kami tahu harta yang paling baik, tentu kami akan menyimpannya.” Rasulullah Saw kemudian bersabda, ”Harta yang paling baik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan isteri yang beriman yang membantu suaminya dalam merealisasikan keimanannya” (HR, al-Tirmidzi)</p></div>
<div> </div>
<div> </div>
<div>Tentu saja kenyataan itu harus benar-benar disadari oleh setiap insan. Agaknya ungkapan Sayyidina Abu Bakar tersebut merefleksikan orang yang memiliki kesadaran tinggi tentang implikasi gerak dua komponen diri manusia tersebut (lisan dan hati).</p>
<p>Tak dapat dipungkiri, lidah adalah karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Siapa pun pasti akan mengalami kesukaran untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan keinginannya, kepada orang lain, tanpa melalui lisan. Barangkali lisan termasuk organ tubuh paling utama yang sering beraktivitas dalam keseharian kita. Bahkan dalam banyak hal, apa yang meluncur dari lisan menjadi ukuran kualitas seseorang. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR, Bukhari).</p>
<p>Dari lisan meluncur apa yang disebut ”kata”. Di sini penstrukturan tanda atau bunyi menyimpan makna yang sangat penting dalam proses komunikasi. Dengan ”kata”, sebuah tanda atau artikulasi diri dapat dipahami oleh orang lain. Tanpa ”kata” yang meluncur dari lisan nyaris seseorang tidak dapat merealisasikan keinginan-keinginan nya yang paling fundamental sekalipun yang karenanya ia akan teralienasi dari lingkungan otentiknya. Oleh sebab itu posisi lisan dalam aktivitas kemanusiaan memiliki nilai sangat strategis.</p></div>
<div> </div>
<div>Nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tampak pada ungkapan Rasulullah Saw ketika beliau menjawab pertanyaan Uqbah bin Amir. Dalam satu riwayat Uqbah berkata, ”Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, ”Wahai Rasulullah Saw, apakah jalan keselamatan? Beliau menjawab, ”Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR, al-Tirmidzi) .</p>
<p>”Kata” yang meluncur dari lisan seseorang, implikasi dan pengaruhnya bisa melebihi kapasitas dirinya dan zamannya. Akan menggema dan dapat memantul di semua benua. Banyak ungkapan yang lahir dari lisan seseorang memiliki nilai abadi.</p>
<p>Pada kenyataannya, sebuah keyakinan, gagasan, atau doktrin hanya dapat dipahami melalui rangkaian kata-kata yang pada mulanya meluncur dari lisan. Bahkan sebuah arketip atau pola yang diteladani dapat dipahami oleh manusia pada awalnya melalui kata-kata. Oleh sebab itu nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tak dapat diingkari oleh siapa pun. Dalam sebuah hadits dikatakan, ”Tiada satu pun dari jasad manusia melainkan akan mengadukan lidah kepada Allah Swt atas ketajamannya.” (HR, Abu Dunia).</p>
<p>Aktivitas lisan bisa berefek ganda dan luar biasa pengaruhnya terhadap tata hubungan manusia. Terkadang ia dapat meluncurkan sejumlah kebaikan dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari&#8217;at. Sebaliknya, lisan juga dapat meluncurkan sejumlah kejelekan yang membahayakan dirinya dan orang lain bagi siapa yang menggunakannya secara sembarangan. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR, Bukhari)</p>
<p>Bahaya lisan yang tidak dikendalikan oleh norma dan tuntunan syari&#8217;at bisa menyeret seseorang ke jurang kebinasaan. Untuk itu Rasulullah Saw menasehati agar menjaga lidah dengan baik. Ia menganjurkan untuk bisa diam ketika tidak bisa bicara baik. &#8220;Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah &#8220;. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Oleh sebab ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu menebas leher siapa pun, maka dimensi daya hancurnya kepada kehidupan sangat luas. Rasulullah Saw bersabda:&#8221;Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya&#8221; .(HR, Ibnu Abi Dunya). Bahkan dosa bisa membiak dari lisan. &#8220;Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya&#8221; (HR. Al- Thabrani, Ibnu Abi Dunya, dan Al Baihaqi).</p>
<p>Atas dasar itu kita dapat memahami nilai keutamaan menjaga lidah yang diajarkan oleh Islam. Imam Ghazali dalam Ihya&#8217; Ulumiddin mengatakan, &#8220;Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam &#8220;. Luqman al-Hakim berkata: &#8220;Diam itu adalah kebijakan, namun sedikit sekali orang yang melakukannya&#8221; . Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan &#8221; (HR, al-Thabarani dan Ibnu Hibban)</p></div>
<p>oleh: Abdi Sumaithi</p>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/05/21/ketika-jiwa-jiwa-dan-malaikat-menangis-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TAMBAH ATAU KURANG? (Potret kekinian manusia)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2007/05/20/tambah-atau-kurang-potret-kekinian-manusia/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2007/05/20/tambah-atau-kurang-potret-kekinian-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2007 04:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/05/20/tambah-atau-kurang-potret-kekinian-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[TAMBAH ATAU KURANG? Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;"><a title="profil-jaya-poto.jpg" href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/05/profil-jaya-poto.jpg"><img src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/05/profil-jaya-poto.thumbnail.jpg" alt="profil-jaya-poto.jpg" /></a></span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">TAMBAH ATAU KURANG?</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #00ccff;">Sebuah potret kekinian manusia</span></strong></p>
<p><span style="text-decoration: line-through;">Lawang Bagja</span></p>
<p>Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. <span id="more-92"></span>Saya hanya melihat ini sebuah proses siapa mewarnai siapa. Evolusi tentu meyakini terjadinya perubahan fisik disebabkan rangkaian peristiwa mulai dari adaptasi, survival dan seleksi alam. Dari situlah makhluk mengalami perubahan diam-diam. Seperti sebuah reaksi paralel dimana makhluk yang ada merupakan hasil &#8216;jelmaan&#8217; makhluk sebelumnya. Contohnya pada manusia yang menurut Darwin berasal dari monyet. Kemudian berkembang menjadi monyet yang agak berdiri, monyet yang berdiri tegak, monyet doyan nasi hingga akhirnya monyet yang sudah bisa mikir en&#8217; bisa bikin handphone. Seandainya Darwin benar maka manusia atau monyet menurutnya itu tentu masih berkembang bukan? Mengalami proses adaptasi, survival, dan seleksi alam.</p>
<p>Saya masih mereka-reka &#8216;monyet&#8217; abad mendatang seperti apa. Apa kepalanya besar, jari tangan besar, mata belo, badan dan kaki mengecil. Kepala besar karena terus dipaksa mikir. Trilyunan impuls saraf kita dipaksa berpikir mulai dari urusan kerja, keluarga, anak, bisnis, hobi, ekonomi, politik, dan seabreg lainnya. Manusia sekarang memang cenderung banyak pikiran tapi tidak berbuat. Jari tangan besar karena era sekarang serba era tombol, remote, keyboard seperti laptop yang saya pakai sekarang. Pokoknya tinggal &#8216;klick&#8217; saja!. Sehingga menjadi wajar kemudian diapresiasi ke dalam sebuah film. karena film memang produk budaya. Selanjutnya mata belo, badan dan kaki mengecil. Karena manusia sekarang memang dimanjakan indera penglihatan dan pendengarannya. Lihat saja nanti era TV plasma dan layar monitor ke depan mungkin muncul yang lebih gress. Terakhir badan dan kaki mengecil karena manusia semakin males. Di sini nanti muncul dua jenis. Yang males diet dan yang rajin diet atau ngirit. Tentunya dengan memakai alasan Darwin sendiri bahwa penyimpangan jenis pasti selalu ada. Biasalah..teori kan tidak ada yang sempurna. mungkin begitu katanya.</p>
<p>MANUSIA SEMESTA</p>
<p>Tapi lupakan yang diatas! saya dan anda tentu tidak setuju dengan si Darwin bukan?. yang setuju silahkan membayangkan keturunannya ke depan mengalami proses seperti di atas. Yang tidak, mari kita menyelami potret &#8216;kekinian&#8217; manusia saat ini. Sebuah potret ekosistem dimana bumi yang menjadi sentral kehidupan semesta. Dimana jagat raya dan seisinya dengan milyaran atau bahkan trilyunan galaksi yang berada di dalamnya sedang menunggu kepastian &#8216;kelangsungan cerita dari sebuah planet kecil bernama bumi. Saat bumi hancur maka hancur pula semesta!. Mengapa? karena bumi adalah tempat menetap manusia Dan diatas bumi manusia membuat polah.Bumi menjadi spesial karena didiami makhluk bernama manusia dan nasib bumi tergantung manusia yang mau menjadikannya seperti apa. Kita tahu manusia adalah project akhir yang paripurna dari sekian trilyun hingga tak terhingga makhluk tuhan. Anda jangan berpikir tentang E.T. atau makhluk planet lain yang &#8217;similarly&#8217; seperti manusia. Mengolah, memproduksi, mendistribusi, semua makhluk tuhan yang ada. Lupakan tentang film-film planet serta proyek luar angkasa yang meracuni fikiran kita. Pastikan hanya manusia adalah &#8216;the last product&#8217; and nothing else&#8230;!</p>
<p>Allah menciptakan manusia dalam kapasitas yang luarr biasa. Space memori dan processornya masih belum optimal dipakai hingga saat ini. Hanya baru 1% (satu persen) yang digunakan dan itu sudah mampu mengantarkan manusia ke bulan. Kita memang &#8216;disiapkan&#8217; untuk mengelola semesta. Mengelola bukan berarti menghancurkan. Mengelola juga bukan berarti memanipulasi apalagi menjadi biang kerok kehancuran semesta dan seisinya. Ya!, manakala dunia hancur maka &#8216;ekosistem&#8217; semesta akan hancur pula. Tidak ada kehidupan lagi. Bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa manusia produk terakhir yang Ia ciptakan di atas semesta. Di mana sudah &#8216;dipersembahkan&#8217; alam beserta isinya?. Apa yang kurang jika kita mau berfikir anugerah ang diberikan Sang Pencipta? gas dengan komposisinya yang ideal dimana nitrogen yang <em>mendominasi</em> bukan oksigen. Air yang Ia ciptakan sudah sedemikian rupa bentuk dan jumlahnya. Yang diporos bumi sengaja Ia padatkan menjadi es agar masih tersisa daratan untuk manusia. Di dalam bumi ia jadikan api sebagai inti. Bayangkan, di dalam bumi ada api yang menggelora dan di atasnya permukaan air!. Kita masih bisa hidup dengan nikmat di atasnya. Semuaaa&#8230; yang ada memang untuk melayani manusia. Ya!, kita adalah aktor utama.</p>
<p>TAMBAH ATAU KURANG?</p>
<p>Tanpa disadari fitrah kita sebagai manusia berusaha untuk mengingatkan diri kita sendiri. Seperti film hasil kreasi manusia. Sang sutradara dengan penulis skenarionya bersepakat, aktor utama adalah yang menentukan jalan cerita. Karena ia maka cerita itu ada. Jika aktor utama mati maka habislah cerita. Jadi ia akan terus dijaga agar tetap hidup. Dalam film, sutradara dan penulis skenario pun bersepakat bahwa ending adalah keniscayaan. Durasi membatasi gerak cerita. Tinggal bagaimana menentukan sebuah akhir cerita? bahagia? sedih? tercapaikah tujuannya?. dalam skenario sekarang sudah tidak lagi dikenal alur cerita 3 babak. Sekarang sudah menjadi alur 9 babak. Sedemikian mirip dengan kisah nyata sesungguhnya dengan lakon yang kita jalani sekarang.</p>
<p>Kesalahan manusia yag utama adalah mis persepsi dengan konsep waktu. Kita selalu menghitung maju untuk waktu yang akan datang. besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dekade akan datang, dst. Semua dianggap sebagai masa pertambahan. Bahwa umur kita nambah, harta kita nambah, anak nambah, pokoknya bicara ke depan semua harus nambah!. Di tempat kerja, produksi harus nambah!, di toko, penjualan harus nambah. Gaya hidup juga ikut nambah. Kita memang asik menambah. Dengan asik menambah itulah maka kedengkian, kebencian, rakus dan tamak menjadi lahir. Siapapun tak ada yang mau dikurangi. Negara tak mau berkurang luas wilayahnya, Provisi tak mau berkurang pendapatannya, dst. Sehingga dari persoalan &#8217;sepele&#8217; tambah dan kurang&#8217; inilah gejolak kita lihat dimana-mana. Israel ingin bertambah luas wilayahnya, Palestina tidak mau dikurangi hak miliknya. Amerika ingin bertambah pasokan minyaknya maka mereka kirim pasukan ke Irak, dan masih banyak lagi. Anda bisa mengambil contoh masing-masing.  </p>
<p>Lalu seperti apa konsep sebenarnya tentang waktu? waktu itu selalu berjalan mundur alias berkurang. Seperti saya ibaratkan tentang film tadi, Sang Sutradara sudah menentukan durasi film. Tapi Ia memberi pilihan kepada pemeran utama, akhir cerita apa yang kau inginkan?. Kita saat ini mungkin ada disuatu <em>scene</em> atau bagian dari akhir dari cerita dimana jam tayang sebentar lagi akan habis. Artinya masa depan adalah masa akhir. Ke depan, umur berarti berkurang, kekuatan berkurang, harta kita? berkurang! apakah ada orang mati yang menikmati kekayaan?, semua berkurang.  Maka kurangilah nafsu yang menggelora di dadamu. Buanglah kebencian dan kedengkian di hatimu. Ternyata keharmonisan hidup serta kenikmatannya makanala kita memahami hidup bukan untuk saling menguasai (baca; menambah). Justru dengan saling memberi (baca; mengurangi). Saat semua ingin saling memberi (mengurangi) maka tak ada kekacauan serta hiruk pikuk ketidakpuasan. Ingat!, kita adalah aktor utama. Jika keserakahan dan kedengkian menguasai penduduk bumi serta isinya maka ending cerita dari planet ini sudah demikian dekat. Tak ada lakon utama, cerita pun habis.</p>
<p>Bahwa film ada endingnya itu tentu. Tapi siapa yang tahu ending cerita dari semesta? itulah mengapa Rasul Muhammad yang mulia memberikan tanda-tandanya. Jika kerusakan merajalela, manusia seperti binatang, membunuh dan menguasai, saling menipu dan mencurangi, dst. maka ending sudah dekat. Dan jagat raya menunggu kepastian lakon cerita manusia&#8230;</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2007/05/20/tambah-atau-kurang-potret-kekinian-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Seorang Lelaki</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2007/05/18/pada-seorang-lelaki/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2007/05/18/pada-seorang-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2007 16:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/05/18/pada-seorang-lelaki/</guid>
		<description><![CDATA[Aku bukan seorang gay yang punya kebiasaan suka sesama jenis. Aku lelaki normal semenjak kecil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;"><a title="Sepasang kaki" href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/sepesang-kaki.jpg"><img src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/sepesang-kaki.thumbnail.jpg" alt="Sepasang kaki" /></a><a title="camp akses" href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/camp-akses.jpg"></a></span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Pada Seorang Lelaki</span></strong></p>
<p><span style="text-decoration: line-through;">Lawangbagja</span></p>
<p>Aku bukan seorang gay yang punya kebiasaan suka sesama jenis. Aku lelaki normal semenjak kecil. Hasrat dan nafsu birahiku hanya untuk kaum hawa. Yang memang menyediakan tempat berisi kehangatan dan kasih sayang.  Bukti bahwa aku lelaki normal dan mungkin kelewat normal bisa dilihat dari kegemaranku berpacaran bahkan sudah dimulai dari sejak SD. Masih ingat nama-nama yang pernah mengisi jarum jam hari-hariku. Ada Lis, Yayank, Neng, Icha, Ratih, Dian, Rita, <span id="more-83"></span>dan masih banyak lagi. Sebagian aku sudah lupa.  Kisah yang terjadi bersama mereka tentu macam-macam. Ada yang pacaran sambil ngukur jalan, ada yang hobinya nonton di 21, ada yang suka ngajak ke rumah sakit, ada yang maunya maen ke mall, sampai ada yang hobi maen ke gunung. Kadang kalau dipikir, orangtuanya ngidam apa yah sampai pengen maennya ke gunung segala. Meskipun banyak pacar wanita toh pacaranku sehat. No esek-esek apalgi cipika-cipiki kayak Tukul. Biasa saja. Yang ada hanya getaran sesaat ketika tanpa sengaja pacarku minta di pegang tangannya. Itupun dalam kondisi tertentu misalnya mau loncat atau nyebrang kali. Pokoknya aku lelaki normal! tak ada yang perlu dikhawatirkan dari jiwaku.</p>
<p>Perjumpaan kami dalam dunia maya secara tak sengaja ketika aku sedang menjelajah koleksi video di youtube.  Trend blogger bagi para penggemar audiovisual. Jika ada yang tak punya koleksi video lagu Dian Pisesha era 80 an bisa cari di portal ini. Atau yang gak sempet nonton edisi empat mata nya tukul di Trans 7 bisa juga didapatkan siaran ulangnya. Biasanya yang rajin download itu mas Barrock. Yang blog auvinya lumayan cukup ngepop. Menjelajah di youtube memang menjadi kenikmatan tersendiri. Anak-anak pun suka nge yutub. Mereka cari koleksi videonya ranger, mulai dari edisi ninja ranger sampai ke SPD.  Ada juga yang ngeyutub untuk lihat koleksi &#8216;hot&#8217; gratisan. Pokoknya semua bisa didapatkan di yutub selama tentu ada orang yang mengunggahnya. Semula aku sendiri hanya iseng-iseng sampai pada akhirnya aku menemukan seseorang lelaki. Yang menurutku sangat luar biasa!.</p>
<p>Jarang sekali hatiku tersentuh atau merasa &#8217;hangat&#8217;. Aku bahkan termasuk orang yang ekstrovert dan tidakmudah merasa tersentuh. Semua hal yang ada di depanku  bisa menjadi bahan joke. Ringan saja semuanya tanpa ada sesuatu yang spesial dan serius. Pernah aku merasa tersentuh saat orang tuaku mau pergi haji, Itu saja! itu pun mungkin karena terbawa suasana. karena semua sekelilingku menangis. Namun saat aku menemukan lelaki itu di yutub entah kenapa hatiku merasa bergetar.</p>
<p>Wajah lelaki ini tidak begitu sulit digambarkan. Dalam kamus pergaulan ia bisa digambarkan sebagai lelaki tampan penuh pesona. Tentunya dengan aturan standar yang sudah disepakati. Bisa mulai dari bentuk hidung, pipi, alis, rambut, dan tinggi badan, sampai ke cara berjalan dan bagaimana ia menatap. Ternyata bukan hanya aku saja yang &#8216;menggemari&#8217; lelaki ini. Beberapa anak Adam diam-diam maupun secara terang-terangan mendeklarasikan menjadi penggilanya. Ada yang sampai berdarah-darah sebagai lelaki yang paling setia pada lelaki. Ada yang sebatas bersenandung kidung cinta. Sedangkan aku? aku tidak tahu ada di jenis atau kelas apa. Masih sebatas mencari cara untuk menarik perhatiannya. Entahlah&#8230;aku pun belum begitu mengenalnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2007/05/18/pada-seorang-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TV LOKAL UNTUK SIAPA?</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2007/04/21/tv-lokal-untuk-siapa/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2007/04/21/tv-lokal-untuk-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 10:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/04/21/tv-lokal-untuk-siapa/</guid>
		<description><![CDATA[TV LOKAL UNTUK SIAPA?
Lawangbagja; Likeblueocean
Daerah saat ini memang sedang demam tinggi akibat otonomi daerah. Sedikit demi sedikit dominasi Jakarta yang sudah terlanjur menggurita sedang dicoba untuk dipreteli satu persatu. Daerah ingin membangun kerajaannya sendiri. Wajar, karena mereka selama ini memang hanya penonton pasif dan menjadi objek para kapitalis dalam menaikan rating iklan TV yang notabene [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/dubi.jpg" title="salah satu pojok di dubai"><img src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/dubi.thumbnail.jpg" alt="salah satu pojok di dubai" /></a>TV LOKAL UNTUK SIAPA?</p>
<p>Lawangbagja; Likeblueocean</p>
<p>Daerah saat ini memang sedang demam tinggi akibat otonomi daerah. Sedikit demi sedikit dominasi <span style="background:0 0;cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span> yang sudah terlanjur menggurita sedang dicoba untuk dipreteli satu persatu. Daerah ingin membangun kerajaannya sendiri. Wajar, karena mereka selama ini memang hanya penonton pasif dan menjadi objek para kapitalis dalam menaikan rating iklan TV yang notabene semua hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang itu-itu saja dan ironisnya para pemain itu numplek di <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span>!.<br />
<span id="more-13"></span>Sudah saatnya daerah melihat peluang emas ini dengan hadirnya TV Lokal. Otonomi Daerah bisa ditularkan juga melalui media. Dan terbukti itu bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Saya menggunakan alasan kesejahteraan sebagai alasan utama. Karena memang yang dibutuhkan oleh kita adalah Sejahtera!. Contoh yang nyata jika virus Otda menular ke Media salah satunya di Banten adalah eksisnya Radar Banten!. Sekalipun ia memang bagian dari grup nasional tapi bisa menempatkan sebagai kekuatan media lokal yang ternyata bisa berkembang dengan melahirkan koran lokal lagi. <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Kita</span> hitung berapa orang yang bisa terangkat ekonominya dari koran ini. Mulai dari tenaga adiministrasi, marketing dan tetek bengek lainnya, trus wartawan, penyalur, pengecer, sampai ke tukang pengumpul koran bekas untuk daur ulang. Ini pun berdampak pada institusi pendidikan yang harus bisa menyalurkan anak didiknya. Dan lebih menakjubkan lagi adalah potensi ekonomi dari iklan!.<br />
Rantai ekonomi di dunia yang terlanjur matere ini sangat bergantung erat dengan iklan. Tentunya plus iklan dari Gubernur kita yang cantik itu. (Bu, ditunggu yah satu jutanya..hehehe)</p>
<p>Selama ini jujur saja, saya ngiri kepada para pekerja kreatif di <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span>. mereka mengeksploitasi potensi daerah dengan aneka program wisata, jalan-jalan, kuis tebar mimpi, konflik daerah, sampai ke kriminal daerah pun menjadi anggur manis. Mereka hanya baru bisa berbagi dengan daerah ditingkat kontributornya saja. Selebihnya kita tidak menyadari bahwa setiap hari keringat kita diperas, impian kita dilambung-lambungkan, dan terus &#8216;dibodohi&#8217; oleh berbagai iklan yang belum tentu kita butuhkan. Diskusi-diskusi yang setiap hari bukannya membuat kita pintar malah mengajarkan kita tambah bodoh. belum lagi &#8216;virus seks bebas&#8217; yang tak henti menggedor zakar para pengangguran dipelosok desa. Ya, saya tahu mereka menjual mimpi dari gemerlapnya <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span> dan &#8216;culasnya&#8217; para pemodal entertainment. Saat kehidupan menghimpit, naluri manusia butuh hiburan agar bisa ekstasi sesaat. Seperti hash atau mariyuana, sinetron murahan yang menjual mimpi memang &#8216;obat&#8217; yang bisa membuat fly. <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Kita</span> bisa<br />
lupakan sejenak harga minyak yang tinggi, beras yang selangit, serta antrian panjang gas elpiji. Biarlah tidur kali ini membawa mimpi menjadi &#8216;jutawan dalam semalam&#8217;.</p>
<p>Pernah saya ditanya oleh orang <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Bandung</span>, &#8220;apa perlunya Banten menjadi provinsi kalau orang Banten sendiri korupsi?&#8221;. Saya bingung jawabnya. Daripada susah saya jawab,&#8221; Dari pada uang korupnya dibawa ke <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Bandung</span>, mending uang korupnya disimpan di Banten. Dipakai buat anak cucunya. Trus anaknya bikin perusahaan, rekrut tenaga kerja orang Banten. Jadi, sekorupnya-korupnya paling gak banyak yang bisa makan. Ada jawara buat beking, ada tenaga pencatat hasil korupsi, dsb!&#8221;. Ya, jawaban yang gila memang!, maksud saya jika analogi itu disamakan dengan TV Lokal <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">kira-kira</span> begini; Untuk apa TV lokal? toh pemiliknya orang <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span> juga!&#8217;. &#8220;Sekalipun pemiliknya dari <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span>, dengan ada TV Lokal, tenaga yang direkrut pasti orang lokal. Paling tidak bisa sambil belajar teknologi film yang kedodoran, belum lagi semangat lokalitas yang bisa tersalurkan lewat media audio visual, Iklan sudah barang pasti!, dan topik diskusinya akan lebih membumi, <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Kita</span> bisa nonton para pejabat daerah &#8216;mana yang<br />
yang jelas visinya sama yang tidak&#8217;, anak mudanya gak usah jauh-jauh ke <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span> untuk jadi bintang, ada Banten Star yang mungkin sesuai norma lokal, dan segudang lainnya.</p>
<p>Walhasil, perjuangan TV lokal memang masih panjang. Butuh waktu untuk menularkan ide segar ini ke rakyat Banten yang (maaf) kadang masih agak telmi. Perlu buat kegiatan yang segar dan menarik. Sederhana tapi asik. Sekali-kali wajah nongkrong di depan TV gak apa-apakan? Biar dari desa gak katro gituloh!. Peluang ini masih ditangkap ragu-ragu para pengusaha. Mereka masih mikir, ada gak yah orang Banten yang manteng di TV lokal ini?. Ini pun jadi tantangan bagi para tim kreatif. GMC cukup berani masuk mengisi program. Sekalipun masih sekedar isi contain paling tidak ini sebagai pemanasan. Kabarnya Imaji Multimedia berani ikut mengisi acara di TV Banten. Segmennya untuk anak muda tentunya. Biar anak muda Banten lebih banyak kreativitas dan tidak sering onani lihat artis <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Jakarta</span>. So, Selamat kepada warga Banten yang sudah punya TV Lokal. Jadikan sebagai peluang untuk meraih kesejahteraan.</p>
<p>Salam dari <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Dubai</span>,<br />
Ambasador Rumah Dunia of <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Dubai</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2007/04/21/tv-lokal-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENJADI &#8216;ORANG TUA&#8217;? BISA GAK YAH?</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2007/04/12/menjadi-orang-tua-bisa-gak-yah/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2007/04/12/menjadi-orang-tua-bisa-gak-yah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 14:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/04/12/menjadi-orang-tua-bisa-gak-yah/</guid>
		<description><![CDATA[MENJADI &#8216;ORANG TUA&#8217;? BISA GAK YAH?
Lawangbagja;
Menjadi orang tua ternyata memang tidak mudah. Tidak ada sekolah untuk yang khusus mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang sukses. Terkesan semua seperti trial and error. Coba-coba ah!, kalau yang ini gak mempan pakai cara yang itu. Begitu seterusnya. Padahal tidak seperti itu semestinya. Menjadi orang tua diawali dari sebuah kesadaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENJADI &#8216;ORANG TUA&#8217;? BISA GAK YAH?</p>
<p>Lawangbagja;</p>
<p>Menjadi orang tua ternyata memang tidak mudah. <span id="more-30"></span>Tidak ada sekolah untuk yang khusus mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang sukses. Terkesan semua seperti trial and error. Coba-coba ah!, kalau yang ini gak mempan pakai cara yang itu. Begitu seterusnya. Padahal tidak seperti itu semestinya. Menjadi orang tua diawali dari sebuah kesadaran sang ayah dan ibu. sebuah kesadaran yang bulat, utuh, tiada celah sedikitpun. Totalitas memang dituntut dalam hal ini. Sayangnya hal seperti ini terkadang tidak utuh hadir dalam ruh kita. Coba saja kita lihat bagaimana mudahnya sebuah rumah tangga hancur tercerai berai dengan mudahnya. Dan anak adalah hanya sebatas &#8216;it&#8217; belaka.</p>
<p>Saya ingin mengambil contoh dari kehidupan artis yang menjadi idola. Sebuah trend yang mewabah di masyarakat Indonesia. Rumah tangga mereka memang ditampilkan dalam hidangan entertainment sehingga terasa lezat dinikmati. Seperti gula-gula. Namun tiba-tiba saja dalam bilangan bulan rumah tangga mereka ditampilkan menjadi sebuah adegan tragis dan horor. Cerai!, itu ending dari cerita. Dan uniknya tetap saja itu terasa lezat seolah tidak ada yang menjadi korban. Padahal <em>behind the scene</em> dari cerita tersebut tidak berhenti sampai di situ. Pernahkah kita melongok bagaimana hati kecil anak-anak yang ditinggalkan? Pernahkah kita membayangkan pula perasaan si anak semua dengan telanjang disaksikan di depan jutaan orang. Kemana wajah malu akan disimpan di saat guru, teman sekolah, teman main sudah mengetahui keluarganya telah gagal. Jika kemarin ia masih bisa tidur di samping ayah dan bundanya. Menyaksikan mereka berdua dalam kidung cinta. Sekarang tidak ada cerita manis liburan bersama. semua gelap!.</p>
<p>Saya berargumen bahwa fenomena kawin cerai di masyarakat kita disebabkan kesadaran yang teramat rendah akan jati diri sebagai orang tua. Anak bukan hanya sebagai konsekuensi hubungan biologis semata tetapi lebih dalam dari itu bahwa ia adalah makhluk tuhan yang &#8216;ajaib&#8217;. Saya bingung untuk memilih kata yang mesti saya tulis. Karena kehadirannya memang benar-benar amazing!, menakjubkan. Ruarrr biasa!. Dalam logika, ilmu pengetahuan mana yang bisa mencapai tahapan &#8216;menciptakan&#8217; sebuah makhluk yang sempurna akal dan jasad hanya dari setetes cairan. Yang dalam Al-Quran disebutkan &#8216;cairan menjijikan&#8217;. Kemudian diproses dalam &#8216;inkubator kehidupan&#8217; yang high tech. Dan pada saatnya, ditiupkanlah Ruh oleh Sang Pencipta. Subhanallah&#8230;</p>
<p>Saya lelaki usia 30 tahun, masih berusaha menjadi ayah yang baik. Masih terus mencoba memahami dan mengenali makhluk baru yang hadir di tengah-tengah kehidupan saya. Anak kita memang hadir karena proses keterlibatan kita. Tapi ia bukan milik kita seutuhnya. Jiwa mereka hidup dalam alam yang berbeda dengan kita. Mereka layaknya seperti Peterpan yang terus berkelana dan berlari meninggalkan kita. Dan saya terus terseok-seok mengejarnya. Jangan tinggalkan aku nak!, seolah aku memohon padanya. Saya masih meraba-raba &#8216;border&#8217; yang memisahkan saya dan anak. Mencoba menggali memori masa lalu saya pribadi saat seusianya dan ternyata itu tidak mudah. Dan memang tidak akan bisa sama. Karena hidup dalam zaman yang berbeda.</p>
<p>Kesimpulan yang saya dapatkan sampai saat ini bahwa proses belajar untuk menjadi orang tua tidak akan pernah berhenti. Walaupun dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman namun itu tetap harus dilakukan. Sedinamis mungkin kita menggerakkan imajinasi kita. Bahwa mereka adalah amanah dari Allah SWT itu sudah pasti. Dan mereka mewarisi sifat turunan kita itu pun jelas. Namun apakah anak-anak kita kan menjadi teman nanti di taman firdaus kelak, itu yang belum tahu.</p>
<p>Cinta yang hadir dalam hati ini sudah saya bentangkan dengan  karpet merah sampai ke gerbang firdaus sana. Entahlah nak, bisakah kita bertemu di sana kelak? semoga, Allahumma amien.</p>
<p>Ruwais; 11 rabiul Awal 1428 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2007/04/12/menjadi-orang-tua-bisa-gak-yah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DUNIA YANG BERKASTA</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2007/01/12/siapa-suruh-jadi-tki/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2007/01/12/siapa-suruh-jadi-tki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jan 2007 08:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/04/21/siapa-suruh-jadi-tki/</guid>
		<description><![CDATA[
DUNIA YANG BERKASTA
Lawang Bagja;
Kita adalah berkasta teman. Setidaknya itu yang saya percayai saat ini. Jika di India terbagi 3 sampai 4 kasta, di tempat lain mungkin 5 atau bahkan 7 kasta. Kasta sebagai pembeda status sosial, perlakukan yang diterima, keadilan, skala prioritas bahkan sampai ke urusan cinta. Jika suka nonton film India pasti tema-tema cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="jejak1.jpg" href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/jejak1.jpg"><img src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/jejak1.thumbnail.jpg" alt="jejak1.jpg" /></a></p>
<p>DUNIA YANG BERKASTA</p>
<p>Lawang Bagja;</p>
<p><span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Kita</span></span> adalah berkasta teman. Setidaknya itu yang saya percayai saat ini. Jika di <span>India</span> terbagi 3 sampai 4 kasta, di tempat lain mungkin 5 atau bahkan 7 kasta. Kasta sebagai pembeda status sosial, perlakukan yang diterima, keadilan, skala prioritas bahkan sampai ke urusan cinta. Jika suka nonton film India pasti tema-tema cinta yang dibelenggu oleh kasta mencuat. Si pembuat film sepertinya ingin menyampaikan protes bahwa kita adalah sama. namun apa lacur, dunia memang berkasta dan itu tidak hanya di <span>India</span>!.</p>
<p><span id="more-12"></span></p>
<p>HARTA, TAHTA, &amp; KASTA</p>
<p>Ada 2 sebab paling tidak yang menjadikan manusia berhak berbeda dalam status. Pertama harta atau duit atau segala kepemilikan materi baik sifatnya kolektif atau personal. Yang kedua Tahta atau kekuasaan bisa juga kekuatan fisik, senjata, sifatnya bisa kolektif seperti negara atau individu baik dalam lingkup kecil atau besar. Saya memang tidak memasukan ilmu sebagai alasan untuk berbeda karena ciri berilmu adalah rendah hati, egaliter serta memandang semua adalah sama.</p>
<p><span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Kita</span></span> memang senang berkasta. Keinginan untuk dibedakan baik dari perlakuan maupun pelayanan dalam lingkup pergaulan sosial. Bukan hanya sebatas lingkup individu saja tetapi dalam hubungan antar negara sekalipun. Jangan berharap banyak <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>negara Indonesia</span></span> yang rakyat miskinnya hampir setengah populasi warga negara bisa mendapatkan hak veto di PBB. Itu skala di dunia! Untuk skala <span>Asia</span> terutama di kawasan mid east, <span>Indonesia</span> adalah negeri babu atau pembantu. Yang dalam struktur sosial mereka sendiri sudah dipandang rendah dan &#8216;berhak&#8217; mendapat perlakuan seenaknya. Mulai dari ditampar, dimaki, sampai dipergauli. Jika ada tim independent yang mencari fakta bekas kuburan pembataian manusia di <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bosnia</span> mungkin perlu juga PBB menurunkan tim untuk mencari bekas kuburan bayi-bayi suci hasil perbuatan haram jadah para majikan di <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;">middle east</span>.</p>
<p>Dunia memang berkasta! Jika Amerika kuat dengan teknologi senjata dan berhak memiliki menduduki negara lain tanpa dianggap melanggar hukum itu sah-sah saja. Jika ada yang tidak suka maka mari berhadapan seperti jago tembak Billy the Kids dari <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>texas</span>. Amerika</span> tahu dengan tahta atau power maka ia bisa berbeda!. Tidak aneh anggaran militernya mungkin beberapa kali anggaran belanja negara kita. Langkah itu diikuti Singapura. Negara kecil yang kalau dikencingin rame-rame sama 220 juta penduduk <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span> bakal banjir itu (sebagai anekdot karena kecilnya). Tapi jangan coba-coba untuk urusan militer. Konon, kalau Singapur perang sama <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Indonesia</span></span> mereka bisa menduduki <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Jakarta</span></span> dalam hitungan jam! pesawat tempurnya puluhan kali lebih banyak dibanding <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Indonesia</span></span>.</p>
<p>Keadilan memang berkasta!. Setidaknya hati nurani kita akan berkata. Jika 300 ribu manusia habis mati dibantai oleh <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Serbia</span></span> di <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Bosnia</span></span> dan tidak ada satupun pemimpin <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Serbia</span></span> yang mati digantung. Jika ratusan ribu rakyat <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>Afghanistan</span></span> mati oleh agresor Rusia dan diteruskan oleh ribuan lagi yang mati oleh Amrik and the gangnya maka kepada siapa kita meminta keadilan?. Daftar selanjutnya adalah Irak yang masih terus berdarh-darah. Kemudian Palestina, lebih dari ratusan ribu dimulai dari saat pendudukan 1948 dan pembataian demi pembataian dari shabra, Shatila, <span>Jenin</span>, dsb. Pattaya, Kashmir, <span>Chechnya</span>, dan di semua pelosok negeri. Pun tidak ada yang perlu disesalkan saat Saddam Husein sendiri mati digantung. Karena Saddam memang bukan siapa-siapa dan ia telah menerima sebuah keadilan, begitu <span style="border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span>kira-kira</span></span> kata <span>george bush</span>.</p>
<p> KASTA YANG SEBENARNYA</p>
<p>Tidak ada individu yang senang untuk diperlakukan berbeda namun mungkin seperti inilah dunia kita. Jika Allah menghapuskan nilai-nilai kebendaan dan mengganti dengan nilai-nilai ketaqwaan yang bersifat abstrak sebagai ukuran objektif  dari nilai seorang hamba maka itu adalah jawaban hakiki.</p>
<p>Pada ahirnya dunia memang bukan tempat tinggal sebenarnya. Bukanlah kasta atau kedudukan yang tinggi yang hendak dicapai oleh kita sebagai manusia, tapi nilai dari misi yang kita bawa sebagai pelaku utama di dunia.  Misi yang digambarkan sebagai perjalanan hidup dari titik nol sampai ke titik akhir.</p>
<p><strong>Sebanyak apa kebaikan yang bisa kita taburkan? maka itulah kasta yang sebenarnya&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2007/01/12/siapa-suruh-jadi-tki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DAN SEMESTA PUN BERTASBIH</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2006/12/26/dan-semesta-pun-bertasbih/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2006/12/26/dan-semesta-pun-bertasbih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 10:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahduniadubai.wordpress.com/2007/04/21/dan-semesta-pun-bertasbih/</guid>
		<description><![CDATA[
DAN SEMESTA PUN BERTASBIH
Labbaik  ya Allah&#8230;!
lawangbagja; like Blue Ocean;
Semesta bertasbih pada-Mu
sucikan diri-Mu
lafadzkan Asma-Mu
dst,&#8230;
Lagu opick menjelang shubuh mengalun perlahan. Menemani sahur puasa &#8216;arofah.  Bait lagu opick seperti memaksaku untuk menulis. Saat berjuta manusia berjejal di padang &#8216;Arofah. Ya Rabb, kapan aku bisa mendapat undangan-Mu ke bait Al-Haram&#8230;
                       
Bahwa setiap benda yang bergerak ada energi dan setiap energi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/kabah.jpg" title="kabah.jpg"><img src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2007/04/kabah.thumbnail.jpg" alt="kabah.jpg" /></a></strong></p>
<p><strong>DAN SEMESTA PUN BERTASBIH</strong></p>
<p><strong>Labbaik  ya Allah&#8230;!</strong></p>
<p>lawangbagja; like Blue Ocean;</p>
<p>Semesta bertasbih pada-Mu</p>
<p>sucikan diri-Mu</p>
<p>lafadzkan Asma-Mu</p>
<p>dst,&#8230;</p>
<p>Lagu opick menjelang shubuh mengalun perlahan. Menemani sahur puasa &#8216;arofah.  Bait lagu opick seperti memaksaku untuk menulis. Saat berjuta manusia berjejal di <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">padang</span> &#8216;Arofah. Ya Rabb, kapan aku bisa mendapat undangan-Mu ke bait Al-Haram&#8230;</p>
<p><span id="more-16"></span>                       </p>
<p>Bahwa setiap benda yang bergerak ada energi dan setiap energi memiliki ruh. Sedangkan Ruh seperti selembar kain putih bersih tak bernoda yang ditiupkan ke setiap jiwa. Syaithan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah (tubuhnya).  Ketika ruhani yang bening tidak mampu melihat karena berada tenggelam dalam lumpur tanah, maka yang menggantikan penguasa tubuh adalah syaithan.  Tinggallah ruhani menangis sedih, tak mampu berbuat apa-apa. Seringkali ketika berbuat dosa, ada bisikan halus yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap dosa yang dilakukan oleh tubuh. Pada kondisi tersebut syaithan sebagai pengganti nurani untuk mengendalikan pikiran, perasaan dan bathin manusia. Maka untuk itulah Allah menurunkan jalan yang paling mudah untuk mengembalikan kesadaran jiwa kembali kepada fitrah. Shalat adalah bagian dari konsep &#8216;meditasi&#8217; yang mengembalikan manusia sesuai dengan fitrah-Nya.</p>
<p>Setiap saat ketika berdiri solat wajah menghadap ka&#8217;bah. tempat yang telah menjadi satu ketetapan pencipta alam semesta. Kata ka&#8217;bah sendiri diambil dari ka&#8217;aba yang antara lain artinya <strong>menonjol</strong>. gadis yang baru tumbuh dan menonjol dadanya dinamai ka&#8217;ib. Bangunan yang ditinggikan dasar-dasarnya oleh Nabi Ibrahim dinamai ka&#8217;bah karena ketinggiannya menjadi menonjol dari bangunan lain. Ketinggian ini juga bisa berarti <strong>non fisik.</strong> Dimana ka&#8217;bah sebagai sesuatu yang tinggi di mata bangsa Arab saat itu dan di mata Allah serta kaum muslimin hingga saat ini. karena itu ia dinamai <strong>Bait Al haram,</strong> Rumah yang amat terhormat.</p>
<p>Dinamakan bait yang berarti rumah menjadi sebuah pesan mendalam. seperti hal nya fungsi rumah sebagai tempat beristirahat setelah pulang dari kesibukan serta berbagai tempat melepaskan kegelisahan, maka begitu <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">pula</span> dengan ka&#8217;bah.  Agar manusia kembali ke sana sebagai tempat melepas kegelisahan dari berbagai masalah dunia. sedangkan Al-Haram sendiri pada mulanya bermakna yang dilarang. sesuatu yang terhormat seringkali melahirkan sekian banyak larangan. Seperti halnya menemui seseorang terhormat akan banyak dijumpai hal-hal yang tidak dapat dilakukan seperti bertemu orang kebanyakan. </p>
<p>Dalam teori ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa segala sesuatu di alam raya ini tak lebih dari &#8216;permainan&#8217; energi vibrasi yang berlangsung secara terus menerus. Vibrasi sendiri bisa dipahami sebagai berputarnya sebuah zat/benda. Benda yang berputar tentu menghasilkan <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">medan</span> magnet. Dan itulah yang terjadi pada alam semesta. Bumi berputar pada porosnya. Bulan,matahari, venus, mars, bahkan hingga elektron yang terkecil sekalipun semua berputar. <u><span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;">Medan</span> magnet</u> yang dihasilkan sebagai bentuk kesetimbangan agar semua tetap pada lintasannya sesuai hukum yang telah ditetapkan <strong>SANG PENCIPTA.</strong></p>
<p>Putaran semesta menjadi sebuah bentuk harmoni ketaatan yang ALLAH simpelkan pada miniatur prosesi <strong>thawaf </strong>di seputar ka&#8217;bah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa ka&#8217;bah diibaratkan sebagai porosnya semesta. Kalimat talbiyah labbaik allahumma Labbaik, (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah!) sebuah isyarat pengakuan untuk tunduk terhadap hukum semesta yang telah digariskan. Ya, Rabb..! kenapa lidah ini terkadang kelu dan malas untuk bertasbih pada-Mu. Padahal semua amat nyata senantiasa bertasbih padamu. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha Illallah Wallahu akbar. Maha suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar&#8230;</p>
<p>howgh!</p>
<p>Ruwais, 9 Dzulhijjah 1427H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2006/12/26/dan-semesta-pun-bertasbih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
