Archive | Renungan

Syahwat & Takabbur (Abdi Sumaithi)

Posted on 04 June 2009 by goblog'er

“Peluang untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) bagi kemaksiatan yang dipicu syahwat, sangat besar sedangkan harapan untuk memperoleh ampunanNya bagi kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, sangat kecil. Sesungguhnya kemaksiatan Iblis berakar pada kesombongan sedangkan ketergelinciran Adam bersumber dari syahwat.” (Sufyan al-Tsauri)

oOo

Maghfirah, ampunan dari Allah Swt, adalah karunia yang mutlak diperlukan setiap manusia. Tanpa ampunan-Nya manusia akan mengalami kesulitan menemukan jalan kembalinya yang benar. Akibatnya ia akan menjadi bulan-bulanan setan yang karenanya ia akan tenggelam dalam lautan kesesatan. Karena kasih sayang-Nya-lah ampunan itu diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya. Dengan ampunan itu ia diperlihatkan kebaikan dan keindahan sifat dan perilakunya serta ditutupi keburukan-keburukannya.

Oleh sebab ia merupakan karunia maka semestinya setiap diri ikut aktif berburu meraihnya. Untuk itu Allah Swt memerintahkan kita agar berlomba-lomba merengkuh maghfirah-Nya, “Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid [57]: 21).

Dosa adalah keburukan. Ia adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah Swt. Suatu perbuatan disebut dosa jika memenuhi unsur pelanggaran dan dilakukan dengan kehendak bebasnya, secara sadar, dan atas dasar pilihan bebasnya pula. Sebab setiap manusia memiliki kehendak bebas untuk secara sadar dan otonom memilih sesuatu. Kebebasan memilih inilah yang memastikannya sebagai makhluk moral. Pilihan yang paling mendasar yang ada pada manusia adalah pilihan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Ketika ia dengan kesadaran telah menjatuhkan satu pilihan untuk tidak taat kepada Allah dan diwujudkannya dalam bentuk perbuatan yang melanggar, maka saat itulah ia berdosa. Perbuatan yang dimaksud mencakup segala bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Setiap perbuataan dosa yang dilakukan seseorang pasti mempunyai sejumlah implikasi negatif terhadap kondisi psikologis dan sosiologis dirinya. Antara lain dapat mengakibatkan kegelisahan akut dan rusaknya hubungan antarmanusia. Bahkan, jika dosa yang dilakukan suatu bangsa sampai ke tingkat pembangkangan, maka akibatnya bisa jadi bangsa tersebut dilanda kebinasaan. “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS, al-Ankabut [29] : 40).

Akan tetapi jika seseorang melakukan taubat dan kemudian permohonannya dikabulkan, maka ia akan meraih maghfirah-Nya. Sedangkan esensi tuabat, memohon maghfirah, adalah kesadaran seseorang atas kesalahan tentang masa lalu diri nya. Kesalahan itu baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Tuhannya. Menurut Imam Ghazali, taubat memiliki keterkaitan dengan tiga dimensi waktu sang diri. Keterkaitannya dengan masa lalunya adalah dengan menyesali terhadap kelalaiannya dengan mengqadha jika bisa diqadha. Keterkaitannya dengan masa kininya yaitu dengan meninggalkan dosa kelalaiannya. Sedangkan keterkaitannya dengan masa depan dirinya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan (tidak akan melakukan lagi) dosa yang membuat dirinya kehilangan apa yang dicintainya untuk selama-lamanya. Salah satu wujud otentik maghfirah yang diraihnya ialah menghapus implikasi-implikasi negatif dosa sehingga keburukan-keburukannya terkubur.

Hanya Allah yang menerima dan mengabulkan taubat seseorang. Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat al-Ghaffar (Maha Pengampun). Syekh Ibn Qayyim menegaskan ketakterhinggaan ampunan dan kasih sayang-Nya. Allah berjanji akan menghapus semua akibat buruk dosa orang yang telah bertaubat. Bahkan akan mengganti seluruh keburukan dengan kebaikan. Dia akan menggantikan ketakutan dengan rasa aman, kefakiran dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petunjuk. Firman Allah, “Kecuali orang yang bertobat dan beramal saleh, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QA, al-Furqân: []: 70). Akhirnya taubat akan mengantarkan hamba menjadi kekasih Allah. “Sungguh Allah mencintai orang bertobat dan menyucikan diri (QS, al-Baqarah [2]: 222).
Oleh sebab itu seyogyanya setiap individu membiasakan diri unuk selalu memohon ampunan kepada-Nya atas dosa-dosa yang tampak dan yang tidak tampak. Pembiasaan itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, seorang ma’shum, terbebas dari dosa. “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ciri seorang mukmin sejati salah satunya serius memohon ampunan dan karenanya tidak pernah meremehkaan sekecil apa pun dosa yang dilakukannya. Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau Ra berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan runtuh dan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Ada dua pemicu utama perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Yaitu nafsu syahwat yang tak terkontrol dan kesombongan. Akan sangat berbahaya jika dosa dan kemaksiatan sudah menjadi budaya dikarenakan akan melenyapkan sifat-sifat baik yang melekat pada manusia. Misalnya hilangnya rasa malu. Sedangkan malu merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan itu. Nabi Saw bersabda, “Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Belakangan ini kaum permisif dan adiktif telah mengobarkan gerakan sosial yang dilandasi kebebasan syahwat melalui jargon kebebasan bereekspresi. Mereka secara masif menggalakkan berbagai jenis kemaksiatan. Mulai dari seks bebas hetero dan homo, persetubuhan di dunia maya melalui hubungan telepon dan situs-situas porno, hingga mengisap nikotin dan mengkonsumsi narkoba. Hal itu jelas menunjukkan kecenderungan manusia modern untuk memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan kecenderungan hawa nafsu selalu mengarahkan sang dirri kepada dosa “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan.” (QS Yusuf [12]: 53).
Menurut Ibnu Hazm, jika nafsu syahwat berhasil mengalahkan akal, ia akan diselimuti awan kegelapan. “Hati menjadi buta, dan ia akan setia mengikuti jalan kemungkaran, dan akhirnya terjatuh dalam jurang kehinaan.” Selanjutnya akan menuhankan hawa nafsunya. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya(QS al-Jaatsiyah [45]: 23).

Kendati demikian, dosa kemaksiatan yang dipicu oleh hawa nafsu peluang memperoleh ampunan Allah, jika pelakunya mau bertaubat, sangatlah terbuka. Berbeda dengan kemaksiatan yang dilandasi oleh kesombongan. Orang yang melakukan kemaksiatan atas dasar kesombongannya sangat kecil akan memperoleh ampunan Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya memendam sebiji sawi dari sifat sombong.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya seorang laki-laki menginginkan pakaian dan sandalnya bagus.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai keindahan. Takabbur itu menolak kebenaran dan menghinakan manusia.” (HR, Muslim).

Secara tersirat apa yang dikemukakan Rasulullah Saw tersebut mengingatkan bahwa sombong atau takabbur, yang didefinisikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai sikap menolak kebenaran dan menghina manusia, akan menjadi tabir pemisah antara seorang hamba dengan surga di akhirat nanti. Sebab kesombongan itu, seperti diungkapkan Imam Ghazali, merupakan penghalang antara seorang hamba dengan berbagai akhlak mulia selama di dunianya.

Takabbur atau sombong, dalam makna generiknya semakna dengan ta’azhzum, yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar, adalah lawan kata dari tawaddu’ atau rendah hati. Para ulama mengategorikannya sebagai salah satu jenis penyakit hati. Banyak manusia yang telah menjadi mangsa penyakit hati ini. Allah Swt berfirman, yang artinya, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS, al-A’raf [7]: 146).

Penyakit hati tersebut umumnya dipicu oleh kesalahan persepsi tentang keberadaan dirinya. Bahwa dirinya memiliki keunggulan yang melakat dalam asal kejadiannya atau dalam etnisitasnya. Iblis menjadi sombong karena merasa asal usul kejadiannya dari bahan yang mulia, yaitu api. Berbeda dengan manusia yang bahannya dari lumpur yang hina. “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”(QS, al-A’raf [7]: 12.). Orang yahudi juga menjadi sombong karena dirinya secara etnis memiliki keunggulan. “Kami adalah bangsa pilihan Tuhan.”

Kesalahan persepsi dasar tentang dirinya itu kemudian melahirkan sejumlah sikap yang salah pula yang menyebabkan skala kesombongan semakin meluas. Antara lain menimbulkan kekacauan dalam penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia seperti pandangan kemuliaan seseorang terletak pada harta kekayaan yang dimilikinya, meskipun dia itu ahli maksiat. “Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (dari pada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehandi-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang di kehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS, Saba’ [34]: 35-37)

Ketika kesombongan semakin mengkristal pada diri seseorang, maka takabbur -merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain- akan semakin membumbung. Ia akan sampai ke tingkat merasa dirinya suci. “Janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS, al-Najm [53]: 32). Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar, ia telah melampaui batas hingga menempatkan dirinya pada posisi Tuhan. Orang seperti ini tentu layak dikenai hukuman berat, yang antara lain menjadi terhalang dapat memasuki surganya. Sebab Allah Swt menyatakan, “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kebebsaran adalah selendang-Ku. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyaingi-Ku dalam salah satunya maka Aku akan menyiksanya.” (HR, Muslim). Wallahu A’lam.

Comments (0)

BERDUSTA ITU MELELAHKAN

Posted on 02 June 2009 by goblog'er

 Setiap manusia, dalam interaksi dengan di luar diri dan lingkungannya, senantiasa mempunyai harapan agar keadaan sejati dirinya diterima dan dihargai orang lain secara layak. Dalam batas yang proporsional, adanya harapan itu merupakan ciri manusia normal. Pada umumnya, harapan yang bersifat intrinsik itu dapat terpuaskan jika realitas dirinya selaras dengan kehendak dan harapan orang lain.

Dalam kondisi keselarasan seperti itu, interaksi dan komunikasi dengan orang lain di luar dirinya akan berjalan harmonis, wajar, menyenangkan, dan tanpa beban. Sebagai akibatnya, ia merasakan kepuasan dan kenyamanan. Ia tak menemui problem dengan dirinya sendiri.
Masalahnya, tidak selamanya dalam hubungan dengan sesama manusia realitas sejati diri seseorang selalu selaras dengan harapan dan kehendak orang lain. Ada kalanya realitas sejati dirinya justru bertentangan dengan harapan dan kehendak orang lain yang menyebabkan sang diri mengalami disharmoni dalam interaksinya dengan orang lain serta mengindikasikan adanya problem. Dalam kondisi seperti ini seseorang akan merasa tidak nyaman, bukan hanya dengan orang lain, namun juga dengan dirinya sendiri.

Apabila sang diri menghadapi kondisi yang dirasa tidak ideal, ia akan berupaya mencari cara-cara yang dapat menghilangkan atau meminimalisasi dampak yang tidak menyenangkan yang ditimbulkannya. Boleh jadi dalam hal ini ia harus melakukan dua kemungkinan tindakan ekstrem; menenggelamkan dirinya kepada harapan dan kehendak orang lain meskipun harus bertentangan dengan realitas sejati dan mengorbankan kepribadiannya, atau meneguhkan realitas sejatinya dengan konsekuensi kehadiran realitas sejati dirinya tidak diterima di tengah lingkungannya.

Seseorang yang cenderung ingin selalu mendapat tempat dan memperoleh penghargaan dari orang lain di lingkungannya, memersepsi nilai harga diri semata-mata berkaitan dengan penerimaan dan penolakan orang lain terhadap keadaan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan, bahkan cenderung mati-matian berupaya menenggelamkan dirinya ke dalam harapan dan kehendak orang lain. Ia siap untuk melakukan apa saja untuk merengkuh keinginannya itu, termasuk melakukan kebohongan, sampai ke tingkat merenggut otensitas keperibadiannya. Sesungguhnya, bagaimana pun situasi yang dihadapi, seseorang tidak akan berbohong kalau hati nuraninya tidak bermasalah. “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (QS, al-Najm [53]: 11).(Insya Allah ada lanjutannya)

 
Secara sunnatullah, begitu seseorang melakukan kebohongan, pada saat itulah ia sesungguhnya mulai menanam dan mengembangkan dusta di dalam dirinya. Dikatakan demikian, karena ia dapat menampilkan ‘kebenaran’ di mata orang lain melalui ‘pembenaran- pembenaran’ yang terjadi secara individual. Ibnu al-Jauzi dalam al-Thibb al-Ruhani menuturkan, bohong adalah sikap yang lahir dari dorongan nafsu demi kecintaannya pada posisi dan harga diri individunya.

Secara psikologis, dusta memerlukan pengerahan energi jiwa yang lebih banyak dan lebih berat. Sebab dirinya harus menghadapi dua tuntutan yang dalam waktu berbarengan harus dipenuhi. Pertama, tuntutan penyelarasan dengan lingkungannya. Kedua, tuntutan dari dalam diri yang senantiasa mencari kenyamanan dan keharmonisan.

Jika pemenuhan kedua tuntutan itu tidak berjalan harmonis, tak dapat dielakkan akan terjadi berbagai konflik kejiwaan yang tak berkesudahan, atau pertentangan- pertentangan jiwa yang melahirkan perasaan ‘exhaustive’ (habis-habisan mencurahkan energi). Malik bin Dinar mengatakaan, “Kejujuran dan kedustaan bertarung habis-habisan di dalam diri seseorang hingga salah satunya bias terpelanting.” Selanjutnya, kemenangan kedustaan atas kejujuran membuat jiwa akan mengalami kelelahan yang amat sangat.

Oleh sebab itu pada hakikatnya dusta merupakan bagian dari tindakan melampaui batas yang karenanya akan sangat membebani jiwanya. “..Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (beban dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS, Ghafir [40]: 28).
Rasulullah Saw menegaskan bahwa kebohongan akan menjadi beban yang melelahkan kepada pelakunya dalam sabdanya, “…Aku melihat dua orang yang mendatangiku dan mereka berkata, “Orang yang melihat mulutnya dikoyak tadi adalah seorang pendusta. Ia berbohong hingga kebohongannya itu dibebankan kepadanya sampai mencapai ufuk. Ia diberi beban seperti itu sampai hari Kiamat.” (HR, Bukari dan Muslim).

 
Seseorang bisa saja mendustai atau membohongi orang lain, tapi ia tak akan sanggup mendustai semua orang. Sebab jiwanya tidak akan sanggup menyeret beban kebohongannya. Kebohongan yang dilakukan oleh seseorang pada orang lain pada dasarnya bagaikan menimpakan butiran batu sedikit demi sedikit pada diri sendiri. Lama kelamaan butiran itu menjadi bongkahan yang menumpuk, menjadi beban yang memberatkan dan semakin rumit untuk dipecahkan. Rasulullah Saw mengingatkan, “Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya hingga dicatat di sisi Allah Swt sebagai seorang pendusta”. (HR, Bukhari).

Beban itu pada akhirnya akan memberatkan perjalanan spiritualnya. Dia akan terus-menerus menyeret beban hingga akhirnya terjerumus dalam neraka. “Berhati-hatilah kalian dari dusta,karena dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menyeretnya ke neraka.” (HR, Bukhari)
Oleh karena itu, menyimpan dan menumpuk kedustaan adalah sauatu tindakan bodoh seseorang yang patut diratapi. Semestinya tindakan itu dibuang jauh-jauh. Sebab kebohongan bagaikan upaya menimbuni diri sendiri dengan dosa yang penuh kesia-siaan. Hidup ini terlalu berharga untuk dilalui dan diakhiri dengan kesia-siaan. Wallahu A’lam

Comments (0)

KETIKA JIWA-JIWA DAN MALAIKAT MENANGIS (2-tamat)

Posted on 21 May 2009 by goblog'er

Ketika lisan mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orang yang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya, kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alam azali, “Apakah aku Rabb kalian?” dan kita menjawab, “Benar”, akan menjadi rusak pula karena diperkosa oleh berbagai produk lisan yang menggencetnya. Akibatnya jiwa pun menangis karenanya. Sebab jiwa pada dasarnya/secara orisinil senantiasa cenderung mencari ketenangan, rasa nyaman dan kepuasan.

Kecenderungan itu akan menuntut pencarian pada segala sesuatu di luar dirinya yang mampu menjaga dan berkesesuaian dengan orisinalitas jiwa. Oleh karena itu, jiwa-jiwa pun akan menjerit bila dibombardir oleh produk lisan yang buruk sebab hal itu sangat bertentangan dengan kecenderungannya. Jika interaksi jiwa dengan produk lisan yang buruk berlangsung secara terus menerus, maka orisinalitas jiwa akan tergerus sedikit demi sedikit yang pada akhirnya akan melahirkan insensifitas yang mengancam keselamatannya. Lebih parah jika sampai pada tingkat kesadaran azalinya terbenam oleh ingar-bingar produk lisan.

Sesungguhnya di dalam hati manusia sudah tertanam percikan sifat-sifat “Illahiah”, sifat-sifat maha mulia Allah Swt, telah bersemayam. Dapat dikatakan, semua yang hak, terindah, dan terbaik bersarang di dalamnya. Melalui pemeliharaan yang serius hati manusia bisa terang benderang, bercahaya dengan cahaya dari sifat-sifat- Nya Yang Maha Mulia, Yang Maha Agung, dan Maha sempurna. Medium pemeliharaaan yang paling efektif adalah dengan makrifat, yakni ilmu-ilmu yang berakar pada tauhid, mengesakan Allah Swt.

Selanjutnya dengan makrifat yang terus mekar di hati, cahaya kebesaran Allah, keindahan, dan keagunganNya akan terus memancar. Kesadaran batinnya tentang yang benar dan salah akan selalu hidup. Dengan cahaya itu ia dapat menagkap kemahamuliaan Allah Swt, mengambil dan mengamalkan segala kehendak-Nya, dan melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat, serta menjauhi sejauh-jauhnya segala yang membawa madarat. Memang hati menjadi pusat kebaikan, ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan hakiki.

Hati yang jernih dan sehat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani yang bening. Socrates mengidentikkan suara hati dengan suara peringatan batin yang diaanggapnya berasal dari Allah. Filosof lain menyebutnya sebagai percikan ilahi yang mampu menyediakan pedoman dalam kehidupan.

Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu berpikir positif, betindak bijak, cerdas, dan berbagai sifat-sifat mulia. Dengan hati yang jernih, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih
produktif untuk meraih kemuliaan hakiki. Sebab, seperti dikemukakan para pemikir, manusia yang suara hatinya jernih karena berada dalam wadah hati yang jernih merupakan fakultas akal yang mampu membedakan yang benar dan yang salah.

 
Akan tetapi hati tidak akan dapat dijernihkan dengan cahaya ilahiah jika ia teralingi oleh nafsu duniawi dan ternodai oleh maksiat. Kecerahannya ditentukan oleh ketulusannya dalam mempersembahkan dirinya kepada Allah yang merupakan tujuan awal bagi manusia dan kesaksian zalinya.

Ibnu ’Atha`illah dalam al-Hikam mengattakan, ”Bagaimana hati dapat bersinar sementara bayang-bayang dunia terlukis dalam cerminnya? Atau, bagaimana hati dapat berangkat menuju Allah sedangkan ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap hadirat-Nya jika ia belum suci dari ”janabah” kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman rahasia-rahasia sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahannya? .

Lebih dari itu hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya dikarenakan ia tempat bersemayamnya iman. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Bahkan ia adalah sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, dan kecerdasan emosional. Dalam kajian sufi hati menyimpan kecerdasan dan sekaligus kearifan yang terdalam bagi manusia. Ia adalah lokus makrifat, genosis, atau pengetahuan spiritual. Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya hati seorang mukmin mampu memuat segala sesuatu yang tidaka dapat dimuat oleh langit dan bumi.”

Oleh sebab posisi hati adalah terminal yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dan alam, maka kejernihan hati dapat menjadikan hubungan itu sehat, baik, dan konstruktif. Hubungan dengan Tuhannya akan penuh ketundukan dan kecintaan. Hubungan dengan sesamanya akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati sehingga menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Hubungan dengan alam dan lingkungannya dengan etik yang menyebabkan tidak menimbulkan kerusakan.

 
Begitulah posisi strategis hati sangat menentukan kemanausiaan seseorang. Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah sesungguhnya pada jasad itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasad. Ingatlah, ia adalah hati.”

Oleh sebab itu jika hati rusak maka seluruh tata hubungan menjadi rusak pula yang menyebabkan malaikat pun menangis. Dalam kitab al-Tadzkirah fi Ahwal al-Maut wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dari Imam al-Zuhri, Wahab bin Munabbih, dan lain-lainnya. Dalam riwayat itu diceritakan bahwa ketika itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawakan tanah kepada – Nya.
Ketika diambil oleh Jibril, tanah memohon perlindungan kepada Allah dari Jibril, sehingga Jibril tidak jadi membawanya. Hal yang sama juga terjadi pada Malaikat kedua yang diutus. Akan tetapi, tidak demikian halnya pada malaikat yang ketiga. Ia justru berhasil membawakan tanah kepada Allah swt. Lalu Allah bertanya kepadanya, ”Apakah tanah itu tidak memohon perlindungan kepada- Ku dari kamu ?” Malaikat menjawab, ”Ya”. Allah bertanya lagi, ” Kenapa kamu tidak merasa kasihan kepadanya, seperti kedua tanganmu?”. Malaikat menjawab, ”Aku lebih mengutamakan taat kepada Engkau dari pada mengasihaninya (tanah)”. Allah berfirman, ”Pergilah! Kamu adalah malaikat maut, yang aku beri kuasa untuk mencabut nyawa seluruh makhluk ”. Mendengar itu, malaikat menangis. Kemudian Allah bertanya lagi, ”Kenapa kamu menangis?” Malaikat pun menjawab : ” Ya Tuhan, dari tanah ini Engkau ciptakan para nabi dan makhluk pilihan lainnya. Dan, Engkau tidak menciptakan makhluk yang lebih mereka benci daripada kematian. Jika mereka mengenali aku, mereka pasti membenci dan mencaci maki aku”. Wallahu A’lam

Abdi Sumaithi

Comments (0)

KETIKA JIWA-JIWA DAN MALAIKAT MENANGIS (1)

Posted on 21 May 2009 by goblog'er

 Dalam memahami firman Allah, ظهر الفساد فى البر و البحر Abu Bakar al-Shiddiq berkata, “Yang dimaksud dengan al-barru adalah lisan sedangkan yang dimaksud dengan al-bahru adalah kalbu. Jiwa-jiwa akan menangis jika lisan seseorang rusak dan Malaikat akan menangis jika kalbu seseorang rusak ” (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)

oOo

Pada umumnya, apa yang keluar dari tubuh manusia adalah sesuatu yang berbau tidak sedap. Mulai dari bau keringat, bau mulut, hingga bau yang satu itu. Hanya beberapa organ tertentu saja yang masih memungkinkan mengeluarkan keharuman. Lisan dengan kata-katanya yang indah, bermakna, dan menyejukkan, akal dengan gagasan-gagasannya yang baik dan bermanfaat, atau hati (qalb dalam bahasa Arab) seseorang dengan niat tulusnya yang melahirkan amal-amal shalih. Apabila lisan, akal, dan hati seseorang tidak bisa mengeluarkan yang baik, maka dapat dipastikan seluruh tubuhnya hanya akan memproduksi bau busuk.

Kenyataannya, apa yang keluar dari akal, lisan, dan hati manusia memiliki implikasi yang sangat luas terhadap dirinya dan orang lain. Rasulullah Saw melukiskan lisan dan hati sebagai kekayaan yang sangat berharga. ”Abdu bin Humaid menceriterakan ketika ayaat 34 surat al-Taubbah (”dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak”) turun kami sedang dalam suatu perjalanan. Kemudian beberapa orang sahabat berkata, ”Ayat tersebut turun berkenaan dengan emas dan perak. Seandainya kami tahu harta yang paling baik, tentu kami akan menyimpannya.” Rasulullah Saw kemudian bersabda, ”Harta yang paling baik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan isteri yang beriman yang membantu suaminya dalam merealisasikan keimanannya” (HR, al-Tirmidzi)

 
 
Tentu saja kenyataan itu harus benar-benar disadari oleh setiap insan. Agaknya ungkapan Sayyidina Abu Bakar tersebut merefleksikan orang yang memiliki kesadaran tinggi tentang implikasi gerak dua komponen diri manusia tersebut (lisan dan hati).

Tak dapat dipungkiri, lidah adalah karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Siapa pun pasti akan mengalami kesukaran untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan keinginannya, kepada orang lain, tanpa melalui lisan. Barangkali lisan termasuk organ tubuh paling utama yang sering beraktivitas dalam keseharian kita. Bahkan dalam banyak hal, apa yang meluncur dari lisan menjadi ukuran kualitas seseorang. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR, Bukhari).

Dari lisan meluncur apa yang disebut ”kata”. Di sini penstrukturan tanda atau bunyi menyimpan makna yang sangat penting dalam proses komunikasi. Dengan ”kata”, sebuah tanda atau artikulasi diri dapat dipahami oleh orang lain. Tanpa ”kata” yang meluncur dari lisan nyaris seseorang tidak dapat merealisasikan keinginan-keinginan nya yang paling fundamental sekalipun yang karenanya ia akan teralienasi dari lingkungan otentiknya. Oleh sebab itu posisi lisan dalam aktivitas kemanusiaan memiliki nilai sangat strategis.

 
Nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tampak pada ungkapan Rasulullah Saw ketika beliau menjawab pertanyaan Uqbah bin Amir. Dalam satu riwayat Uqbah berkata, ”Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, ”Wahai Rasulullah Saw, apakah jalan keselamatan? Beliau menjawab, ”Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR, al-Tirmidzi) .

”Kata” yang meluncur dari lisan seseorang, implikasi dan pengaruhnya bisa melebihi kapasitas dirinya dan zamannya. Akan menggema dan dapat memantul di semua benua. Banyak ungkapan yang lahir dari lisan seseorang memiliki nilai abadi.

Pada kenyataannya, sebuah keyakinan, gagasan, atau doktrin hanya dapat dipahami melalui rangkaian kata-kata yang pada mulanya meluncur dari lisan. Bahkan sebuah arketip atau pola yang diteladani dapat dipahami oleh manusia pada awalnya melalui kata-kata. Oleh sebab itu nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tak dapat diingkari oleh siapa pun. Dalam sebuah hadits dikatakan, ”Tiada satu pun dari jasad manusia melainkan akan mengadukan lidah kepada Allah Swt atas ketajamannya.” (HR, Abu Dunia).

Aktivitas lisan bisa berefek ganda dan luar biasa pengaruhnya terhadap tata hubungan manusia. Terkadang ia dapat meluncurkan sejumlah kebaikan dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari’at. Sebaliknya, lisan juga dapat meluncurkan sejumlah kejelekan yang membahayakan dirinya dan orang lain bagi siapa yang menggunakannya secara sembarangan. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR, Bukhari)

Bahaya lisan yang tidak dikendalikan oleh norma dan tuntunan syari’at bisa menyeret seseorang ke jurang kebinasaan. Untuk itu Rasulullah Saw menasehati agar menjaga lidah dengan baik. Ia menganjurkan untuk bisa diam ketika tidak bisa bicara baik. “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah “. (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu menebas leher siapa pun, maka dimensi daya hancurnya kepada kehidupan sangat luas. Rasulullah Saw bersabda:”Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya” .(HR, Ibnu Abi Dunya). Bahkan dosa bisa membiak dari lisan. “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya” (HR. Al- Thabrani, Ibnu Abi Dunya, dan Al Baihaqi).

Atas dasar itu kita dapat memahami nilai keutamaan menjaga lidah yang diajarkan oleh Islam. Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengatakan, “Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam “. Luqman al-Hakim berkata: “Diam itu adalah kebijakan, namun sedikit sekali orang yang melakukannya” . Rasulullah Saw bersabda, “Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan ” (HR, al-Thabarani dan Ibnu Hibban)

oleh: Abdi Sumaithi

Comments (0)

TAMBAH ATAU KURANG? (Potret kekinian manusia)

Posted on 20 May 2007 by goblog'er

profil-jaya-poto.jpg

TAMBAH ATAU KURANG?

Sebuah potret kekinian manusia

Lawang Bagja

Pikiran, tindakan dan tingkah laku manusia pada dasarnya sama. Namun alam akhirnya memberi warna yang berbeda. Saya tidak sependapat dengan Darwin yang menyebut hubungan makhluk termasuk manusia di dalamnya dengan alam adalah sebuah proses evolusi. Continue Reading

Comments (0)

Pada Seorang Lelaki

Posted on 18 May 2007 by goblog'er

Sepasang kaki

Pada Seorang Lelaki

Lawangbagja

Aku bukan seorang gay yang punya kebiasaan suka sesama jenis. Aku lelaki normal semenjak kecil. Hasrat dan nafsu birahiku hanya untuk kaum hawa. Yang memang menyediakan tempat berisi kehangatan dan kasih sayang.  Bukti bahwa aku lelaki normal dan mungkin kelewat normal bisa dilihat dari kegemaranku berpacaran bahkan sudah dimulai dari sejak SD. Masih ingat nama-nama yang pernah mengisi jarum jam hari-hariku. Ada Lis, Yayank, Neng, Icha, Ratih, Dian, Rita, Continue Reading

Comments (0)

TV LOKAL UNTUK SIAPA?

Posted on 21 April 2007 by goblog'er

salah satu pojok di dubaiTV LOKAL UNTUK SIAPA?

Lawangbagja; Likeblueocean

Daerah saat ini memang sedang demam tinggi akibat otonomi daerah. Sedikit demi sedikit dominasi Jakarta yang sudah terlanjur menggurita sedang dicoba untuk dipreteli satu persatu. Daerah ingin membangun kerajaannya sendiri. Wajar, karena mereka selama ini memang hanya penonton pasif dan menjadi objek para kapitalis dalam menaikan rating iklan TV yang notabene semua hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang itu-itu saja dan ironisnya para pemain itu numplek di Jakarta!.
Continue Reading

Comments (0)

MENJADI ‘ORANG TUA’? BISA GAK YAH?

Posted on 12 April 2007 by goblog'er

MENJADI ‘ORANG TUA’? BISA GAK YAH?

Lawangbagja;

Menjadi orang tua ternyata memang tidak mudah. Continue Reading

Comments (0)

DUNIA YANG BERKASTA

Posted on 12 January 2007 by goblog'er

jejak1.jpg

DUNIA YANG BERKASTA

Lawang Bagja;

Kita adalah berkasta teman. Setidaknya itu yang saya percayai saat ini. Jika di India terbagi 3 sampai 4 kasta, di tempat lain mungkin 5 atau bahkan 7 kasta. Kasta sebagai pembeda status sosial, perlakukan yang diterima, keadilan, skala prioritas bahkan sampai ke urusan cinta. Jika suka nonton film India pasti tema-tema cinta yang dibelenggu oleh kasta mencuat. Si pembuat film sepertinya ingin menyampaikan protes bahwa kita adalah sama. namun apa lacur, dunia memang berkasta dan itu tidak hanya di India!.

Continue Reading

Comments (0)

DAN SEMESTA PUN BERTASBIH

Posted on 26 December 2006 by goblog'er

kabah.jpg

DAN SEMESTA PUN BERTASBIH

Labbaik  ya Allah…!

lawangbagja; like Blue Ocean;

Semesta bertasbih pada-Mu

sucikan diri-Mu

lafadzkan Asma-Mu

dst,…

Lagu opick menjelang shubuh mengalun perlahan. Menemani sahur puasa ‘arofah.  Bait lagu opick seperti memaksaku untuk menulis. Saat berjuta manusia berjejal di padang ‘Arofah. Ya Rabb, kapan aku bisa mendapat undangan-Mu ke bait Al-Haram…

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here