Archive | Catatan Perjalanan

Cinta Bagai Anggur

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

erpisahan begitu menyakitkan!
Ia seperti penyakit sawan yang menimpa ayam saat tengah hari bolong
Si ayam diam, dengan mata yang tak pernah berkedip. Tak ada yang dipikirkan, tak mau beranjak, dan tak bisa tak..! semuanya yang terjadi begitu membekas dan sulit dilupakan.

Kebersamaan yang terlewati seolah menjauh dan tak kan pernah bisa diraih kembali. Itulah sebabnya Audy begitu menyayat-nyayat saat mengekspresikan lagu “Satu Jam Saja!” tentang makna kebersamaan dari ’sesuatu’ yang dicintai kemudian terenggut atau berpisah begitu saja.

Berpisah..
Bertemu..
mengapa ada perpisahan setelah ada pertemuan?

Anang dan KD pun ikut nelangsa karena sebuah perpisahan. (Anang menangis, KD?)
Laila memilih kematian setelah Majnun pergi ke haribaan.
Zulaikha meminta sekarat di depan nisan Yusuf dan kemudian harapannya dipertemukan oleh Tuhan dengan terkulai menjemput ajal di depan nisan terkasih.
Bagi para pecinta sejati, perpisahan dengan sang kekasih ibarat berada di lembar terakhir. Tak ada hasrat menuliskan episode kehidupan selanjutnya. Ia bertemu dan enggan berpisah. Seperti sebuah molekul yang jika tercerai maka tidak ada bentuk senyawa tersebut.

Cinta memang menyatukan dan mengikat.
“Cinta bagai anggur”, Muzaffer Ozaq pernah berkata. Dalam maqam tertinggi cinta adalah fana. karena yang kekal adalah Sang Pemilik Hakikat.
amboiyy..gila cinta Majnun membungkam singa yang kelaparan. Tak ada hasrat bagi singa karena baginya Majnun telah fana.

Ah..cinta bagai anggur..kapan aku bisa mabuk sempoyongan?
Terkulai lemas, saat terjaga diri sudah diselimuti cahaya.
“Berikan aku satu tetes saja!”, suaraku tercekat dikerongkongan.

Satu malam, seorang tua membawakan secawan anggur padaku.
“minumlah saat hendak melangkah menuju rumah Tuhan!”
Aku memandang dengan nanar.
Kutenggak hingga membasahi dadaku. Tak ada reaksi..katanya anggur ini anggur pecinta.
Kepalaku berat, dada terasa sesak, benarkah aku mabuk cinta?
Kulihat kembali anggur dalam cawan yang diberikan
ungu atau hitam warnanya
“keparat! ini anggur cap kakak tua..!”

Comments (0)

Gelisah

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Saya ingin menyampaikan rasa kegelisahan.
Saat kemarau menghabiskan sisa air di sumur-sumur kami. Kerontang tenggorokan dan semakin mengentalnya darah karena kekurangan cairan hingga mesti berbagi dengan hewan ternak untuk sekedar penghilang dahaga yang kian pahit terasa.

Sendirian aku tatapi ladang usang yang tak karuan lagi bentuknya. Bumi sepertinya kian memerah darah karena retakannya sudah hampir menembus lapisan magma. Tanah ini memang menyimpan api yang setiap saat bisa saja menyembur ke permukaan. Aku pun bertanya, apakah hati-hati kami seperti mu wahai kemarau? gersang walau setiap saat terbasuh wudhu? apakah kebencian kami terus beranak pinak hingga perseteruan ini terus terjadi.

Hujan pun tiba. Ia membawa pesona saat awal perjumpaan tapi kemudian berubah menjadi petaka. Air meluap, menenggelamkan semua dihadapan, tak hanya selokan, tetapi jalanan, perumahan, sawah, hingga bendungan jebol tak dapat menanggung asamu. Apa kami rakus seperti wahai hujan? hingga yang ada dihadapan akan dilahap. Namun tetap semua berkilah hujan adalah rahmat.

Negeriku seperti perempuan tua yang sudah diperkosa ratusan kali oleh perampok durjana. Silih berganti. Setiap kali habis digagahi, dicampakkannya lalu kemudian ditinggalkan. Belum sempat sang perempuan membasuh tubuh untuk membersihkan badan untuk mandi di sungai ampunan, datang lagi para begundal untuk memuaskan nafsu. Padahal ia sudah tak berdaya dan tak mampu lagi memaki. Mungkin dahulu negeriku seperti perawan desa yang belum pernah disentuh oleh seorang lelaki pun. Ia selalu berdiri di tepi pantai dengan membawa bunga-bunga aneka warna.

Rayuan pulau kelapa masih selalu kudengar sayup-sayup saat acara TVRI selesai. Aku masih merindukan Indonesia yang hilang dan mungkin tak kan pernah ketemukan.

Comments (0)

Doa dan Kebiasaan Orang Di Pesisir Teluk Persia

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Salah satu kebiasaan orang Arab di Pesisir Teluk Persia Teluk adalah saat mereka saling bertemu satu sama lain, juga ketika mereka mengawali pembicaraan di telepon atau bertatap muka langsung kata-kata pembuka yang mereka lontarkan begitu hangat dan manis sekali di dengar. Bukan hanya itu, mereka pun saling melemparkan doa kepada lawan bicaranya dan dibalas dengan hal yang sama.

Saya kadang suka iri dengan kebiasaan mereka. Diawali dengan salam, doa keselamatan mereka menanyakan kabar lawan bicaranya. Setelah dijawab dengan tahmid, pujian kepada Sang khalik yang telah memberikan nikmat. Mereka seperti berbalas pantun dengan mendoakan panjang umur (Hayyakallah -Allah yuhayyik), diberi keselamatan (Allah ya Sallim), dilimpahi keberkahan (barakallah-Allahyubaarik fik), dimaafkan segala kesalahan (allah ya’fiik), dan masih banyak lagi. Kata-kata pembuka ini bukan sekedar basa-basi tapi memang benar-benar serius diucapkan dengan senyuman, intonasi suara yang renyah terdengar.

Ungkapan-ungkapan lainnya adalah kata-kata penyambutan ketika seseorang datang menemui teman atau kerabatnya. Jika di Indonesia, cukup dengan selamat datang itupun di tempat-tempat formal saja disampaikan. Bahkan cukup sekedar “hai..!”, tetapi di Teluk berbeda. Ungkapan penyambutan begitu beraneka dan memiliki bobot masing-masing. Misalnya; Marhaban milyoon (sejuta selamat atas kedatanganmu), ada juga Marhabassa’ (your are most welcome, anda paling atau sangat dinanti), Marhaban bik..!, marhaban laayiin, dan lain sebagainya. Semuanya begitu diungkapkan dengan semangat seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun tidak pernah bersua.

Sampai saat ini saya belum menemukan ungkapan yang sepadan atau cara kita dalam menyambut, bertemu teman atau kerabat seperti para penghuni teluk. Saya membayangkan jika kita bertemu, setelah ucapan salam atau selamat pagi kemudian kita melanjutkan dengan menanyakan kabar lawan bicara kita dan menyampaikan doa untuknya. “Semoga kamu selalu dipanjangkan umur”. Dibalas ” begitupun dengan mu, senantiasa panjang umur dan sehat senantiasa. Dilanjutkan, “Semoga keberkahan dan keselamatan untukmu dan sekeluarga”. Dijawab, “amien, begitu juga untukmu sahabat..semga Allah mema’afkan kehilafanmu dan menempatkanmu dalam kemulyaan”. Sahabatnya berkata lagi,” Bagaimana dengan keluargamu? putra-putrimu” semoga mereka dijadikan anak yang shalih dan shalihah, mutiara kehidupan dan mendapatkan derajat yang tinggi”. Dijawab,”segala puji bagi-Nya yang memberikan perlindungan. Aku pun berdoa untuk putra-putri dan keluarga agar mereka senantiasa ada dalam kebaikan, cahaya kehidupan dan pemimpin hamba-hamba-Nya yang bertakwa”.

Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa diungkapkan, setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan inti. Kebiasaan ini akan membantu kita melenyapkan iri, dengki, hasad, dan turunnya rahmat Allah dengan dikabulkannya doa dari kedua pihak. Bukankah doa yang diungkapkan dari hati yang tulus dan tidak tulus akan mudah dibedakan oleh kuping yang mendengarnya? Jika ada kekurangsukaan akan membantu si pemilik hati dan lawan bicaranya menjadi luluh karena doa-doa yang disampaikan. Terkadang manusia seringkali selalu mendahulukan praduga dan sakwasangka namun setelah disapa suasana menjadi cair. Dan menebarkan doa bukan sesuatu yang sulit ia teramat mudah namun perlu hati yang ringan dalam membawakannya.

Saya jadi teringat pada sebuah kisah tentang Fatimah Az-Zahra, putri dari Muhammad SAW-pembawa risalah terakhir kenabian bersama putranya Hasan dan Husain. Satu ketika, Fatimah sedang berdoa dan doanya terdengar oleh kedua putranya. Mereka mendengar lantunan doa Fatimah hingga selesai dan ada satu hal yang mengherankan keduanya. Dalam doa Fatimah nama Hasan dan Husain tidak pernah disebut sama sekali. Lantas salah satu dari keduanya menanyakan perihal tersebut pada ibunda Fatimah. “Bunda, saya mendengar doa yang bunda lantunkan namun ananda sama sekali tidak mendengar bunda mendoakan kami berdua. Bunda hanya mendoakan kaum muslimin saja”. Begitu putranya merajuk. Fatimah menjelaskan, bahwa ia sesungguhnya mendoakan kedua putranya. Bukankah mereka berdua adalah bagian dari kaum muslimin. Fatimah ingin berbagi dengan doa-doanya yang yang makbul bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja tetapi juga untuk kemaslahatan umat muslim.

Seringkali tanpa kita sadari kita dirundung rasa takut dan khawatir bahwa mendoakan jamaah/umum atau umat Islam tidak seampuh jika mendoakan nama yang bersangkutan secara langsung. Dalam doa saja kita sering bakhil bagaimana soal harta? Jika seperti ini bagaimana keberkahan akan melingkupi kita?. Seorang shalih mengibaratkan bahwa doa-doa yang dipanjatkani akan kembali kepada si empunya. Seperti ada lapisan di atas langit kita yang memantulkannya kembali kepada pemliknya saat kita mendoakan saudara seakidah di belahan bumi lain. Dan mendoakan bisa dimulai kapan saja tidak harus dalam waktu khusus atau selepas solat fardhu atau sunnah. Di awal pembicaraan saat berjumpa di kantor, di pasar, di sekolah, dimanaaaa saja tebarkanlah doa. Jika tebar hewan qurban tidak mampu, apalagi tebar duit bukan seorang milyuner maka doa saja kita bagi-bagi secara gratis. Insya Allah semua akan kembali pada si pemilik empunya. Nah, kapan kita bisa mencobanya..?

Comments (0)

Amnesti I

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Shadiq hanya memandang ibunya yang sedang memasukan pakaian ke dalam tas jinjing yang mulai kumal. Tak ada kata-kata yang bisa ia sampaikan sekedar untuk mencoba menahan sang ibu pergi.

“Ibu harus pergi nak!. Surat izin dari majikan ibu yang pertama sudah keluar. Begitu pula dari departemen luar negeri dan keimigrasian. Amnesti ini satu-satunya cara untuk ibu agar bisa kembali tanah air ibu nak!”.

Syarifah berkata dengan perasaan yang tak karuan. Baginya sudah sangat melelahkan hidup di negeri orang tanpa identitas resmi. Semua sudah habis tergadai hanya untuk sekedar bisa menopang hidup jazirah para nabi ini. Mungkin usia Shadiq bisa menjadi penanda berapa lama ia hidup dalam bayangan tak bertuan.

“Ibu sudah lelah!. Kau pun sudah besar!. Tinggal di panti di lembaga auqaf untukmu jauh lebih baik. Paling tidak hidupmu bisa lebih berguna”.

Shadiq hanya menunduk dan terdiam. Perpisahan yang selama ini ia khawatirkan sudah nampak di depan mata. Bagaimanapun ia tidak bisa menyalahkan Syarifah. Perempuan ini sudah menghabiskan segalanya untuk memberikan hak hidup kepadanya. Sebagai warga negara ilegal yang sewaktu-waktu di penjarakan dan dideportasi. Shadiq bisa mengerti keputusan inilah yang terbaik. Sekalipun ia harus rela tidak bisa bertemu kembali dengan ibunya sepanjang hidup. Shadiq dan Syarifah merasakan pahitnya hidup sebagai penduduk haram di negeri ini.

****

Syarifah yang pergi mengadu nasib sebagai TKW harus menerima takdir hidup dalam bayang-bayang rasa was-was. Majikan pertama memang baik cuma pelit minta maaf. Syarifah mendapat kabar dari kampung ibunya sakit. Syarifah butuh uang untuk membantu pengobatan ibu. Setelah minta izin walaupun sangat sulit Syarifah bekerja part time di rumah keluarga keturunan Syam. Malang tak dapat ditolak, satu hari ketika bekerja part time sang majikan lelaki pulang lebih cepat. Kondisi flat kosong dan Setan tahu kapan waktu yang tepat menggoda anak Adam. Syarifah diseret untuk mau melayani nafsu bejat majikan. Gelap! setelah hari itu semua gelap. Syarifah malu dan takut untuk melaporkan. Beberapa hari ia murung dan tak berhasrat bekerja. Syarifah memutuskan tidak kembali ke flat majikan yang Syria itu walaupun gaji tambahan yang seharusnya ia terima untuk membeli obat bisa masih bisa diperoleh.

Beberapa bulan setelah peristiwa laknat, Syarifah mulai didera ketakutan. Menstruasi yang seharusnya ia terima tanggal 25 setiap bulannya tak kunjung datang. Bayang-bayang ketakutan Syarifah menjadi-jadi hingga kehamilannya menginjak 3 bulan. Rasa mual yang mendera terpaksa ia tutupi sebisa-bisanya. Apalagi majikannya senang sekali meminta ia memasak kharouf kambing muda. Masakan khas arab yang disajikan dengan rempah-rempah. Bau daging kambing membuat rasa mual Syarifah menghebat. Hingga satu ketika Syarifah tidak kuat lagi menahan mual dan muntah di depan majikan.

Lambat laun kecurigaan dari majikan mulai tumbuh. Terlebih madam alias nyonya besar. Bibit syak wasangka wabha Syarifah dikerjai oleh salah satu penghuni rumah menjadi akar masalah keluarga besar itu. Suasana kekerabatan yang terjalin berbalik menjadi menegangkan. Semua penghuni rumah majikan kegerahan melihat perut Syarifah lambat laun membesar dan sulit ditutupi sekalipun ia memakai Abaya. kecurigaan madam terbukti, syarifah hamil. Dijambaknya jilbab Syarifah, ditampar, Syarifa hterjatuh.

“Syuhadza!!! Siapa lelaki jahannam yang zinah denganmu? katakan? Tuan besar atau tuan muda?!”
Syarifah menagis. Madam kalap. Jilbab syarifah ditarik.
” La’nat..! tak layak kau memakai hijab!”, jilbab Syarifah terlepas. Rambutnya terurai panjang, dijambaknya kuat-kuat oleh madam. Syarifah meringis kesakitan. Seperti kambing, madam menarik-narik rambut Syarifah keliling ruangan besar. Tak ada yang berani menghentikan. Para lelaki penghuni ruangan juga didera takut. Tuan muda dan besar saling menduga siapa yang menghamili Syarifah. mereka akan terkena gilirannya. Puas menarik-narik, madam mebenturkan kepala Syarifah pada ujung kursi yang lancip.
“rasakan wanita laknat..tak cukup rupanya kebaikan yang kami berikan! siapa lelaki jahannam itu?!
Syarifah meringis kesakitan. Darah segar mulai menets akibat benturan dengan ujung jursi yang lancip tadi.
“tidak ada madam!..tidak..” Syarifah berupaya menjelaskan. Belum habis kalimatnya diselesaikan. madam meninju mulutnya.Bibir syarifah pecah. Syarifah menubruk kaki sang madam, menghiba. Madam menendangnya kuat-kuat.
“Qul liiiiii.. (katakan padaku)!?” madam berteriak sampai terdengar serak.
“Ma fih hena..(tak ada di sini)” Syarifah berupaya menjelaskan.
Madam sedikit lega mendengar itu tapi ia merasa jijik. Terbayang olehnya Syarifah menjadi pelacur diam-diam tanpa sepengetahuannya. Mungkin saja dengan supir taksi, tukang kebun, atau ia menjajakan di lorong-lorong kota pada siapa saja. Tuan muda dan tuan besar bernapas lega. Mereka selamat. Sekarang gantian mereka berpartisipasi dalam pesta. Syarifah diseret ramai-ramai. Kedua tangannya diletakkan pada wajan panas. Syarifah menjerit kesakitan. Tangannya terbakar. Syarifah pingsan.

Dingin mengusik. Matahari bulat sempurna di timur sana. Lembut mengusap hamparan pepasir. Semilir angin menerpa wajah wanita muda yang tergeletak seperti dibuang begitu saja. Syarifah bergerak sedikit. Ia masih menikmati mimpi menimang bayi mungil dengan mata hijau bagaikan zambrud. Butiran pasir menerpa wajah Syarifah.Ia terbangun.Hamparan pasir membentang dihadapan. Sunyi. ia dibuang di tempat tak bertuan. Hanya buntalan baju dan beberapa dirham yang ia temukan. Syarifah mengaduh. kedua telapak tangannya masih terasa sakit. Sebagian terlihat melepuh. Direngkuhnya buntalan baju perlahan sakit sekali terasa jika tersentuh sesuatu. Syarifah terus berjalan. Tak peduli ia mati di gurun baginya ia harus bisa menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Tak terhitung langkah yang telah diayun.

Syarifah seperti melihat air. Syarifah lari mengejar tapi sepertinya sia-sia. Air masih terlihat jauh di hadapan. Syarifah tak putus asa. Ia khawatir bayi yang dikandungnya kehausan karena ia pun didera haus yang sangat. Matahari kian meninggi Syarifah lemas tak berdaya. Hamparan pasir seperti tak bertepi. Ia telah dibuang di wilayah tak bertuan dan tak ada siapa-siapa disini. Tak ada ibu, tak bapak, tak ada kakak, paman bibi, tak ada madam, tuan dan siapapun yang pernah ia kenal sebelumnya. Keleahan Syarifah terjatuh. Ia sadar, ia harus ikhlas. Aku tidak mati sendirian, bayiku menemaniku di wilayah tak berpenghuni ini. Biarlah Tuhan melihat dua hamba-Nya tergelepar menjemput ajal, bertemu dengan wajah bermandikan debu.” Tuhan, aku menerima ketentuan-Mu dengan ikhlas sekalipun aku tak pernah berharap menanggung semua ini. Aku tinggal di tempat yang seharusnya tidak aku datangi. Aku terzalimi, aku dinistai. Tak perlu kusembunyikan karena Engkau tak pernah terpejam pada semua urusan umat-MU” , Syarifah mengaduh.

perlahan kesadarannya menurun. Hingga semua gelap.

Comments (0)

“Serri Lel Ghayah” (Ranjang dan Cinta, hal yang tabu?)

Posted on 27 September 2009 by goblog'er

perempuan bedouin
Keterbukaan seringkali membuat pro dan kontra. Apalagi jika keterbukaan justru datang dari salah seorang wanita dari lingkungan arab Gulf yang sangat tertutup dan tabu dengan keterbukaan. Soalnya apa yang dibuka dan dikemukakan menyangkut urusan ranjang, cinta, dan wanita. Sebuah materi pembahasan yang tertutup rapat dan sangat rahasia. Tak ada yang berani membuka mulut, semua bungkam. Seperti bungkamnya pepasir di bumi jazirah.

Masyarakat Gulf memang saat ini sedang hangat memperbincangkan sebuah buku yang berjudul “serri Lel Ghayah” atau “Top Secret” yang ditulis oleh Weedad Lootah, seorang wanita yang kesehariannya bekerja sebagai konselor keluarga di pengadilan Dubai. Profesi sebagai konselor keluarga membawa Weedad pada realitas masyarakatnya yang hidup di tengah modernisme kemajuan infrastruktur dan warga dunia multi etnik yang terbuka namun masih menghadapi kendala menyangkut tertutupnya tabir urusan wanita, cinta dan keluarga.

Buku ini mengupas dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Weedad, yang kesehariannya bertugas memberikan konseling serta pendampingan bagi wanita serta pasangan yang dilanda persoalan keluarga. Bagaimana gagapnya seorang wanita dalam memahami kehidupannya yang sudah kadung tersekat oleh budaya yang membatasinya dalam segala hal. Weedad memang berusaha melabrak barier kultur yang sudah berdiri kokoh ratusan tahun. Ia mempunyai pandangan yang jauh dari masanya saat ini. Bahwa persoalan ranjang, cinta dan keluarga adalah persoalan fitrah yang harus bisa menempatkan siapa saja yang terlibat di dalamnya secara setara, satu level. Wanita bukan sekedar pelengkap seperti halnya perkakas dalam rumah tangga dan pria bukan diktator yang bisa melampiaskan semaunya.

Buku yang ditulis Weedad memang magnet yang menarik banyak perhatian. Sekalipun Islam, agama yang dianut oleh mayarakat arab gulf sudah ada ribuan tahun silam dan Ia membebaskan wanita dari perbudakan serta memberikan kesetaraan dalam hubungan rumah tangga namun pada praktiknya budaya menggeser kesetaraan itu dan meninggalkannya sendirian. Weedad dalam bukunya berusaha mengambil kembali apa yang selama ini ditinggalkan. Bahwa ranjang adalah sebuah arena pertarungan cinta dan bukan arena perbudakan. Semua bisa berawal dari tatapan dan senyuman para suami kepada isterinya dan mengelola bahtera tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja tetapi kerjasama keduanya dalam kesetaraan hak dan kewajiban adalah hal yang tak bisa ditawar. Sebuah mimpi bagi para wanita gurun tentunya.

Buku yang ditulis Weedad memang memberikan implikasi yang cukup besar termasuk sedang diusahakannya pendidikan sex di lingkungan sekolah dalam bentuk memberikan pemahaman yang benar tentang apa yang tidak boleh dilakukan oleh anak-anak pada usia tertentu, hubungan apa yang dilarang oleh agama pada usia mereka dan sebagainya. Perubahan yang sangat terasa bagi lembaga konseling tempat Weedad bekerja adalah dalam bahasa pengaduan. Dahulu wanita arab Gulf malu untuk mengadukan apa yang sebenarnya terjadi dalam bahasa verbal yang sederhana tetapi berkat usaha konseling dalam perkembangannya menjadi lebih terbuka.

Weedad berpendapat ranjang dan cinta memang pangkal kebahagiaan dalam rumah tangga. Jika cinta sudah tidak bisa lagi diberikan maka tetap perlakukanlah wanita dengan cara yang baik dan itu pun sudah cukup memberikan kebahagiaan pada wanita. Hal yang sama di Indonesia dengan diberlakukannya undang-undang KDRT. Bagaimana hukum berusaha menjaga wanita agar para suami tetap memberikan perlakuan yang baik sekalipun cinta seringkali menemukan takdirnya di tempat lain. Perlindungan ini mutlak diberikan karena menyangkut hak hidup manusia yang bebas dari intimidasi dan kekerasan. Rumah tangga sebagai wilayah privasi seringkali memendam hal-hal buruk. Ia seperti sebuah negara kecil dengan batas wilayah pintu depan rumah dan belakang.

Apa yang dilakukan Weedad memang sebuah usaha yang tidak mudah di tengah budaya tertutup masyarakatnya. Kekuatan cinta Weedad yang menuliskannya dari hati membuahkan hasil hingga perlahan namun pasti banyak hati yang terbuka. Dukungan atas usahanya mengalir deras. Bukunya saat ini menunggu dialih bahasakan ke dalam bahasa Inggris. Wanita, pena, dan perasaannya…ah! apa yang lebih hebat dari semua itu?

Dari Tepian Teluk Persia,

Comments (2)

Wakaf Kiamuk dan Save Banten

Posted on 26 September 2009 by goblog'er

Seorang teman yang kebetulan pulang kampung ke Banten saat liburan summer kemarin menyampaikan kesannya kepada saya sesampainya di tanah jazirah para Nabi, “Banyak orang miskin bro..! makin banyak..!’. Saya tersenyum kecut mendengarnya. Saya juga tidak tahu darimana ia mengambil data atau hanya sebatas pengamatan yang parsial saja. Seorang teman lainnya bercerita betapa ia harus merasakan jomplangnya berkendaraan di jazirah dengan saat melintas di kota Banten ‘wilayah barat’. “Semrawut..!’. Belum lagi di pojok-pojok kota lainnya. Saat mall dan hipermall berjejal di jalan yang hanya berjarak kurang lebih 1 km saja padahal rakyatnya sendiri masih berjuang untuk terlepas dari nasi aking. Cerita nasionalisme anak-anak kampung yang menginginkan tempat sejarah makodim tetap berdiri menjadi usang oleh cerita banyaknya tenaga kerja yang bakal direkrut oleh berdirinya mall Serang pertama dalam sejarah berdirinya propinsi Banten dalam kurun 9 tahun. Konon salah satu alasan mengorbankan nilai historis adalah bakal bergeraknya ekonomi Serang dengan berdirinya mall ini. Masih luas sebenarnya petak kota Serang namun tetap tidak mau bergeser dari tempat bersejarah itu.

Tidak berselang lama sebuah hipermarket bagian dari gurita hipermarket dunia, Carrefour juga berdiri di perempatan Ciceri. Saya memang belum melihat betapa megah dan prestisiusnya bangunan itu namun membaca tulisan dari teman Idi Dimyati yang berjudul “Carrefour dan Raupoor” saya terhenyak oleh ulasan bahwa pertarungan pasar tradisional dengan hipermarket akhirnya akan membawa korban baru di tanah para sultan ini. Carrefour yang menggurita memiliki banyak ‘pisau tajam’ untuk menghabisi golok pasar Rau yang tradisional itu. Lorong-lorong pasar yang sepi, kios-kios yang belum terisi ditambah infrastuktur yang sedari awal pembangunan konon banyak menimbun complain, dari mulai air buangan yang rembes sampai soal siapa yang berhak mengorganisir keamanan terpadu di pasar ‘induk’ termegah’ se-Banten yang pernah diresmikan oleh mantan Ibu Presiden ini.

Saya tidak ingin menimbun kekecewaan para warga dengan memantiknya dengan berbagai persepsi sentimen negatif dari geliat Banten yang masih keteteran membangun kembali kejayaannya. Di saat “Banten Songo”, miliser Rumah Dunia dan GolaGong menyebut ulang tahun ke-9 propinsi ini dan menjadikannya sebagai gerakan kebudayaan sebuah upaya gerilya membangunkan kembali semangat para penghuninya untuk tetap mencintai dan berjuang untuk Banten yang dalam sebuah kesempatan bagaimana Golagong disaat yang sama sedang berjuang untuk sembuh dari sakit kronis yang dideritanya juga sedang berusaha membuat areal publik yang sehat lewat yayasan Pena Dunia ditambah kesibukannya membantu sumber daya Banten lewat Banten TVnya. Maka semalaman saya susah tidur. Susah tidur karena bayi ketiga saya yang tidak bisa tidur!. Ia seperti memaksa saya untuk memikirkan sesuatu. Padahal seperti lagu mbah Surip, sudah saya gendong kemana-mana di saat tepian Teluk persia dalam keadaan sunyi senyap. Beberapa kali saya buka facebook, membaca Banten songo, saya buka mailing list ada juga Banten Songo dan saat saya membaca status seorang teman saya terdiam. Ada sebuah keinginan untuk berbuat. Namun apa? saya terdiam. Saya bukan pengambil keputusan apalagi orang berpengaruh juga bukan dari keluarga dinasti tertentu. Namun saya ingin..ingin sekali berbuat untuk Banten sekalipun saya tidak lahir di Banten.

Wakaf Kiamuk dan Save Banten

Saya mengenal Firman Venayaksa lewat musikalisasi puisi Hajar Aswad. Saya menikmatinya dan sungguh saya menyukai musikalisasi ini. Ada sesuatu lain yang saya rasakan jika mendengar musikalisasi puisi. Lebih hidup dan segar. Maka dalam beberapa kali kesempatan chatting dan Firman mengungkapkan ingin membuat album dan grup baru maka saya mendukungnya. Biarkan Banten juga mempunyai karya musikalisasi dari anak-anak Banten dengan memproduksinya sendiri. Rekaman berjalan dengan baik dan musikalisasi puisi rampung. Saat itu kita kebingungan dengan nama grupnya. Beberapa nama dicari sampai akhrinya bertemu dengan KIAMUK.

Kiamuk dalam sejarah Banten adalah sesuatu yang akan menggetarkan musuh saat mereka berusaha menguras, menjajah, membakar dan memperbudak Banten. Suaranya menggelegar!. Saya suka spirit itu. Dan tangisan bayi putri saya mempertemukan saya pada keinginan di kalimat berikut ini. Saya BERNIAT MEWAKAFKAN HASIL PENJUALAN CD MUSIKALISASI KIAMUK DENGAN ALBUM “MENCARI PELANGI” UNTUK SEBUAH GERAKAN SAVE BANTEN. Silahkan digunakan semua hasil penjualan musikalisasi ini untuk sesuatu yang bermanfaat bagi Banten. Bagi orang-orang yang berkegiatan dan beraktifitas di untuk mencerdaskan, memberdayakan rakyat Banten. Saya percaya Firman Venayaksa dan teman-teman yang berkegiatan di tanah Banten juga mendukung upaya ini. Saya bukan siapa-siapa dan tidak mempunyai rencana apa-apa ke depan di Banten. Saya rakyat biasa yang pernah menghirup udara dan meminum air di tanah Banten.

Saya ingin berarti berkali-kali..tidak hanya sekali!.

Sudah capek rasanya mendengar..berkeluh kesah..protes..mengumpat..mencaci..tapi tangan kita masih terkepal tidak mau memberi. Saya juga ingin mengajak para warga Banten dimana saja berada dan yang mempunyai keahlian serta peran apa saja untuk sama-sama mewakafkan ilmu. keahliannya untuk Banten. Jika ia seorang praktisi hukum, lewat gerakan save Banten ia aktif mengadvokasi kepentingan rakyat Banten. Jika ia seniman ia berkarya yang membangun kebudayaan Banten, jika ia wartawan ia bukan wartawan pesanan. Jika ia penegak hukum maka ia menjadi Umar bin khattab yang akan menggariskan huruf alif pada kerangka tulang bagi siapa saja. Siapa saja dan apa saja maka berbuatlah untuk Banten hari ini.

Comments (0)

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Posted on 19 September 2009 by goblog'er

Ada yang baru pada setiap perjumpaan dengan Ramadhan. Saat ramadhan usai, maka sesuatu itu menambah list dari karunia Tuhan yang diberikan. Begitulah tahun demi tahun seiring dengan bertambahnya usia ramadhan seperti sebuah ruangan yang masih kosong yang akan terus meminta kita untuk mengisinya dengan hal baru untuk kemudian rungan yang sudah terisi tersebut menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk kita tinggali.

Ruang kosong itu terletak di sebuah sudut dalam bangunan besar hati kita. Seberapa besar ruangan ini tersedia sangat bergantung pada seberapa besar kita mempunyai bangunan hati in dan adakah kita menganggap penting ruangan inii. Bisa saja kita hanya menempatkan ramadhan sebagai ruang kosong yang terletak di ujung paling belakang dekat ‘toilet’ dengan ukuran 1,5 X 1,5 m2 di dalamnya berisi tumpukan sampah atau kertas-kertas yang berserakan dipenuhi sarang laba-laba, tak terurus!.

Adakah Ruangan Ramadhan dalam Bangunan Hati Kita?

Bagi yang menyediakan Ramadhan sebuah ruangan sempit tanpa tujuan dan ia ada hanya sebatas upaya memenuhi tuntutan tata ruang sebuah bangunan maka besar kemungkinan si pemilik bangunan tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari ruang kosong yang bernama ramadhan tersebut. Ia menjadi ruangan yang hanya dijumpai saat Ia melintasinya. Mungkin Ia mampir kemudian membuang puntung rokok, meludah atau sekedar formalitas diam sejenak di dalamnya atau bahkan tidak akan pernah sudi untuk memasuki ruangan tersebut dan duduk di dalamnya. Sepertinya ramadhan sebuah ruangan pengap yang membatasi kebebasan hidupnya. Tak boleh makan, minum, tak boleh cipika-cipiki, tak bisa memaki dan mengumpat semau kata hati, tak mungkin berbohong, tak bisa ajojing, apalagi gosip di tengah hari bolong dan masih banyak tak boleh-tak boleh lainnya.

Bagi seseorang yang tidak begitu peduli menata bangunan hati memang tidak akan pernah memerlukan sebuah ruangan ramadhan dalam bangunan hatinya. Ia hanya menyediakan ruangan besar-besar untuk sebuah party, party, dan party..!. Tempat semua orang bisa bebas datang berlalu lalang dan melolong mengikuti rentak irama musik kehidupan tanpa mengenal aturan. Kepala terus menggeleng, badan bergoyang, kaki dihentakkan, seringai tawa, kepulan asap, bau alkohol, sesekali makian tanda persahabatan begitu asik tanpa henti..tanpa henti sampai akhirnya jantung kehidupan yang diberikan terbatas ‘life timenya’ pun berhenti. Ia mati kelelahan tanpa sempat berhenti untuk membenahi ruangan ‘pesta’ kehidupan yang berantakan seperti kapal pecah. ‘Ceceran makanan dan minuman yang tidak jelas halal haramnya’, ‘puntung rokok makruh dan kesubhatan’, ’tissue pengelap kotoran dosa’, ‘kulit kacang dosa-dosa kecil yang berhamburan’ dan masih banyak lagi ’sampa’h yang memenuhi ruangan besar dalam bangunan hatinya.

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Andai saja..andai saja Ia berdiri di sebuah ruangan yang bisa memandang hall pesta kehidupan dan menghentikan pesta itu sejenak dalam keadaan segar memakai akal sehat serta memenuhi kemauan fitrah ruhnya maka betapa ia akan muak dengan semua kekacauan yang ia lihat di dalam bangunan hatinya. Nah..ramadhan adalah ruangan di mana kita berdiri memandang dan memulai untuk mengatur strategi sudah benarkah kita menata ruangan di dalam bangunan hati ini. Berdiri dan mentafakuri dalam kondisi bebas intervensi dari ‘teman’ nafsu yang sering mempengaruhi dan memperdayai. Maklum, teman nafsu yang menjadi penghuni bersama dalam bangunan hati ini memang ’seorang’ yang bergaya hidup hedonis, suka-suka, free life, ia memang DJ yang memutar piringan musik kehidupan kita, ia pula event organizer yang mengatur siapa yang boleh dan bisa datang, ia memang master ceremonial dalam bangunan hati. Saat ramadhan, teman kita yang satu ini diliburkan sejenak pulang kampung dan kita lah yang sesungguhnya pengelola bangunan hati ini.

Saat ini saya berada di ruangan ramadhan dan sebentar lagi hendak beranjak meninggalkan ruangan ini. Untuk kesekian kalinya saya memandang bangunan hati dengan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Sudahkah semua ruangan ini benar sebagaimana perintah dari Sang Pemilik hati, Tuhan Semesta alam? Dimana akan saya letakkan ruangan syukur? seberapa besar semestinya ruangan syukur ini saya tujukan. Sudahkah saya merenovasi ruangan tamu yang biasa pakai untuk bergaul? mungkin saya jarang memberikan wajah yang menyenangkan hati ketika tamu datang atau saya sering menjawab dengan ketus tak enak didengar. Dan masih banyak yang saya pikir harus dirubah. Oh ya..!saya harus menyediakan ruang ikhlas dan sabar seluas-luasnya. Alamaak..! mengapa saya masih belum mau membongkar ruang prasangka dan buruk sangka ini? bukankah ini yang menjadi biang kerok kacaunya hidup saya selama ini?

Ramadhan dalam hitungan menit akan usai. Saya masih dijejali beragam pekerjaan rumah untuk menata ruangan dalam bangunan hati. Tak pernah cukup waktu yang disediakan untuk mengecek semua ruangan. Sementara esok, hingar bingar itu datang lagi. Bising..! bisingnya hati ini..pintaku pada-MU Rabb, temukan hambamu dengan ramadhan lagi tahun depan. Belum siap hamba berjumpa dengan-MU dengan bangunan hati yang kumuh tak beraturan.

Dari Tepian Teluk Persia,

” Bukankah mereka yang datang dengan hati yang ’selamatlah’ (qolbun salim) yang dapat bertemu Tuhannya?”

Comments (2)

Kepenatan 30 Tahun yang Terobati

Posted on 12 September 2009 by goblog'er

Ramadhan sudah memasuki akhirul ‘asyarah (sepuluh hari terakhir). Dalam Ramadhan sebagaimana diketahui ada tiga putaran, dan kedua putaran sebelumnya yaitu; ‘asyarah al ula (10 hari pertama), ‘asyarah at-tsani (10 hari ke dua) telah kita lewati bersama. Sepuluh hari terakhir merupakan masa-masa dimana aktifitas ruhiyah seperti digenjot semaksimal mungkin. Pedal gas diinjak sampai poll. Seperti dalam sebuah arena lomba lari jarak jauh ketika hendak memasuki putaran terakhir para pelari seperti mengeluarkan daya serta kemampuannya untuk berlari secepat mungkin. Siapa yang mampu mengeluarkan daya yang maksimal maka ia pula yang dapat memasuki finish dalam record yang terbaik. Sama dengan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan, siapa yang mampu beribadah sekuatnya maka ‘record’ atau catatan ia akan baik di hadapan Sang Khalik.

Realitas Sepanjang 30 Tahun

Saya mempunyai kenangan waktu silam. Lazimnya kita sebagai muslim maka setiap memasuki Ramadhan semua terasa sukacita. Sepuluh hari pertama tentu ramai sekali masjid, warung-warung masakan di pasar ikut sepi. Belum tuntas 10 hari kedua, beberapa warung makanan dengan penutup setengah badan sudah tak malu untuk mulai beraktifitas seperti semula. Mungkin karena kita bangsa majemuk hingga bagi yang beragama lain terutama yang dalam perjalanan membutuhkan tempat mencari makan. Sepuluh hari kedua di bulan Ramadhan sudah seperti hari-hari biasa. Mereka yang mengaku muslim sudah ikut-ikutan terbiasa makan di siang hari. Tidak pandang tua atau muda. Ini sudah menjadi ukuran bahwa jika ibadah wajib saja ditabrak maka jangan berharap ibadah sunnah dijalankan. Shaf masjid pun kian surut. Masjid kemudian diisi oleh orang yang itu-itu juga. Tampak nyata sekali bahwa hidayah bukan barang gratisan yang didapat tanpa kegigihan.

Tiba ke 10 hari terakhir, kita sudah berpikir seolah-olah sudah ada di bulan syawwal. Meningkatnya aktifitas ruhiyah/rohani (isi)yang diajarkan Rasul menjadi kebalikannya bagi kita. Aktifitas jasad yang justru mendominasi (kulit). Jalanan semakin macet, pasar pun berjejal, dari mall hingga hipermall ritmenya meninggi. Teriakan para SPG/B (sales promotion girl/boy) untuk harga-harga baju yang dibanting menjadi panggilan indah. Semua dikejar dan dikerumuni. Seperti semut yang mengerumuni gula. Kita berdalih ini untuk sebuah ’sunah’ memakai baju ‘baru’ di hari raya padahal tuntunan sebenarnya bukan itu. Kita pun beralasan bahwa lebaran/ Idul Fitri tak kan lengkap dengan makanan yang ditumpuk di almari, baju beberapa pasang, hingga berlebih-lebihan sudah menjadi hal biasa padahal berlebih-lebihan adalah kebiasaan ’syetan’. Kita merasa bergembira meninggalkan Ramadhan dengan menyambut Syawwal padahal justru di bulan Ramadhan lah dosa sebesar apapun kecuali syirik akan lumer terbakar di bulan mulia ini sementara syawwal adalah bulan biasa yang tak menjanjikan sesuatu yang besar kepada kita. Lantas patutkah kita mempersiapkannya seperti menumpuk amunisi untuk peperangan selama berbulan-bulan?

Sedari kecil fenomena di atas saya saksikan dan ikuti hingga 30 tahun lamanya. Seperti ingin protes namun kepada siapa? Ingin merubah tidak berdaya karena gaung materialisme justru semakin kencang. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi bagian dari catatan betapa buruknya kita memahami Islam sebagai tuntunan. Semakin menjadi ironi manakala figur alim ulama tidak menunjukan kebersahajaan karena ‘rit’ ceramah dan kuliah subuh juga meningkat. Alih-alih menjadi contoh bagi para tetangga bahwa keluarga mereka tetap mempertahankan kebersahajaan dan setia penuh khusyu di bulan Ramadhan justru sebaliknya. Kain sarung beberapa biji, Baju koko, peci, sendal, semua tak cukup satu. Ya, memang keberkahan akan terasa dengan datangnya Ramadhan semua pemberian berupa hadiah dan ucapan terima kasih akan datang mengalir. Namun suri tauladan kita, Muhammad S.A.W sudah begitu jelas memberikan contoh ketika ia diberi maka secepat laksana angin pemberiannya sudah berpindah tangan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Kepenatan yang Terobati

Kepenatan saya selama 30 tahun terobati, segala puji hanya milik Allah yang telah mendengar bisingnya hati ini. Menikmati 10 hari terakhir di bulan Ramadhan di tepian teluk Persia, sebuah negeri yang Kaya dengan simpanan dollarnya hingga disebut petro dollar benar-benar sungguh berbeda. kesibukan pasar, mall hingga hipermall bisa dibilang normal. Tak ada budaya diskon idul fitri di sini karena lebaran cukup dengan baju (gamis) putih yang sudah bersih dicuci dan disetrika dengan rapih. Di mulai dari malam ke-21 solat malam dilaksanakan berjamaah di dalam masjid. Suara lantunan ayat-ayat suci al-quran oleh para imam masjid memecah kesunyian terdengar begitu syahdu dan memikat hati. Di mulai dari pukul 3:00 dini hari hingga pukul 4:00 pagi shalat malam bagi para warga. Bacaan berganti surat mengabarkan dari satu kisah ke kisah lainnya. Dimulai dari penciptaan Adam kemudian Iblis yang membangkang hingga tergelincirnya Adam dan Hawa karena buah Khuldi. Dilanjutkan kisah kaum Noah yang menyekutukan Allah hingga ditenggelamkan, Kaum ‘Ad yang menolak kehadiran Hud yang mengajak mereka menyembah Allah semata, Kaum Samud yang memerangi Salih padahal mereka sudah diberikan nikmat yang banyak hingga mampu membuat bangunan dari dinding-dinding gunung batu, dan kisah-kisah itu menjadi sebuah pengingat dan sebuah bukti otentik di padang mahsyar nanti ketika umat Muhammad diminta kesaksiannya tentang umat-umat terdahulu.

Saya sungguh berazam, niat disertai kesungguhan dengan memohon kemudahan agar langkah-langkah kaki ini diringankan menuju sumber-sumber suara lantunan ayat-ayat suci. Udara dini hari di penghujung 10 hari bulan Ramadhan tidak begitu pengap dan lembab. Masa transisi menuju musim dingin. Langit cerah, bintang gemintang bertaburan. Langkah-langkah ini menjadi sebuah persaksian kelak. Terlalu dini berharap surga karena perjalanan sesungguhnya masih begitu jauh membentang di hadapan. Di pelataran masjid yang namanya diambil dari manusia yang pernah mengukir kemulyaan dalam sejarah, Umar bin Abdul Aziz saya merasakan kerinduan suasana ini tak terperi. Sama seperti ketika menikmati lantunan ayat-ayat suci oleh para remaja di masjid Agung Serang Banten. Ini adalah dejavu antar rumah Allah. Dari masjid dan menuju masjidlah selayaknya hidup seorang manusia bermuara. Rumah Allah adalah satu-satunya pelarian saya dari penatnya kehidupan. Saat hidup tiba-tiba rancu dan berubah haluan lewat masjid saya memperbaiki arahnya. Ketika gelisah menggarang kalbu, meradang kepanasan maka ke masjid pula saya berusaha menemukan kesejukan. Sebuah harapan dilantunkan agar berdiri kelak masjid, rumah Allah di dalam hati ini.

Maha suci Allah yang memberikan getaran pada hati-hati hamba-Nya ketika mendengar kisah-kisah di atas dibacakan. Sejarah perjalanan manusia di muka bumi bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Seperti hadirnya gerombolan Dinosaurus pada suatu masa dan kemudian hilang tak berbekas dengan tidak ada kelanjutan kisah berikutnya. Sungguh, saya merasakan kedamaian yang saya idamkan. Tak ada hiruk pikuk seperti kepenatan yang saya rasakan sebelumnya. Apa yang saya inginkan, Ramadhan hanya untuk ibadah dan mengenalkan nilai-nilai ibadah tersebut kepada kedua putra saya. Ramadhan kariem..di tepian teluk Persia.

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah kamu dustakan?”

“Maka terhadap nikmat-nikmat Tuhanmu, maka kabarkanlah..”

Comments (2)

PIN DEWAN, ANTARA ‘PANTAT’ dan KEPALA

Posted on 07 September 2009 by goblog'er

awangbagja; catatan buruhmigran

Pin Dewan

Pin yang disematkan di dada baju safari baju anggota dewan memang memiliki ’sima’. ‘Sima’ dalam bahasa sunda berarti pesona yang memiliki daya magis sehingga dapat membuat seseorang yang berada di hadapan tergagap, lemas, menunduk patuh, dan pasrah. Deskripsi saya mungkin membuat anda tambah pusing. Saya buat simpel saya, ’sima’ adalah kesan yang anda rasakan ketika berada di tempat sepi, sendirian tiba-tiba di depan berdiri sebuah harimau bertaring tajam 15 centimeter panjangnya, matanya mengumbar hasrat mengunyah anda, dan besarnya harimau tadi hampir sama dengan seekor kuda Australia!

Ya, itulah pin para anggota dewan kita yang terhormat. ‘Wajarlah’ jika pin ini dibandrol 5 juta rupiah perkeping. Pin ini hadir sebagai bentuk pengejawantahan akan makna dari sebuah lembaga yang menjungjung tinggi kehormatan. Pin bukan sembarang pin. Bukan pin yang biasa disematkan kepada para anggota siaga atau penggalang dalam kepanduan kita. Saya tidak tahu apakah ada versi KW 1 atau KW 2 untuk pin ini. Itu tidak penting karena biasanya semua sudah ditenderkan terlebih dahul melalui birokrasi yang dari dulu sampai sekarang konon banyak ‘keranjang sampahnya’. Ya..karena sebentar-sebentar urusan tender menender harus buang duit.

Sebagai warga kebanyakan, dengan pemahaman yang terbatas tentang ketatanegaraan, saya sendiri tidak mengerti jika pin ini bisa seharga 5 juta rupiah perkeping. Jika ia terbuat dari emas, yang jika dilihat rate emas 22 karat pergramnya 263676 rupiah maka mungkin saja beratnya sekitar 18,96 gram. Saya belum sempat memegangnya tapi bisa jadi beratnya kurang dari itu. Lantas apa yang membuat pin ini begitu mahal? Ada yang pernah berkata mungkin jalur birokrasi, mungkin modelnya berbeda dan sangat terbatas jumlahnya, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Di balik itu semua pin ini adalah simbol dari sebuah kehormatan. Ya kehormatan..! (barangkali)

Antara ‘Pantat’ dan Kepala

Saya tinggal di gulf saat ini. Ada yang menarik saya amati dalam hal budaya yang dijunjung tinggi oleh para penduduk asli arab gulf. Mereka memandang menjaga aib adalah sebuah usaha menjaga kehormatan. Contohnya; jangan pernah sekali-kali disengaja atau tidak menepuk ‘pantat’ terhadap teman sendiri (Yang sejenis tentunya). (maaf) Pantat dan sekitar aurat yang semestinya dijaga bagi mereka adalah wilayah ‘aib’. ‘Aib yang berarti malu dan cela. Bukan semata menepuk pantatnya tetapi perbuatan menepuk pantat itu sebuah simbol atau pesan bahwa wilayah yang semestinya dijaga itu sudah diintervensi sebagai bentuk usaha mempermalukan karena wilayah itu adalah aurat. Aurat diartikan sebagai ‘dignity’. Bisa juga berarti kemulyaan. Mengapa ini dipersoalkan ? karena ini menyangkut ‘worthy’. Seberapa berharganya kemulyaan diri mereka di hadapan masyarakatnya.

Ini berbeda dengan kita. Umumnya budaya kita adalah sangat menjunjung tinggi kepala. Kepala adalah simbol akan berharganya ‘otak’ manusia. Orang gulf bilang al mukh/ mukhun yang berarti akal. Lewat mukh/ akal inilah manusia diberikan kemampuan berfikir. Beda dengan binatang yang mempunyai kepala dan batang otak tapi tidak mampu berfikir. Kita sepakat begitu berharganya akal yang dismbolkan dengan kepala, maka siapa saja yang berani menyentuh, mengeplak, menjitak atau apapun bentuknya bisa diartikan sebagai sebuah ‘declare of war’. Pernyataan perang dan awas ya..kalau berani-berani pegang!karena hal itu bentuk penghinaan. Kemarahan luar biasa disertai perasaan terhina akan meluap hingga ubun-ubun. Ini semua karena masyarakat kita begitu menghargai bahwa AKAL adalah anugerah Tuhan dan pergunakanlah ia semestinya.

Ditarik korelasi antara (maaf) PANTAT di budaya arab Gulf dan KEPALA di budaya masyarakat Indonesia begitu singkron. Untuk arab Gulf kira-kira pesannya berbunyi;
Jagalah dirimu dari perbuatan cela/aib karena nilai seberapa berharganya dirimu ditentukan oleh usahamu menjaga aib/ cela dirimu dan keluargamu.

Sedangkan untuk orang Indonesia kira-kira berbunyi:
Jagalah akalmu dan muliakanlah dirimu dengan selalu mendahulukan berfikir dengan akal sehatmu.
Jadi yang satu menjaga cela dan satu lagi lagi menggunakan akal sehat. Itulah sebuah NILAI KEHORMATAN dalam hidup.

Tentang pin anggota dewan. Akal sehat saya serta merta menolak bahwa pin kecil bisa berharga 5 juta rupiah!.Jika ia berada di pasar atau mal dan dijual bebas menurut anda, adakah yang mau membeli pin ini seharga 5 juta rupiah? Sudahkah akal fikiran digunakan untuk menentukan nilai dari pin ini? Jika biaya untuk membeli pin ini berasal dari kantong pribadi tidak menjadi soal tetapi biaya membeli pin ini dari uang kita semua..ya uang anda dan seluruh rakyat Indonesia.

Di saat masyarakat tengah ditimpa musibah oleh gempa dan banyak menimbulkan korban harta serta jiwa dan hidup dalam keprihatinan maka sebuah AIB/ CELA rasanya uang yang seyogyanya bisa diperbantukan meringankan derita dan beban yang ditimpa musibah malah dipakai untuk biaya pelantikan. Meminjam istilah edirorial Indonesia, pelantikan tak ubahnya hari pertama masuk sekolah.

Maka, bagaimana kita memaknai arti dari harga sebuah pin yang akan disematkan pada dada para anggota dewan yang katanya terhormat itu?

Comments (0)

Kata (sebuah Rahasia Besar Kehidupan)

Posted on 05 September 2009 by goblog'er

Apakah kekuatan kata dalam kehidupan kita? Saya ingin kita sepakat bahwa kehidupan mungkin tidak akan pernah ada. Sekali lagi tidak akan pernah ada! Bagaimana kita mengenal sebuah kehidupan jika kita sendiri tidak mengenal kata ‘kehidupan’. Bayangkan jika semua yang ada di semesta tidak ada kata bahkan untuk menyebutnya sekalipun. Itulah sebabnya Sang Pencipta semesta menciptakan ‘qalam’ untuk pertama kali kemudian ‘menuliskan’ qadha dan qadar atau ketentuan bagi semua makhluk-Nya di semesta raya ini. Apa yang dituliskan oleh Tuhan tentu dalam firman-Nya dengan bahasa tertentu atas kehendak-Nya.

Kata pula yang menjadikan kedudukan Adam lebih tinggi dari bangsa jin dan malaikat. Dalam kisah penciptaan Adam yang diwarnai keberatan dari para malaikat karena tipikal yang serupa ‘pernah’ berbuat kerusakan di alam ciptaan-Nya. Jika ditelaah dalam surat Al-Baqarah ayat 30, malaikat berkata:

“Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami berasbih dan memuji-Mu dan mensucikan nama-MU?”

Kemudian ayat berikutnya (yanga artinya):
“Dan DIA ajarkan kepada Adam ‘nama-nama (benda) semuanya, kemudian DIA perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman: ‘Sebutkan kepada-KU namasemua (benda) ini, jika kamu benar!”

Dialog dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang artinya:
“Mahasuci ENGKAU, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah ENGKAU ajarkan kepada Kami., dst..”

Dari arti ketiga ayat di atas paling tidak kita bisa mendapatkan beberapa catatan:
1. Pengetahuan malaikat juga terbatas. mereka makhluk Allah yang diberi tugas sejenis saja. Tidak ada nafsu yang berpotensi menjadikan mereka berkhianat dari penagbdiannya. Apa yang mereka ketahui dilandaskan apa yang telah Allah ajarkan sebatas tertentu bisa dalam bentuk apa yang telah mereka saksikan sebelumnya.

2. Keterbatasan ini menjadi petunjuk dari pernyataan malaikat tentang ‘complain’ mereka kepada Allah tentang akan terjadinya kerusakan dari penciptaan Adam. Maksudnya, tidak mungkin malaikat tahu bakal terjadi potensi kerusakan dan pembangkangan jika tidak pernah terjadi HAL SERUPA sebelumnya. Apakah Allah memberitahu dahulu kepada para malaikat tentang potensi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh bani Adam? tidak! tetapi hal serupa pernah terjadi. Inilah yang mengusik tentang rahasia kehidupan sebelum manusia.

3. Maka Allah mengajarkan ‘asma, nama-nama bisa juga ‘kata’ atau sinonim dari ilmu pengetahuan. Maka serta merta para malaikat sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan atas perintah dan kehendak Allah kecuali iblis. Dari ayat ini saja kita bisa menemukan bahwa inti ilmu pengetahuan adalah ‘kata’!. Di kelas biologi para siswa SMP sudah dikenalkan tata anma tumbuhan dengan berdasarkan marga dan spesies. Dari penamaan ini bisa diketahui apakah sebuah tumbuhan berbiji tunggal, mempunyai kambium, berakar tunggang, dan seterusnya. Semua hanya dari kata!.

Maka di era modern kebutuhan manusia yang paling pesat berkembang adalah kebutuhan kata sebagai bridge-jembatan komunikasi. Satelit-satelit diluncurkan dan banyak menggantung di langit-langit tata surya kita, serta optik ditarik dari Asia hingga benua Eropa, kabel-kabel berseliweran di sepanjang jalan dari yang menggantung di atas hingga yang ditimbun dalam tanah, Dunia penerbitan dari koran sampai cerpen, media televisi yang berisi berita, diskusi, entertainment, hingga iklan dengan kata-kata menggoda, belum lagi provider search engine berlomba menyediakan account juga mesin pencari agar kata-kata bisa tumpah ruah dan mudah dipilah, dan tentu saja sosial engine macam facebook tidak akan hadir jika manusia sudah mulai bosan dan tidak mau menggunakan kata.

Kata..pula yang diturunkan oleh Sang Pencipta semesta sebagai pesan terakhir lewat Nabinya yang mulia, Muhammad shalla ‘alaih yang berisi himpunan peringatan, kisah manusia-mansuia sebelumnya serta semua hal yang akan terjadi dan dihadapi oleh manusia setelah episod kehidupan di dunia ini. Ya..lewat kata lah terungkap rahasia penciptaan!

Jika ada yang meragukan kata adalah sesuatu yang remeh temeh, orang pasar bilang ‘cuma bisa bacot!’, maka bagaimana mereka bisa menjelaskan dengan pemaknaan dari firman Allah dalam surat yasin ayat 82, yang artinya :
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila DIA menghendaki sesuatu DIA hanya berkata kepadanya: “jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu”.

Allah Sang Pencipta semesta saja menggunaka ‘kata’ dalam penciptaannya maka apakah masuk akal jika kita yang manusia yang lemah dan bodoh, katakanlah berada dalam sebuah sistem entah itu organisasi atau perusahaan bisa melaksanakan tugas dengan baik jika tidak ada deskripsi penjabaran, metode, handbook, dlsb tentang apa dan bagaimana kita melakukan pekerjaan.

Dan kata pula yang yang akan membeberkan apa saja yang telah kita lakukan, tangan dan kaki bersaksi sementara lidah yang kita pakai untuk mengungkapkan kata justru terkunci. Di sini bukan lidah yang dipermasalahkan tapi kata yang telah menjelma dalam bentuk laku dan tingkah sepanjang kehidupan kita. Termasuk jari-jari yang saat ini mengetik..ya Rabb, Inni dzolamtu nafsii..(sungguh aku menzolimi diriku snediri), nastagfiruka yaa Rabb.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here