Archive | Kontributor

Wujud Duit 6,7 trilyun

Posted on 10 December 2009 by goblog'er

(dari milis kotabogor-Petrus Suryadi)

Sehubungan dengan HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL, menyangkut masalah Bank
Century dengan bill-out 6,7 triliun dinalisa secara matematika sbb:

Wujud Rp 6,7 Triliun Bank Century

Begitu mendengar kata “Rp 6,7 Triliun” kemungkinan besar pikiran kita
langsung mengasosiasikannya pada kasus bank Century. Tapi pernahkah kita
bertanya dalam hati: Bagaimana sih wujudnya uang Rp 6,7 triliun tersebut?

Berikut ini visualisasinya.

Sebuah kertas HVS Folio 80gram bisa “menampung” 7 lembar uang kertas pecahan
100ribu dengan menyisakan sedikit ruangan dengan panjang 6,5cm dan lebar
3cm. Jika mau akurat, 1 buah kertas HVS Folio bisa menampung 7,2 lembar uang
kertas.

Dalam keadaan terpacking, 1 rim (500 lembar) kertas memiliki ukuran:
panjang x lebar x tinggi = 33 x 21,5 x 5,5 cm

Jika kita asumsikan tebal kertas yang sama, maka 1 rim kertas bisa menampung
uang sebesar:
500 x 7,2 lembar uang
= 3600 lembar uang
= 3600 * Rp 100ribu
= Rp 360 000 000
Angka diatas dibaca: Rp 360juta
Jadi 1 rim kertas HVS Folio muat 360juta.

Lantas seberapa besarkah ukuran Rp 6,7 triliun jika ditumpuk dalam pecahan
Rp 100ribuan?
Jawabannya ada dalam hitungan sederhana:

1 ribu = 1 000
1 juta = 1 000 000
1 milyar = 1 000 000 000
1 triliun = 1 000 000 000 000

Rp 6,7 triliun / Rp 360 juta
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000
= 6 700 000 / 360
= 18 611,1111

Wow, ternyata uang Rp 6,7 triliun sebanding dengan 18ribuan rim kertas HVS
Folio. Jika diletakkan dalam sebuah gudang, tak terbayangkan berapa besarnya
gudang tersebut.

Jika di tumpuk dengan ukuran 1 rim kertas HVS tadi, berapakah tingginya?
18 611, 1111 x 5,5cm
= 102 361 cm
= 1023,61 meter
Angka diatas dibaca: 1 kilometer lebih.
Itu 7 kali lebih tinggi dari Monas.

Comments (0)

Tags: ,

MENGAIS NAFAS

Posted on 16 January 2009 by goblog'er

Sumber: Editorial Majalah Tarbawi
 
Di atas puing-puing peradaban yang runtuh, kita mengais sisa-sisa nafas. Untuk ratusan kematian di Gaza kita harus mengutuk. Kebencian adalah sisi lain dari keimanan, yang harus terus dinyalakan untuk mereka yang membunuh, merampas, menghancurkan, merontokkan sendi-sendi hidup, menghilangkan nyawa dan merampas hak.
 
Terserah orang mencari tafsir apa, atas serangan bom dan roket yang dilakukan Israel di Gaza. Faktanya bahwa penjajah itu telah membunuh ribuan orang. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Faktanya penjajah itu telah melukai ribuan lainnya yang mengantri sekarat, disebabkan ambulan macet kehabisan bahan bakar. Lantaran obat-obatan tak lagi tersedia dan perbatasan Gaza dan Mesir masih gelap dari lalulintas.
 
Terserah orang mencari tafsir apa, atas serangan bom Israel di Gaza. Faktanya tentara-tentara zionis itu terus menghancurkan puluhan bangunan, kampus, kantor, rumah, kendaraan, bahkan rumah sakit dan masjid. Memupus harapan dan mimpi anak-anak kecil yang sedang mengakrabi zona kehidupan mereka yang keras. Listrik mati dan malam begitu gelap. Air tak lagi mengalir.
 
Terserah orang mencari tafsir apa, atas sikap Amerika yang selalu membenarkan segala tindakan Israel. Faktanya memang Amerika selalu berdiri di garis depan dalam membela Israel. Apapun yang dilakukan Israel adalah benar di mata Amerika. Bisa jadi serangan Israel atas Gaza, hanyalah cara anak asuh Amerika itu menunjukkan ulahnya kepada bapak angkatnya. Mungkin Israel ingin menyampaikan pesan kepada Amerika, bahwa gempita positif dan optimisme dunia atas terpilihnya Obama, tidak akan bisa mempengaruhi sikap kepala batunya. Ini juga isyarat bahwa mengharapkan jargon perubahan versi Obama akan mengubah juga sikapnya kepada Israel, mungkin ibarat menggantang asap.
 
Terserah orang mencari tafsir apa, atas sikap ummat Islam yang marah. Di berbagai penjuru dunia demo di gelar. Solidaritas bergelora di tengah gelombang kegetiran, menghasilkan dolar demi dolar yang dengan tulus dikumpulkan. Dengan harapan bisa membantu tragedi Gaza. Mungkin tidak sampai menyelesaikan, tapi setidaknya menyemangati. Selanjutnya itu adalah pembuktian bahwa mereka tidak ingin di cap sebagai bukan ummat Muhammad, lantaran tak peduli dengan nestapa yang tengah di derita ummat Islam yang lain.
 
Di atas puing-puing peradaban yang runtuh, kita mengais sisa-sisa nafas. Untuk ribuan kematian di Gaza kita harus mengutuk. Kebencian adalah sisi lain dari keimanan, yang harus terus dinyalakan untuk mereka yang membunuh, merampas, menghancurkan, merontokkan sendi-sendi hidup, menghilangkan nyawa dan merampas hak.

Comments (0)

Tags: , ,

Aksi Israel Meruntuhkan Negaranya Sendiri

Posted on 13 January 2009 by goblog'er

Selasa, 13 Januari 2009 | 09:36 WIB

Laporan wartawan Kompas Imam Prihadiyoko    

JAKARTA, SELASA - Pandangan yang disampaikan Presiden Iran Ahmadinejad tentang hilangnya Israel, merupakan sebuah keniscayaan. Pasalnya, Israel sekarang sedang menuliskan nasib keruntuhannya sendiri dengan memperlihatkan kebiadabannya sebagai bangsa, sebuah sikap yang tidak bisa diterima dalam norma universal bangsa-bangsa saat ini. Demikian diungkapkan Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Amanat Nasional Sayuti Asyathri di Jakarta, Selasa (13/1).

Melalui tindakannya, Israel dianggap sedang mendorong publik internasional untuk mulai percaya bahwa Israel tidak memenuhi syarat sebagai negara yang beradab. “Dengan tindakan yang brutal dan biadab pada wanita, anak-anak, dan pers, serta terhadap bantuan kemanusiaan, maka Israel semakin memastikan suatu waktu, akan dipaksa bubar sebagai suatu negara. Dan publik internasional tidak merasa menyesal jika Israel bubar,” ujar Sayuti Asyathri.

Sebuah negara bisa runtuh, menurut Sayuti, jika memenuhi dua syarat. Pertama, dukungan internal yang semakin tidak terpenuhi sehingga mendukung keruntuhannya. Kedua, dukungan interternasional yang merasa tidak nyaman dengan sikap negara tersebut.

“Israel saat ini, menghadapi masalah karena hidup dalam pikiran sebagai bangsa yang akan dihabiskan. Kemudian Israel ambil semua resiko kemanusiaan yang dianggap akan menghabiskan bangsa Yahudi,” katanya.  

“Ini penyakit jiwa yang parah dan hidup dalam tubuh Israel, terhadap jati dirinya. Merasa, mereka mau dienyahkan, sehingga pada saat yang sama untuk menghilangkan permusuhan itu, dia tidak memberikan alternatif pendekatan kemanusiaan. Semua fase kehidupan yang saat ini sama sekali tidak bisa diterima,” lanjut Sayuti.

Bahkan, menurut Sayuti, Amerika Serikat saja ketika menghaapi tekanan internasional yang luar biasa, kemudian merubah pendekatan hard powernya dengan pendekatan soft power yang penuh sentuhan kebudayaan dan kemanusiaan. Sedangkan Israel menutup peluang menggunakan aset soft power untuk bermain dalam peradaban dunia. Kondisi ini semakin menyempitkan pilihannya, hanya pada pendekatan kekerasan.  

“Ini hanya memastikan dukungan kehancurannya sendiri. Israel tidak pernah sama sekali mempertimbangkan soft power ini. Seluruh aset kenegaraannya dipakai dengan hard power. Pilihan yang pahit, untuk melihat kehancuran sebuah bangsa,” ujarnya.

 

Comments (2)

Homeostasis

Posted on 26 December 2008 by goblog'er

Keinginan berubah ada dalam diri setiap manusia. Apalagi perubahan yang dimaksud menuju kondisi yang lebih baik tentunya. Sering kita mengikuti bermacam-macam workshop untuk meningkatkan value diri kita mulai dari emotinal intelegence, indopower, achievement motivation, sampai ESQ. Pada saat lepas dari workshop kita menemukan jawaban bahwa untuk menuju hasil yang diinginkan dituntut sebuh perubahan. Namun seiring perjalanan waktu keinginan hanya sebatas keinginan dan selanjutnya kita kembali ke kondisi asal (ground state).

 Saya pribadi mempunyai cerita tentang hal ini. Berubah bagi saya sebuah proses pertarungan tiada henti di dalam diri. Ada momentum yang saya pakai sebagai media perubahan. Saya menggunakan Ramadhan sebagai laboratorium tempat reaksi intra dan inter personal menuju keadaan yang lebih baik. Namun hasilnya tak kunjung memuaskan. Sebenarnya perubahan yang saya inginkan tidak muluk-muluk dan memerlukan biaya tinggi. Ini hanya sebuah perubahan sifat dasar manusia seperti dari mudah gusar menjadi lebih sabar, yang semula selalu perhitungan dalam bekerja menjadi ikhlas dan selalu ingin memberi terbaik, suka berburuk sangka menjadi positif minded, dlsb.

 Percayalah dibalik semua workshop yang berkaitan emotional intelegece kunci yang kita temukan dibilik jiwa kita yang lusuh ini bahwa musuh yang pertama harus dirobohkan adalah keinginan untuk mempertahankan sifat asal. Seperti sebuah elektron yang setiap kali mendapat kelebihan energi ia merasa tidak nyaman dan selalu kembali pada keadaan ground state. Sama pula dengan manusia yang sudah memilih kondisi ground statenya sebagai pilihan nyaman. Seorang pemarah akan merasa bahwa dengan mudah menumpahkan amarah pada siapa saja sebagai sesuatu yang nyaman. Ia akan merasa gusar saat diminta menahan amarah atau sabar barang sebentar. Kesukaan kita kembali ke ground state itulah dikenal dengan istilah HOMEOSTASIS.

 Menurut pakar psikolog, inilah kekuatan dalam diri manusia yang paling besar. ketidaksukaan pada perubahan atau sesuatu yang baru dan berusaha mengembalikan pada kondisi semula. Ini diibaratkan seperti karet gelang, saat karet ditarik untuk diregangkan kemudian karet dilepaskan. Karet kembali pada kondisi semula. Masih menurut sudut pandang psikolog bahwa HOMESTASIS bekerja di alam bawah sadar kita.  Saat alam sadar menginginkan perubahan maka terjadi pergulatan dengan alam bawah sadar.

 Saya menganalogikan pada sebuah lingkaran elektron dengan beberapa elektron yang ada pada lintasan energi tersebut. Kestabilan sudah tercipta dan elektron bergerak sesuai dengan energinya. Dalam sebuah atom terdapat beberapa lintasan elektron. Masing-masing lintasan akan mempertahankan kondisi stabilnya. Saat elektron beranjak  menuju ke lintasan berikutnya maka ia-elektron tersebut harus kembali menyesuaikan diri  dan berusaha menemukan kenyamanan baru. Saat kenyamanan tersebut bisa dicapai maka ia akan kembali mempertahankan kestabilannya sekalipun semula ia tidak menyukainya.

 Seperti itulah kondisi homestasis pada diri manusia. Perlu energi besar untuk meruntuhkannya. Saya bisa mengambil contoh pada pengalaman pribadi. Saat memutuskan keluar bekerja dari sebuah pabrik di Cilegon dan memutuskan pindah ke tempat baru dengan lingkungan dan kehidupan baru di Gulf bukan sebuah keputusan yang mudah. Saya sudah merasakan ‘kenyamanan’ dengan lingkungan serta irama kehidupan yang ada. Bekerja mencari rizki di lain waktu dan menyempatkan waktu lainnya di lingkungan sosial berinteraksi bersama dengan memupuk idealisme sungguh indah. Meninggalkan itu semua seperti meninggalkan sebuah kehidupan dan pindah ke alam berikutnya. Di tepian waktu saya menghabiskannya dengan merenung dan berusaha untuk ‘berdamai’ dengan alam bawah sadar saya. Seperti ada sebuah kesepakatan antara alam bawah sadar dan alam sadar bahwa saya sedang menuju perubahan yang ‘lebih baik’.

 Menaklukan homestasis memang HARUS dengan kompromi. Hal tersebut pula yang dilakukan para terapist dalam memberikn konseling kepada pasien mereka. Kompromi antara alam bawah sadar dan alam sadar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Ya! lebih baik..! itu kata kucinya. Alam bawah sadar kita cenderung melakukan penolakan terhadap sebuah perubahan karena terlanjur stereotip bahwa perubahan tersebut sesuatu yang belum tentu baik dan nyaman. Usaha untuk meyakinkan alam bawah sadar memang memerlukan dialog intra personal. Jika tidak sanggup kita memerlukan teman untuk menemukan titik kompromi dalam diri kita.

 Dalam sebuah literatur, Homestasis tumbuh saat daya kritis pada diri manusia terbentuk. Makin kritis maka makin kuat daya Homeostasisnya. Pada diri anak-anak daya kritis baru berkembang. Itulah sebabnya pendidikan dini dengan menanamkan hal-hal positif lebih efektif dan manjur pada usia anak-anak. Seiring perkembangannya maka resistensi dari Homeostasis makin kuat. Di saat itulah dialog sebagai jalan keluar yang aman tanpa pertumpahan emosi.

 Sebagai penutup, Homestasis sebuah bentukan yang ada dalam diri kita. Ia hadir sebagai penjaga pola serta ritme kehidupan kita yang tanpa kita sadari kita memilihnya sebagai jalan kehidupan kita. Ia begitu setia menemani kita dalam setiap kondisi dan memberikan perlindungan dengan rasa aman yang kita rasakan. Jika ingin meninggalkan sebuah kondisi dan hijrah pada kondisi berikutnya maka ajaklah terlebih dahulu ia untuk berdialog. Tanyakan padanya apakah ia berkenan menuju sesuatu yang lebih baik. lebih baik..jangan lupa sampaikan itu padanya!.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here