<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Akang Bagja &#187; Jurnal</title>
	<atom:link href="http://www.lawangbagja.com/category/catatan-perjalanan/jurnal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lawangbagja.com</link>
	<description>Ti mimiti Dina Hiji Wanci</description>
	<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:52:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Marega ya Koruptor (Matilah Wahai para Koruptor!)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 08:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[


Hari anti korupsi di dunia dicanangkan oleh PBB hari ini tanggal 9 Desember. Betapa pentingnya hari ini karena kehancuran dunia, masa depan kita dan tak terlepas juga dengan isu global warming terkait dengan ulah para koruptor yang banyak menyengsarakan umat manusia.
kONFLIK POLITIK MAKELAR KASUS, Ratusan ribu pohon ditebang, pendidikan terpuruk, biaya ekonomi mahal, kualitas jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3055272&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=219445751797&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=219445751797&amp;id=546650512"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs070.snc3/13743_210514735512_546650512_3055272_2057830_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div class="clear_left">Hari anti korupsi di dunia dicanangkan oleh PBB hari ini tanggal 9 Desember. Betapa pentingnya hari ini karena kehancuran dunia, masa depan kita dan tak terlepas juga dengan isu global warming terkait dengan ulah para koruptor yang banyak menyengsarakan umat manusia.</p>
<p>kONFLIK POLITIK MAKELAR KASUS, Ratusan ribu pohon ditebang, pendidikan terpuruk, biaya ekonomi mahal, kualitas jalan yang buruk, keadilan yang terkoyak, lambannya pembangunan, dan masih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh para durjana bernama koruptor.</p>
<p>maka MAREGA YA KORUPTOR..MATILAH WAHAI KORUPTOR..!!</p>
<p>Semoga demo hari ini di semua tempat aman dan lancar. Kita merindukan negara yang bersih. Saya mendoakan agar momen ini menjadi tonggak sejarah kebangkitan Indonesia. Sebagai warga MARGINAL sering merasa frustasi dengan fungsi negara. tak ada harapan bagi kami karena hukum sering diatur dengan UANG.<br />
Jayalah bangsaku..!<br />
dan MATILAH wahai para KORUPTOR..!</p>
<p>INDONESIA BERSIH 2009</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Serri Lel Ghayah&#8221; (Ranjang dan Cinta, hal yang tabu?)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/09/27/serri-lel-ghayah-ranjang-dan-cinta-hal-yang-tabu/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/09/27/serri-lel-ghayah-ranjang-dan-cinta-hal-yang-tabu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 04:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1044</guid>
		<description><![CDATA[

perempuan bedouin

Keterbukaan seringkali membuat pro dan kontra. Apalagi jika keterbukaan justru datang dari salah seorang wanita dari lingkungan arab Gulf yang sangat tertutup dan tabu dengan keterbukaan. Soalnya apa yang dibuka dan dikemukakan menyangkut urusan ranjang, cinta, dan wanita. Sebuah materi pembahasan yang tertutup rapat dan sangat rahasia. Tak ada yang berani membuka mulut, semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=1329198&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=162908746797&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=162908746797&amp;id=546650512"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2123/26/92/546650512/a546650512_1329198_3847.jpg" alt="" /></a></div>
<div class="caption">perempuan bedouin</div>
</div>
<div class="clear_left">Keterbukaan seringkali membuat pro dan kontra. Apalagi jika keterbukaan justru datang dari salah seorang wanita dari lingkungan arab Gulf yang sangat tertutup dan tabu dengan keterbukaan. Soalnya apa yang dibuka dan dikemukakan menyangkut urusan ranjang, cinta, dan wanita. Sebuah materi pembahasan yang tertutup rapat dan sangat rahasia. Tak ada yang berani membuka mulut, semua bungkam. Seperti bungkamnya pepasir di bumi jazirah.</p>
<p>Masyarakat Gulf memang saat ini sedang hangat memperbincangkan sebuah buku yang berjudul &#8220;serri Lel Ghayah&#8221; atau &#8220;Top Secret&#8221; yang ditulis oleh Weedad Lootah, seorang wanita yang kesehariannya bekerja sebagai konselor keluarga di pengadilan Dubai. Profesi sebagai konselor keluarga membawa Weedad pada realitas masyarakatnya yang hidup di tengah modernisme kemajuan infrastruktur dan warga dunia multi etnik yang terbuka namun masih menghadapi kendala menyangkut tertutupnya tabir urusan wanita, cinta dan keluarga.</p>
<p>Buku ini mengupas dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Weedad, yang kesehariannya bertugas memberikan konseling serta pendampingan bagi wanita serta pasangan yang dilanda persoalan keluarga. Bagaimana gagapnya seorang wanita dalam memahami kehidupannya yang sudah kadung tersekat oleh budaya yang membatasinya dalam segala hal. Weedad memang berusaha melabrak barier kultur yang sudah berdiri kokoh ratusan tahun. Ia mempunyai pandangan yang jauh dari masanya saat ini. Bahwa persoalan ranjang, cinta dan keluarga adalah persoalan fitrah yang harus bisa menempatkan siapa saja yang terlibat di dalamnya secara setara, satu level. Wanita bukan sekedar pelengkap seperti halnya perkakas dalam rumah tangga dan pria bukan diktator yang bisa melampiaskan semaunya.</p>
<p>Buku yang ditulis Weedad memang magnet yang menarik banyak perhatian. Sekalipun Islam, agama yang dianut oleh mayarakat arab gulf sudah ada ribuan tahun silam dan Ia membebaskan wanita dari perbudakan serta memberikan kesetaraan dalam hubungan rumah tangga namun pada praktiknya budaya menggeser kesetaraan itu dan meninggalkannya sendirian. Weedad dalam bukunya berusaha mengambil kembali apa yang selama ini ditinggalkan. Bahwa ranjang adalah sebuah arena pertarungan cinta dan bukan arena perbudakan. Semua bisa berawal dari tatapan dan senyuman para suami kepada isterinya dan mengelola bahtera tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja tetapi kerjasama keduanya dalam kesetaraan hak dan kewajiban adalah hal yang tak bisa ditawar. Sebuah mimpi bagi para wanita gurun tentunya.</p></div>
<div class="clear_left"></div>
<div class="clear_left">Buku yang ditulis Weedad memang memberikan implikasi yang cukup besar termasuk sedang diusahakannya pendidikan sex di lingkungan sekolah dalam bentuk memberikan pemahaman yang benar tentang apa yang tidak boleh dilakukan oleh anak-anak pada usia tertentu, hubungan apa yang dilarang oleh agama pada usia mereka dan sebagainya. Perubahan yang sangat terasa bagi lembaga konseling tempat Weedad bekerja adalah dalam bahasa pengaduan. Dahulu wanita arab Gulf malu untuk mengadukan apa yang sebenarnya terjadi dalam bahasa verbal yang sederhana tetapi berkat usaha konseling dalam perkembangannya menjadi lebih terbuka.</p>
<p>Weedad berpendapat ranjang dan cinta memang pangkal kebahagiaan dalam rumah tangga. Jika cinta sudah tidak bisa lagi diberikan maka tetap perlakukanlah wanita dengan cara yang baik dan itu pun sudah cukup memberikan kebahagiaan pada wanita. Hal yang sama di Indonesia dengan diberlakukannya undang-undang KDRT. Bagaimana hukum berusaha menjaga wanita agar para suami tetap memberikan perlakuan yang baik sekalipun cinta seringkali menemukan takdirnya di tempat lain. Perlindungan ini mutlak diberikan karena menyangkut hak hidup manusia yang bebas dari intimidasi dan kekerasan. Rumah tangga sebagai wilayah privasi seringkali memendam hal-hal buruk. Ia seperti sebuah negara kecil dengan batas wilayah pintu depan rumah dan belakang.</p>
<p>Apa yang dilakukan Weedad memang sebuah usaha yang tidak mudah di tengah budaya tertutup masyarakatnya. Kekuatan cinta Weedad yang menuliskannya dari hati membuahkan hasil hingga perlahan namun pasti banyak hati yang terbuka. Dukungan atas usahanya mengalir deras. Bukunya saat ini menunggu dialih bahasakan ke dalam bahasa Inggris. Wanita, pena, dan perasaannya&#8230;ah! apa yang lebih hebat dari semua itu?</p>
<p>Dari Tepian Teluk Persia,</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/09/27/serri-lel-ghayah-ranjang-dan-cinta-hal-yang-tabu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung dan Mimpi-Mimpi Ruwais</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/09/02/kampung-dan-mimpi-mimpi-ruwais/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/09/02/kampung-dan-mimpi-mimpi-ruwais/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 16:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[


&#8220;Tak sampai satu hari&#8221; rasanya waktu 3 tahun terlewati di Ruwais. Awal-awal jumpa di kota asri yang pendiam ini saya sempat meneriakan protes karena ia selalu bungkam sekalipun panas menyengat dan dingin  yang mencubit-cubit daun telinga. Bukan semata karena panas dan dingin tetapi kota ini sudah menerima takdirnya  sebagai kota kelas 2. Selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span></p>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>&#8220;Tak sampai satu hari&#8221; rasanya waktu 3 tahun terlewati di Ruwais. Awal-awal jumpa di kota asri yang pendiam ini saya sempat meneriakan protes karena ia selalu bungkam sekalipun panas menyengat dan dingin  yang mencubit-cubit daun telinga. Bukan semata karena panas dan dingin tetapi kota ini sudah menerima takdirnya  sebagai kota kelas 2. Selama ini ia hanya ditempatkan sebagai  persinggahan sementara untuk sejenak melelapkan mata di kala malam dan kemudian siangnya ditinggalkan untuk pergi bekerja. Nyaris kota kecil, mungil dan pendiam ini tidak akan pernah singgah di hati. Ia bukan siapa-siapa karena memang ini bukan tanah leluhur kita membangun peradaban.   <strong>Kampung Ruwais dan Merintis Peradaban</strong></div>
<p></span></span></span></p>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> Ini hanya kisah kecil saya kawan. Kami sekeluarga tinggal di kampung  paling barat pulau Jawa untuk kemudian hijrah ke kota paling barat di UAE. Mulanya, 3 tahun lalu kami memang memandang asing kota ini. Seperti sebuah asrama besar yang ritme kehidupannya diatur oleh liburan panjang sekolah saat musim panas tiba. Sekeluarga mudik untuk bertemu mertua, kakak-adik, teman-sahabat serta handaitaulan lainnya. Aktifitas yang dilewati dalam keseharian tidak ada yang istimewa selain mengantar dan menjemput anak di sekolah, kerja dan mengumpulkan lembur sebanyak-banyaknya kemudian mengkonversinya dengan dinar. Eiitt..tentu setelah dipotong zakat dan misi sosial lainnya. Sekali lagi itu ritme kehidupan saya. Tolong dibaca; Jika ada kesamaan tempat, pola dan ritme itu hanya kebetulan semata dan ini bukan rekayasa serta tidak ada maksud menghasut, mencela apalagi menistakan.   Kemarin beberapa hari yang lalu, tepatnya 25 Agustus 2009 pas kebetulan 4 Ramadhan 1429 H lahirlah puteri ketiga saya yang diberi nama Faisha Tasnim Cholik. Pukul 11:30 siang pertama kali ia menghirup oksigen di Tepian Teluk Persia. Sengatan panas udara di gulf seperti tak seberapa dengan sengatan kebahagiaan yang saya rasakan. <span id="lw_1251907465_1" class="yshortcuts">Anak</span> yang terlahir selain amanah ia pun rizki, anugerah dari Sang Khalik. Ramadhan kali ini memang begitu spesial buat saya dan insya Allah ramadhan tahun-tahun mendatang akan menjadi pengingat nikmat ini. Seperti saat <span id="lw_1251907465_2" class="yshortcuts">hari ini</span> ketika kami berlima mempersiapkan buka puasa. <span id="lw_1251907465_3" class="yshortcuts">Yahya</span>, putra pertama membantu uminya untuk menunggui penggorengan yang sedang menggoreng bakwan tidak lama ia mengajukan diri untuk membantu memotong-motong buah untuk dibuat stup. Sachio, putra kedua setia menjaga adiknya Faisha Tasnim. Saat azan magrib berkumandang, kami sudah berkumpul di sebuah meja. Keceriaan tampak pada Sachio yang untuk kesekian kalinya  walau masih duduk di grade 1 (kelas 1 SD) puasa penuh hingga sampai ke magrib. Nikmatnya hidangan rawon, bakwan, asin cumi, stup buah, dan capcai melupakan saya pada kampung di belahan bumi jawa sana.   Kampung Ruwais, inilah episode saya sesungguhnya. sebuah realitas yang harus diterima oleh alam bawah sadar. Bahwa kampung adalah tempat dimana ia menyediakan oksigen untuk kami hirup, air untuk diminum dan tanah untuk dipijak. Memang tanah di sini bukan untuk ditanami tapi paling tidak kita masih menapak di planet bumi. Menjadi lengkap ia dikatakan kampung bagi kami sekeluarga manakala putri ketiga kami lahir di sini. Rasanya tidak mungkin akte kelahirannya dirubah padahal ari-arinya tertanam di kota ini. Saat besar nanti putri saya tentu akan mengenang Ruwais sebagai kampung tempat ia dilahirkan. Maka, sudah menjadi bagian dari hukum kehidupan untuk merintis peradaban dengan  ikut menjaga dan memakmurkan kampung.  <strong>Mimpi-Mimpi Ruwais</strong></span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> Para pendahulu, generasi awal yang singgah dan menjejakkan kakinya di kota Ruwais ibarat pembuka jalur. Mereka telah berjasa dengan merintis suasana masyarakat yang guyuib dan penuh kekerabatan. Tak bisa disebut satu-persatu sementara sebagian sudah pergi ke belahan bumi lain. Pagi menjelang dan malam pun pergi, begtulah kehidupan berganti. Para pendatang baru makin banyak berdatangan. Mereka hadir dengan penuh warna dan cita rasa berbeda. Lain generasi memang akan selalu beda. <span id="lw_1251907465_4" class="yshortcuts">Saya</span> rasa kita, para warga Indonesia sepakat bahwa kehadiran kita di sini, di kota Ruwais karena kita mempunyai mimpi. Sebuah mimpi kehidupan yang jauh lebih baik lagi.   Tadi sore, saya membaca email ada yang bermimpi menjadi seorang penulis. Kemarin saya masih ingat seorang teman yang bermimpi menjadi petani dan peternak yang berhasil di kampungnya. Beberapa waktu yang lalu, beberapa kawan mengundang untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang musik, sebelum itu..digagas sebuah kumpulan pecinta fotografi agar menjadi fotografer handal. Mundur lagi ke belakang ketika beberapa kawan begitu antusias menjadi bloger dan sudah semakin produktif hingga saat ini dalam melahirkan tulisan dan buah fikiran. Lihatlah ..! mimpi-mimpi kita sahabat! ia perlahan menggelinding. .terus saling merekat setiap jalan yang dilalui makin lama membesar dan membesar. dan masih banyak mimpi-mimpi yang terus membumbung, mengawang diangkasa. Ya..itulah mimpi-mimpi Ruwais!.  Kota ini berperan besar dalam menghadirkan mimpi-mimpi kita ke depan. Maka jangan tempatkan ia sebagai hanya sekadar persinggahan sementara. Di kota ini kita menyelami kehidupan, mengeruk dirhamnya, membungkus ilmunya, mencatat jurnal perjalanannya, menata kehidupannya, dan mewujudkan mimpi-mimpi kita ke depan. Saya pun mempunyai mimpi untuk kota ini. Agar kelak ia menjadi kota pusat ilmu pengetahuan dan laboratorium kehidupan bagi kita dan anak-anak kita. Di dalamnya hadir manusia-manusia unggul dalam ilmu dan amal, mulia akhlaknya dan bersahaja. Agar semua terwujud maka syarat utama adalah cinta. Bisakah kita mencintai kota mungil yang berperan besar dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita ini? dan bagaimana dengan mimpimu teman?</span></span></span></div>
<div><span style="font-family: verdana;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/09/02/kampung-dan-mimpi-mimpi-ruwais/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan, yang Spesial di saat Panen Raya Kurma</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/08/19/ramadhan-yang-spesial-di-saat-panen-raya-kurma/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/08/19/ramadhan-yang-spesial-di-saat-panen-raya-kurma/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 13:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Jelang Ramadhan, kesibukan bukan hanya dijumpai di lorong-lorong pasar tradisional di kota-kota Indonesia. Hal yang sama juga dirasakan hingga ke pesisir teluk Persia. Nun jauh di belahan bumi bagian barat di negara persatuan emirat arab, bersebelahan dengan lahan kosong yang luasnya hingga 500 ribu kilometer persegi denyut semarak ramadhan menghentakkan irama pasar sentral, satu-satunya  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Jelang Ramadhan, kesibukan bukan hanya dijumpai di lorong-lorong pasar tradisional di kota-kota Indonesia. Hal yang sama juga dirasakan hingga ke pesisir teluk Persia. Nun jauh di belahan bumi bagian barat di negara persatuan emirat arab, bersebelahan dengan lahan kosong yang luasnya hingga 500 ribu kilometer persegi denyut semarak ramadhan menghentakkan irama pasar sentral, satu-satunya  &#8216;pasar&#8217; yang menyediakan beragam daging segar, ikan laut hasil tangkapan para nelayan yang hilir mudik di semenanjung arab yang saling berseliweran dengan kapal-kapal tanker dari berbagai perusahaan minyak dunia, buah-buahan yang entah didatangkan dengan cara apa karena seperti tidak ada musimnya selalu tersedia. </span></span></span></p>
<p><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> Ramadhan yang &#8216;Spesial&#8217; </span></span></span></p>
<p><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Layaknya bulan spesial, bulan yang dinanti oleh sekian milyar umat beragama Islam di seluruh dunia Ramadhan selalu membawa keunikan, kesan, keceriaan, kerinduan, sampai ke hal-hal nostalgia. Ramadhan memang seperti lem perekat. Minimal kita dihadapkan pada kebersamaan untuk saling bertemu dan menyapa saat buka dan sahur. Bukan hal yang aneh memang jika di era modern anak dan ayah, suami dan isteri juga dengan para tetangga terkondisi pada kesibukan. Begitu asyik dengan dunia masing-masing hingga sepertinya semua berjalan sendiri-sendiri. Padahal kesuksesan manusia ternyata bukan hanya terletak pada tingginya IQ tapi pada bagaimana ia mengelola komunikasi dengan sekitarnya, orang pintar menyebutnya EQ. Maka, di Ramadhan yang memang spesial ini, semua bisa berubah (walaupun hanya sesaat). </span></span></span></p>
<p><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Konon..ummat manusia terdahulu umurnya panjang-panjang. Nabi Adam umurnya lebih dari 900 tahun. Ummat Nabi Nuh, Hud-kaum &#8216;Ad yang terkenal gagah, Nabi Shalih -yang mampu membuat istana di bukit-bukit <span id="lw_1250687572_0" class="yshortcuts">batu</span> yang dipahat, terkenal dengan umur yang panjang. Saya tidak sempat buka catatan namun kira-kira gambarannya umur umat manusia zaman dahulu hingga ratusan hingga ribuan tahun. Waktu terus berjalan. Di era abad 20 umur manusia makin pendek. Namun kita masih bisa menjumpai hingga 100 tahunan lebih. </span></span></span></p>
<div><span style="font-family: verdana;"><span><br />
</span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Paradoksnya, saat era modern yang konon kualitas hidup makin membaik, pilihan makanan yang bergizi dari  alami hingga sintetis begitu mudah dijumpai, hiburan dengan hingar bingar pub dan diskotik yang &#8216;mengasyikkan&#8217;, hingga <span id="lw_1250687572_1" class="yshortcuts">gaya hidup</span> yang super jetset mampu membuat kita &#8216;lupa diri&#8217; hingga menganggap dunia adalah segalanya. Namun dibalik semua keindahan itu umur manusia dipatok hingga 60 an saja. Usia Rendra, yang budayawan dan seniman saja cuma 74 tahun! seniman memang punya kesempatan panjang umur karena biasanya tahu bagaimana menikmati hidup dengan seni &#8217;seadanya&#8217;. Dibanding Jacko sang superstar yang berlimpah segala hal namun tidak sampai 55 tahun!. Bagaimana dengan &#8216;politisi&#8217;? pilihannya serupa tapi tak sama, menikmati masa pensiun di prodeo karena ketangkap KPK atau mati muda karena jantung koroner. </span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Jika menghitung-hitung umur manusia dan pengabdian kepada tuhan, manusia zaman modern paling sedikit pengabdiannya kepada Tuhan. Umur 60 tahun saja kok minta masuk surga?! Bagaimana dengan umat lainnya yang harus mengabdi kepada Sang Khalik hingga ratusan dan ribuan tahun? Waktu semakin pendek, amal pun menjadi pendek. Kehadiran Ramadhan adalah Gift! hadiah..inilah masa percepatan. waktunya sempit tapi nilai amalnya dikali berlipat-lipat. tidak perlu sampai ratusan tahun tapi cukup dengan satu bulan. Sang Khalik menurunkan Lailatul Qadr atau malam 1000 bulan. Sama dengan 83 tahun. Jika masa akhir balig adalah 15 tahun, dan umur manusia sekarang rata-rata 60 tahun maka 45 dikali 83 tahun sama dengan 3735 tahun!   Memanfaatkan Ramadhan untuk sia-sia belaka sungguh sangat merugi! Allah SWt begitu memberikan kemudahan bagi kita dengan Ramadhan. Cukup 45  kali kita konsisten di <span id="lw_1250687572_2" class="yshortcuts">bulan Ramadhan</span> itu sama dengan nilai ibadah kita 3735 tahun!!. itulah sebabnya para orang tua dahulu kita selalu menghitung umur mereka dengan bulan Ramadhan.</span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> &#8220;Doakan, Ramadhan tahun depan bisa bertemu!&#8221;  begitu kira-kira mereka saling mendoakan dengan sesama kerabat. Jika ditanya umur, jawabnya gampang,</span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> &#8220;sudah 35 kali ramadhan terlewati, pokoknya pas puasa dah full dah!&#8221;. Tidak heran jika, Ramadhan sebagai tempat pertautan mata rantai kenangan.Biasanya di kampung suka saling mengenang, &#8220;Dulu ramadhan tahun kemaren bang Udin masih terdengar azannya, sekarang sudah tidak&#8221;. </span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> Saya pun begitu. Saat usia makin beranjak dan beban fikiran bertambah, hard disk isi kepala semakin penuh, imbasnya kenangan pun tergerus. Satu-satunya yang &#8216;meng-angchor&#8217; pada memori saya terhadap almarhum kedua orangtua adalah saat-saat Ramadhan.   Dahulu, ketika Ramadhan bapak saya yang pensiunan sersan macet  juara nomor satu bangunin orang sahur yang suara baritonnya mampu menembus hingga ke beberapa kampung. Full satu bulan tiada henti mengumandangkan &#8220;Marhaban ya Ramadhan&#8221; dengan birama 4/4. Semua menjadi kerinduan yang menghempas angin jika teringat itu semua. Dan ibu, ia adalah kristal yang gemerlapan. Tidurnya menjadi sangat singkat. Pukul 2 malam beliau bangun untuk shalat malam. Di samping ibu, dalam kondisi setengah tersadar saya masih bisa melihat derai air mata yang menganak sungai penuh khusyu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian menyiapkan sahur dengan menu yang selalu nikmat sekalipun alakadarnya. Maklum pensiunan sersan macet. Petang beliau pun berupaya menghidangkan menu berbuka yang tidak pernah kami merasa kecewa sekalipun dengan (sekali lagi) ala kadarnya. Maka, saat ramadhan tiba bayangan-bayangan itu berkelebat. Senyum, tatapan, suara bariton, gurauan, semuanya-semuanya. Tidak  tertampung secangkir hati ini menanggung kerinduan pada keduanya. Nilai-nilai kebaikan harus diteruskan, maka langkah awal pengenalan puasa ramadhan untuk putra kedua saya dilakukan diam-diam lewat video CD edukatif. Pilihannya beragam dari kisah Moko hingga <span id="lw_1250687572_3" class="yshortcuts">Upin dan Ipin</span>. Anak pertama, kelas tiga SD sudah bisa full sejak tahun kemaren berpuasa. Yang kedua mudah-mudahan bisa mengikuti jejak kakaknya. Tidak memaksa hanya sekedar menumbuhkan semangat belajar.</span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span> Ramadhan dan Panen Raya Kurma </span></span></span></div>
<div><span><span style="font-family: verdana, helvetica, sans-serif;"><span>Ya, Ramadhan kali ini saya pun berupaya menulis. sebuah ritual penghormatan dan takzim pada bulan suci. Sepertinya halnya ritual  kesibukan di sentral market  dalam menyambut bulan ramadhan dengan halwa, sweet/ manisan khas bulan ramadhan di jazirah para Nabi ini. Minuman limun aneka warna  beraroma <span id="lw_1250687572_4" class="yshortcuts">bunga ros</span> dan tamarin, alias kurma Indihe. Rasanya memang menyegarkan apalagi udara di jazirah yang panas dan pengap. Nafas terasa berat. Bagi para pekerja di plant petrokimia, ramadhan kali ini dan ke depan memang sebuah tantangan. Bermandi basah keringat. Namun tentu itu menjadi penambah bumbu kehidupan. </span></span></span></div>
<div><span style="font-family: verdana;">emalam saya begitu menikmati kesibukan di halaman mata. Diantara tumpukan khas penganan ramadhan, saya melihat buah kesukaan, At tiin yang disebut dalam surat At-Tin ikut meramaikan. Tidak lupa aprikot dan yang lebih spesial adalah aneka macam kurma. Ramadhan ini penuh berkah..di belahan arab. Masim panas adalah musim panen raya kurma maka dengan mudah dijumpai kurma dengan aneka macam merk. Dari yang baru dipetik(ratab)  hingga yang sudah dimodifikasi rasanya. Ada yang dipadu dengan coklat, kacang mete, ada juga yang sudah menjadi selai dan minuman berkhasiat untuk pengantin sunat. Kurma sepanjang sejarah memang erat dengan ramadhan termasuk hingga ke negeri timur sana, Indonesia. Kurang lebih ada 120 jenis kurma yang ada di jazirah in dan 1500 lebih varietas kurma di seluruh dunia saat ini. Beberapa diantaranya bernama: Khalas, dabbass, fard, jabri, barhi, naghal, khunaizi, shishi, lulu, buma&#8217;an, raziz, sayer dan zahidi. Dari semua jenis, Khalas lah yang menjadi favorite. Bentuknya kecil dan sangat manis. Kecil namun ternyata bisa juga mahal harganya.  Kandungan kurma yang dipadati oleh potasium dan sodium memang baik untuk membuka irigasi saluran darah. Warna aslinya beberapa macam, ada yang hidau, kuning, hingga merah tua. Begitu longkrah! orang Bogor bilang..Ramadhan Oh Ramadhan..Tak terkira syukur membasahi kalbu, Untukmu rinduku selalu   Di tepian Teluk Persia </span></div>
<div><span style="font-family: verdana;"><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/08/19/ramadhan-yang-spesial-di-saat-panen-raya-kurma/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rub al Khali</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/05/25/rub-al-khali/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/05/25/rub-al-khali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 14:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Wilfred Thesiger, seorang kebangsaan Inggris, ex-veteran perang dunia kedua dengan pangkat terakhir Mayor tidak ada kesan yang paling mendalam dalam perjalanan hidupnya selain menaklukan Rub al Khali bersama para Bedu. Rekor ini Sekaligus mencatat ia sebagai orang ke tiga ‘green horn’ (meminjam istilah Karl May) setelah Betram Thomas (1931) dan St. John Philby (1932). Jika dalam’ Winnetou’ Karl [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi Wilfred Thesiger, seorang kebangsaan Inggris, ex-veteran perang dunia kedua dengan pangkat terakhir Mayor tidak ada kesan yang paling mendalam dalam perjalanan hidupnya selain menaklukan <em>Rub al Khali</em> bersama para Bedu. Rekor ini Sekaligus mencatat ia sebagai orang ke tiga ‘green horn’ (meminjam istilah Karl May) setelah Betram Thomas (1931) dan St. John Philby (1932). Jika dalam’ Winnetou’ Karl May menyebut ‘green horn’ untuk para western yang hidup di padang prairie maka untuk tulisan ini istilah ‘green horn’ untuk para western yang mencoba menaklukan <em>rub al khali</em> atau dikenal dengan <em>empty quarter</em>.</p>
<p><strong>Rub Al Khali</strong></p>
<p>Jika membaca peta bumi maka kita akan mendapatkan minimal 2 wilayah ekstrim untuk kategori tempat yang tidak layak dihuni oleh manusia. Alasannya tempat tersebut tidak menjanjikan <a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/11/bedouin.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-603" title="bedouin" src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/11/bedouin.jpg?w=65&amp;h=96" alt="bedouin" width="65" height="96" /></a>kemudahan bagi manusia untuk tinggal di atasnya. Contoh yang pertama Antartika dengan temperatur ekstrim minus jauh dibawah nol derajat celcius, dengan siklus siang dan malamnya yang <em>nyeleneh</em> karena matahari tidak hadir seperti di wilayah khatulistiwa 12 jam perharinya. Tidak ada <em>summer discount</em> seperti di Dubai atau juga pantai yang menyediakan para turis untuk berjemur seperti di Kuta, Bali.  Tempat ekstrim kedua adalah <em>Rub al Khali</em> atau <em>Empty Quarter</em>. Wilayah gurun pasir yang membentang seluas 650,000  kilometer persegi atau 250,000 mil persegi yang membentang dari Saudi Arabia (saat ini) sampai meliputi wilayah Yaman, Oman, dan UAE.  Jika memakai GPS ada di posisi antaraa  longitud 44°30′–56°30′ timur, dan latitud 16°30′–23°00′ utara.  Sepadan dengan luas daratan Nederland, Belgia, Francis  plus ditambahin wilayah Texas kemudian digabungkan jadi satu.</p>
<p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/11/rub.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-604" title="rub" src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/11/rub.jpg?w=128&amp;h=83" alt="rub" width="128" height="83" /></a>Di namakan <em>Rub al Khali</em> atau <em>empty quarter</em> karena daratan kosong ini memang wilayah tidak berpenghuni. Jangan berpikir ada pasar, mall apalagi restoran karena jalan saja tidak ada. Mungkin sekilas <em>Rub Al Khali</em> seperti <em>dead sea</em> atau laut mati bagi satwa air. Inilah padang pasir terbesar di dunia dengan kondisi alam yang kejam. Ketinggian pasir dan bukit cadasnya bisa sampai setinggi menara Eifel 330 meter, dengan <em>extraordinary</em> suhu udara dengan penunjukan skala raksa (Hg) 55-60 derajat celcius, tidak ada air kecuali hanya di beberapa titik tertentu saja di sekitar wadi/lembah gurun berupa oasis. Kekejaman medannya jika ingin mengarungi<em> Rub Al Khali</em> tanpa persiapan memadai lengkap dengan GPS sama dengan kita mengarungi samudera atlantis hanya dengan <em>gedebong </em>pisang.</p>
<p>Seorang keturunan Bedu mengabari saya bahwa beberapa bulan lalu empat pemuda ditemukan mati di dalam mobil land cruissernya saat mencoba melintas Rub al Khali tanpa GPS serta bekal memadai. Para pemuda nekat ini berpikir dengan bermodal Land Cruisser bisa mengarungi 1000 km Rub al Khali hanya dengan 4 jam. Bagi mobil sekelas Land Cruisser 200 km/jam adalah hal biasa di jalan raya Gulf namun di <em>Rub al Khali</em> mereka terkena batunya. Konon di satu lokasi mobil mereka nyangkut di Bukit Pasir setinggi menara Eiffel tadi tidak bisa digerakkan. Tanpa GPS mengarungi <em>Rub al Khali</em> seperti berjalan mundur tak tentu arah. Jadilah mereka merana di ’samudera’ padang pasir yang tak bertepi.</p>
<p>Dahulu tidak ada yang peduli dengan <em>Rub al Khali</em>. Ini bukan wilayah yang diminati karena sama sekali tidak ada keuntungannya. Para penguasa dari dinasti ke dinasti membiarkan tempat ini dikusai oleh para Bedu. Bedu atau Bedouin, satu-satunya jenis manusia yang bersahabat dengan <em>Rub al Khali</em>. Dari wilayah inilah konon para Bedu itu menyebar sampai ke Afrika utara. Dalam sejarah Bedu dikenal juga para pasukannya yang handal dan trampil seperti pasukan Gurkha di Nepal. Suku Juhayna adalah salah satu tribalnya Bedouin yang disewa kerajaan Saudi untuk menjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Keistimewaan Bedu juga menguasai medan Rub al Khali tanpa peta atau GPS sekalipun. Mereka mampu bertahan hidup di tengah gurun serta bisa membaca kondisi alam dengan baik sehingga tahu tanda-tanda kapan akan terjadi badai pasir,  dlsb.</p>
<p><em>Rub al Khali</em> sebenarnya bukan hadir tanpa kisah. Konon di bawah timbunan padang pasir di wilayah <em>Rub al Khali</em> inilah terdapat  <em>the lost city</em> alias kota yang hilang. Kota ini dikenal dengan nama <em>Iram of the Pillars</em> atau <em>Iram dzat al Imad</em> dikenal kota seribu tiang. Kota ini pernah mencapai puncak peradaban manusia pada 3000 tahun sebelum masehi dan menghubungkan dua peradaban besar timur dan barat. Namun akhirnya kota ini tenggelam dan hilang tak berbekas. Dalam Al-Qur’an surat <em>Al-Fajr</em> ayat 6-13, disebutkan sebagai kotanya kaum ‘Ad. Ditenggelamkan ke dalam tanah disebabkan Raja Shaddad penguasa ‘Ad tidak mau mematuhi ajakan Nabi Hud A.S untuk menyembah Allah SWT.</p>
<p>Seiring waktu dan perkembangan teknologi akhirnya semua mata terbuka lebar. Rub al Khali wilayah tak bertuan, tandus, kering dan sunyi menjadi wilayah perebutan beberapa negara di jazirah Arab. Dilhat pada peta dunia sekarang ini <em>Rub al Khali</em> terletak diantara negara-negara teluk yaitu Saudi, Oman, Yaman, dan UAE. Saudi dengan kekuatan yang lebih dominan dibanding ketiga negara tetangganya menguasai hampir 6o persen wilayah <em>Rub al Khali</em>. Sementara para negara tetangganya mendapat sisanya. Wajar saja Saudi begitu bernafsu karena di <em>Rub al Khali</em> inilah kandungan  minyak dan gas sangat tinggi.</p>
<p>Para ahli geology mengungkapkan <em>Rub al Khali</em> adalah wilayah paling kaya minyak di dunia. Salah satunya yang terbesar saat ini adalah ladang <em>Ghawwar</em> di Saudi Arabia yang memproduksi minyak jenis <em>light crude oil</em> terletak di wilayah <em>Rub al Khali</em>. Di wilayah UAE sendiri beberapa eksplorasi gas dan oil terletak masih disekitar <em>Rub al Khali</em>, misalnya kawasan industri Habshan. Bahkan Ruwais sendiri masih termasuk wilayah <em>Rub al Khali</em> namun karena perkembangan industri menjadi sebuah wilayah pemukiman modern. Ke depan akan banyak wilayah <em>Rub al Khali</em> yang mulai ramai seiring terjadi perubahan gaya hidup dari para Bedu menjadi para pengusaha maju dan berkendaraan Mobil mewah. Untuk melihat padang pasir yang menghampar tak bertepi hanya butuh beberapa menit saja menuju timur laut untuk menuju tepian <em>Rub al Khali</em>. Pemerintah UAE sendiri sudah membangun jalan lingkar dari mulai kota Tarif, Medinat Zayed meliwati Liwa, kota asal dari klan <em>An-Nahyan</em> (pendiri negara UAE) sampai Ghayathi tempat pemukiman Bedu dari klan <em>Al mansoori</em>.  Maka sejak eksploitasi itu dimulai orang-orang di Gulf mulai memplesetkan <em>Rub al Khali</em> (empty quarter) menjadi <em>Rub al Ghali </em>( value quarter). Dari semula wilayah yang dipandang sebelah mata menjadi wilayah yang sangat bernilai (ghali) dan tambang duit.  Maha suci Allah yang menjadikan segala sesuatu ada keistimewaannya. Wallahu a’lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/05/25/rub-al-khali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meranggas di Musim Panas</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/04/22/meranggas-di-musim-panas/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/04/22/meranggas-di-musim-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 23:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[April. Beberapa pohon perlahan mulai meranggas. Mengucapkan selamat tinggal pada dedaunan. Satu persatu meninggalkan ranting dan cabang. menguning kemudian mengering berguguran. Sepertinya perpisahan begitu berat untuk diucapkan. Namun memang seperti inilah cara agar pohon itu bisa bertahan di musim panas, di batas empty quarter, tepian teluk Persia. Saat semilir angin berubah seperti tamparan keras yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="clear_left">April. Beberapa pohon perlahan mulai meranggas. Mengucapkan selamat tinggal pada dedaunan. Satu persatu meninggalkan ranting dan cabang. menguning kemudian mengering berguguran. Sepertinya perpisahan begitu berat untuk diucapkan. Namun memang seperti inilah cara agar pohon itu bisa bertahan di musim panas, di batas empty quarter, tepian teluk Persia. Saat semilir angin berubah seperti tamparan keras yang menyengat di pipi. Matahari merajang hamparan pasir seperti hendak menjadikannya santapan siang. Kami memang kelebihan cahaya beberapa bulan ke depan. Semua terasa memutih. Beberapa kali kupandangi pohon tersebut saat melintas mesjid Abdul Aziz, Ruwais. Entah pohon apa namanya. Mungkin tak penting untuk diketahui seperti halnya ratusan jamaah yang lalu lalang menganggap hampa kosong saja pada apa yang terjadi pada pohon tersebut.</p>
<p>Di seberang pohon tadi berdiri kokoh batang yang lurus, tegak. pelepah daunnya rimbun, menghijau. Dari sela-sela pelepah menjulur bakal buah yang sebentar saja begitu cepat membesar, menghijau. Ada yang kekuningan juga ada yang kemerahan. Hingga kemudian matang pada saat udara hangat dan basah. Pepohonan kurma yang berderat rapih di sepanjang jalan-jalan komplek perumahan Ruwais memang selalu menggoda untuk dipetik saat kita tergesa-gesa melaluinya karena sengatan matahari. Panas memang menjadi inspirasi bagi penghuni gurun yang satu ini. Seolah banyaknya sinar matahari yang terserap ikut memberikan citra rasa buah yang dihasilkan. Ada yang manis terasa lembut di lidah. Tidak kurang dan lebih. Takaran fruktosa begitu pas di lidah. Menikmati buah kurma yang matang di pohon memang tiada duanya. Jauh berbeda dengan buah kurma yang biasa kita beli di pasar,toko atau mall. Semewah apapun kemasannya rasanya tidak sebanding dengan kelezatan yang kita petik dengan tangan sendiri. Begitu &#8216;gentle&#8217; dan mengesankan seperti halnya menikmati coklat panas yang terhidang yang baru saja dibuat oleh para masterpiece di gunung Alpen sana.</p>
<p>Hubungan antara pohon yang meranggas dan pohon kurma keduanya baik-baik saja. Mungkin sekedar saling menyapa dan kemudian terdiam. Keduanya mengerti bagaimana menghadapi kondisi alam. Saya lupa menanyakan lulusan apa kedua pohon yang Allah ciptakan ini. Satu pohon melepas semua dedaunan, &#8216;bertelanjang&#8217; dengan hanya ranting dan cabang hingga saatnya lima atau enam bulan berikutnya kembali mengenakan baju hijaunya. Sedangkan pohon yang satu lagi justru &#8216;menyambut gembira&#8217; panas yang tercipta. Buahnya bermunculan, ranum dan menggoda. Maha suci Allah yang tidak menjadikan sesuatu, yaitu teriknya musim panas, hanya untuk sia-sia belaka. Maka di atas padang kehidupan aku pun berharap bisa seperti pohon yang &#8216;meranggas&#8217; jika keadaan serta nasib yang diterima begitu berat menghimpit. Begitu banyak cara kita untuk mampu bertahan dalam memenangkan berbagai persoalan hidup. Rumus input harus balance dengan output adalah kunci sederhana. Kita memang harus merelakan sesuatu yang sebelumnya pernah dimiliki dan membanggakan untuk kemudian dilepas pergi sesuai ketentuan sunnah-Nya.</p>
<p>Mungkin cara pohon kurma adalah sebuah inspirasi dahsyat. Saat semua makhluk sembunyi dan mengurung diri di tengah teriknya mentari. Pohon kurma berdiri tegak menghadang. Lurus dan kokoh. Disambutnya sinar matahari diserap dan dikunyah. Hasilnya buah kurma yang manis, lembut, dan melezatkan. Kemudian buah itu tersebar hingga ke pelosok Alaska sekalipun. Tidak ada kondisi yang ideal memang dalam hidup ini. Namun kondisi sulit sekalipun akan selalu tercipta peluang yang menjanjikan bagi siapa saja yang mau dan tegar menerjang badai kehidupan. Peluang bukan sebuah hadiah tapi ia terlahir dari keuletan yang garang. Kondisi ekonomi sesulit apapun akan tetap melahirkan banyak peluang. Bagi yang meranggas dan sedang berbuah senantiasa bertasbihlah pada Sang Khalik. Sungguh Allah tidak menjadikan sesuatu hanya untuk sia-sia belaka. Subhanallah!</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/04/22/meranggas-di-musim-panas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dubai; dari Seorang Supir Taxi</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/01/13/dubai-dari-seorang-supir-taxi/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/01/13/dubai-dari-seorang-supir-taxi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 19:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<category><![CDATA[dubai]]></category>

		<category><![CDATA[supir taxi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja Alam. 31 tahun umurnya. Lulusan sarjana ekonomi di sebuah universitas Bangladesh ini mengadu nasib menjadi supir taxi di Dubai. Ijazah baginya bukan jaminan meraih pekerjaan impian. Selama penghasilan yang diterima cukup memenuhi kebutuhannya apapun jenis kerjaannya tidak jadi soal. Seperti warga dunia ketiga lainnya, gemerlap Dubai memang menjadi magnet yang ikut menariknya kedalam pusaran roda nasib.
Alam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja Alam. 31 tahun umurnya. Lulusan sarjana ekonomi di sebuah universitas Bangladesh ini mengadu nasib menjadi supir taxi di Dubai. Ijazah baginya bukan jaminan meraih pekerjaan impian. Selama penghasilan yang diterima cukup memenuhi kebutuhannya apapun jenis kerjaannya tidak jadi soal. Seperti warga dunia ketiga lainnya, gemerlap Dubai memang menjadi magnet yang ikut menariknya kedalam pusaran roda nasib.</p>
<p>Alam bekerja 12 jam setiap harinya sebagai supir taxi. Bergantian (shift)  dengan patnernya yang sudah lama ia kenal sejak masa sekolah dulu. Hidup di kota besar seperti Dubai yang multi etnis dari belahan dunia lainnya menuntut Alam mahir berbicara dalam beberapa bahasa seperti Inggris, Hindi, Benggali, dan Arab.</p>
<p>Alam tidak sendirian di Dubai. Ada beberapa temannya yang berasal dari kampung mereka di Dhaka, Bangladesh. Dan mereka tinggal saling berdekatan di Dubai. Mengundi nasib dengan bekal titel sarjana ekonomi ia bekerja sebagai supir taxi walaupun itu bukan pilihan sebenarnya. Tuntutan ekonomi dari keluarga besarnya di Dhaka menguatkan ia untuk siap bertarung di kerasnya kota Dubai. Bukan hanya anak dan isteri Alam saja yang butuh biaya. Seperti warga dunia lainnya yang merantau di Dubai dan Abu Dhabi sekitarnya, Alam menjadi tumpuan dari adik, paman, bibi,  dan lain sebagainya.</p>
<p>Sudah menjadi hal yang lumrah jika ada salah satu saudara bekerja di luar negeri maka kerabat dan handaitaulan berharap cukup banyak padanya. Namun Alam menjalaninya cukup berbahagia sekalipun hanya  sebagai supir taxi. Hasil jerih payah  sedikit banyak membantu keluarganya di Dhaka. Ketika ditanya penghasilannya rata-rata sebulan,  Alam menjawab ia bisa mengantongi rata-rata  7000-an  dirham perbulan atau sekitar 20 jutaan (dengan rate kurs 1 dolar 11 ribu rupiah).</p>
<p>Pernah satu ketika di bulan Oktober penghasilan Alam menembus 11 ribu dirham (32 jutaan). &#8220;Saya seperti dapat lotere rasanya&#8221;, Ujar Alam dengan wajah berbinar-binar. Namun ia sengaja tidak menceritakan hal ini kepada teman-temannya sesama supir taxi. &#8220;Saya khawatir mereka cemburu, jadi biar saja saya rahasiakan&#8221;. Tukar menukar cerita dan &#8217;rit&#8217; pendapatan  yang mereka terima  sudah hal yang lazim saat mereka kongkow di waktu-waktu tertentu.</p>
<p>Alam tinggal sebagai bujangan di Dubai. Anak dan isterinya tinggal di Dhaka. Bersama ke empat rekannya sesama supir taxi mereka tinggal bersama di sebuah flat yang sudah disediakan. Perusahaan yang memperkerjakannya memotong 400 dirham sebulan untuk biaya tinggal di flat. &#8220;Saya rasa ini masih cukup wajar, di Dubai sewa akomodasi sangat mahal&#8221;, ujar Alam. &#8220;Saya patungan dengan 3 rekan lainnya&#8221;. Di ruangan flat kami sudah tersedia, kursi, kasur, serta beberapa perobatan lain alakadarnya. Waktu luang ia habiskan untuk kumpul bersama teman-temannya sekedar berbincang-bincang, menonton acara TV satelit yang ia beli second seharga 300 dhs, jika ada uang lebih Alam menonton film di bioskop dan selebihnya membaca buku di saat sengggang. Saat ini ia sedang membaca  &#8220;Secret&#8221; nya Rhonda Byrne.</p>
<p>Flat tempat tinggal Alam ada di pinggiran kota Dubai. Masifnya pembangunan di Dubai belum menyentuh lokasi jalan menuju apartemen mereka. Jalannya belum seperti di lokasi apartemen lainnya, berbatu dan berpasir. Ia terkadang kesal jika mendapati taxinya menjadi kotor.</p>
<p> &#8221;Kami bekerja dituntut untuk menjaga kendaraan selalu prima dan bersih. Ini sering membuat saya kesal&#8221;, gerutu alam.</p>
<p> Alam memang tidak seperti supir taxi lainnya. Ia tampil necis dan rapih. Seperti warga Dubai kantoran layaknya.</p>
<p>Biaya hidup di Dubai memang tinggi.  Alam bercerita bahwa ia harus bisa mengatur pola makan dan di mana saja ia bisa mendapatkan makanan dengan harga terjangkau. Bekerja secara bergantian 12 jam perhari dengan ke empat rekannya yang sama-sama membujang memang menghadapi beberapa kendala terkait dengan pola makan. Alam bercerita, waktu yang ada ia gunakan istirahat. Sementara untuk memasak sendiri butuh waktu dan kadang bersisa. Padahal memasak salah satu cara untuk menghemat uangnya. Seringkali selama 12 jam bekerja di jalan ia menahan lapar. Sementara untuk memasak sudah tidak ada waktu. Alam bersyukur menemukan &#8217;warung makanan&#8217; yang cocok untuk sakunya dan kebetulan tidak ada kesulitan menjangkaunya.</p>
<p>Alam berharap roda nasib berpihak padanya. Dengan bekal ijazah ekonomi satu hari  Alam bermimpi bekerja di menara-menara yang menjulang mencakar langit dan bisa membawa keluarganya menimati gemerlapnya Dubai. Selamat bermimpi Alam..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/01/13/dubai-dari-seorang-supir-taxi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bertemu Emha di Abu Dhabi</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/bertemu-emha-di-abu-dhabi/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/bertemu-emha-di-abu-dhabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 17:07:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<category><![CDATA[emha]]></category>

		<category><![CDATA[kyai kanjeng]]></category>

		<category><![CDATA[novia kolopaking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendapat berita soal kedatangan Emha dan Kyai Kanjeng langsung dari Dubes Indonesia untuk UAE, Pak Wahid Supriyadi sewaktu menghadiri undangan peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Sewaktu difoto bareng bersama, beliau berkata kalau Emha dan Kyai Kanjeng bakal manggung di Abu Dhabi. Saya bahagia mendengarnya. Sepertinya sesuatu yang langka jika Emha dan Kyai Kanjeng bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mendapat berita soal kedatangan Emha dan Kyai Kanjeng langsung dari Dubes Indonesia untuk UAE, Pak Wahid Supriyadi sewaktu menghadiri undangan peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Sewaktu difoto bareng bersama, beliau berkata kalau Emha dan Kyai Kanjeng bakal manggung di Abu Dhabi. Saya bahagia mendengarnya. Sepertinya sesuatu yang langka jika Emha dan Kyai Kanjeng bisa manggung di Abu DHabi dan seolah saya meragukan bisa tidaknya Emha hadir, namun karena yang bilang langsung pak Dubes maka saya percaya.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>“Dipertemukan” Lewat Emha</strong></p>
<p>Emha rupanya sudah digariskan terlibat dalam episode kehidupan pribadi saya. Emha memang yang mempertemukan saya dan bakal ibu dari kedua anak saya sekarang ini. Tentunya ini semua menjadi spesial bagi kehidupan saya. Ceritanya suatu pagi di tahun 1999, saat sedang menunggu bis jemputan ke pabrik saya menggunakan waktu yang ada dengan membaca. Apa saja dibaca termasuk ketika pagi itu buku kumpulan essai Emha yang kena giliran saya baca. Saya begitu asik saat itu berinteraksi dengan buah pikiran Emha. Terkadang senyum sendiri membaca kalimat-kalimat cerdas Emha. Saya memang kagum dengannya dalam mendekontruksi alur fikir orang Indonesia kala itu. Saya semakin terhanyut sampai saya tidak begitu mempedulikan siapa yang ada di hadapan, yang lewat atau yang kebetulan sama-sama menunggu bis jemputan. Tiba-tiba.. </p>
<p>“Baca buku Emha ya?!” suara halus itu mengusik konsentrasi saya. Saya mencoba seperti seorang pertapa yang tahan godaan dari bisikan sang Dewi, tanpa menoleh saya menjawab “Ya!” dan mencoba kembali ke fokus kalimat yang dibaca. Kemudian </p>
<p>“Saya juga suka dengan Emha! Tulisan-tulisannya bagus!” Rupanya kalimat terakhir itu bak anak panah yang melesat dari busur langsung melesat tepat mengenai sasaran.  Dewi cinta rupanya sudah berdiri di depan dengan sayap putih mengembang mengajak saya terbang <span class="yshortcuts">ke langit biru</span> yang di atas menunggu awan-awan tebal seperti gumpalan kapas.  </p>
<p>Maka kelajangan saya pun tidak lama lepas setelah peristiwa itu. Dan Emha adalah lelaki yang harus bertanggung jawab!</p>
<p> <strong>Jalan Sunyi Emha</strong></p>
<p><span class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">Buku</span> terakhir yang saya beli tentang Emha adalah Jalan Sunyi yang ditulis oleh Ian Leonard Bets yang berisikan biografi Emha, pandangan para tokoh dan warga dunia tentang sosok Emha. Buku ini seperti buku kesan dan pesan orang-orang yang selama ini bersinggungan dengan Emha dan Kyai Kanjeng. Sosok Emha dan apa serta siapa dia diungkapkan bukan dari pengakuan Emha tapi dari mereka yang kenal dan mengikuti kiprahnya. Bukan hanya muslim tapi pendapat tokoh lintas agama. Bahwa manusia ini menarik dan nyentrik bukan karena hanya sebatas kiprahnya namun lebih dari itu ia ikut mendekontruksi pemikiran-pemikiran yang kita anggap lazim. Bukan untuk sebuah jabatan ia melakukannya tapi semua dilakukan untuk misi utamanya yaitu menjadi manusia biasa. Ya! manusia biasa. Dalam salah satu halaman ia menyatakan bahwa salah satu perjuangan mendasar para Nabi dan manusia hebat lainnya adalah menjadi manusia biasa seutuhnya. </p>
<p>Bertemu Emha bagi orang kebanyakan seperti saya seperti bertemu dengan sahabat seperjuangan yang lama tidak jumpa. Betapa rakyat, manusia-manusia yang dianggap marjinal atau dimarjinalkan karena proses pembangunan atau karena dikorbankan demi kepentingan bangsa dan masa depan negeri begitu mencintai Emha dari kulit ari sampai tulang sumsum. Hati-hati kami sudah terpaut sekalipun raga tak pernah bersua. Saat semua tiarap dan bungkam melihat keangkuhan rezim <span class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">orde baru</span> maka Emha sendirian berdiri seolah menantang untuk ditebas. Tulisan-tulisan esainya serta aksi teatrikalnya sarat pembelaan kepada mereka yang dikorbankan.  </p>
<p>Manusia Indonesia itu ternyata butuh empati. Tidak banyak yang diminta kecuali cinta tulus dari para pemimpinnya dan mereka tidak bersedia memberikan. Emha hadir memberikannya serta menyatakan siap menjadi pelayan mereka. Wajarlah pengajian Padhang Mbulan selalu dihadiri ribuan orang. Konon, dalam sebulan Kyai Kanjeng bisa hadir puluhan kali. Ia bukan ustad, bukan orang pinter bahkan sekolah pun cuma sampai semester satu di UGM tapi berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan orang yang serba tahu dan menguasai ilmu masa depan. </p>
<p><strong>Bertemu Emha</strong></p>
<p>22 Nopember 2008. Sejauh 250 km saya bersama beberapa teman meluncur ke kota Abu Dhabi. Semestinya Ibu dari 2 anak kami ikut pergi untuk menemui Emha guna meminta kejelasan kenapa ia ikut campur dalam kisah kehidupan kami berdua. Tetapi karena si sulung sedang ujian semester pertama dan butuh bimbingan terpaksa saya berangkat sendirian. Mulanya saya pun tidak jadi berangkat karena solidaritas walaupun hati terasa galau. Air muka saya rupanya terbaca oleh ibu anak-anak maka ia mempersilahkan saya pergi dengan ringan. Ia tentu merasakan betapa saya menggebu-gebu bertemu dengan Emha setelah terakhir kali kami bertemu di Cilegon saat acara <span class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">Isra Mi’raj</span>.</p>
<p> Mina Port, Abu Dhabi 15:00. Ruang pertemuan besar belum begitu terlalu ramai. Saya masuk ke ruangan dan mata saya langsung tertuju ke panggung pertunjukan. Saya mendekat. Melihat-lihat situasi. Kemudian ke belakang panggung bertemu beberapa staf embasy yang kebetulan kenal. Saya bilang pada Pak Bambang, salah satu staf di kedubes bahwa saya ingin langsung bertemu dengan Emha. Beliau mempersilakan. Di belakang panggung ada ruangan, saya masuk ke dalam. Para kru Kyai Kanjeng sedang santai sebagian  mengobrol ngalor-ngidul. Saya tanya, mana Emha. Mereka menunjuk seseorang yang sedang tidur pulas diatas kursi.</p>
<p> Seorang pria dengan memakai kopiah rajut sedang terbaring memejam mata. Saya tidak jadi menemuinya saat itu dan balik ke tempat semula. Selanjutnya saya bulak balik ke ruangan di belakang panggung. Dan Emha masih tertidur pulas. Capek rupanya. Sampai akhirnya saya putuskan duduk di pojok ruangan menemani Emha yang tertidur. Setelah sekian lama, Mbak Via (<span class="yshortcuts" style="cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed;">Novia Kolopaking</span>) masuk ruangan. Saya minta izin agar ia tidak merasa terganggu saya ada di ruangan tersebut.</p>
<p> Setelah bercakap-cakap dengan Mbak Via, Emha akhirnya terbangun. Beberapa saat saya memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan kesadarannya pulih. Setelah itu sorot matanya tajam menatap saya. Saya menghampiri dan kami pun berbincang. Saya bahagia kami akhirnya bertemu. Klarifikasi sudah didapatkan kenapa Emha hadir dalam hidup kami. Kami saling mendoakan.  Selanjutnya ia memberikan ‘hadiah’ untuk kami sekeluarga. Sebuah pesan yang tergores di atas halaman muka buku “Jalan Sunyi” yang saya bawa jauh-jauh dari Indonesia.</p>
<p> ”Tidak terlewatkan segala sesuatu untuk dibarokahkan”, Emha</p>
<p> Pesan ini begitu dalam maknanya buat saya. Begitu dalam sampai menghujam ke kalbu, saya terharu. Sebelum berpisah karena pentas Kyai Kanjeng akan dimulai kami berfoto sejenak. Emha, akhirnya kita bertemu di tanah yang sama sekali tidak terlintas sebelumnya dalam benak kita berdua. Kita kebetulan bertemu di sebuah perempatan di jalan sunyi Emha!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/bertemu-emha-di-abu-dhabi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mozaik Gulf 1</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/mozaik-gulf-1/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/mozaik-gulf-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 16:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[
Masih sedang berupaya mengumpulkan serpihan mozaik kehidupan di Gulf. Saya ingin memulainya dari yang ringan-ringan saja. Sebenarnya sesuatu yang tampak kasat mata di depan kita. Jadi bukan sesuatu hal yang istimewa. Hanya saja saat hal itu saya ceritakan pada teman, famili, dan sahabat yang kebetulan hanya bertemu lewat rangkaian kata menjadi sesuatu hal yang baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Masih sedang berupaya mengumpulkan serpihan mozaik kehidupan di Gulf. Saya ingin memulainya dari yang ringan-ringan saja. Sebenarnya sesuatu yang tampak kasat mata di depan kita. Jadi bukan sesuatu hal yang istimewa. Hanya saja saat hal itu saya ceritakan pada teman, famili, dan sahabat yang kebetulan hanya bertemu lewat rangkaian kata menjadi sesuatu hal yang baru dan semoga menambah khasanah perbendaharaan hidup mereka. Saya akan mulai cerita soal India pertama kali.</p>
<p><strong>Soal India: Indonesia=India?</strong></p>
<p>Pengetahuan saya soal Gulf sama sekali blank, Nol besar!. Saat menginjakkan kaki di Abu Dhabi yang terpikir masih sebuah pertanyaan,”Apakah saya akan betah tinggal di negeri yang saat musim panas berubah menjadi wajan raksasa yang siap ‘menggoreng’ makhluk yang ada?”. Sekalipun berusaha mencari berbagai jawaban dan beragam pikiran saya kemukakan dalam bentuk intra communication,namun tetap saja jawabannya satu; “Saya Butuh! betah..itu lain persoalan dan lain cerita”. Maka tidak ada itu dalam benak mencari data soal siapa saja yang menghuni Gulf, bagaimana adat isitadat, makanannya apa dlsb. Jadilah saya tidak begitu banyak mempersoalkan dengan siapa saya nanti berhadapan.</p>
<p>Oh ya.., sebelum ke Gulf saya mesti cerita dulu soal film India. India bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Apalagi yang dulu punya kebiasaan <em>Hanging Out</em> depan TPI alias Televisi <em>Pelem</em> India. Saking banyaknya memutarkan film-film dari tanah hindustan ini sampai-sampai TPI dipelesetkan menjadi ikon India banget!. Wajar jika film-film India menghiasi layar kaca kita apalagi saat jam tayang <em>non primetime</em>. Untuk membuat acara sendiri budgetnya <em>gede</em>. Maka jadilah film-film India rajin menyapa kita karena murah meriah dan katakanlah cukup menghibur masyarakat kelas bawah.</p>
<p>Dalam film India masyarakat kecil menemukan kemiripan dengan realitas kehidupan.  Ada tuan Takur sosok yang kaya, jahat, congkak dan licik. Ada polisi culas dan penipu rakyat. Ada pemuda <em>Raj/Raja</em> si miskin yang ingin bahagia dan mencintai Rani,  si jelita yang kaya. Ada politisi korup yang kongkalikong dengan Tuan Takur. Wah serulah! Namun dari semua itu yang paling disukai oleh masyarakat bawah cuma satu sebenarnya. Tuan Takur beserta para konconya PASTI akan KALAH!. Hal yang jarang mereka temukan dalam film Holywood juga pada sinetron-sinetron yang menjual kewahan dan gaya hidup. Hasrat batin para wong cilik akhirnya dapat terpuaskan oleh film-film India yang terasa keberpihakannya pada mereka. Kita seperti sedang menertawakan kehidupan kita sendiri rupanya. India saat itu yang dalam pandangan saya pribadi sendiri dekat di mata juga dekat di hati. Dekat di mata karena saya amati ada yang sampai berulang-ulang film India dengan judul yang sama diputar sampai lecek di salah satu stasiun televisi kita. Saya sampai bertanya mungkin bagian <em>programmer </em>acaranya sudah mengidap Imsonia alias gejala lupa ingatan sementara sampai harus memutar-mutar film itu-itu juga. Dekat di hati karena saya kadung jatuh hati dengan Kajol, lawan main Sakh rukh Khan dalam Kuch-Kuch Hota Hai. Kerlingan sudut matanya bisa membuat saya terpeleset jatuh bangun jadinya.</p>
<p><strong>Soal India: Gulf yang sudah Terwarnai</strong></p>
<p>Sesampainya di Gulf saya mulai tersadar. Saat saya amati tatapan mata, tipikal wajah, gelengan kepala, bahasa yang saya dengar, makanan yang saya temui lengkap dengan kue bola-bolanya, ada sindhu di belahan tengah rambutnya, titik merah di jidat, kalung hitam di leher, gelang tali merah di tangan kiri, dan masih banyak lagi sesuatu yang tidak asing bagi Saya. Gulf adalah negeri pertama yang saya injak selain Indonesia, jadi harus asing buat saya tapi realitasnya berbeda dengan yang dirasakan .</p>
<p>Mengenal India tidak terlalu sulit. Karena secara budaya kita pun sudah banyak mengadopsi cara hidup mereka. Dulu nenek moyang kita menganut agama Hindu dan Budha yang memang berasal dari negeri Hindustan. Saat Islam datang, tidak serta merta hilang 100 persen. Sisa-sisa India masih begitu kuat menempel. Misalnya dari nama-nama orang Indonesia, ada Indra, Wisnu, Jaya, Dewi, Dewa, dlsb. Soal seni dangdut; yang sudah seperti nafasnya masyarakat Indonesia dari mulai diskotek sampai warung kopi,  juga menginduk ke lagu-lagu India. Masakan kari ayam atau <em>chicken curry</em> pun konon berasal dari India. Apakah mungkin ini bisa jadi alasan Indonesia sudah meng- India.</p>
<p>Ternyata bukan hanya Indonesia saja yang terwarnai oleh India tetapi di Gulf pun India aroma India sudah begitu menyengat. Bisa dikatakan denyut nadi Gulf lebih banyak ditentukan oleh ritme gendang para imigran India. Saat winter menjelang dan kebetulan berdekatan dengan pesta Divapali-Diwali, lazimnya mereka menyebutnya sebagai pesta cahaya. Dari toko grosir sampai mall menawarkan aneka produk. Di beberapa zona area perdagangan deretan kain-kain sari dengan aneka corak dan motif dipajang. Toko-toko emas dan berlian biasanya ramai dikunjungi. Motif yang ditawarkan pun sebisa mungkin selaras dengan kain sari yang nanti akan dikenakan. Mereka yang tidak bisa merayakannya di kampung halaman biasanya merayakan pesta Divapali di kota besar seperti Dubai. Tentu hal itu hanya mungkin bagi para imigran India dengan posisi tertentu saja.</p>
<p><strong>Soal India: Lingkup Pergaulan</strong></p>
<p>Dominasi kelompok tertentu akan membawa efek tertentu. Bisa dibilang stereotip terhadap sesuatu yang dominan akan cukup kental. Begitupun dengan imigran India. Wajar saja menurut saya, populasi mereka yang banyak sehingga segala sesuatu lebih mencuat ke permukaan. Di UAE saja, dari sekitar 4 juta penduduk, 1 juta pribumi, 1 juta India, sisanya warga dunia lainnya. Dalam catatan Institut Buruh Migran, India negara kedua terbesar di dunia dalam hal <em>remittance</em> atau penerimaan devisa dari para buruh migrannya. Sampai detik ini saya harus mengacungkan jempol bagi para lelaki India yang rela bekerja jauh ke negeri sebrang, bekerja kasar di tengah sengatan matahari 49 derajat dengan bau yang khas dan dibayar dengan upah yang cukup beli pulsa satu bulan.</p>
<p>Bagi komunitas Indonesia, punya sebutan khas bagi mereka, yaitu; orang bawang. Entah siapa yang memulai. pemberian nama ini bisa jadi karena mereka suka sekali makan bawang dalam resep masakan mereka. Konon bawang adalah pengganti unsur nafsu hewani yang berasal dari tumbuhan. Bagi orang India yang beragama Hindu, mereka adalah vegetarian. Protein hewani salah satu fungsinya adalah memicu ‘nafsu hewan’ manusia. Nafsu hewan ini sebenarnya juga dibutuhkan untuk sex. Nah fungsi bawang itulah pengganti protein hewani agar sex mereka juga tetap <em>tune in</em>.  Maka sejak itulah orang Indonesia menyebut ‘kata sandi’ orang bawang untuk orang India.</p>
<p>Jika hati tidak suka memang akan banyak alasan.  Begitu juga di tempat kerja. Saya harus melihat lebih bijaksana dalam memandang hidup. Mungkin itulah dibalik hikmah sekarang saya berada di tengah-tengah lingkungan kerja dengan aneka suku bangsa dan juga India  salah satunya. Masing-masing membawa karakter sendiri-sendiri. Baik menurut pandangan kita belum tentu baik menurut pandangan bangsa lain, begitu pula sebaliknya. Gesekan sebuah hal yang lumrah dalam sebuah lingkup pergaulan, tinggal bagaimana kita bisa menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam hal menaklukan emosi dan ego kita sendiri, dan itulah sejatinya sebuah pergaulan.  </p>
<p>Hal lainnya saya melihat mereka cukup agresif dalam berbagai hal. Kecakapan berbicara dan punya mental yang cukup kuat. Agresif bagi masyarakat Indonesia sesuatu yang kurang bisa diterima. Budaya kita lebih banyak kesandung dengan urusan perasaan. Inilah rootcausenya. saya bisa ambil contoh dalam pemilihan ketua RT. Untuk mencari siapa yang mau jadi ketua itu akan butuh berhari-hari. KIta lebih memilih sebagai save player dengan kursi yang empuk dan nyaman. Saya pernah ikut dalam sebuah training team building. waktu itu setiap kelompok diminta menentukan siapa yang akan jadi leadernya. Belum sempat kita berbicara dan baru mulai salaing pandang, teman saya yang India sudah mengacungkan jari. “Saya saja leadernya!”</p>
<p>Saya tidak ingin mengajak berpikir negatif untuk hal ini. Mengeneralisasi persoalan untuk menggalang opini negatif hanya melahirkan bola salju yang membesar dan menggelinding menghancurkan siapa saja yang ada di hadapan. Jadi urusan suka dan tidak suka buat saya itu personal.  Lebih baik saya menulis bagaimana kegagapan saya berkomunikasi bahasa tubuh dengan mereka.</p>
<p><strong>Soal India: Bahasa Tubuh</strong></p>
<p>Anda tahukan orang India mempunyai gelengan kepala yang khas? Ya! ini masalah pertama yang saya rasakan dari <em>Inter personal communication</em>. Lazimnya orang akan menganggukkan kepala jika setuju dan menggelengkannya jika tidak. Question; Bagaimana jika setuju dan tidak setuju gelengan kepalanya sama? gelengan kepala India yang khas dengan cara menggoyangkan kepala seperti ada <em>per</em> (spring) di leher kita. Suatu hari saya bertanya kepada rekan kerja. Jawabannya simpel hanya ya atau tidak dengan isyarat tubuh juga boleh. Namun ia menjawab dengan menggelengkan kepala. Saya tanya sampai beberapa kali, tetap saja jawabannya sama, menggelengkan kepala. Saat memesan makanan ke kafetaria, bertanya pada petugas kebersihan, bertemu dengan pegawai bank, mencarter supir taksi, semua sama menggelengkan kepala untuk jawaban ya atau tidak.</p>
<p>Akhir dari semua itu adalah saya temukan kuncinya. Jika ya..ia mengeleng sekali. Jika tidak ia menggeleng dua sampi tiga kali. Jika bingung alias ia sendiri tidak tahu maka ia menggeleng sampai sepuluh kali. Sudahlah, saya harus mempunyai rumus sendiri daripada saya dibiarkan tersesat di belantara kebingungan. Saya persilahkan anda untuk mencobanya menggelengkn kepala saat teman anda bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya simpel, ya atau tidak!.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/01/01/mozaik-gulf-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Syair Million</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2008/12/26/767/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2008/12/26/767/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 12:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<category><![CDATA[penyair]]></category>

		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>

		<category><![CDATA[sohor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/2008/12/26/767/</guid>
		<description><![CDATA[Apresiasi bangsa Arab terhadap kata sejak jaman Jahiliyyah sangat tinggi. Dahulu sebelum Islam turun, tumbuh dan berkembang di jazirah ini bangsa Arab sudah terkenal dengan kata-katanya yang indah terangkai dalam (entah) jutaan syair. Seperti tidak ada habisnya kata demi kata ditautkan menjadi sebuah untaian syair yang indah. Bahkan bagi yang tidak mengerti bahasa arab sekalipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apresiasi bangsa Arab terhadap kata sejak jaman Jahiliyyah sangat tinggi. Dahulu sebelum Islam turun, tumbuh dan berkembang di jazirah ini bangsa Arab sudah terkenal dengan kata-katanya yang indah terangkai dalam (entah) jutaan syair. Seperti tidak ada habisnya kata demi kata ditautkan menjadi sebuah untaian syair yang indah. Bahkan bagi yang tidak mengerti bahasa arab sekalipun bisa menikmatinya paling tidak lewat diksi syair yang diucapkan. Para penduduk Makkah konon saat itu lazim berkumpul menikmati setap kata yang diucapkan para penyairnya. Isinya bisa sebuah sanjungan, kisah heroik, ungkapan cinta, juga taklupa penistaan kepada sesuatu yang tidak disukai. Kesimpulannya apresiasi terhadap kata sangat tinggi di kalangan bangsa Arab. </p>
<p>Mungkin hal ini pula yang menjadikan mukjizat Nabi terakhir, Muhammad yang Mulia adalah Al-Qur’an. Wahyu yang menjelma menjadi sebuah rangkaian kata indah yang berisi tuntunan jalan hidup seluruh umat manusia. Firman Tuhan yang membebaskan manusia dari segala jeratan perbudakan sesama makhluk. Jika koran berisi berita yang sudah terjadi, maka Qur’an berisikan berita yang akan terjadi dan kemana kita akan kembali. Ia abadi terdokumentasi dalam bentuk mushaf hingga suatu saat nanti jelang kehancuran semesta sebagai simbol manusia tak memerlukan tuntunan lagi.</p>
<p> Dari sirah yang saya baca, bagaimana kekuatan serta keindahan gaya bahasa Al-Qur’an yang tinggi membuat seorang Umar Bin Khatab yang dulu terkenal bengis dan kejam serta hendak membunuh Nabi menjadi luluh hatinya dan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah. Sampai-sampai saat itu ada himbauan untuk dilarang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Apresiasi terhadap kata dalam bentuk keindahan serta kandungaan maknanya sampai saat ini masih terus terjaga di kalangan bangsa Arab.</p>
<p><strong>Syair ‘Million’</strong></p>
<p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/10/juri.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-574" title="juri" src="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/10/juri.jpg?w=128&amp;h=88" alt="" width="128" height="88" /></a>Salah satu apresiasi terhadap ‘kata’ di gulf dituangkan kedalam bentuk <em>Syair Million</em>. Sebuah kompetisi bergengsi antar negara-negara Arab terhadap keindahan kata dan makna. Pembacaan syair atau puisi ini berhadiah sampai jutaan dirham. Tahun ini saja berhadiah 5 juta dirham bagi pemenang pertama atau kalikan saja 2500 rupiah untuk dikonversikan  ke dalam nilai rupiah. Kompetisi ini menjadi daya tarik bagi seluruh Bangsa Arab karena bukan hanya hadiahnya yang besar tetapi juga soal gengsi.  kefasihan, ketajaman berpikir, ketinggian pemahaman bisa diukur dari pemakaian kata dan bagaimana mengungkapkannya. Kalau tidak ingin dibilang bilang bebal maka pergunakanlah kata yang baik. Kira-kira seperti itu mungkin citarasa mereka dalam hal apresiasi terhadap kata. </p>
<p>Seperti halnya sebuah kompetisi yang mengundang pro dan kontra, kompetisi ini pun mengundang keributan antar sponsor masing-masing negara peserta. Dari dua kali kompetisi diadakan pemenangnya selalu dari Qatar. Para pendukung dari Saudi yang merasa wakilnya lebih mampu dan indah dalam pengungkapan syair hanya jadi runner up. Para Hijazian tidak bisa menerima jika wakil mereka yang mashur dengan kefasihan serta penguasaan katanya yang tinggi harus jadi pecundang. Aksi boikot memboikot sempat mewarnai dunia maya. Namun akhirnya mencair setelah hadiahnya dinaikan ke 5 juta dirham (sebelumnya 1 jutaan dirham). Hampir mirip dengan kompetisi sepak bola dulu waktu di kampung. Hadiah kambing satu yang diperebutkan menyisakan masalah dan baku hantam antar suporter. Ketika hadiah dinaikan jadi kerbau, tetep juga…ribut lagi akhirnya.</p>
<p>Dengan adanya <em>syair million </em>saya menyaksikan sendiri tidak ada satu bangsa pun di dunia yang lebih hebat apresiasinya terhadap kata, syair, sastra atau apapun yang berkaitan dengannya selain bangsa Arab. Nilai hadiah yang diberikan sebesar jutaan dirham (dikalikan ke 2500 rupiah untuk konversi ke rupiah) bisa sebagai parameternya. Bagi kita, yang mengagungkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan nasional masih harus tertatih mengangkat dan menghidupkan sastra kita sendiri. Bagi para sastrawan nusantara yang berminat silahkan saja jalan-jalan ke website <a href="http://www.almillion.net/"><span style="color: #265e15;">www.almillion.net</span></a> sekalian lihat bagaimana cara bangsa Arab membacakan puisi. Biasanya si pembaca puisi duduk atau berdiri di podium dan sama sekali puisi atau syair yang dilatunkan  tidak melihat teks. Saya tidak tahu apakah puisi tersebut spontan atau memang dihapal. Link berikut akan menampilkan salah satu kontestan pembaca puisi dan nikmati diksi serta cara mereka menympaikannya; <a href="http://video.alapn.com/view_video.php?viewkey=d305d79c2ebc8c188342"><span style="color: #265e15;">http://video.alapn.com/view_video.php?viewkey=d305d79c2ebc8c188342</span></a> .</p>
<p>Jadi para penyair Indonesia, siap bertarung? jangan lupa pakai bahasa Arab yah kekekek..!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2008/12/26/767/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
