Archive | Goresan

PIN DEWAN, ANTARA ‘PANTAT’ dan KEPALA

Posted on 07 September 2009 by goblog'er

awangbagja; catatan buruhmigran

Pin Dewan

Pin yang disematkan di dada baju safari baju anggota dewan memang memiliki ’sima’. ‘Sima’ dalam bahasa sunda berarti pesona yang memiliki daya magis sehingga dapat membuat seseorang yang berada di hadapan tergagap, lemas, menunduk patuh, dan pasrah. Deskripsi saya mungkin membuat anda tambah pusing. Saya buat simpel saya, ’sima’ adalah kesan yang anda rasakan ketika berada di tempat sepi, sendirian tiba-tiba di depan berdiri sebuah harimau bertaring tajam 15 centimeter panjangnya, matanya mengumbar hasrat mengunyah anda, dan besarnya harimau tadi hampir sama dengan seekor kuda Australia!

Ya, itulah pin para anggota dewan kita yang terhormat. ‘Wajarlah’ jika pin ini dibandrol 5 juta rupiah perkeping. Pin ini hadir sebagai bentuk pengejawantahan akan makna dari sebuah lembaga yang menjungjung tinggi kehormatan. Pin bukan sembarang pin. Bukan pin yang biasa disematkan kepada para anggota siaga atau penggalang dalam kepanduan kita. Saya tidak tahu apakah ada versi KW 1 atau KW 2 untuk pin ini. Itu tidak penting karena biasanya semua sudah ditenderkan terlebih dahul melalui birokrasi yang dari dulu sampai sekarang konon banyak ‘keranjang sampahnya’. Ya..karena sebentar-sebentar urusan tender menender harus buang duit.

Sebagai warga kebanyakan, dengan pemahaman yang terbatas tentang ketatanegaraan, saya sendiri tidak mengerti jika pin ini bisa seharga 5 juta rupiah perkeping. Jika ia terbuat dari emas, yang jika dilihat rate emas 22 karat pergramnya 263676 rupiah maka mungkin saja beratnya sekitar 18,96 gram. Saya belum sempat memegangnya tapi bisa jadi beratnya kurang dari itu. Lantas apa yang membuat pin ini begitu mahal? Ada yang pernah berkata mungkin jalur birokrasi, mungkin modelnya berbeda dan sangat terbatas jumlahnya, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Di balik itu semua pin ini adalah simbol dari sebuah kehormatan. Ya kehormatan..! (barangkali)

Antara ‘Pantat’ dan Kepala

Saya tinggal di gulf saat ini. Ada yang menarik saya amati dalam hal budaya yang dijunjung tinggi oleh para penduduk asli arab gulf. Mereka memandang menjaga aib adalah sebuah usaha menjaga kehormatan. Contohnya; jangan pernah sekali-kali disengaja atau tidak menepuk ‘pantat’ terhadap teman sendiri (Yang sejenis tentunya). (maaf) Pantat dan sekitar aurat yang semestinya dijaga bagi mereka adalah wilayah ‘aib’. ‘Aib yang berarti malu dan cela. Bukan semata menepuk pantatnya tetapi perbuatan menepuk pantat itu sebuah simbol atau pesan bahwa wilayah yang semestinya dijaga itu sudah diintervensi sebagai bentuk usaha mempermalukan karena wilayah itu adalah aurat. Aurat diartikan sebagai ‘dignity’. Bisa juga berarti kemulyaan. Mengapa ini dipersoalkan ? karena ini menyangkut ‘worthy’. Seberapa berharganya kemulyaan diri mereka di hadapan masyarakatnya.

Ini berbeda dengan kita. Umumnya budaya kita adalah sangat menjunjung tinggi kepala. Kepala adalah simbol akan berharganya ‘otak’ manusia. Orang gulf bilang al mukh/ mukhun yang berarti akal. Lewat mukh/ akal inilah manusia diberikan kemampuan berfikir. Beda dengan binatang yang mempunyai kepala dan batang otak tapi tidak mampu berfikir. Kita sepakat begitu berharganya akal yang dismbolkan dengan kepala, maka siapa saja yang berani menyentuh, mengeplak, menjitak atau apapun bentuknya bisa diartikan sebagai sebuah ‘declare of war’. Pernyataan perang dan awas ya..kalau berani-berani pegang!karena hal itu bentuk penghinaan. Kemarahan luar biasa disertai perasaan terhina akan meluap hingga ubun-ubun. Ini semua karena masyarakat kita begitu menghargai bahwa AKAL adalah anugerah Tuhan dan pergunakanlah ia semestinya.

Ditarik korelasi antara (maaf) PANTAT di budaya arab Gulf dan KEPALA di budaya masyarakat Indonesia begitu singkron. Untuk arab Gulf kira-kira pesannya berbunyi;
Jagalah dirimu dari perbuatan cela/aib karena nilai seberapa berharganya dirimu ditentukan oleh usahamu menjaga aib/ cela dirimu dan keluargamu.

Sedangkan untuk orang Indonesia kira-kira berbunyi:
Jagalah akalmu dan muliakanlah dirimu dengan selalu mendahulukan berfikir dengan akal sehatmu.
Jadi yang satu menjaga cela dan satu lagi lagi menggunakan akal sehat. Itulah sebuah NILAI KEHORMATAN dalam hidup.

Tentang pin anggota dewan. Akal sehat saya serta merta menolak bahwa pin kecil bisa berharga 5 juta rupiah!.Jika ia berada di pasar atau mal dan dijual bebas menurut anda, adakah yang mau membeli pin ini seharga 5 juta rupiah? Sudahkah akal fikiran digunakan untuk menentukan nilai dari pin ini? Jika biaya untuk membeli pin ini berasal dari kantong pribadi tidak menjadi soal tetapi biaya membeli pin ini dari uang kita semua..ya uang anda dan seluruh rakyat Indonesia.

Di saat masyarakat tengah ditimpa musibah oleh gempa dan banyak menimbulkan korban harta serta jiwa dan hidup dalam keprihatinan maka sebuah AIB/ CELA rasanya uang yang seyogyanya bisa diperbantukan meringankan derita dan beban yang ditimpa musibah malah dipakai untuk biaya pelantikan. Meminjam istilah edirorial Indonesia, pelantikan tak ubahnya hari pertama masuk sekolah.

Maka, bagaimana kita memaknai arti dari harga sebuah pin yang akan disematkan pada dada para anggota dewan yang katanya terhormat itu?

Comments (0)

Kata (sebuah Rahasia Besar Kehidupan)

Posted on 05 September 2009 by goblog'er

Apakah kekuatan kata dalam kehidupan kita? Saya ingin kita sepakat bahwa kehidupan mungkin tidak akan pernah ada. Sekali lagi tidak akan pernah ada! Bagaimana kita mengenal sebuah kehidupan jika kita sendiri tidak mengenal kata ‘kehidupan’. Bayangkan jika semua yang ada di semesta tidak ada kata bahkan untuk menyebutnya sekalipun. Itulah sebabnya Sang Pencipta semesta menciptakan ‘qalam’ untuk pertama kali kemudian ‘menuliskan’ qadha dan qadar atau ketentuan bagi semua makhluk-Nya di semesta raya ini. Apa yang dituliskan oleh Tuhan tentu dalam firman-Nya dengan bahasa tertentu atas kehendak-Nya.

Kata pula yang menjadikan kedudukan Adam lebih tinggi dari bangsa jin dan malaikat. Dalam kisah penciptaan Adam yang diwarnai keberatan dari para malaikat karena tipikal yang serupa ‘pernah’ berbuat kerusakan di alam ciptaan-Nya. Jika ditelaah dalam surat Al-Baqarah ayat 30, malaikat berkata:

“Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami berasbih dan memuji-Mu dan mensucikan nama-MU?”

Kemudian ayat berikutnya (yanga artinya):
“Dan DIA ajarkan kepada Adam ‘nama-nama (benda) semuanya, kemudian DIA perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman: ‘Sebutkan kepada-KU namasemua (benda) ini, jika kamu benar!”

Dialog dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang artinya:
“Mahasuci ENGKAU, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah ENGKAU ajarkan kepada Kami., dst..”

Dari arti ketiga ayat di atas paling tidak kita bisa mendapatkan beberapa catatan:
1. Pengetahuan malaikat juga terbatas. mereka makhluk Allah yang diberi tugas sejenis saja. Tidak ada nafsu yang berpotensi menjadikan mereka berkhianat dari penagbdiannya. Apa yang mereka ketahui dilandaskan apa yang telah Allah ajarkan sebatas tertentu bisa dalam bentuk apa yang telah mereka saksikan sebelumnya.

2. Keterbatasan ini menjadi petunjuk dari pernyataan malaikat tentang ‘complain’ mereka kepada Allah tentang akan terjadinya kerusakan dari penciptaan Adam. Maksudnya, tidak mungkin malaikat tahu bakal terjadi potensi kerusakan dan pembangkangan jika tidak pernah terjadi HAL SERUPA sebelumnya. Apakah Allah memberitahu dahulu kepada para malaikat tentang potensi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh bani Adam? tidak! tetapi hal serupa pernah terjadi. Inilah yang mengusik tentang rahasia kehidupan sebelum manusia.

3. Maka Allah mengajarkan ‘asma, nama-nama bisa juga ‘kata’ atau sinonim dari ilmu pengetahuan. Maka serta merta para malaikat sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan atas perintah dan kehendak Allah kecuali iblis. Dari ayat ini saja kita bisa menemukan bahwa inti ilmu pengetahuan adalah ‘kata’!. Di kelas biologi para siswa SMP sudah dikenalkan tata anma tumbuhan dengan berdasarkan marga dan spesies. Dari penamaan ini bisa diketahui apakah sebuah tumbuhan berbiji tunggal, mempunyai kambium, berakar tunggang, dan seterusnya. Semua hanya dari kata!.

Maka di era modern kebutuhan manusia yang paling pesat berkembang adalah kebutuhan kata sebagai bridge-jembatan komunikasi. Satelit-satelit diluncurkan dan banyak menggantung di langit-langit tata surya kita, serta optik ditarik dari Asia hingga benua Eropa, kabel-kabel berseliweran di sepanjang jalan dari yang menggantung di atas hingga yang ditimbun dalam tanah, Dunia penerbitan dari koran sampai cerpen, media televisi yang berisi berita, diskusi, entertainment, hingga iklan dengan kata-kata menggoda, belum lagi provider search engine berlomba menyediakan account juga mesin pencari agar kata-kata bisa tumpah ruah dan mudah dipilah, dan tentu saja sosial engine macam facebook tidak akan hadir jika manusia sudah mulai bosan dan tidak mau menggunakan kata.

Kata..pula yang diturunkan oleh Sang Pencipta semesta sebagai pesan terakhir lewat Nabinya yang mulia, Muhammad shalla ‘alaih yang berisi himpunan peringatan, kisah manusia-mansuia sebelumnya serta semua hal yang akan terjadi dan dihadapi oleh manusia setelah episod kehidupan di dunia ini. Ya..lewat kata lah terungkap rahasia penciptaan!

Jika ada yang meragukan kata adalah sesuatu yang remeh temeh, orang pasar bilang ‘cuma bisa bacot!’, maka bagaimana mereka bisa menjelaskan dengan pemaknaan dari firman Allah dalam surat yasin ayat 82, yang artinya :
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila DIA menghendaki sesuatu DIA hanya berkata kepadanya: “jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu”.

Allah Sang Pencipta semesta saja menggunaka ‘kata’ dalam penciptaannya maka apakah masuk akal jika kita yang manusia yang lemah dan bodoh, katakanlah berada dalam sebuah sistem entah itu organisasi atau perusahaan bisa melaksanakan tugas dengan baik jika tidak ada deskripsi penjabaran, metode, handbook, dlsb tentang apa dan bagaimana kita melakukan pekerjaan.

Dan kata pula yang yang akan membeberkan apa saja yang telah kita lakukan, tangan dan kaki bersaksi sementara lidah yang kita pakai untuk mengungkapkan kata justru terkunci. Di sini bukan lidah yang dipermasalahkan tapi kata yang telah menjelma dalam bentuk laku dan tingkah sepanjang kehidupan kita. Termasuk jari-jari yang saat ini mengetik..ya Rabb, Inni dzolamtu nafsii..(sungguh aku menzolimi diriku snediri), nastagfiruka yaa Rabb.

Comments (0)

Revolusi Buruh Migran dan Seikat Cerita Kemiskinan

Posted on 04 September 2009 by goblog'er

Kemiskinan dan Dogma, Miskin=Surga?

Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin).
(HR. Al Bukhari dan Muslim)”

“Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun(1) sebelum orang-orang kaya memasukinya. ” (Al Hadist)

“Jika ingin bertemu dengan Tuhan, maka temuilah orang-orang miskin”, (sufi)

“Kesengsaraan yg paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.” (Al Hadist)

“Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (Al Hadist)

Ibrahim bin Adham mungkin satu-satunya manusia yang tidak akan pernah kita temui di masa sekarang. Seorang raja yang hidup bergelimang harta, kekuasaan, tinggal di istana mewah dengan halaman luas dan pagar yang tinggi. Semua kemudahan dikaruniakan kepadanya hingga pada suatu hari semua ditinggalkan dan memilih hidup sebagai orang biasa yang miskin dan bersahaja.

Siapa yang berani miskin? Apa yang salah dengan kemiskinan? dan masih banyak pertanyaan yang mengantri di benak menunggu jawaban. Kemiskinan sebuah mimpi buruk yang ditakuti manusia di penghujung peradaban saat ini. Ia adalah label penistaan lengkap dengan legalisir dari RT sampai kecamatan untuk (diizinkan) ditindas, dibohongi, diming-imingi, ditipu, dikadali bukan hanya psikis tapi juga fisik. Tidak cuma cercaan, hinaan, serapah kotor, tetapi juga penghianatan dan perampasan hak hidup.

Kemiskinan dan Negara Demokrasi

Manusia yang sudah dicap miskin maka ia adalah mangsa. Dalam politik suaranya si miskin dan si kaya sama. Sah-sah saja demokrasi, sekelompok orang memelihara kemiskinan agar hajat politiknya senantiasa terpenuhi. Maka dalam pesta demokrasi terjadi siklus 5 tahunan. Di mulai dari zero tahun, dikenal dengan musim kampanye. Semua modal dikerahkan, Hutang pun menumpuk, masa pemilih yang miskin adalah mangsa empuk. Saat kedudukan dan target partai tercapai, fase berikutnya refund. Hutang-hutang dilunasi lewat rebutan proyek, sodok kanan dan kiri. Rapat, sidak, kunjungan kerja, studi banding, pembahasan anggaran, dan entah apalagi namanya, yang jelas semua bisa memenuhi pundi-pundi modal politik. Proses ini berjalan sampai tahun ketiga. Tahun keempat dan kelima tahun persiapan untuk pemilu berikutnya. Perlu modal lebih besar!

Kemiskinan adalah kebodohan. Fase kehidupan yang paling gelap dalam sejarah anak Adam. “Orang miskin dilarang sekolah”, adalah jargon terselubung di dunia pendidikan. Atas nama peningkatan kualitas pendidikan, minimnya bantuan pemerintah, serta peningkatan kesejahteraan guru melahirkan fatwa halal bagi biaya pendidikan tinggi nan melambung. Bukan hanya sekolah umum saja tetapi sekolah dengan label agama disertai plus atau terpartri, atau dengan embel-embel ‘terlengkap’ ‘teruji’ mungkin juga ‘tersholeh’ menetapkan biaya pendidikan yang selangit. Anak-anak dari keluarga miskin yang mengandalkan BLT dalam biaya hidup sehari-hari harus rela sekolah ‘pinggiran’ yang guru, kepala sekolah dan murid-muridnya adalah potret berkaratnya seikat cerita kemiskinan. Sekolah ini tinggal menunggu waktunya saja untuk kemudian sekarat, dan mati. Anak-anak yang orang tuanya miskin dan lebih mementingkan rokok itu pun lambat laun takut bermimpi. Kenyataan begitu keras menampar kehidupan. Semua berakhir dengan putus sekolah. Akses pendidikan memang baru sebatas gedung sekolah dan kebodohan akan kita temui di jalanan.

Lingkaran ‘kelam’ dari kemiskinan menjerumuskan manusia turun temurun. Jika si bapak dan ibu miskin maka anak-anak mereka pun miskin. Pekerjaan dengan posisi empuk dengan gaji serta fasilitas mewah hanya bisa didapatkan dengan titel berjejer. Simbol dari ikan besar hanya bisa didapat dengan kail yang besar pula. Anak-anak dari kelurga miskin melahirkan tenaga kerja untuk kelas bawah. Buruh kasar, kuli panggul, tenaga kontrak dan borongan. Tak ada jaminan kesehatan, fasilitas perumahan, pendidikan, apalagi tunjangan karir. Selesai jasa serta keringat mereka diperas kemudian dicampakan.

Revolusi Buruh Migran dan Pemberantasan Kemiskinan

Seikat cerita kemiskinan. Ia seperti belenggu yang menjerat manusia hingga beberapa generasi. Penguasa yang lalai dalam menunaikan tugasnya menjadi kian lemah syahwat dalam memutus rantai kemiskinan. Alih-alih memutus rantai kemiskinan yang ada justru melanggengkan kantong-kantong kemiskinan. Memutus rantai kemiskinan tidak harus dengan membagikan uang pada setiap kepala keluarga miskin. Namun cukup dengan meningkatkan kualitas pendidikan dengan biaya seminim-minimnya. Tidak ada lagi sekolah mahal baik itu negeri maupun swasta. Bebaskan rakyat untuk belajar sepuas-puasnya. Tidak ada perguruan tinggi yang membuat jalur khusus lagi hanya untuk segelintir mereka yang kaya. Biarkan satu generasi merasakan pendidikan hingga perguruan tinggi. Darimana semua dana operasionalnya? Pusat dan daerah mampu mewujudkan. Berikan kesempatan satu generasi saja menikmati pendidikan hingga universitas maka niscaya mereka yang terlahir dengan pendidikan tinggi ini bisa memberdayakan diri mereka sendiri dengan keilmuannya. Para pekerja dengan ilmu dan keterampilan bisa dilepaskan berdikari hingga menjadi tenaga kerja/ buruh migran di negara lain.

Dunia semakin mengecil. Para tenaga kerja terampil banyak dicari oleh bangsa lain. bayangkan jika jutaan tenaga kerja Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan bisa bersaing dan menyerap berbagai posisi di negara asing dengan gaji dan kesejahteraan yang lebih baik maka imbasnya akan mengalir kepada saudara dan handaitaulan mereka. Dengan komposisi tenaga kerja yang masih didominasi oleh buruh kasar dan unskill labour saja para tenaga kerja Indonesia mampu mengirimkan uang 100 trilyun bagi negerinya! pertahun. Semua jerih keringat mereka bukan berarti tanpa pengorbanan. Kita sudah muak dan bosan dengan cerita penyiksaan, penganiayaan, pemorkoasaan serta penistaan lainnya. Bayangkan jika semua tenaga kerja yang ada adalah tenaga terdidik dan terampil!. Berapa besar yang dapat disumbangkan?

Dalam data Institut Migrant worker, Indonesia masih jauh kalah dibanding tenaga kerja Filipina. kesadaran pemerintah Filipina dalam mendorong warga negara untuk menjadi para pekerja terdidik dan terampil sangat kuat. Ini karena pemerintah Filipina tahu betul, remittance para tenaga kerja mereka sangat membantu perekonomian negaranya. Jargon tenaga kerja migran sebagai pahlawan devisa bukan sekedar fake campaign!. Seorang buruh wanita, pembantu rumah tangga yang akan dihukum mati saja bisa selamat dan bebas oleh campur tangan presiden mereka saat itu. Seorang presiden mengurus pembantu?! itu sebuah nilai kemanusiaan yang luar biasa!. Sementara para pembantu rumah tangga Indonesia dari yang hamil tidak jelas, dianiaya bahkan konon hingga ada yang hilang atau ditemukan di tempat sampah dalam kondisi menggenaskan dan yang harus mati terkena hukum had (hukuman mati) semua berlalu begitu saja. masih segar dalam ingatan kita, ketika ratusan warga Indonesia berada di kolong jembatan di pinggiran kota Jeddah (mungkin sekarang masih kelar?). Apakah tidak cukup merasa dinistakan? atau kita memang sudah bebal dan tebal muka melihat anak bangsa sendiri dibiarkan tersiksa. Mereka mungkin salah karena tinggal secara ilegal namun kita perlu juga bertanya apakah kita sebagai anak bangsa pernah memperlakukan anak bangsa lain yang overstay dengan menempatkannya dipinggiran tol jagorawi misalnya?.

Jika pemerintah sudah lelah mengangkat nasib atau memutuskan rantai kemiskinan maka cobalah tips diatas. Berikan pendidikan setinggi-tinggi untuk satu generasi, setelah lulus berikan mereka pasport kemana saja ke negara mana saja mereka inginkan kalau perlu hal ini dijasikan semacam produk unggulan untuk kampanye tenaga kerja profesional nan mendunia. Maka ketika semua tenaga kerja tadi terserap dibelahan negara lain mereka akan memberikan tanda terimakasihnya melalui remittance. Dana segar yang mengalir ke dalam negeri bisa membantu menggerakkan roda perekonomian. Mereka datang dengan modal segar lagi halal. Bebas dari money laundry. Cita-cita indonesia menjadi bangsa maju bisa dipercepat ketika angka kemsikinan bisa direvolusi. Sehingga tidak ada lagi cerita seikat cerita kemiskinan dari generasi ke generasi.


Comments (1)

Menembus ‘Rub al Khali’, ‘Dinner La Bedouin’ dan Syair Bedouin

Posted on 12 May 2009 by goblog'er

Saya pernah menulis tentang Rub al khali (empty quarter), sebuah gurun yang luasnya ratusan ribu kilometer persegi. Daratan yang memiliki perbedaan temperatur ekstrim saat siang dan malam terlebih di musim panas yang baru tiba ini. Ruwais, kota kecil yang cantik tempat kami tinggal sekeluarga sebenarnya masih berada dalam wilayah ini. Cuma memang letaknya berada di pesisir teluk Persia. Kota Ruwais adalah kota kedua terdekat setelah Al-Sila dari arah border Saudi. Ke dua kota ini memang kota paling barat negeri UAE. Halaman depan kami sangat luas menghampar. JIka naik ke atas gedung maka hamparan gurun rub al khali begitu menggoda untuk dijelajahi.

Menembus ‘Halaman Belakang’ Rub al khali
Selepas magrib saya dijemput oleh tiga warga pribumi dan seorang sobat (Bin Husen) dengan mengendarai nissan patrol. Acaranya memang masih belum begitu jelas. Namun saat diberitahu akan ‘menggerayangi’ gurun di belakang kota Ruwais saya menjadi bergitu bersemangat. Lewat gate security di belakang istana syeikh Khalifa kami mulai ‘ekspedisi’ ini. Raungan 4wd nissan patrol yang menerjang gundukan-gundukan pasir menjadi menu pembuka perjalanan malam itu. Sesekali sang driver, Bin Sheiba lelaki yang mempunyai trah Bedouin menggoda adrenalin kami. Mobil yang dikendarai seperti kuda liar dalam acara rodea. Berputar-putar, meraung, zigzag, melompat, terlebih saat menerjang gundukan yang lebih tinggi dan dibawahnya ternyata ada kobakan kosong. Bedebum, bruumm..! kami bersorak!

Suasananya memang menyenangkan. seperti arena pasar malam. Terlebih saat kami tidak diperkenankan mengenakan safety belt. Mobil 4wd seperti hendak ’slightly turn over’, namun kembali ke posisi normal karena kepiawaian sang pengemudi. Bagaimanapun saya harus akui lelaki bedouin ini sangat terampil. Ia memang lahir dan besar di jazirah ini. Dalam tulisan saya tentang Bedu sebelumnya, suku ini memang salah satu suku tertua yang masih eksis. Bedu atau bedouin adalah anak-anak manusia yang mempunyai garis keturunan hingga Ibrahim/ Abraham. Seperti sebuah sumpah kesetiaan, Bedu memilih tinggal dan bersahabat bersama gurun.Kami semua larut dalam perjalanan yang mengasyikkan. Kami terus menembus lebih dalam ke arah gurun. Meninggalkan gemerlap lampu kota Ruwais. Lebih dalam, terus menjauh hingga sampai pada sebuah tempat entah dimana karena kami tidak membawa GPS di padang dengan pasir lembut dan pohon Romts yang tumbuh liar di sekitarnya.

Dinner La Bedouin (Makan Malam Ala Bedouin)
Bulan seperti potongan semangka. Cahayanya masih redup. Terhalang oleh bukit-bukit pasir rub al khali. Kami memutuskan berhenti dan menggelar perbekalan yang telah disiapkan. Mungkin ini tujuan kami sebenarnya. Makan malam di tengah gurun rub al khali. Ranting-ranting kering Romts dikumpulkan untuk bahan kayu bakar.Romts salah satu keajaiban di gurun. Tumbuhan ini bisa hidup di daerah kering minim air Selain menjadi makanan gamel/unta, kegunaannya untuk bahan bakar memasak. Baranya seperti bara batok kelapa, awet. Menu makan malam yaitu ‘Dajjaj kabsah wa magdi’ (chicken kabsah-semacam nasi kebuli dan grilled chicken). Cara memasaknya seperti ‘gonjlengan’ di rumah dunia. Bedanya ayam dan nasi dicampur menjadi satu bersama bumbu. Dimasukan dulu bawang bombai, tomat, dan bumbu lainnya untuk ditumis, kemudian potongan ayam. Ditambahkan air dulu sedikit. Setelah dianggap cukup meresap baru dimasukan beras dan air secukupnya. Dimasak dalam bara yang tidak terlalu besar. Sebenarnya menu dajjaj kabsah ini pengganti dari kharouf. Menu Bedouin sesungguhnya adalah kharouf. Dagingnya kambing muda atau juga daging onta. Menurut tradisi bedouin cara mereka menghormati tamu dengan memotong onta dan masakannya disajikan kepada tamu.

Sambil menunggu chicken kabsah dan grilled chicken yang dibulak-balikan, gahwah arabic disiapkan. gahwah atau kopi arabic rasanya menjadi lebih nikmat dan aromanya menjadi spesial jika dicampur dengan ‘heil dan ghirfah’. Gahwah biasa disajikan tanpa gula. Kadar pahitnya bisa disesuaikan selera. Namun dengan tambahan ‘heil dan ghirfah’ rasanya menjadi unik dan segar. Gahwah dimasak dengan teko arabic seperti dalam kisah aladin. gelasnya kecil-kecil jika ingin tambah, cukup gelas diangkat maka tuan rumah akan menuangkan gahwah kembali. Jika sudah cukup, cangkir kecil mesti diacungkan dan digoyang-goyangkan oleh jari-jari kita. Singkatnya, perjalana kami membelah malam, menusuk perut rub al khali yang sepi tidak sia-sia. Makanan yang dimakan bersama dalam satu nampan besar cukup mengenyangkan perut lima orang. Tradisi makan bedu selalu bersama dalam satu wadah. Digelar seperti acara muludan. Kebersamaan akan semakin kental dan kuat dengan tradisi semacam ini.

Sambil menunggu makanan turun, kami ditawari Shisha. Sekedar ingin tahu rasanya saya ikut mencoba. Shisha memang rokok khas Arab yang beraroma khas. Pipa cangklongnya khas dan besar. Aromanya memang diambil dari rasa buah. Malam itu shisha yang dibawa beraroma apel. Saya tidak tahu apakah shisha sama dengan rokok, alias sama-sama mempunyai kadar nikotin. Hanya memang menghisap shisha perlu tarikan napas yang dalam. Seperti menghisap gas menggunakan selang. Umumnya pandangan masyarakat arab terhadap shisha sama dengan pandangan orang Indonesia terhadap rokok. Hanya untuk orang dewasa saja dan dianggap sesuatu yang kurang lazim atau kurang baik jika yang menghisapnya seorang mutawa. Mutawa adalah sebutan seorang alim dalam hal ilmu agama, Kiyai jika ia di Jawa. Namun di Jawa Kiyai bebas merokok.

Syair Bedouin
Merebahkan diri di atas pasir-pasir lembut dan memandang langit dengan bintang yang bertebaran begitu menenangkan. Tak ada sesuatu yang menghalangi pandangan kami. Langit begitu polos menelingkupi. Cahaya bulan perlahan mulai sedikit menerangi. Maha suci Allah yang menjadikan malam dan siang sebuah pasangan yang serasi dalam kehidupan. Saya Menikmati kesunyian di hamparan padang pasir dengan bermandikan cahaya. Sunyi, tanpa suara jangkrik. Badan terlentang mencoba mengitung bintang. Gugusan rasi bintang scorpio tetap menggantung setia tak berubah letak susunannya. Bin Sheiba mulai membacakan syair dalam bahasa arab. Saya masih sulit memahami namun mendengarnya sudah cukup menyenangkan. Kebiasaan orang arab dalam syair sudah sedari dulu. Syair-syair itu turut hidup dalam kehidupan mereka. Seperti air dalam kehidupan manusia. Cerita tentang seorang Qandariyah-lelaki bedouin, cinta, asmara, anak, keluarga, peperangan, pemimpin, gurun, langit, hujan, semua disyairkan. Sangat indah!

Dalam tulisan saya tentang “syair million” bisa lebih jelas menjadi gambaran betapa masyarakat arab memang terampil dalam hal kata. hadiah besar disediakan untuk sebauh kompetisi bergengsi membacakan syair karangan sendiri. Saya sendiri suka membaca syair arab dan mencoba cari tahu artinya. Syair-syair mereka begitu membumi. Deskripsi dan metaforanya selalu segar dipahami. Ada seorang penyanyi terkenal di jazirah ini, Muhammad Abduh namanya. Ia legendaris yang menyanyikan syair, seperti halnya musikalisasi puisi. Lagu-lagunya digandrungi para pemuda lokal. Bedouin pun sangat gandrung dengan syair. Jika mendengar seorang bedu/ bedouin mengungkapkan syair sekalipun tideak mengerti kita tetap bisa menikmatinya. Di Dubai baru-baru ini juga dipentaskan sebuah ajang penampilan pembacaan puisi lintas bahasa. Semua warga dunia hadir menikmati syair dalam bahasa yang berbeda. Ya, syair dan puisi adalah ungkapan bahasa kalbu manusia.

Pukul 23.00 malam. Karena kami harus bekerja esok pagi maka Kami segera berkemas. Sayang sekali mengakhiri ini semua. Semua dibereskan dan siap menuju ke kota cantik, Ruwais namanya. Seperti biasa desert safari dimulai kembali. Mobil dipacu kecepatan tinggi. Semua diterjang. Meraung-raung, berputar-putar, melompat, sizzag, ya!seperti kuda liar. Di tengah perjalanan sang driver melihat arnab.Sejenis kelinci gurun. “Syuf..! arnab!” , lihat kelinci!. Seperti kerasukan mobil dipacu seperti harimau yang berlari mengejar mangsa. Mobil terapung-apung di atas bukit-bukit pasir. Tidak ada yang ingat ke arah mana kami berlari. Menerobos gelapnya malam. Baru hendak pulang, tiba-tiba muncul lagi kelinci gurun kemudian dikejar lagi. Biasanya jika kelelahan kelinci ini akan berhenti seperti pasrah menerima nasib yang akan menimpanya. Sampai satu ketika, kami mengingatkan dirver untuk pulang. Dan, Kami baru tersadar bahwa kami kehilangan arah. Get Lost on the desert!
(continue)

 

Howgh!
,Dari tepian teluk Persia

Comments (1)

Bulan Cinta Buku: Diskusi, TeleTalk bareng Gola Gong, dan Agenda Berikutnya

Posted on 01 May 2009 by goblog'er

Antara Andrea Hirata dan Gola Gong
Laskar Pelangi, adalah sebuah episode anak-anak manusia di sebuah tempat yang hampir tidak pernah tersebut dalam sejarah. Andrea Hirata, anak lelaki Belitong mencurahkan sekelumit episode hidupnya yang kemudian membuat seisi dunia tercerahkan. Kegetiran hidup diubahnya menjadi kisah penuh inspirasi. Mereka yang bermandikan madu dalam fasilitas sekolahnya, dengan prasarana lengkap, pengajar yang bertitelkan berjejer bukan sebuah ukuran dari sejatinya pendidikan. Ada pula yang merasakan nasib yang tak jauh berbeda dengan apa yang di alami Laskar Pelangi, dengan segala keterbatasan menjadi berbesar hati.

Gola Gong, lelaki yang dianggap tak sempurna oleh orang kebnyakan pun membuktikan hal serupa. Kekerasan hati dan ketajaman fikirannya membuat warna baru kancah penulisan dan dunia literasi di Indonesia. Tidak kurang 70 judul sudah lahir hanya dengan 5 jari!. Tidk berhenti disitu saja, lewat Rumah Dunia beliau menularkan semangat untuk melahirkan generasi baru rakyat Banten dengan menulis dan membaca. Banten umumnya dikenal lewat idiom Golok dan Magic dan Rumh Dunia merubahnya lewat “Asah Penamu, Simpan Golokmu”. Dan semua terbukti bahwa kesuksesan adalah buah dari kekerasan hati dan ketajaman fikiran.

BCB: Mengulas Latar Belakang Lahirnya Laskar Pelangi dan Dialog (Jarak Jauh) dengan Gola Gong

Bulan Cinta Buku memang masih asing bagi kita. Bukan bagi warga Indonesia di Ruwais, tetapi bagi warga dunia lainnya di Ruwais, UAE. Maklum saja, mungkin inilah kegiatan pertama dan baru pertamakali diadakan di pesisir Teluk Persia. Kegiatan yang mengajak dan merefresh kembali para orang tua, remaja, dan anak-anak untuk mencintai ilmu. Mencintai ilmu berarti mencintai cahaya karena ilmu adalah cahaya Ilahiah yang menerangi kehidupan insan. Ilmu diteruskan dan diabadikan lewat buku. Jadilah buku jendela kehidupan kita. Bulan Cinta Buku menawarkan beragam kegiatan seperti mengunjungi perpustakaan, membangun Indonesia Corner yang di dalamnya berisi buku-buku yang berbahasa Indonesia dan yang bercerita tentang Indonesia, Kemudian berdikusi tentang dunia buku-pengarang dan perpustakaan dengan berdialog langsung dengan narasumber tokoh Perbukuan Nasional, Gola Gong (Balada Si Roy, Pada-Mu Aku Bersimpuh).

Jika minggu kemarin kami berbahagia menyusuri rak-rak buku, membuka lembar demi lembar, “membuat kegaduhan” di perpustakaan Ruwais maka minggu ini Kami belajar berdiskusi, berdialog antar generasi. Anak, remaja dan para orang tua ikut hadir. Selepas menikmati bersama testimoni Andrea Hirata seputar cerita dibalik lahirnya karya buku Laskar Pelangi, acara dilanjutkan dengan berdialog dengan Gola Gong secara langsung lewat Tele wicara. Jarak 5500 km yang membentang menjadi begitu dekat. Kami seperti hadir dan duduk di depan panggung Rumah Dunia, menikmati semilir angin pohon rindang yang berdiri kokoh di halaman utama, mendengarkan Gola Gong bercerita tentang Rumah Dunia. Sebuah komunitas literasi di bumi Banten yang masih terus berjuang menyebarkan virus menulis dan membaca (mengubah persepsi dunia tentang Banten).

Awalnya memang kegiatan ini menggunakan theathre hall di Recreation Centre. Seperti rencana semula kami juga sudah menghubungi rekan-rekan di kamp Gayathi lewat Yoyo Wardaya yang sedianya ingin meramaikan acara dengan pembacaan puisi. Malang tak dapat ditolak, semua gedung sudah full booked. Jadilah kegiatan ini diselenggarakan di rumah Pak Ali Akbar dengan persiapan yang serba mendadak. Kekerasan hati sekali lagi diuji. Jika semua berhenti karena kendala maka sejarah tak pernah terukir. Begitulah suasana kemudian menjadi ramai dan meriah. Kami berbahagia terlebih yang mendapatkan doorprize berupa buku dan DVD Laskar Pelangi. Sayang sekali persiapan panitia terbatas. Tidak sempat membeli buku-buku karya Gola Gong yang sudah berjumlah 70 buku!. Secara kebetulan lewat Pak Ade Tono/ Ibu Ade Tono mantan Presiden Indo-Emirat menitipkan buku/DVD ini untuk dibawa dari Indonesia (Thanks ya Pak/Bu Ade!) sebagai doorprize.

Agenda Berikutnya
Rangkaian kegiatan masih belum selesai. Kami tak kan pernah lelah mengajak partisipasi semua warga Indonesia di Ruwais untuk terlibat dalam acara ini. Yang lebih penting dari ini semua Kami mengajak agar kita semua mau membuka cakrawala dan keluasan berfikir. Menularkan semangat menulis dan membaca kepada anggota keluarga kita dimana saja berada. Minggu depan, Kami berencana membuat kegiatan secara serempak di beberapa tempat untuk menonton film Laskar Pelangi. Bagi yang belum menonton ini adalah kesempatan besar. Jangan dilewatkan!

Untuk mengatasi hambatan teknis berupa tempat, fasilitas, dll, Kami mempunyai beberapa DVD asli film Laskar Pelangi (anti piracy hak cipta). Kami menawarkan kepada warga yang tinggal di blok B,dan C new Housing juga di Villa, Bachelor Building dan tak ketinggalan Kamp Gayathi Royal untuk menghubungi panitia jika ingin membuat acara nonton bareng Laskar Pelangi. Konsumsi bisa diatur masing-masing. Musim panas di Gulf memang seperti membuat kota Ruwais tak berpenghuni, sembunyi di dalam flat/gedung. Jadi menonton bareng Laskar Pelangi sangat tepat. Kenapa mesti bareng-bareng? karena…Gak Ada Loe, Gak Rame Coy..! saik jae..(tak ada dikau, tak rame pula kawan)

Howgh!,
dari Tepian Teluk Persia, dari Batas Rub al Khali
sepoi-sepoi musim panas

Comments (4)

Wajah

Posted on 27 April 2009 by goblog'er

Wajahnya sepert cermin yang bersih. Memandangnya seperti membuat teduh batin. JIka boleh, aku ingin memeluknya erat dan tidak kulepaskan.

Wajah inilah aku doakan siang dan malam. Wajah yang akan bercahaya nanti di padang mahsyar. Rabbi.., kupinta untuk selamatkan wajahnya dari api jahannam.

Saat lelah, raut wajah inilah yang membangunkan semangat. Saat sedih, wajahnya obat pelipur lara. Pun ketika gundah gulana. Ia seperti mantra ajaib yang membisukan kekacauan.

Wajah kedua anakku yang melekat dibilik  jiwa yahandanya yang lusuh seperti kilauan mutiara dalam onggokan sesuatu yang usang.

Comments (1)

Tags: , ,

“Tamasya” ke Masjid

Posted on 27 April 2009 by goblog'er

Bagi para pecinta sejati tentu bisa mengetahui bagaimana rasanya bertemu dengan sang kekasih. Perjumpaan adalah momen yang begitu menggelegak seiring dengan riangnya suara hati melatunkan dendang wulan merindu. Iramanya terkadang cepat, riang tak beraturan kemudian pada saat-saat tertentu ia begitu mencemaskan hingga suasana terasa berdebar. Sejuta asa ikut merona seperti menari dalam taman hening dengan semerbak kesturi dan wangi melati yang saling mengejar. Bagi pecinta wajah kekasih adalah cahaya yang dinanti setelah sekian lama gelap mencampakkannya dalam kepliuan. Setelah berjumpa maka setiap detik tak ada yang terlewati selain sebuah harapan yang terus menggelayuti akal dan hati untuk kembali merencanakan perjumpaan berikutnya. Tak ada yang bisa menahan rasa itu, sekalipun ribuan balatentara dikerahkan untuk meredamnya.

Saat ditanya siapakah yang paling layak untuk dicintai? tentunya akan kita berikan pada Ia yang mencurahkan segala bentuk kasih sayang-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Pemurah, yang memberi tanpa meminta imbalan sekalipun sekedar senyuman. Ia yang misteri, Ia yang sembunyi, Ia yang menyimpan keindahan yang tak pernah ada dalam dimensi apapun. Ia yang kekal tak terjerat oleh waktu. Dan Ia Maha segala..Kuperas sekantung hati namun masih tak menemukan hakikat Zat-Nya.

Jika saat hijab terbuka kelak di taman firdaus sana dan Sang Pencipta, dalam metafor keseharian kita seperti bertemu dan diberi kesempatan memandang ‘Wajah-Nya’ sebagai sebuah kenikmatan puncak. On the top of highest peak from everything maka, inginkah kita meraihnya?

Kujejakkan kaki di bumi. kulangkah kaki. meniti jalan-jalan sunyi. Menuju sebuah tempat. Aku percaya langkah-langkah yang aku ayunkan menuju rumah-Nya adalah sebuah mukadimah cinta agarsuatu hari nanti bisa bertemu dengan Sang Khalik. Shalat, yang kita laksanakan 5 kali sehari adalah sebuah ‘mi’raj’ seorang mu’min. Mi’raj dengan analogi berjumpa langsung dengan Sang Khalik. Sebuah hubungan vertikalis tanpa batas atau sekat. Layaknya sebuah perjumpaan. Setiap hari undangan disebarkan lima kali sehari secara terbuka pada semua makhluk. Seperti sebuah ujian dari Sang Maha kepada hamba yang memang ingin rindu berjumpa dengan-Nya.

Maka, tidakkah kita tertarik wahai para lelaki yang merindukan keindahan berjumpa Sang Rabb untuk meniti jalan-jalan sunyi menuju rumah-Nya? Sungguh..perjalanan ini seperti sebuah rekreasi ke kebun-kebun firdaus..mari “Tamasya” ke masjid.

Salam dari tepian teluk Persia,
dari batas empty quarter

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Pagi yang Bercahaya

Posted on 09 February 2009 by gobloger

Waktu berputar. Seperti tak berujung dan berpangkal. Tak ada yang ingat pastinya kapan waktu pertama kali dimulai dan tak ada yang tahu pastinya kapan waktu akan berhenti. Pun tak ada yang tahu dari mana dimulainya waktu saat ia pertama kali diciptakan. Siangkah? saat matahari tepat jam 12 siang atau di saat matahari berada tegak lurus dengan ubun-ubun kita saat bediri. Atau mungkin barangkali saat fajar pertama kali membersit, seperti lecutan cemeti yang memanjang membelah kegelapan yang sebenar-benarnya gelap. Bisa saja waktu dimulai saat matahari pertama kali menyembulkan kepalanya diufuk timur seperti seorang penyelam yang baru keluar dari dasar lautan.

Lantas kita pun bertanya, kapan waktu sebenarnya Adam diturunkan ke daratan bumi setelah terusir dari jannah? pertanyaan yang bodoh tentunya namun begitulah kebodohan yang jujur memang selalu bertanya, mencari dan menanti jawaban. Karena bodoh saya pun mereka-reka, mungkin saat gelapnya bumi ketika tak ada cahaya kecuali sang surya dalam kegelapan. Saat itu Adam terdiam, kebingungan. Berjalan sambil terantuk-antuk duri, bebatuan, semak belukar di depan. Binatang buas berkeliaran siap memangsa. Belum ada jalan setapak. Semua rimba. Semua padang ilalang. Semua jalan terjal yang curam. Kedinginan karena tak dibekali sehelai benang pun dari jannah. gelap segelap-gelapnya. Sunyi sesunyi-sunyinya. Hanya raungan atau teriakan membahana dari binatang yang tidak mengenal satu huruf pun dari sebuah peradaban. Karena memang semua baru dimulai. Dalam kepekatan malam yang seperti tak berujung Adam, bapak yang kita cintai menemukan kelemahan pertamanya sebagai manusia. Tak berdaya pada kegelapan.

Atau karena Kasih Sayang Tuhan Adam diturunkan saat fajar dan kemudian di dalam ketidakberdayaan dalam kegelapan, bercampur-aduknya perasaan karena secara manusia biasa Adam pun akan mengalami gap psikologis atau shok culture menghadapi kenyataan kontradiktif dari indahnya surga.Taman yang terawat rapi, alam yang bercahaya, sungai yang mengalirkan madu, susu, khamr, yang tak pernah mengenal banjir bandang atau kekeringan. Belum lagi pakaian yang gemerlapan, makanan serta buah-buahan yang tak terbayang kelezatannya. Disempurnakan lagi oleh Hawa, ibunda kita yang jelita dan setia mendampingi kemanapun Adam pergi. Namun dalam sekejap bapak kita semua yang kita cintai ini terjerembab di ganasnya alam. Sendirian terpisah dari Hawa. Tidak ada manusia kecuali mereka berdua.Itu pun terpisah entah dimana. Betapa memilukan berada di tempat asing yang jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Ketika menyesali karena kekhilafan terpedaya memakan buah terlarang di saat itulah matahari terbit memancarkan cahaya.

Cahaya yang pertama kali dilihat di sebuah tempat asing.Cahaya yang menyiratkan sebuah harapan, semangat, kehidupan serta harapan baru. Cahaya yang semurni-murninya cahaya tanpa radiasi ozon dari efek pemanasan global. Cahaya yang warnanya seasli-aslinya warna. Tanpa degradasi atau pembiasan karena efek radiasi industri masif kimia yang memenuhi atmosfer bumi. Saya membayangkan kedua mata Bapak dan ibu kita berbinar saat pertama kali melihat pagi pertama dalam kehidupan mereka. Pagi yang bercahaya! Menyeru asma Tuhan dan bertasbih tiada henti. Sebuah kehidupan baru menanti. Sebuah titik permulaan. Dalam kesunyian mereka saling menguatkan. Tak ada telepion seluler yang bisa digunakan sekedar mengirimkan pesan singkat, ” Sayang..tabah ya..Insya Allah abang akan menjemputmu. with Love..Adam”. Dan Hawa membalas pesan singkat tersebut,”Bang..dinda setia menanti sampai Cahaya di depan mata kita tak terlihat lagi. Yang setia..Hawa”.

Pagi pertama yang bercahaya. Dimulai dengan sebuah azam yang kuat. Sebuah tekad yang teruji hingga sekarang bahwa perjalanan cinta Adam dan Hawa saling menguatkan. Tanpa ada pesan singkat atau telepon yang mengobral kata. Demi melihat pagi yang bercahaya mereka berdua yang terpisah entah dimana berazam untuk saling menguatkan untuk kemudian satu hari nanti bertemu. Sekali lagi tak perlu mengobral janji, hanya ber azam di hati. Alangkah indahnya kisah cinta kedua oran tua kita ini. Sebagai anak cucu keturunannya kita mengabaikan moment indah ini. Sebuah waktu, di pagi hari yang bercahaya.

Tiga tahun saya di Gulf. Daratan pepasir yang menyimpan kisah pertemuan Adam dan Hawa. Selama tiga tahun ini pula saya menikmati cahaya yang melimpah. Di sebuah stasiun radio, channel 87.7 fm Abu Dhabi. Saya menikmati sajian Shabah An noor, pagi yang bercahaya. Sebuah acara radio di pagi hari selepas murattal qur’an. Berbahasa Arab sebagai pengantarnya. Saya menikmatinya karena acara radio shabah an noor ini memang berlimpah cahaya. Dipandu pembawa acara, para pendengar menelepon ke noimor hotline untuk menyampaikan bingkisan doa, mutiara hadist, serta berbagi nasehat dan hikmah. Seperti saling menguatkan satu sama lain. Bahwa kita anak cucu Adam dan Hawa berupaya meneruskan sebuah perjalanan panjang di alam yang masih saja garang dan asing ini. Shabah an noor, pagi yang bercahaya yang semoga kita pun bisa saling menguuatkan untuk terus bertahan dan meneruskan perjuangan yang tidak kan pernah selesai.

Pagi yang Bercahaya, Lawangbagja.
Dari tepian Rub al Khali, Teluk Persia.

Comments (0)

Lir-Ilir

Posted on 26 January 2009 by gobloger

Comments (0)

Cublak-Cublak Suweng

Posted on 26 January 2009 by gobloger

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here