Archive | Goresan

wALKING ON THE gRAss

Posted on 08 December 2009 by goblog'er

Mulailah mengoleksi hal-hal yang kecil namun membuat kita bersyukur pada nikmat Sang Pencipta. Segeralah mengisi ruang hati dengan sesuatu yang sederhana, simpel namun sebagai individu yang merdeka kita merasa senang berada di dalamnya. Sesenang seorang anak kecil dengan mainan plastiknya. Sedamai bayi yang tertidur dalam pangkuan bundanya. Saat oksigen masih bebas dihirup, saat kaki masih tegap melangkah, saat kedua tangan masih kuat merengkuh, saat mata masih bisa melihat indahnya pelangi kala senja, kulit masih bisa merasakan sepoinya angin mengusap lembut, telinga masih jelas mendengar kicauan burung, lidah masih bisa membedakan mana pedas, asin dan manis dan masih segudang lagi hal-hal kecil yang memberikan nikmat luar biasa namun karena malas dikoleksi dalam ruang hati menjadi terlewatkan begitu saja. “Ah..! sudah biasa!” atau “Basi ah..!”

Jika diberikan kesanggupan mengelilingi dunia kita akan banyak menemukan betapa manusia menemukan kesulitan untuk meraih atau merasakan kebahagiaan. Semua menggantungkan nilai kebahagiaan tinggi-tinggi hingga sulit terjangkau. Seting parameternya ‘over speck’, sampai mati pun belum tentu bisa teraih. lantas untuk apa hidup? 60 years begitu singkat kawan! Sudah bisa dihitung pakai jari untuk menembus umur ke angka 80 tahun! apalagi 100 tahun?. Diabetes, jantung koroner, kanker plus kantong kering, dari ’swine’ sampai ‘bird flu’ mungkin telah membuat umur kita terkorupsi hingga 20 tahun!. Anak-anak muda perkotaan sudah banyak menderita jantung koroner, diabetes akut, asam urat yang kronis, dan segudang penyakit lainnya dan itu datang pada usia di bawah 40 tahun!. Di Gulf penyakit yang mengancam para penghuninya adalah diabetes dan jantung koroner karena ‘obesitas’ kelebihan ‘gizi’.

Paradoksnya Kehidupan
Manusia cenderung akan mengukur sebuah kebahagiaan dengan status sosialnya. Darimana ukuran status sosial didapat? apakah betul harus berbanding lurus? Semakin kaya, semakin tinggi jabatan, apakah tidak boleh hidup sederhana? Pertanyaan selanjutnya yang membingungkan adalah apa ukuran sederhana? Kesederhanaan menjadi melar seperti karet tergantung status sosial begitu yang bisa saya simpulkan. Lagi-lagi alibi ini yang menjadikan alasan seseorang bisa hidup ‘mewah’ walaupun menurut dia ’sederhana’ padahal lingkungan sekitarnya miskin dan papa.

Di Gulf mempunyai fenomena menarik tentang ‘kesederhanaan’ di tengah 200 jenis warga dunia yang multikultur dan kesenjangan sosial yang lebar seperti langit dan bumi. Ada sebuah pergeseran budaya yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 generasi. Dulu wilayah ini hanya dihuni oleh sekumpulan tribal bedouin yang hanya mengenal onta ‘pungguk satu’ sebagai makhluk yang paling indah dalam sejarah nenek moyang para tribal. Dalam kurun kurang dari 50 tahun sejak berdirinya negara ‘Syaikhdom’ ini terjadi ’shock culture’ dari ‘rags’ menjadi OKB, orang kaya bangeet!. Sebuah kendaraan BMW X5 hanya menjadi barang mainan anak-anak muda yang baru kemarin lulus kuliah. bagi mereka semua itu biasa dan ada perubahan besar dalam memandang kebahagiaan tentunya.

Dahulu orang tua mereka adalah generasi pertama yang masih merasakan sebuah perjalanan yang berjarak 120 km harus ditempuh beberapa hari itu pun terlebih dahulu harus dilepas dengan tarian tradisional dengan memainkan senapan angin ke udara karena konon tidak ada jaminan akan bertemu kembali. Layaknya seperti sebuah perpisahan untuk menyambut kematian. Wilayah ini kosong dan liar. Hanya serigala gurun dan para ‘harami’ alias begal padang pasir yang berkeliaran yang siap menghabisi para mangsanya tak peduli siang atau malam. Saat saya sempat ngobrol dengan seorang rekan dari Belgia, kendaraan sekelas BMW X5 di negara mereka akan sangat-sangat sulit ditemui karena pajak yang mencekik. Rekan saya ini seorang yang mewakili dari ‘kasta’ expatriat, ‘western’, bisa dibilang warga negara kelas ‘1A’.

Walking on the Grass
Bagaimana dengan para buruh dari Asia? Suatu sore saya sempat berbincang dengan seorang pekerja hotel dari Bangladesh di kota Abu Dhabi dan ngalor ngidul ‘nongkrong’ menemani ia bekerja. Saya bisa memahami bagaimana keseharian yang dilalui olehnya begitu keras dengan gaji 500-600 dirham, tanpa libur=7 hari non stop, tinggal di mess seperti ‘kobong santri’ = satu kamar untuk 10-15 orang, dan bisa pulang setelah 2 tahun. Ia lelaki dengan satu orang putra! Bertemu isterinya terakhir kali ketika hamil 7 bulan dan baru bisa bertemu kembali saat putranya hampir berusia 2 tahun!. Sementara saat ia memakirkan kendaraan yang singgah di hotel semuanya kendaraan yang super mewah..dan wah!. Namun kawan..saat ditanya apa baginya arti sebuah kebahagiaan, ia menjawab simpel: “Saat saya bertemu anak saya nanti, ia tumbuh sehat dari uang yang saya kirim setiap bulannya untuk membeli makanannya”.

Paradoksnya kehidupan mereka yang bekerja keras, bermandikan keringat, membanting tulang umumnya mempunyai ukuran kebahagiaan yang simpel. Mungkin mereka lebih berbahagia? Saya tidak tahu jawabannya..satu hal yang sedang saya lakukan adalah mengoleksi hal-hal yang sederhana, simpel, mudah, menjadi sebuah kekayaan hati dengan tidak bosannya menghitung hal-hal yang kecil tersebut sebagai sebuah parameter kebahagiaan untuk saya dan keluarga. Dari sekian koleksi ‘the simple thing but make you happy’ buat saya adalah..’Walking on the grass’..! Ya, berjalan diatas rumput yang hijau, terpangkas rapih, menghampar bak permadani sering membuat saya ‘excited’ ketika berjalan di atasnya..entahlah apa karena di sini terlalu sering lihat padang pasir atau terlanjur ter”anchor’ dalam memory, pokoknya aku sukaaaa…!

Comments (0)

Catatan Kecil untuk Pak Haji dan Bu Hajjah

Posted on 27 November 2009 by goblog'er

Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, dilarang memotong rambut atau kuku, dan lain sebagainya. Di kampung calon jamaah haji biasanya dibacakan talbiyah lewat pengeras suara. Tentu kebiasaan ini hanya ada di wilayah yang jauh dari tanah suci. Tidak untuk orang-orang disekitar hijaz. Menunaikan ibadah haji dipandang sebagai tingkat paripurnanya nilai keislaman seorang muslim. Ia dipandang sudah terbebas dari hal-hal yang menghambat karena ibadah haji disyariakan bagi yang ‘mampu’. Hartanya berasal dari yang halal dan baik juga keluarga serta sanak famili yang ditinggalkan sudah disediakan bekal yang cukup.

Dibeberapa negara muslim terutama di wilayah Afrika dan Syam juga mempunyai kebiasaan tersendiri bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Ada yang diarak keliling kampung dengan menggunakan baju ihram dengan berkendaraan keledai, mungkin seperti sado. mereka pun sama memandang bahwa ibadah haji sebuah pencapaian tertinggi hingga harus diarak guna menuai doa dari setiap warga yang ditemui. Sang calon mendatangi para tetangganya bukan para tetangga mendatangi sang calon ‘pengantin’ haji. Ini agak berbeda dengan kondisi di tanah air. Beberapa ulama yang pernah saya dengar berpendapat bahwa bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji tidak serta merta ia asal cukup ongkos dan biaya selama perjalanan saja tetapi juga sang calon ‘pengantin’ haji mempunyai kewajiban sosial yang harus dipenuhi. Bagi yang ingin berangkat pertama kali maka keluarganya harus dipastikan cukup bekalnya. Bagi yang berangkat untuk kedua, ketiga hingga berikutnya maka ia harus mencukupi kebutuhan 40 tetangga samping kanan, 40 tetangga samping kiri serta 40 tetangga depan dan belakang. Begitu ketatnya ulama memfatwakan seperti itu bukan karena tanpa alasan.

Ketika ibadah haji dipandang sebagai ibadah paripurna dan seseorang yang layak menjadi pengantin karena dianggap mampu dalam artian lebih maka menjadikan sebuah ‘cacat’ jika ketika ia berangkat menunaikan ibadah haji untuk kesekian kalinya namun masih ada tetangga yang berdekatan dengan rumahnya ternyata sedang mengalami kesusahan. Entah ia sedang sakit, kelaparan, atau dibelit hutang hingga tidak mampu untuk membeli makanan. Maka dihadapan Allah lebih mulia bagi sang calon pengantin membantu tetangganya yang kesusahan daripada ia berangkat menunaikan ibadah haji. Ibadah haji bukan plesir..! Sepertinya umumnya ibadah yang ada dalam Islam tidak pernah terlepas hanya ‘hamblum minallah’ semata tetapi juga selalu ada aspek sosial. Seperti puasa, tidak sah puasa Ramadhan seseorang jika tidak menunaikan zakat fitrah. Solat diperintahkan di masjid bagi mereka yang merasa dirinya lelaki. Zakat adalah ibadah yang menyertai solat. Setiap perintah menunaikan solat selalu diikuti untuk menunaikan zakat. Semua mempunyai aspek sosial, hubungan terhadap sesama manusia. Sudah barang tentu dengan ibadah haji sebagai tingkat paripurna.

Dalam berbagai kisah banyak disampaikan bahwa seseorang yang batal menunaikan ibadah haji karena menolong tetangganya, sanak familinya atau kerabatnya di hadapan Allah ia tercatat sebagai seseorang yang telah ‘dihaji’kan. Hal yang memang sulit diterima nalar biasa namun Allah, Sang Pemilik Hakikat tentu Maha Berkehendak dan Mampu untuk itu semua. Menakar peristiwa ghaib hanya dengan keimanan bukan dengan logika. Ibadah haji bukan sebuah jurnal perjalanan biasa. Ibadah haji sebuah jurnal perjalanan anak manusia untuk menemukan kembali hakikat kehidupannya di alam semesta.

Dalam teori ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa segala sesuatu di alam raya ini tak lebih dari ‘permainan’ energi vibrasi yang berlangsung secara terus menerus. Vibrasi sendiri bisa dipahami sebagai berputarnya sebuah zat/benda. Benda yang berputar tentu menghasilkan medan magnet. Dan itulah yang terjadi pada alam semesta. Bumi berputar pada porosnya. Bulan,matahari, venus, mars, bahkan hingga elektron yang terkecil sekalipun semua berputar. Medan magnet yang dihasilkan sebagai bentuk kesetimbangan agar semua tetap pada lintasannya sesuai hukum yang telah ditetapkan SANG PENCIPTA. Putaran semesta menjadi sebuah bentuk harmoni ketaatan yang ALLAH simpelkan pada miniatur prosesi thawaf di seputar ka’bah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa ka’bah diibaratkan sebagai porosnya semesta. Kalimat talbiyah labbaik allahumma Labbaik, (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah!) sebuah isyarat pengakuan untuk tunduk terhadap hukum semesta yang telah digariskan.

Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji hendaknya pula menjadi ‘magnet’ yang menarik manusia sekelilingnya pada ketaatan. Menuju baitullah adalah merupakan awal untuk selanjutnya sepulang dari baitullah ia mengalami ‘kelimpahan energi’ karena terasah dalam putaran porosnya semesta. Tidaklah seseorang menjadi haji mabrur jika sepulang dari menunaikan ibadah haji tidak mempunyai daya untuk ‘menarik’ hamba Allah kembali pada ketaatan. Besi yang usang saja jika digosok-gosokkan pada magnet maka ia mempunyai sifat magnet. Jiwa seseorang yang berhaji hendaknya pula seperti itu. Jika tidak, menjadi sebuah pertanyaan besar tentunya. Tidak pula ibadah haji diganti dengan ‘jannah’ bertelkan permadani dan taman-taman hijau yang dijanjikan jika kepulangannya dari baitullah menjadi penambah problem ummat. Ia hanya berlabelkan ‘haji dunia’ dan pernah ‘jalan-jalan’ melihat kedua kota suci, Madinah dan Makkah saja. Semoga para jamaah haji yang 3 juta orang menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Kepulangannya menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Ia adalah magnet ketakwaan bagi kita yang lemah dan belum mampu dan masih ada dalam daftar antrian tunggu ditahun mendatang, insya Allah amien..

Labbaik Allahuma Labbaik..Aku menunggu panggilan-Mu ya Rabb, dalam kelemahan dan ketidakberdayaanku..(buruhmigren, Tepian Teluk Persia)
“hati Emak sudah lama disana..” (Emak Ingin Naik Haji)

Comments (0)

“Syuhadza!”

Posted on 20 November 2009 by goblog'er

Dahulu Saya pernah membaca tulisan, “Ke timur tengah bertemu muslim, ke Eropa bertemu Islam”. Hanya dengan izin-Nya sejak beberapa tahun yang lalu saya memulai tinggal di timur tengah. Menarik memang episode perjalanan kali ini. Bertahun-tahun tinggal di jazirah para nabi saya mengamati gaya hidup, cara pandang mereka pada keyakinannya (islam), etos kerja,budaya, dan tentunya juga karakter keseharian dari bangsa yang dipilih oleh Allah menerima kemuliaan dengan diturunkannya Nabi terakhir dari kalangan mereka serta menjadikan bahasanya sebagai bahasa agama plus bahasa wahyu dari kitab terakhir yang diturunkan ke bumi.

Pertama kali datang tentunya saya harus banyak berurusan dengan lembaga formal swasta dan pemerintahan. Mulai dari buat akun bank, SIM (surat izin mengemudi), kartu identitas, izin kegiatan, hingga surat kelahiran anak yang lahir di jazirah ini. Sekian banyak interaksi yang terjalin memang mempunyai kesan tersendiri tentang tipikal warga di timur tengah ini. Cara pandang saya tentang warga timur tengah sedikit banyak berubah dari yang saya pernah bayangkan sebelumnya. Umumnya tipikal mereka terbuka dalam berbicara dan berekspresi. Spontanitas umumnya walau terkadang ada yang berlebihan. Jika berurusan dengan lembaga formal jangan berharap ada senyuman atau sapaan lembut karena hal seperti itu hanya khusus untuk yang terdekat dengan mereka saja rupanya. Jika satu ketika anda membawa persyaratan yang tidak pas atau sedikit saja kesalahan sengaja atau tidak maka ekspresi spontan akan langsung didapatkan. Biasanya kata pertama yang akan didengar adalah : “Syuhadza!”.

Di teluk Persia, kata ‘Syuhadza’ menurut saya paling sering dijumpai dimana saja. urutannya kedua setelah kata ‘keif haa lak (apa kabar?). Mulai dari jalanan sampai ke urusan perkantoran. ‘Syuhadza’ adalah bahasa slank. Syu (dengan syin besar) artinya APA. Hadza artinya INI. Kurang lebih bisa diartikan; “Kok begini?”, atau “Gimana sih?” . Semestinya kalimat ini biasa-biasa saja. Namun dalam perkembangannya makna dan kata kedua kata ini menjadi sebuah ungkapan kekesalan, kekecewaan, ‘blaming’, dan juga kemarahan. Ekspresi spontan diikuti kata “Syuhadza!” lambat laun menjadi sebuah ikon negatif terutama bagi yang mendengarnya. Dan ekspresi ini ternyata menular kepada para imigran yang tinggal di timur tengah. Satu ketika saya pernah melihat pembeli membanting-banting belanjaannya di depan kasir sambil berteriak ’syuhadza!” hanya karena kasir harus bolak-balik karena mesin barcode temannya eror. Seorang supir taksi terjebak macet ia langsung teriak “Syuhadza!”. Madam melihat kerjaan khadimah (pembantu) tidak beres langsung teriak “Syuhadza!”. Cakil lupa membawa fotokopi ketka akan regsitrasi mobil, petugas langsung teriak “syuhadza!”. Virus ‘Syuhadza!” merebak dikalangan penduduk warga timur tengah dan seperti ada kesepakatan diam-diam jika anda kecewa, marah, menyalahkan, kesal, sebel, tinggal teriak ’syuhadza!”. Ekspresi itu diluapkan bukan hanya terhadap manusia saja ternyata, mobil mogok, komputer rusak, AC bocor, ban pecah, radio mati sampai pada onta yang cuek bebek melintasi jalan.

Dalam Islam ekspresi spontan menjadi cerminan akhlak yang bersangkutan. Ingin melihat akhlak seseorang lihat saja ketika ia dihadapkan pada hal yang kurang menyenangkan. Ah..sambil menulis ini saya pun malu hati rasanya karena terjangkit virus ‘Syuhadza”. Pemahaman saya tentang akhlak yang ditempa di sebuah dusun kecil menjadi terkontaminasi dengan virus ini. Mudahnya saya gusar dan berkata syuhadza. Bukankah ada kata-kata yang lebih baik seperti tuntunan Nabi. Bisa dengan istigfar, tasbih dan tahmid. Menambah kebaikan juga bukan?. Dan malu ini menjadi-jadi saat beberapa hari yang lalu saya disempatkan bertemu dengan seseorang. Ia berasal dari Cambridge, UK. Seorang trainer peralatan microscope yang cukup canggih. Seharian bersamanya saya ternyata tidak sia-sia. Bukan hanya ilmu yang ia ajarkan tetapi juga ekspresi spontan yang saya temukan padanya.

Saya menemukan Islam dari ekspresi spontannya. Men-set up instrument dari awal tentu akan menemukan beberapa hal kendala dari software hingga hardware. Setiap kendala yang dihadapi olehnya dan saya sebagai trainee, sang trainer memberikan kesan yang berbeda dari keseharian yang saya temukan di timur tengah. Saat error, hang, atau hardware problem eskpresi spontan yang keluar dari mulutnya adalah “It’s very interesting!” atau “It’s interesting!”. Ini diucapkan berkali-kali tanpa terselip kata “shit!” yang biasanya diucapkan oleh sebangsanya. Awalnya saya kurang ‘ngeh’ namun pada pengucapan kedua dan selanjutnya saya menyadarinya. Senang sekali mendengar sang professor menyebutkan kata “It’s very interesting!’ dari setiap kesulitan yang dihadapi. “Sungguh menarik!” jika kita bisa mengganti kata-kata jelek atau “syuhadza” pada keseharian yang temui di timur tengah dengan kata-kata yang baik dan memotivasi pendengarnya. dan bersama sang professor hari itu saya merasakan aura semangat untuk mengubah cara pandang kendala atau kesulitan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipecahkan dibanding mendengar kata “syuhadza” yang terkadang penyakit inferior orang kampung ini menjadi kambuh.

Comments (0)

Jawadwipa, Menuju Titik Nol

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Kita memilih diam saat angkara melenggang di atas purnama
Kita kembali terdiam saat ia kemudian menari di halaman mata
Diam..! jangan ada yang bersuara..
Ini Tanah Air Kita!

O..Sang Pemilik Kehidupan
Jika TANAH sudah bergolak maka AIR yang kemudian menenggelamkan.
O…Tanah Airku..
Dalam gelap, aku hanya melihat bahtera..
Tanahku..
Airku…
darimu aku tercipta
O..Sang Pemilik Cincin Api..
Jika TANAH dan AIR menyatu,
Maka ‘bahagiakan’ kami bersama-Mu…

Tanahku tempat aku menanam, dan Airku yang mengairinya.
Tanah yang diam
Air yang serakah
Mereka yang ikut menyatu
Antara pertemuan besar tanah dan air..
Engkau bahagia..

O..Tanahku, Airku.
O..di ujung pulau aku berdiri, menyaksikan bumi menjadi air
Semua fana karena keserakahan yang memulainya
O..aku betul merana
Terpuruk dalam guyuran hujan yang tumpah
dan ..
Melebat!

Comments (0)

Cinta Bagai Anggur

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

erpisahan begitu menyakitkan!
Ia seperti penyakit sawan yang menimpa ayam saat tengah hari bolong
Si ayam diam, dengan mata yang tak pernah berkedip. Tak ada yang dipikirkan, tak mau beranjak, dan tak bisa tak..! semuanya yang terjadi begitu membekas dan sulit dilupakan.

Kebersamaan yang terlewati seolah menjauh dan tak kan pernah bisa diraih kembali. Itulah sebabnya Audy begitu menyayat-nyayat saat mengekspresikan lagu “Satu Jam Saja!” tentang makna kebersamaan dari ’sesuatu’ yang dicintai kemudian terenggut atau berpisah begitu saja.

Berpisah..
Bertemu..
mengapa ada perpisahan setelah ada pertemuan?

Anang dan KD pun ikut nelangsa karena sebuah perpisahan. (Anang menangis, KD?)
Laila memilih kematian setelah Majnun pergi ke haribaan.
Zulaikha meminta sekarat di depan nisan Yusuf dan kemudian harapannya dipertemukan oleh Tuhan dengan terkulai menjemput ajal di depan nisan terkasih.
Bagi para pecinta sejati, perpisahan dengan sang kekasih ibarat berada di lembar terakhir. Tak ada hasrat menuliskan episode kehidupan selanjutnya. Ia bertemu dan enggan berpisah. Seperti sebuah molekul yang jika tercerai maka tidak ada bentuk senyawa tersebut.

Cinta memang menyatukan dan mengikat.
“Cinta bagai anggur”, Muzaffer Ozaq pernah berkata. Dalam maqam tertinggi cinta adalah fana. karena yang kekal adalah Sang Pemilik Hakikat.
amboiyy..gila cinta Majnun membungkam singa yang kelaparan. Tak ada hasrat bagi singa karena baginya Majnun telah fana.

Ah..cinta bagai anggur..kapan aku bisa mabuk sempoyongan?
Terkulai lemas, saat terjaga diri sudah diselimuti cahaya.
“Berikan aku satu tetes saja!”, suaraku tercekat dikerongkongan.

Satu malam, seorang tua membawakan secawan anggur padaku.
“minumlah saat hendak melangkah menuju rumah Tuhan!”
Aku memandang dengan nanar.
Kutenggak hingga membasahi dadaku. Tak ada reaksi..katanya anggur ini anggur pecinta.
Kepalaku berat, dada terasa sesak, benarkah aku mabuk cinta?
Kulihat kembali anggur dalam cawan yang diberikan
ungu atau hitam warnanya
“keparat! ini anggur cap kakak tua..!”

Comments (0)

Gelisah

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Saya ingin menyampaikan rasa kegelisahan.
Saat kemarau menghabiskan sisa air di sumur-sumur kami. Kerontang tenggorokan dan semakin mengentalnya darah karena kekurangan cairan hingga mesti berbagi dengan hewan ternak untuk sekedar penghilang dahaga yang kian pahit terasa.

Sendirian aku tatapi ladang usang yang tak karuan lagi bentuknya. Bumi sepertinya kian memerah darah karena retakannya sudah hampir menembus lapisan magma. Tanah ini memang menyimpan api yang setiap saat bisa saja menyembur ke permukaan. Aku pun bertanya, apakah hati-hati kami seperti mu wahai kemarau? gersang walau setiap saat terbasuh wudhu? apakah kebencian kami terus beranak pinak hingga perseteruan ini terus terjadi.

Hujan pun tiba. Ia membawa pesona saat awal perjumpaan tapi kemudian berubah menjadi petaka. Air meluap, menenggelamkan semua dihadapan, tak hanya selokan, tetapi jalanan, perumahan, sawah, hingga bendungan jebol tak dapat menanggung asamu. Apa kami rakus seperti wahai hujan? hingga yang ada dihadapan akan dilahap. Namun tetap semua berkilah hujan adalah rahmat.

Negeriku seperti perempuan tua yang sudah diperkosa ratusan kali oleh perampok durjana. Silih berganti. Setiap kali habis digagahi, dicampakkannya lalu kemudian ditinggalkan. Belum sempat sang perempuan membasuh tubuh untuk membersihkan badan untuk mandi di sungai ampunan, datang lagi para begundal untuk memuaskan nafsu. Padahal ia sudah tak berdaya dan tak mampu lagi memaki. Mungkin dahulu negeriku seperti perawan desa yang belum pernah disentuh oleh seorang lelaki pun. Ia selalu berdiri di tepi pantai dengan membawa bunga-bunga aneka warna.

Rayuan pulau kelapa masih selalu kudengar sayup-sayup saat acara TVRI selesai. Aku masih merindukan Indonesia yang hilang dan mungkin tak kan pernah ketemukan.

Comments (0)

Doa dan Kebiasaan Orang Di Pesisir Teluk Persia

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Salah satu kebiasaan orang Arab di Pesisir Teluk Persia Teluk adalah saat mereka saling bertemu satu sama lain, juga ketika mereka mengawali pembicaraan di telepon atau bertatap muka langsung kata-kata pembuka yang mereka lontarkan begitu hangat dan manis sekali di dengar. Bukan hanya itu, mereka pun saling melemparkan doa kepada lawan bicaranya dan dibalas dengan hal yang sama.

Saya kadang suka iri dengan kebiasaan mereka. Diawali dengan salam, doa keselamatan mereka menanyakan kabar lawan bicaranya. Setelah dijawab dengan tahmid, pujian kepada Sang khalik yang telah memberikan nikmat. Mereka seperti berbalas pantun dengan mendoakan panjang umur (Hayyakallah -Allah yuhayyik), diberi keselamatan (Allah ya Sallim), dilimpahi keberkahan (barakallah-Allahyubaarik fik), dimaafkan segala kesalahan (allah ya’fiik), dan masih banyak lagi. Kata-kata pembuka ini bukan sekedar basa-basi tapi memang benar-benar serius diucapkan dengan senyuman, intonasi suara yang renyah terdengar.

Ungkapan-ungkapan lainnya adalah kata-kata penyambutan ketika seseorang datang menemui teman atau kerabatnya. Jika di Indonesia, cukup dengan selamat datang itupun di tempat-tempat formal saja disampaikan. Bahkan cukup sekedar “hai..!”, tetapi di Teluk berbeda. Ungkapan penyambutan begitu beraneka dan memiliki bobot masing-masing. Misalnya; Marhaban milyoon (sejuta selamat atas kedatanganmu), ada juga Marhabassa’ (your are most welcome, anda paling atau sangat dinanti), Marhaban bik..!, marhaban laayiin, dan lain sebagainya. Semuanya begitu diungkapkan dengan semangat seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun tidak pernah bersua.

Sampai saat ini saya belum menemukan ungkapan yang sepadan atau cara kita dalam menyambut, bertemu teman atau kerabat seperti para penghuni teluk. Saya membayangkan jika kita bertemu, setelah ucapan salam atau selamat pagi kemudian kita melanjutkan dengan menanyakan kabar lawan bicara kita dan menyampaikan doa untuknya. “Semoga kamu selalu dipanjangkan umur”. Dibalas ” begitupun dengan mu, senantiasa panjang umur dan sehat senantiasa. Dilanjutkan, “Semoga keberkahan dan keselamatan untukmu dan sekeluarga”. Dijawab, “amien, begitu juga untukmu sahabat..semga Allah mema’afkan kehilafanmu dan menempatkanmu dalam kemulyaan”. Sahabatnya berkata lagi,” Bagaimana dengan keluargamu? putra-putrimu” semoga mereka dijadikan anak yang shalih dan shalihah, mutiara kehidupan dan mendapatkan derajat yang tinggi”. Dijawab,”segala puji bagi-Nya yang memberikan perlindungan. Aku pun berdoa untuk putra-putri dan keluarga agar mereka senantiasa ada dalam kebaikan, cahaya kehidupan dan pemimpin hamba-hamba-Nya yang bertakwa”.

Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa diungkapkan, setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan inti. Kebiasaan ini akan membantu kita melenyapkan iri, dengki, hasad, dan turunnya rahmat Allah dengan dikabulkannya doa dari kedua pihak. Bukankah doa yang diungkapkan dari hati yang tulus dan tidak tulus akan mudah dibedakan oleh kuping yang mendengarnya? Jika ada kekurangsukaan akan membantu si pemilik hati dan lawan bicaranya menjadi luluh karena doa-doa yang disampaikan. Terkadang manusia seringkali selalu mendahulukan praduga dan sakwasangka namun setelah disapa suasana menjadi cair. Dan menebarkan doa bukan sesuatu yang sulit ia teramat mudah namun perlu hati yang ringan dalam membawakannya.

Saya jadi teringat pada sebuah kisah tentang Fatimah Az-Zahra, putri dari Muhammad SAW-pembawa risalah terakhir kenabian bersama putranya Hasan dan Husain. Satu ketika, Fatimah sedang berdoa dan doanya terdengar oleh kedua putranya. Mereka mendengar lantunan doa Fatimah hingga selesai dan ada satu hal yang mengherankan keduanya. Dalam doa Fatimah nama Hasan dan Husain tidak pernah disebut sama sekali. Lantas salah satu dari keduanya menanyakan perihal tersebut pada ibunda Fatimah. “Bunda, saya mendengar doa yang bunda lantunkan namun ananda sama sekali tidak mendengar bunda mendoakan kami berdua. Bunda hanya mendoakan kaum muslimin saja”. Begitu putranya merajuk. Fatimah menjelaskan, bahwa ia sesungguhnya mendoakan kedua putranya. Bukankah mereka berdua adalah bagian dari kaum muslimin. Fatimah ingin berbagi dengan doa-doanya yang yang makbul bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja tetapi juga untuk kemaslahatan umat muslim.

Seringkali tanpa kita sadari kita dirundung rasa takut dan khawatir bahwa mendoakan jamaah/umum atau umat Islam tidak seampuh jika mendoakan nama yang bersangkutan secara langsung. Dalam doa saja kita sering bakhil bagaimana soal harta? Jika seperti ini bagaimana keberkahan akan melingkupi kita?. Seorang shalih mengibaratkan bahwa doa-doa yang dipanjatkani akan kembali kepada si empunya. Seperti ada lapisan di atas langit kita yang memantulkannya kembali kepada pemliknya saat kita mendoakan saudara seakidah di belahan bumi lain. Dan mendoakan bisa dimulai kapan saja tidak harus dalam waktu khusus atau selepas solat fardhu atau sunnah. Di awal pembicaraan saat berjumpa di kantor, di pasar, di sekolah, dimanaaaa saja tebarkanlah doa. Jika tebar hewan qurban tidak mampu, apalagi tebar duit bukan seorang milyuner maka doa saja kita bagi-bagi secara gratis. Insya Allah semua akan kembali pada si pemilik empunya. Nah, kapan kita bisa mencobanya..?

Comments (0)

Wakaf Kiamuk dan Save Banten

Posted on 26 September 2009 by goblog'er

Seorang teman yang kebetulan pulang kampung ke Banten saat liburan summer kemarin menyampaikan kesannya kepada saya sesampainya di tanah jazirah para Nabi, “Banyak orang miskin bro..! makin banyak..!’. Saya tersenyum kecut mendengarnya. Saya juga tidak tahu darimana ia mengambil data atau hanya sebatas pengamatan yang parsial saja. Seorang teman lainnya bercerita betapa ia harus merasakan jomplangnya berkendaraan di jazirah dengan saat melintas di kota Banten ‘wilayah barat’. “Semrawut..!’. Belum lagi di pojok-pojok kota lainnya. Saat mall dan hipermall berjejal di jalan yang hanya berjarak kurang lebih 1 km saja padahal rakyatnya sendiri masih berjuang untuk terlepas dari nasi aking. Cerita nasionalisme anak-anak kampung yang menginginkan tempat sejarah makodim tetap berdiri menjadi usang oleh cerita banyaknya tenaga kerja yang bakal direkrut oleh berdirinya mall Serang pertama dalam sejarah berdirinya propinsi Banten dalam kurun 9 tahun. Konon salah satu alasan mengorbankan nilai historis adalah bakal bergeraknya ekonomi Serang dengan berdirinya mall ini. Masih luas sebenarnya petak kota Serang namun tetap tidak mau bergeser dari tempat bersejarah itu.

Tidak berselang lama sebuah hipermarket bagian dari gurita hipermarket dunia, Carrefour juga berdiri di perempatan Ciceri. Saya memang belum melihat betapa megah dan prestisiusnya bangunan itu namun membaca tulisan dari teman Idi Dimyati yang berjudul “Carrefour dan Raupoor” saya terhenyak oleh ulasan bahwa pertarungan pasar tradisional dengan hipermarket akhirnya akan membawa korban baru di tanah para sultan ini. Carrefour yang menggurita memiliki banyak ‘pisau tajam’ untuk menghabisi golok pasar Rau yang tradisional itu. Lorong-lorong pasar yang sepi, kios-kios yang belum terisi ditambah infrastuktur yang sedari awal pembangunan konon banyak menimbun complain, dari mulai air buangan yang rembes sampai soal siapa yang berhak mengorganisir keamanan terpadu di pasar ‘induk’ termegah’ se-Banten yang pernah diresmikan oleh mantan Ibu Presiden ini.

Saya tidak ingin menimbun kekecewaan para warga dengan memantiknya dengan berbagai persepsi sentimen negatif dari geliat Banten yang masih keteteran membangun kembali kejayaannya. Di saat “Banten Songo”, miliser Rumah Dunia dan GolaGong menyebut ulang tahun ke-9 propinsi ini dan menjadikannya sebagai gerakan kebudayaan sebuah upaya gerilya membangunkan kembali semangat para penghuninya untuk tetap mencintai dan berjuang untuk Banten yang dalam sebuah kesempatan bagaimana Golagong disaat yang sama sedang berjuang untuk sembuh dari sakit kronis yang dideritanya juga sedang berusaha membuat areal publik yang sehat lewat yayasan Pena Dunia ditambah kesibukannya membantu sumber daya Banten lewat Banten TVnya. Maka semalaman saya susah tidur. Susah tidur karena bayi ketiga saya yang tidak bisa tidur!. Ia seperti memaksa saya untuk memikirkan sesuatu. Padahal seperti lagu mbah Surip, sudah saya gendong kemana-mana di saat tepian Teluk persia dalam keadaan sunyi senyap. Beberapa kali saya buka facebook, membaca Banten songo, saya buka mailing list ada juga Banten Songo dan saat saya membaca status seorang teman saya terdiam. Ada sebuah keinginan untuk berbuat. Namun apa? saya terdiam. Saya bukan pengambil keputusan apalagi orang berpengaruh juga bukan dari keluarga dinasti tertentu. Namun saya ingin..ingin sekali berbuat untuk Banten sekalipun saya tidak lahir di Banten.

Wakaf Kiamuk dan Save Banten

Saya mengenal Firman Venayaksa lewat musikalisasi puisi Hajar Aswad. Saya menikmatinya dan sungguh saya menyukai musikalisasi ini. Ada sesuatu lain yang saya rasakan jika mendengar musikalisasi puisi. Lebih hidup dan segar. Maka dalam beberapa kali kesempatan chatting dan Firman mengungkapkan ingin membuat album dan grup baru maka saya mendukungnya. Biarkan Banten juga mempunyai karya musikalisasi dari anak-anak Banten dengan memproduksinya sendiri. Rekaman berjalan dengan baik dan musikalisasi puisi rampung. Saat itu kita kebingungan dengan nama grupnya. Beberapa nama dicari sampai akhrinya bertemu dengan KIAMUK.

Kiamuk dalam sejarah Banten adalah sesuatu yang akan menggetarkan musuh saat mereka berusaha menguras, menjajah, membakar dan memperbudak Banten. Suaranya menggelegar!. Saya suka spirit itu. Dan tangisan bayi putri saya mempertemukan saya pada keinginan di kalimat berikut ini. Saya BERNIAT MEWAKAFKAN HASIL PENJUALAN CD MUSIKALISASI KIAMUK DENGAN ALBUM “MENCARI PELANGI” UNTUK SEBUAH GERAKAN SAVE BANTEN. Silahkan digunakan semua hasil penjualan musikalisasi ini untuk sesuatu yang bermanfaat bagi Banten. Bagi orang-orang yang berkegiatan dan beraktifitas di untuk mencerdaskan, memberdayakan rakyat Banten. Saya percaya Firman Venayaksa dan teman-teman yang berkegiatan di tanah Banten juga mendukung upaya ini. Saya bukan siapa-siapa dan tidak mempunyai rencana apa-apa ke depan di Banten. Saya rakyat biasa yang pernah menghirup udara dan meminum air di tanah Banten.

Saya ingin berarti berkali-kali..tidak hanya sekali!.

Sudah capek rasanya mendengar..berkeluh kesah..protes..mengumpat..mencaci..tapi tangan kita masih terkepal tidak mau memberi. Saya juga ingin mengajak para warga Banten dimana saja berada dan yang mempunyai keahlian serta peran apa saja untuk sama-sama mewakafkan ilmu. keahliannya untuk Banten. Jika ia seorang praktisi hukum, lewat gerakan save Banten ia aktif mengadvokasi kepentingan rakyat Banten. Jika ia seniman ia berkarya yang membangun kebudayaan Banten, jika ia wartawan ia bukan wartawan pesanan. Jika ia penegak hukum maka ia menjadi Umar bin khattab yang akan menggariskan huruf alif pada kerangka tulang bagi siapa saja. Siapa saja dan apa saja maka berbuatlah untuk Banten hari ini.

Comments (0)

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Posted on 19 September 2009 by goblog'er

Ada yang baru pada setiap perjumpaan dengan Ramadhan. Saat ramadhan usai, maka sesuatu itu menambah list dari karunia Tuhan yang diberikan. Begitulah tahun demi tahun seiring dengan bertambahnya usia ramadhan seperti sebuah ruangan yang masih kosong yang akan terus meminta kita untuk mengisinya dengan hal baru untuk kemudian rungan yang sudah terisi tersebut menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk kita tinggali.

Ruang kosong itu terletak di sebuah sudut dalam bangunan besar hati kita. Seberapa besar ruangan ini tersedia sangat bergantung pada seberapa besar kita mempunyai bangunan hati in dan adakah kita menganggap penting ruangan inii. Bisa saja kita hanya menempatkan ramadhan sebagai ruang kosong yang terletak di ujung paling belakang dekat ‘toilet’ dengan ukuran 1,5 X 1,5 m2 di dalamnya berisi tumpukan sampah atau kertas-kertas yang berserakan dipenuhi sarang laba-laba, tak terurus!.

Adakah Ruangan Ramadhan dalam Bangunan Hati Kita?

Bagi yang menyediakan Ramadhan sebuah ruangan sempit tanpa tujuan dan ia ada hanya sebatas upaya memenuhi tuntutan tata ruang sebuah bangunan maka besar kemungkinan si pemilik bangunan tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari ruang kosong yang bernama ramadhan tersebut. Ia menjadi ruangan yang hanya dijumpai saat Ia melintasinya. Mungkin Ia mampir kemudian membuang puntung rokok, meludah atau sekedar formalitas diam sejenak di dalamnya atau bahkan tidak akan pernah sudi untuk memasuki ruangan tersebut dan duduk di dalamnya. Sepertinya ramadhan sebuah ruangan pengap yang membatasi kebebasan hidupnya. Tak boleh makan, minum, tak boleh cipika-cipiki, tak bisa memaki dan mengumpat semau kata hati, tak mungkin berbohong, tak bisa ajojing, apalagi gosip di tengah hari bolong dan masih banyak tak boleh-tak boleh lainnya.

Bagi seseorang yang tidak begitu peduli menata bangunan hati memang tidak akan pernah memerlukan sebuah ruangan ramadhan dalam bangunan hatinya. Ia hanya menyediakan ruangan besar-besar untuk sebuah party, party, dan party..!. Tempat semua orang bisa bebas datang berlalu lalang dan melolong mengikuti rentak irama musik kehidupan tanpa mengenal aturan. Kepala terus menggeleng, badan bergoyang, kaki dihentakkan, seringai tawa, kepulan asap, bau alkohol, sesekali makian tanda persahabatan begitu asik tanpa henti..tanpa henti sampai akhirnya jantung kehidupan yang diberikan terbatas ‘life timenya’ pun berhenti. Ia mati kelelahan tanpa sempat berhenti untuk membenahi ruangan ‘pesta’ kehidupan yang berantakan seperti kapal pecah. ‘Ceceran makanan dan minuman yang tidak jelas halal haramnya’, ‘puntung rokok makruh dan kesubhatan’, ’tissue pengelap kotoran dosa’, ‘kulit kacang dosa-dosa kecil yang berhamburan’ dan masih banyak lagi ’sampa’h yang memenuhi ruangan besar dalam bangunan hatinya.

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Andai saja..andai saja Ia berdiri di sebuah ruangan yang bisa memandang hall pesta kehidupan dan menghentikan pesta itu sejenak dalam keadaan segar memakai akal sehat serta memenuhi kemauan fitrah ruhnya maka betapa ia akan muak dengan semua kekacauan yang ia lihat di dalam bangunan hatinya. Nah..ramadhan adalah ruangan di mana kita berdiri memandang dan memulai untuk mengatur strategi sudah benarkah kita menata ruangan di dalam bangunan hati ini. Berdiri dan mentafakuri dalam kondisi bebas intervensi dari ‘teman’ nafsu yang sering mempengaruhi dan memperdayai. Maklum, teman nafsu yang menjadi penghuni bersama dalam bangunan hati ini memang ’seorang’ yang bergaya hidup hedonis, suka-suka, free life, ia memang DJ yang memutar piringan musik kehidupan kita, ia pula event organizer yang mengatur siapa yang boleh dan bisa datang, ia memang master ceremonial dalam bangunan hati. Saat ramadhan, teman kita yang satu ini diliburkan sejenak pulang kampung dan kita lah yang sesungguhnya pengelola bangunan hati ini.

Saat ini saya berada di ruangan ramadhan dan sebentar lagi hendak beranjak meninggalkan ruangan ini. Untuk kesekian kalinya saya memandang bangunan hati dengan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Sudahkah semua ruangan ini benar sebagaimana perintah dari Sang Pemilik hati, Tuhan Semesta alam? Dimana akan saya letakkan ruangan syukur? seberapa besar semestinya ruangan syukur ini saya tujukan. Sudahkah saya merenovasi ruangan tamu yang biasa pakai untuk bergaul? mungkin saya jarang memberikan wajah yang menyenangkan hati ketika tamu datang atau saya sering menjawab dengan ketus tak enak didengar. Dan masih banyak yang saya pikir harus dirubah. Oh ya..!saya harus menyediakan ruang ikhlas dan sabar seluas-luasnya. Alamaak..! mengapa saya masih belum mau membongkar ruang prasangka dan buruk sangka ini? bukankah ini yang menjadi biang kerok kacaunya hidup saya selama ini?

Ramadhan dalam hitungan menit akan usai. Saya masih dijejali beragam pekerjaan rumah untuk menata ruangan dalam bangunan hati. Tak pernah cukup waktu yang disediakan untuk mengecek semua ruangan. Sementara esok, hingar bingar itu datang lagi. Bising..! bisingnya hati ini..pintaku pada-MU Rabb, temukan hambamu dengan ramadhan lagi tahun depan. Belum siap hamba berjumpa dengan-MU dengan bangunan hati yang kumuh tak beraturan.

Dari Tepian Teluk Persia,

” Bukankah mereka yang datang dengan hati yang ’selamatlah’ (qolbun salim) yang dapat bertemu Tuhannya?”

Comments (2)

Kepenatan 30 Tahun yang Terobati

Posted on 12 September 2009 by goblog'er

Ramadhan sudah memasuki akhirul ‘asyarah (sepuluh hari terakhir). Dalam Ramadhan sebagaimana diketahui ada tiga putaran, dan kedua putaran sebelumnya yaitu; ‘asyarah al ula (10 hari pertama), ‘asyarah at-tsani (10 hari ke dua) telah kita lewati bersama. Sepuluh hari terakhir merupakan masa-masa dimana aktifitas ruhiyah seperti digenjot semaksimal mungkin. Pedal gas diinjak sampai poll. Seperti dalam sebuah arena lomba lari jarak jauh ketika hendak memasuki putaran terakhir para pelari seperti mengeluarkan daya serta kemampuannya untuk berlari secepat mungkin. Siapa yang mampu mengeluarkan daya yang maksimal maka ia pula yang dapat memasuki finish dalam record yang terbaik. Sama dengan ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan, siapa yang mampu beribadah sekuatnya maka ‘record’ atau catatan ia akan baik di hadapan Sang Khalik.

Realitas Sepanjang 30 Tahun

Saya mempunyai kenangan waktu silam. Lazimnya kita sebagai muslim maka setiap memasuki Ramadhan semua terasa sukacita. Sepuluh hari pertama tentu ramai sekali masjid, warung-warung masakan di pasar ikut sepi. Belum tuntas 10 hari kedua, beberapa warung makanan dengan penutup setengah badan sudah tak malu untuk mulai beraktifitas seperti semula. Mungkin karena kita bangsa majemuk hingga bagi yang beragama lain terutama yang dalam perjalanan membutuhkan tempat mencari makan. Sepuluh hari kedua di bulan Ramadhan sudah seperti hari-hari biasa. Mereka yang mengaku muslim sudah ikut-ikutan terbiasa makan di siang hari. Tidak pandang tua atau muda. Ini sudah menjadi ukuran bahwa jika ibadah wajib saja ditabrak maka jangan berharap ibadah sunnah dijalankan. Shaf masjid pun kian surut. Masjid kemudian diisi oleh orang yang itu-itu juga. Tampak nyata sekali bahwa hidayah bukan barang gratisan yang didapat tanpa kegigihan.

Tiba ke 10 hari terakhir, kita sudah berpikir seolah-olah sudah ada di bulan syawwal. Meningkatnya aktifitas ruhiyah/rohani (isi)yang diajarkan Rasul menjadi kebalikannya bagi kita. Aktifitas jasad yang justru mendominasi (kulit). Jalanan semakin macet, pasar pun berjejal, dari mall hingga hipermall ritmenya meninggi. Teriakan para SPG/B (sales promotion girl/boy) untuk harga-harga baju yang dibanting menjadi panggilan indah. Semua dikejar dan dikerumuni. Seperti semut yang mengerumuni gula. Kita berdalih ini untuk sebuah ’sunah’ memakai baju ‘baru’ di hari raya padahal tuntunan sebenarnya bukan itu. Kita pun beralasan bahwa lebaran/ Idul Fitri tak kan lengkap dengan makanan yang ditumpuk di almari, baju beberapa pasang, hingga berlebih-lebihan sudah menjadi hal biasa padahal berlebih-lebihan adalah kebiasaan ’syetan’. Kita merasa bergembira meninggalkan Ramadhan dengan menyambut Syawwal padahal justru di bulan Ramadhan lah dosa sebesar apapun kecuali syirik akan lumer terbakar di bulan mulia ini sementara syawwal adalah bulan biasa yang tak menjanjikan sesuatu yang besar kepada kita. Lantas patutkah kita mempersiapkannya seperti menumpuk amunisi untuk peperangan selama berbulan-bulan?

Sedari kecil fenomena di atas saya saksikan dan ikuti hingga 30 tahun lamanya. Seperti ingin protes namun kepada siapa? Ingin merubah tidak berdaya karena gaung materialisme justru semakin kencang. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi bagian dari catatan betapa buruknya kita memahami Islam sebagai tuntunan. Semakin menjadi ironi manakala figur alim ulama tidak menunjukan kebersahajaan karena ‘rit’ ceramah dan kuliah subuh juga meningkat. Alih-alih menjadi contoh bagi para tetangga bahwa keluarga mereka tetap mempertahankan kebersahajaan dan setia penuh khusyu di bulan Ramadhan justru sebaliknya. Kain sarung beberapa biji, Baju koko, peci, sendal, semua tak cukup satu. Ya, memang keberkahan akan terasa dengan datangnya Ramadhan semua pemberian berupa hadiah dan ucapan terima kasih akan datang mengalir. Namun suri tauladan kita, Muhammad S.A.W sudah begitu jelas memberikan contoh ketika ia diberi maka secepat laksana angin pemberiannya sudah berpindah tangan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Kepenatan yang Terobati

Kepenatan saya selama 30 tahun terobati, segala puji hanya milik Allah yang telah mendengar bisingnya hati ini. Menikmati 10 hari terakhir di bulan Ramadhan di tepian teluk Persia, sebuah negeri yang Kaya dengan simpanan dollarnya hingga disebut petro dollar benar-benar sungguh berbeda. kesibukan pasar, mall hingga hipermall bisa dibilang normal. Tak ada budaya diskon idul fitri di sini karena lebaran cukup dengan baju (gamis) putih yang sudah bersih dicuci dan disetrika dengan rapih. Di mulai dari malam ke-21 solat malam dilaksanakan berjamaah di dalam masjid. Suara lantunan ayat-ayat suci al-quran oleh para imam masjid memecah kesunyian terdengar begitu syahdu dan memikat hati. Di mulai dari pukul 3:00 dini hari hingga pukul 4:00 pagi shalat malam bagi para warga. Bacaan berganti surat mengabarkan dari satu kisah ke kisah lainnya. Dimulai dari penciptaan Adam kemudian Iblis yang membangkang hingga tergelincirnya Adam dan Hawa karena buah Khuldi. Dilanjutkan kisah kaum Noah yang menyekutukan Allah hingga ditenggelamkan, Kaum ‘Ad yang menolak kehadiran Hud yang mengajak mereka menyembah Allah semata, Kaum Samud yang memerangi Salih padahal mereka sudah diberikan nikmat yang banyak hingga mampu membuat bangunan dari dinding-dinding gunung batu, dan kisah-kisah itu menjadi sebuah pengingat dan sebuah bukti otentik di padang mahsyar nanti ketika umat Muhammad diminta kesaksiannya tentang umat-umat terdahulu.

Saya sungguh berazam, niat disertai kesungguhan dengan memohon kemudahan agar langkah-langkah kaki ini diringankan menuju sumber-sumber suara lantunan ayat-ayat suci. Udara dini hari di penghujung 10 hari bulan Ramadhan tidak begitu pengap dan lembab. Masa transisi menuju musim dingin. Langit cerah, bintang gemintang bertaburan. Langkah-langkah ini menjadi sebuah persaksian kelak. Terlalu dini berharap surga karena perjalanan sesungguhnya masih begitu jauh membentang di hadapan. Di pelataran masjid yang namanya diambil dari manusia yang pernah mengukir kemulyaan dalam sejarah, Umar bin Abdul Aziz saya merasakan kerinduan suasana ini tak terperi. Sama seperti ketika menikmati lantunan ayat-ayat suci oleh para remaja di masjid Agung Serang Banten. Ini adalah dejavu antar rumah Allah. Dari masjid dan menuju masjidlah selayaknya hidup seorang manusia bermuara. Rumah Allah adalah satu-satunya pelarian saya dari penatnya kehidupan. Saat hidup tiba-tiba rancu dan berubah haluan lewat masjid saya memperbaiki arahnya. Ketika gelisah menggarang kalbu, meradang kepanasan maka ke masjid pula saya berusaha menemukan kesejukan. Sebuah harapan dilantunkan agar berdiri kelak masjid, rumah Allah di dalam hati ini.

Maha suci Allah yang memberikan getaran pada hati-hati hamba-Nya ketika mendengar kisah-kisah di atas dibacakan. Sejarah perjalanan manusia di muka bumi bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Seperti hadirnya gerombolan Dinosaurus pada suatu masa dan kemudian hilang tak berbekas dengan tidak ada kelanjutan kisah berikutnya. Sungguh, saya merasakan kedamaian yang saya idamkan. Tak ada hiruk pikuk seperti kepenatan yang saya rasakan sebelumnya. Apa yang saya inginkan, Ramadhan hanya untuk ibadah dan mengenalkan nilai-nilai ibadah tersebut kepada kedua putra saya. Ramadhan kariem..di tepian teluk Persia.

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah kamu dustakan?”

“Maka terhadap nikmat-nikmat Tuhanmu, maka kabarkanlah..”

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here