<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Akang Bagja &#187; Catatan Perjalanan</title>
	<atom:link href="http://www.lawangbagja.com/category/catatan-perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lawangbagja.com</link>
	<description>Ti mimiti Dina Hiji Wanci</description>
	<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:52:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>KUMIS (Serba-Serbi Gulf)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/kumis-serba-serbi-gulf/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/kumis-serba-serbi-gulf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/kumis-serba-serbi-gulf/</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan kami sedang ekspansi besar-besaran. Bukan hanya plant production, Laboratory dibangun megah. Gedung baru memang mengasyikkan apalagi tea boy nya juga baru-baru dan sekaligus disediakan dua kepala.
satu orang tea boy setelah diamati ternyata memiliki penampilan parlente. Ciri khasnya kumisnya yang lebat dan tampak teratur seperti disisi rapi dan dijaga sedemikian rupa jatuh ke bawah. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Perusahaan kami sedang ekspansi besar-besaran. Bukan hanya plant production, Laboratory dibangun megah. Gedung baru memang mengasyikkan apalagi tea boy nya juga baru-baru dan sekaligus disediakan dua kepala.<br />
satu orang tea boy setelah diamati ternyata memiliki penampilan parlente. Ciri khasnya kumisnya yang lebat dan tampak teratur seperti disisi rapi dan dijaga sedemikian rupa jatuh ke bawah. Tidak seperti kumis saya jika panjang mirip duri landak, tak beraturan.<br />
Semula ini hanya kebetulan saja tetapi hari demi hari kumis sang parlente office boy ini memang rapi, lebat dan rupanya selalu disisir. Terkadang sisiran kumisnya belah dua dengan menyisakan cekukan di bawah hidung, namun sering juga sejajar rapi.<br />
Ini saya ketahui saat secara kebetulan di ruang vestibule, saat sunyi-senyap sang parlente offfice boy menyisir kumisnya. Mungkin ia mengira tidak ada orang di vestibule jam-jam sibuk tetapi pagi itu saya terburu-buru dan tidak &#8217;setor&#8217; maka untuk menunaikan hajat saya hadir di vestibule pada bukan jam biasanya.<br />
Dengan tenang sang parlente office, si kumis dari India ini menyisir dengan penuh penghayatan. pelan-pelan ditarik secara teratur dari atas ke bawah. Sambil senyam-senyum sendiri memandang kumisnya yang gagah nan menawan.<br />
&#8220;hai!&#8217;<br />
Dia tersentak dan langsung secara reflek menutup kumisnya, malu-malu.<br />
Suara sapaan saya rupanya mengejutkan sang parlente office boy yang berkumis ini.<br />
Sambil tersipu-sipu, menutupi mulut-plus kumisnya ia berkata &#8220;sorri sir..!&#8217;<br />
(heran..)&#8217; kok sorri?&#8217; batin saya.<br />
Sejak saat itu, teman2 warga Indonesia sering bercanda dengan bertanya,<br />
&#8220;kumis kamu asli?&#8221;<br />
jika mendapat komentar soal kumisnya, sang office boy dengan tersipu-sipu malu mirip di film, menutup kumisnya sambil memalingkan muka dan cekikikan dan berlalu begitu saja.<br />
halahh..</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/kumis-serba-serbi-gulf/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>POLOS (Serba-Serbi Gulf)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/polos-serba-serbi-gulf/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/polos-serba-serbi-gulf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1095</guid>
		<description><![CDATA[Saya kira yang lugu cuma dari kampung saya saja dulu..(tapi sekarang mungkin tidak lagi)..
Di sini banyak juga yang lugu dan polos..
&#8220;Raj&#8221; atau nagarajan (bukan nagabonar) dari India..
beliau office boy yang nyambi jadi cleaner di flat saya.
suatu hari saya mengantarkannya ke stasiun bis di Ruwais.
sesampainya di stasiun..
&#8216;nanti kalau turun, pintunya jgn dibanting ya!&#8217;
&#8220;oke sir..!&#8221; geleng 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Saya kira yang lugu cuma dari kampung saya saja dulu..(tapi sekarang mungkin tidak lagi)..<br />
Di sini banyak juga yang lugu dan polos..<br />
&#8220;Raj&#8221; atau nagarajan (bukan nagabonar) dari India..<br />
beliau office boy yang nyambi jadi cleaner di flat saya.<br />
suatu hari saya mengantarkannya ke stasiun bis di Ruwais.<br />
sesampainya di stasiun..<br />
&#8216;nanti kalau turun, pintunya jgn dibanting ya!&#8217;<br />
&#8220;oke sir..!&#8221; geleng 2 kali kepalanya<br />
pas turun..&#8221;Bruak!&#8221;<br />
saya loncat..kaget minta maaf.<br />
&#8220;kenapa dibanting? kan saya dah bilang, pelan2..!&#8221;<br />
pintu mobil dibuka sama Raj..&#8221;Sorry, Sir!..&#8221;geleng2 kepala 3 kali<br />
&#8220;Bruak..!&#8221;<br />
Hampir saya kena serangan jantung.<br />
muka saya merah..&#8221; jangan dibanting!&#8221; teriak saya.<br />
<span>Raj buka pintu lagi. &#8220;So..Sorry..Oke..sir..oke!</span>&#8221;<br />
tangan dia sudah memegang handel, langsung saya bergerak..cukup2!<br />
(saya tidak mau tiga kali kena banting..)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/polos-serba-serbi-gulf/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelang Lauching Tamasya ke Masjid di Pesta Buku Jakarta</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/jelang-lauching-tamasya-ke-masjid-di-pesta-buku-jakarta/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/jelang-lauching-tamasya-ke-masjid-di-pesta-buku-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Putaran sepak bola piala dunia sudah mendekati semifinal. Saya sempat hadir menyaksikan pertandingan Brazil VS Holland sambil menanti waktu azan maghrib, waktu Emirat. Di komplek Ruwais, tepian Rub Al khali, di taman-taman yang hijau didirikan tenda-tenda besar yang biasa digunakan untuk kongkow-kongkow para pekerja di sekitar kompleks. Tenda-tenda ini lazimnya didirikan saat menjelang Ramadhan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lawangbagja.com/wp-content/uploads/2010/07/tkm-thumb.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1089" title="tkm-thumb" src="http://www.lawangbagja.com/wp-content/uploads/2010/07/tkm-thumb.jpg" alt="tkm-thumb" width="150" height="150" /></a>Putaran sepak bola piala dunia sudah mendekati semifinal. Saya sempat hadir menyaksikan pertandingan Brazil VS Holland sambil menanti waktu azan maghrib, waktu Emirat. Di komplek Ruwais, tepian Rub Al khali, di taman-taman yang hijau didirikan tenda-tenda besar yang biasa digunakan untuk kongkow-kongkow para pekerja di sekitar kompleks. Tenda-tenda ini lazimnya didirikan saat menjelang Ramadhan dan bertahan hingga Ramadhan usai. Namun saat ini bertepatan dengan piala dunia, tenda-tenda didirikan lebih awal.<br />
Menikmati sajian pertandingan saya merasakan aroma gundah masing-masing pecinta sepakbola. Ada yang mendukung Brazil dan berahrap menjadi piala dunia kembali. Sebagian ada yang berkelompok mendukung Holland walaupun baru kenal van Persie di menit-menit terakhir saja . Tidak ada yang bisa menjelaskan secara matematik kah atau kimia kah..bagaimana rasa subjektivitas ini ditentukan sehingga kemudian kegelisahan menjelma tanpa sebab. Saya sendiri merasakan kegelisahan namun berbeda wajannya.<br />
Hingga pertandingan usai, Holland memenangkan permainan. Penonton bubar namun kegelisahan melekat kepada sebagian pendukung Brazil. Lazimnya seseorang gelisah karena ada kepentingan atau minimal ia terikat dengan sesuatu itu. Seperti kegelisahan yang saya rasakan. Sejak permainan dimulai kemudian kami tinggalkan untuk solat maghrib berjamaah, saya dihantui kegelisahan. Bukan..! Bukan..! bukan pada hasil pertandingan Brazil atau Holland yang mantan penjajah negeri yang Si Pitung pun (gak) bisa bangkit dari kubur jika tahu Holland juara dunia. Bukan karena gol bunuh diri pemain belakang Brazil yang saya sesali&#8230;kegelisahan karena jasad saya terpasung ribuan kilometer untuk sebuah perhelatan esok sore di Jakarta.</p>
<p>Saya mencoba realistis dalam hidup. Suka dan duka saya nikmati sebagian bagian dari nikmat Allah. Esok bagi saya adalah sebuah momen yang berharga untuk saya dan juga berharap untuk masyarakat Indonesia, Jakarta-Banten dan debotabek khususnya. Karena sejak tanggal 2 Juli hari ini hingga tanggal 11 nanti perhelatan Pesta Buku Jakarta ramai dikunjungi. Diantara rangkaian acara terselip sebuah peluncuran buku..sebuah memoar..sebuah karya manusia biasa yang berusaha merevolusi pandangan dirinya terhadap nilai-nilai Ilahiyah yang diyakininya.<br />
\TAMASYA KE MASJID, memang buku saya yang pertama. Buku yang lahir setelah menyelesaikan perjalanan berpuluh-puluh tahun..menyebrangi samudera..merasakan getirnya terpisah sanak-saudara..anak dan isteri..terlekang karena panas dan kepulan pepasir yang menaburkan aura fatamorgana..terjerang rasa rindu yang memang begitu pilu sampai tulang sumsum terasa membeku. Kaki-kaki ini tetap harus diayunkan sekalipun teriakan GOLLL&#8230;! membahana diwaktu-waktu solat. Namun sebuah perjalanan Tamasya akan memilah mana yang akan membahagiakan kita kelak dan mana yang tidak..</p>
<p>Sahabat, rasanya ingin terbang ke Jakarta malam ini dan duduk di depan para hadirin yang merindukan pertemuan untuk melihat wajah Rabb-nya. Mereka bukan massa yang saya kerahkan atau saya bayar seperti demo-demo pornografi dan korupsi. Mereka juga mungkin bukan famili yang sengaja saya boyong..tapi saya mempunyai seititik asa bahwa mereka yang hadir adalah mereka yang hatinya tiba-tiba merasa berbunga dan digugah rasa untuk tahu lebih jauh saat mendengar kata-kata TAMASYA KE MASJID digaungkan.<br />
Kita sama-sama sudah lelah dengan kehidupan yang kian terasa gersang..tak ada tempat untuk menyelisik kembali rangkaian perjalanan yang entah sudah sampai dimana. Semakin jauhkah atau tetap pada jalan-Nya. Saya ingin berbagi kepada mereka..yang merindukan masjid sebagai tempat &#8216;berteduh&#8217; dari semua kepalsuan dan permainan kehidupan ini. Sementara waktu semakin cepat berlari..maut sudah sayup-sayup terdengar memanggil. maka hendak kemana kita menuju..?</p>
<p>Di tepian gurun yang konon &#8216;terganas&#8217; di dunia. Saya hanya memandang pekatnya malam, menangkap angin dan menuliskan sebuah pesan kepada setiap hamba yang ada di Jakarta, Banten, Bogor dan sekitarnya..kepada mereka yang menerima titipan surat cinta dari Sang Rabb kiranya bisa turut serta dalam peluncuran buku TAMASYA KE MASJID, di Ruang Anggrek jam 13-15 dengan pembicara seorang yang insya Allah dimuliakan Tuhan karena menjaga kalam-Nya.</p>
<p>Semoga Allah yang Maha Pencinta..menggerakkan hati para hamba-hamba yang ingin menjadikan masjid sebagai tempat &#8216;berteduh&#8217; dari &#8216;gersangnya&#8217; kehidupan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2010/07/09/jelang-lauching-tamasya-ke-masjid-di-pesta-buku-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Naluri) Musim Penghujan dan kameraman Amatir</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/12/14/naluri-musim-penghujan-dan-kameraman-amatir/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/12/14/naluri-musim-penghujan-dan-kameraman-amatir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 17:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Hujan identik dengan rizki, jadi musim penghujan artinya rizki bakal turun banyak. Itu dulu..setelah global warming melanda keadaan mungkin berubah atau mudah-mudahn tetap sama seperti itu. Rizki ini bisa turun sama siapa saja termasuk dengan tukang es sekalipun tidak terkecuali bagi para tukang shooting amatiran. Dulu Saat di Serang saya memang pernah punya kerjaan sampingan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan identik dengan rizki, jadi musim penghujan artinya rizki bakal turun banyak. Itu dulu..setelah global warming melanda keadaan mungkin berubah atau mudah-mudahn tetap sama seperti itu. Rizki ini bisa turun sama siapa saja termasuk dengan tukang es sekalipun tidak terkecuali bagi para tukang shooting amatiran. Dulu Saat di Serang saya memang pernah punya kerjaan sampingan untuk dokumentasi video amatiran. Pekerjaan ini memang sedikit banyak terimbas oleh perubahan musim. Saat musim penghujan tiba, saat pengasnti sunat sudah menemukan ukurannya, juga para pasangan muda yang kebelet minta kawin, maka saat itulah para amatiran dokumenter kelas kampung beraksi. Pengalaman ini menghantarkan saya menjadi orang penting pada berbagai macam event. Dari hajatan di sebuah gedung besar sampai ke sebuah kampung di pinggiran sawah. </p>
<p>Saya masih ingat hingga pukul dua pagi harus mendokumentasikan penceramah dari sebuah pesta sunat. Dinginnya udara, suara jangkrik nge-&#8217;jazz&#8217;, kodok yang horny pertanda musim kawin, saat yang sama tiba-tiba ribuan kunang-kunang menggelar pesta, dan terakhir nyamuk menjadikan ajang malam itu untuk membuat kekacauan. Tidak jelas kesimpulannya apa dari materi penceramah karena saya sendiri lebih banyak sibuk dengan nyamuk yang kebut-kebutan di sekitar kedua telinga..dessiiingg..ziingg..! dan plak! karena kesal saya gampar &#8216;pembalap liar&#8217; itu. Sesekali saya harus memastikan merubah angle kamera agar ketika diburning ke dalam compact disc penonton tidak bosan dibuatnya. Januari tepatnya saat itu. Angin malam bulan Januari seperti kisah lagu lama. Angin malamnya genit dan menggoda. Semua menambah terangkum dalam memori seperti lagu Broery Pesulima &#8220;angin Malam&#8217; yang sering diputar saat minggu malam senin. Lepas acara selesai, saya tidak berani pulang langsung ke rumah. Maklum, di Banten lokasi sepi dan gelap masih sering ditunggui para begal motor yang suka mengoleksi motor. Jadilah saya melewati malam di kampung terpencil, pinggiran sawah hingga pagi menyapa. Menungu fajar membentang di langit-langit yang terkadang gelap pekat karena mendung semalaman.</p>
<p>Kawan, pekerjaan shooting video kelas kampung memang sangat mengasikkan. Saya bisa menjadi seorang penting yang mampu mengatur jalannya upacara pernikahan anak pejabat anngota DPRD yang terhormat itu.. atau satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk ketika calon pengantin untuk terakhir kalinya dimandikan oleh ayah dan bunda. Sebuah acara dramatis bagi keluarga mantan kepala koperasi tingkat kabupaten karena selain basah-basahan dengan air kembang juga air mata ikut berderai. Ketika memegang kamera, sekalipun hanya sekelas DDR atau 3CCD mungil, saya bisa menjadi begitu gagah menerobos barikade polisi yang mengawal artis dangdut dan tanpa malu-malu bertengger di pinggiran panggung percis seperti burung perkutut. Dengan video shooting pula saya mempunyai teman dengan berbagai kalangan baik militer hingga artis. Perjalanan terakhir saya saat membidani sebuah komunitas film di kota Serang dan bersama-sama mereka membuat acara &#8216;Menuju Bintang&#8217; sebuah acara pencarian bakat dengan kehebohan yang bisa dibilang luar biasa di tingkat kabupaten yang jalan protokolnya tak lebih dari lima kilometer.. </p>
<p>Begitulah lelaki dengan kamera bisa diibaratkan jenggo dengan pistol mautnya. Bersama kamera saya bisa menembus lokasi yang rahasia, sakral, penting, hingga pada peristiwa menegangkan. Saya pernah diciduk malam-malam dan diinterogasi oleh orang yang saya sendiri tidak kenal dan belakangan ia menjadi salah satu anggota dewan di kota Cilegon. kamera pun membawa saya pada pengepungan kecamatan dimana saya ada di dalamnya. Mereka sudah saling bersiap dalam pesta mandi darah jika sebuah kotak suara dibuka. Kamera juga yang membawa saya pada keisengan untuk meliput kehidupan malam di kota Serang namun akhirnya &#8216;kabur&#8217; karena dicegat para wanita cantik yang berjakun. Sampai saat ini, saya masih penasaran dengan kehidupan malam yang konon pernah mendapat sebutan &#8216;kota santri&#8217; itu. Maklum saja dari cerita supir taksi yang sering mangkal di beberapa tempat itu sering menjadi saksi sebuah kemunafikan di bawah kerlap-kerlip asma Tuhan.</p>
<p>Musim penghujan dan kameramen amatiran seperti bersepakat bahwa naluri manusia tidak tahan dalam cuaca dingin dengan rintik hujan yang tak mau berhenti. Sama seperti naluri manusia akan kekuasan, ketenaran, harta, dan sebagainya. Jika sudah menemukan momennya maka ia berusaha memenuhinya dengan berkolaborasi dengan pihak yang menyediakan jasa tersebut. Dalam hal ini tasawuf menyebutnya dengan kata zuhud. Zuhud bukan seseorang yang miskin kemudian dia meninggalkan dunia karena kemiskinannya tetapi yang bersangkutan harus berada dalam &#8216;momen&#8217; atau saat ia berada di tengah kekayaan maka ia dianggap zuhud karena dunia yang bergelimang ditinggalkannya. Dalam sebuah hadist Nabi, terungkap kisah tentang 3 orang yang terjebak dalam gua oleh batu besar. Salah satu kebaikan yang mampu menggeser batu besar penghalang itu adalah saat si pelaku sudah berada di atas kedua paha wanita yang sangat dingininya dan momen itu begitu menggoda nafsu birahi sang pria namun segera ia meninggalkannya. Momen ini adalah &#8216;prime moment&#8217; karena di saat semua keadaan bertemu dan &#8216;bersepakat&#8217; untuk dilakukan serta merta ditinggalkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/12/14/naluri-musim-penghujan-dan-kameraman-amatir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wujud Duit 6,7 trilyun</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/12/10/wujud-duit-67-trilyun/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/12/10/wujud-duit-67-trilyun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 09:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kontributor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1074</guid>
		<description><![CDATA[(dari milis kotabogor-Petrus Suryadi)
Sehubungan dengan HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL, menyangkut masalah Bank
Century dengan bill-out 6,7 triliun dinalisa secara matematika sbb:
Wujud Rp 6,7 Triliun Bank Century
Begitu mendengar kata &#8220;Rp 6,7 Triliun&#8221; kemungkinan besar pikiran kita
langsung mengasosiasikannya pada kasus bank Century. Tapi pernahkah kita
bertanya dalam hati: Bagaimana sih wujudnya uang Rp 6,7 triliun tersebut?
Berikut ini visualisasinya.
Sebuah kertas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(dari milis kotabogor-Petrus Suryadi)</p>
<p>Sehubungan dengan HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL, menyangkut masalah Bank<br />
Century dengan bill-out 6,7 triliun dinalisa secara matematika sbb:</p>
<p>Wujud Rp 6,7 Triliun Bank Century</p>
<p>Begitu mendengar kata &#8220;Rp 6,7 Triliun&#8221; kemungkinan besar pikiran kita<br />
langsung mengasosiasikannya pada kasus bank Century. Tapi pernahkah kita<br />
bertanya dalam hati: Bagaimana sih wujudnya uang Rp 6,7 triliun tersebut?</p>
<p>Berikut ini visualisasinya.</p>
<p>Sebuah kertas HVS Folio 80gram bisa &#8220;menampung&#8221; 7 lembar uang kertas pecahan<br />
100ribu dengan menyisakan sedikit ruangan dengan panjang 6,5cm dan lebar<br />
3cm. Jika mau akurat, 1 buah kertas HVS Folio bisa menampung 7,2 lembar uang<br />
kertas.</p>
<p>Dalam keadaan terpacking, 1 rim (500 lembar) kertas memiliki ukuran:<br />
panjang x lebar x tinggi = 33 x 21,5 x 5,5 cm</p>
<p>Jika kita asumsikan tebal kertas yang sama, maka 1 rim kertas bisa menampung<br />
uang sebesar:<br />
500 x 7,2 lembar uang<br />
= 3600 lembar uang<br />
= 3600 * Rp 100ribu<br />
= Rp 360 000 000<br />
Angka diatas dibaca: Rp 360juta<br />
Jadi 1 rim kertas HVS Folio muat 360juta.</p>
<p>Lantas seberapa besarkah ukuran Rp 6,7 triliun jika ditumpuk dalam pecahan<br />
Rp 100ribuan?<br />
Jawabannya ada dalam hitungan sederhana:</p>
<p>1 ribu = 1 000<br />
1 juta = 1 000 000<br />
1 milyar = 1 000 000 000<br />
1 triliun = 1 000 000 000 000</p>
<p>Rp 6,7 triliun / Rp 360 juta<br />
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000<br />
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000<br />
= 6 700 000 / 360<br />
= 18 611,1111</p>
<p>Wow, ternyata uang Rp 6,7 triliun sebanding dengan 18ribuan rim kertas HVS<br />
Folio. Jika diletakkan dalam sebuah gudang, tak terbayangkan berapa besarnya<br />
gudang tersebut.</p>
<p>Jika di tumpuk dengan ukuran 1 rim kertas HVS tadi, berapakah tingginya?<br />
18 611, 1111 x 5,5cm<br />
= 102 361 cm<br />
= 1023,61 meter<br />
Angka diatas dibaca: 1 kilometer lebih.<br />
Itu 7 kali lebih tinggi dari Monas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/12/10/wujud-duit-67-trilyun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Marega ya Koruptor (Matilah Wahai para Koruptor!)</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 08:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[


Hari anti korupsi di dunia dicanangkan oleh PBB hari ini tanggal 9 Desember. Betapa pentingnya hari ini karena kehancuran dunia, masa depan kita dan tak terlepas juga dengan isu global warming terkait dengan ulah para koruptor yang banyak menyengsarakan umat manusia.
kONFLIK POLITIK MAKELAR KASUS, Ratusan ribu pohon ditebang, pendidikan terpuruk, biaya ekonomi mahal, kualitas jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3055272&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=219445751797&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=219445751797&amp;id=546650512"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs070.snc3/13743_210514735512_546650512_3055272_2057830_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div class="clear_left">Hari anti korupsi di dunia dicanangkan oleh PBB hari ini tanggal 9 Desember. Betapa pentingnya hari ini karena kehancuran dunia, masa depan kita dan tak terlepas juga dengan isu global warming terkait dengan ulah para koruptor yang banyak menyengsarakan umat manusia.</p>
<p>kONFLIK POLITIK MAKELAR KASUS, Ratusan ribu pohon ditebang, pendidikan terpuruk, biaya ekonomi mahal, kualitas jalan yang buruk, keadilan yang terkoyak, lambannya pembangunan, dan masih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh para durjana bernama koruptor.</p>
<p>maka MAREGA YA KORUPTOR..MATILAH WAHAI KORUPTOR..!!</p>
<p>Semoga demo hari ini di semua tempat aman dan lancar. Kita merindukan negara yang bersih. Saya mendoakan agar momen ini menjadi tonggak sejarah kebangkitan Indonesia. Sebagai warga MARGINAL sering merasa frustasi dengan fungsi negara. tak ada harapan bagi kami karena hukum sering diatur dengan UANG.<br />
Jayalah bangsaku..!<br />
dan MATILAH wahai para KORUPTOR..!</p>
<p>INDONESIA BERSIH 2009</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/12/09/marega-ya-koruptor-matilah-wahai-para-koruptor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>wALKING ON THE gRAss</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/12/08/walking-on-the-grass/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/12/08/walking-on-the-grass/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 13:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[


Mulailah mengoleksi hal-hal yang kecil namun membuat kita bersyukur pada nikmat Sang Pencipta. Segeralah mengisi ruang hati dengan sesuatu yang sederhana, simpel namun sebagai individu yang merdeka kita merasa senang berada di dalamnya. Sesenang seorang anak kecil dengan mainan plastiknya. Sedamai bayi yang tertidur dalam pangkuan bundanya. Saat oksigen masih bebas dihirup, saat kaki masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=1329277&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=204441206797&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=204441206797&amp;id=546650512"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2123/26/92/546650512/a546650512_1329277_7987.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div class="clear_left">Mulailah mengoleksi hal-hal yang kecil namun membuat kita bersyukur pada nikmat Sang Pencipta. Segeralah mengisi ruang hati dengan sesuatu yang sederhana, simpel namun sebagai individu yang merdeka kita merasa senang berada di dalamnya. Sesenang seorang anak kecil dengan mainan plastiknya. Sedamai bayi yang tertidur dalam pangkuan bundanya. Saat oksigen masih bebas dihirup, saat kaki masih tegap melangkah, saat kedua tangan masih kuat merengkuh, saat mata masih bisa melihat indahnya pelangi kala senja, kulit masih bisa merasakan sepoinya angin mengusap lembut, telinga masih jelas mendengar kicauan burung, lidah masih bisa membedakan mana pedas, asin dan manis dan masih segudang lagi hal-hal kecil yang memberikan nikmat luar biasa namun karena malas dikoleksi dalam ruang hati menjadi terlewatkan begitu saja. &#8220;Ah..! sudah biasa!&#8221; atau &#8220;Basi ah..!&#8221;</p>
<p>Jika diberikan kesanggupan mengelilingi dunia kita akan banyak menemukan betapa manusia menemukan kesulitan untuk meraih atau merasakan kebahagiaan. Semua menggantungkan nilai kebahagiaan tinggi-tinggi hingga sulit terjangkau. Seting parameternya &#8216;over speck&#8217;, sampai mati pun belum tentu bisa teraih. lantas untuk apa hidup? 60 years begitu singkat kawan! Sudah bisa dihitung pakai jari untuk menembus umur ke angka 80 tahun! apalagi 100 tahun?. Diabetes, jantung koroner, kanker plus kantong kering, dari &#8217;swine&#8217; sampai &#8216;bird flu&#8217; mungkin telah membuat umur kita terkorupsi hingga 20 tahun!. Anak-anak muda perkotaan sudah banyak menderita jantung koroner, diabetes akut, asam urat yang kronis, dan segudang penyakit lainnya dan itu datang pada usia di bawah 40 tahun!. Di Gulf penyakit yang mengancam para penghuninya adalah diabetes dan jantung koroner karena &#8216;obesitas&#8217; kelebihan &#8216;gizi&#8217;.</p></div>
<div class="clear_left">
Paradoksnya Kehidupan<br />
Manusia cenderung akan mengukur sebuah kebahagiaan dengan status sosialnya. Darimana ukuran status sosial didapat? apakah betul harus berbanding lurus? Semakin kaya, semakin tinggi jabatan, apakah tidak boleh hidup sederhana? Pertanyaan selanjutnya yang membingungkan adalah apa ukuran sederhana? Kesederhanaan menjadi melar seperti karet tergantung status sosial begitu yang bisa saya simpulkan. Lagi-lagi alibi ini yang menjadikan alasan seseorang bisa hidup &#8216;mewah&#8217; walaupun menurut dia &#8217;sederhana&#8217; padahal lingkungan sekitarnya miskin dan papa.</p>
<p>Di Gulf mempunyai fenomena menarik tentang &#8216;kesederhanaan&#8217; di tengah 200 jenis warga dunia yang multikultur dan kesenjangan sosial yang lebar seperti langit dan bumi. Ada sebuah pergeseran budaya yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 generasi. Dulu wilayah ini hanya dihuni oleh sekumpulan tribal bedouin yang hanya mengenal onta &#8216;pungguk satu&#8217; sebagai makhluk yang paling indah dalam sejarah nenek moyang para tribal. Dalam kurun kurang dari 50 tahun sejak berdirinya negara &#8216;Syaikhdom&#8217; ini terjadi &#8217;shock culture&#8217; dari &#8216;rags&#8217; menjadi OKB, orang kaya bangeet!. Sebuah kendaraan BMW X5 hanya menjadi barang mainan anak-anak muda yang baru kemarin lulus kuliah. bagi mereka semua itu biasa dan ada perubahan besar dalam memandang kebahagiaan tentunya.</p>
<p>Dahulu orang tua mereka adalah generasi pertama yang masih merasakan sebuah perjalanan yang berjarak 120 km harus ditempuh beberapa hari itu pun terlebih dahulu harus dilepas dengan tarian tradisional dengan memainkan senapan angin ke udara karena konon tidak ada jaminan akan bertemu kembali. Layaknya seperti sebuah perpisahan untuk menyambut kematian. Wilayah ini kosong dan liar. Hanya serigala gurun dan para &#8216;harami&#8217; alias begal padang pasir yang berkeliaran yang siap menghabisi para mangsanya tak peduli siang atau malam. Saat saya sempat ngobrol dengan seorang rekan dari Belgia, kendaraan sekelas BMW X5 di negara mereka akan sangat-sangat sulit ditemui karena pajak yang mencekik. Rekan saya ini seorang yang mewakili dari &#8216;kasta&#8217; expatriat, &#8216;western&#8217;, bisa dibilang warga negara kelas &#8216;1A&#8217;.</p></div>
<div class="clear_left"></div>
<div class="clear_left"><span></p>
<div class="clear_right">Walking on the Grass<br />
Bagaimana dengan para buruh dari Asia? Suatu sore saya sempat berbincang dengan seorang pekerja hotel dari Bangladesh di kota Abu Dhabi dan ngalor ngidul &#8216;nongkrong&#8217; menemani ia bekerja. Saya bisa memahami bagaimana keseharian yang dilalui olehnya begitu keras dengan gaji 500-600 dirham, tanpa libur=7 hari non stop, tinggal di mess seperti &#8216;kobong santri&#8217; = satu kamar untuk 10-15 orang, dan bisa pulang setelah 2 tahun. Ia lelaki dengan satu orang putra! Bertemu isterinya terakhir kali ketika hamil 7 bulan dan baru bisa bertemu kembali saat putranya hampir berusia 2 tahun!. Sementara saat ia memakirkan kendaraan yang singgah di hotel semuanya kendaraan yang super mewah..dan wah!. Namun kawan..saat ditanya apa baginya arti sebuah kebahagiaan, ia menjawab simpel: &#8220;Saat saya bertemu anak saya nanti, ia tumbuh sehat dari uang yang saya kirim setiap bulannya untuk membeli makanannya&#8221;.</p>
<p>Paradoksnya kehidupan mereka yang bekerja keras, bermandikan keringat, membanting tulang umumnya mempunyai ukuran kebahagiaan yang simpel. Mungkin mereka lebih berbahagia? Saya tidak tahu jawabannya..satu hal yang sedang saya lakukan adalah mengoleksi hal-hal yang sederhana, simpel, mudah, menjadi sebuah kekayaan hati dengan tidak bosannya menghitung hal-hal yang kecil tersebut sebagai sebuah parameter kebahagiaan untuk saya dan keluarga. Dari sekian koleksi &#8216;the simple thing but make you happy&#8217; buat saya adalah..&#8217;Walking on the grass&#8217;..! Ya, berjalan diatas rumput yang hijau, terpangkas rapih, menghampar bak permadani sering membuat saya &#8216;excited&#8217; ketika berjalan di atasnya..entahlah apa karena di sini terlalu sering lihat padang pasir atau terlanjur ter&#8221;anchor&#8217; dalam memory, pokoknya aku sukaaaa&#8230;!</p></div>
<div></div>
<p></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/12/08/walking-on-the-grass/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Kecil untuk Pak Haji dan Bu Hajjah</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/11/27/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/11/27/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:12:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1062</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, dilarang memotong rambut atau kuku, dan lain sebagainya. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, dilarang memotong rambut atau kuku, dan lain sebagainya. Di kampung calon jamaah haji biasanya dibacakan talbiyah lewat pengeras suara. Tentu kebiasaan ini hanya ada di wilayah yang jauh dari tanah suci. Tidak untuk orang-orang disekitar hijaz. Menunaikan ibadah haji dipandang sebagai tingkat paripurnanya nilai keislaman seorang muslim. Ia dipandang sudah terbebas dari hal-hal yang menghambat karena ibadah haji disyariakan bagi yang &#8216;mampu&#8217;. Hartanya berasal dari yang halal dan baik juga keluarga serta sanak famili yang ditinggalkan sudah disediakan bekal yang cukup.</p>
<p>Dibeberapa negara muslim terutama di wilayah Afrika dan Syam juga mempunyai kebiasaan tersendiri bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Ada yang diarak keliling kampung dengan menggunakan baju ihram dengan berkendaraan keledai, mungkin seperti sado. mereka pun sama memandang bahwa ibadah haji sebuah pencapaian tertinggi hingga harus diarak guna menuai doa dari setiap warga yang ditemui. Sang calon mendatangi para tetangganya bukan para tetangga mendatangi sang calon &#8216;pengantin&#8217; haji. Ini agak berbeda dengan kondisi di tanah air. Beberapa ulama yang pernah saya dengar berpendapat bahwa bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji tidak serta merta ia asal cukup ongkos dan biaya selama perjalanan saja tetapi juga sang calon &#8216;pengantin&#8217; haji mempunyai kewajiban sosial yang harus dipenuhi. Bagi yang ingin berangkat pertama kali maka keluarganya harus dipastikan cukup bekalnya. Bagi yang berangkat untuk kedua, ketiga hingga berikutnya maka ia harus mencukupi kebutuhan 40 tetangga samping kanan, 40 tetangga samping kiri serta 40 tetangga depan dan belakang. Begitu ketatnya ulama memfatwakan seperti itu bukan karena tanpa alasan.</p>
<p>Ketika ibadah haji dipandang sebagai ibadah paripurna dan seseorang yang layak menjadi pengantin karena dianggap mampu dalam artian lebih maka menjadikan sebuah &#8216;cacat&#8217; jika ketika ia berangkat menunaikan ibadah haji untuk kesekian kalinya namun masih ada tetangga yang berdekatan dengan rumahnya ternyata sedang mengalami kesusahan. Entah ia sedang sakit, kelaparan, atau dibelit hutang hingga tidak mampu untuk membeli makanan. Maka dihadapan Allah lebih mulia bagi sang calon pengantin membantu tetangganya yang kesusahan daripada ia berangkat menunaikan ibadah haji. Ibadah haji bukan plesir..! Sepertinya umumnya ibadah yang ada dalam Islam tidak pernah terlepas hanya &#8216;hamblum minallah&#8217; semata tetapi juga selalu ada aspek sosial. Seperti puasa, tidak sah puasa Ramadhan seseorang jika tidak menunaikan zakat fitrah. Solat diperintahkan di masjid bagi mereka yang merasa dirinya lelaki. Zakat adalah ibadah yang menyertai solat. Setiap perintah menunaikan solat selalu diikuti untuk menunaikan zakat. Semua mempunyai aspek sosial, hubungan terhadap sesama manusia. Sudah barang tentu dengan ibadah haji sebagai tingkat paripurna.</p>
<p>Dalam berbagai kisah banyak disampaikan bahwa seseorang yang batal menunaikan ibadah haji karena menolong tetangganya, sanak familinya atau kerabatnya di hadapan Allah ia tercatat sebagai seseorang yang telah &#8216;dihaji&#8217;kan. Hal yang memang sulit diterima nalar biasa namun Allah, Sang Pemilik Hakikat tentu Maha Berkehendak dan Mampu untuk itu semua. Menakar peristiwa ghaib hanya dengan keimanan bukan dengan logika. Ibadah haji bukan sebuah jurnal perjalanan biasa. Ibadah haji sebuah jurnal perjalanan anak manusia untuk menemukan kembali hakikat kehidupannya di alam semesta.</p>
<p>Dalam teori ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa segala sesuatu di alam raya ini tak lebih dari ‘permainan’ energi vibrasi yang berlangsung secara terus menerus. Vibrasi sendiri bisa dipahami sebagai berputarnya sebuah zat/benda. Benda yang berputar tentu menghasilkan medan magnet. Dan itulah yang terjadi pada alam semesta. Bumi berputar pada porosnya. Bulan,matahari, venus, mars, bahkan hingga elektron yang terkecil sekalipun semua berputar. Medan magnet yang dihasilkan sebagai bentuk kesetimbangan agar semua tetap pada lintasannya sesuai hukum yang telah ditetapkan SANG PENCIPTA. Putaran semesta menjadi sebuah bentuk harmoni ketaatan yang ALLAH simpelkan pada miniatur prosesi thawaf di seputar ka’bah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa ka’bah diibaratkan sebagai porosnya semesta. Kalimat talbiyah labbaik allahumma Labbaik, (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah!) sebuah isyarat pengakuan untuk tunduk terhadap hukum semesta yang telah digariskan.</p>
<p>Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji hendaknya pula menjadi &#8216;magnet&#8217; yang menarik manusia sekelilingnya pada ketaatan. Menuju baitullah adalah merupakan awal untuk selanjutnya sepulang dari baitullah ia mengalami &#8216;kelimpahan energi&#8217; karena terasah dalam putaran porosnya semesta. Tidaklah seseorang menjadi haji mabrur jika sepulang dari menunaikan ibadah haji tidak mempunyai daya untuk &#8216;menarik&#8217; hamba Allah kembali pada ketaatan. Besi yang usang saja jika digosok-gosokkan pada magnet maka ia mempunyai sifat magnet. Jiwa seseorang yang berhaji hendaknya pula seperti itu. Jika tidak, menjadi sebuah pertanyaan besar tentunya. Tidak pula ibadah haji diganti dengan &#8216;jannah&#8217; bertelkan permadani dan taman-taman hijau yang dijanjikan jika kepulangannya dari baitullah menjadi penambah problem ummat. Ia hanya berlabelkan &#8216;haji dunia&#8217; dan pernah &#8216;jalan-jalan&#8217; melihat kedua kota suci, Madinah dan Makkah saja. Semoga para jamaah haji yang 3 juta orang menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Kepulangannya menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Ia adalah magnet ketakwaan bagi kita yang lemah dan belum mampu dan masih ada dalam daftar antrian tunggu ditahun mendatang, insya Allah amien..</p>
<p><span>Labbaik Allahuma Labbaik..Aku menunggu panggilan-Mu ya Rabb, dalam kelemahan dan ketidakberdayaanku..(buruh</span>migren, Tepian Teluk Persia)<br />
&#8220;hati Emak sudah lama disana..&#8221; (Emak Ingin Naik Haji)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/11/27/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Syuhadza!&#8221;</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/11/20/syuhadza/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/11/20/syuhadza/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 10:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[
Dahulu Saya pernah membaca tulisan, &#8220;Ke timur tengah bertemu muslim, ke Eropa bertemu Islam&#8221;. Hanya dengan izin-Nya sejak beberapa tahun yang lalu saya memulai tinggal di timur tengah. Menarik memang episode perjalanan kali ini. Bertahun-tahun tinggal di jazirah para nabi saya mengamati gaya hidup, cara pandang mereka pada keyakinannya (islam), etos kerja,budaya, dan tentunya juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div>Dahulu Saya pernah membaca tulisan, &#8220;Ke timur tengah bertemu muslim, ke Eropa bertemu Islam&#8221;. Hanya dengan izin-Nya sejak beberapa tahun yang lalu saya memulai tinggal di timur tengah. Menarik memang episode perjalanan kali ini. Bertahun-tahun tinggal di jazirah para nabi saya mengamati gaya hidup, cara pandang mereka pada keyakinannya (islam), etos kerja,budaya, dan tentunya juga karakter keseharian dari bangsa yang dipilih oleh Allah menerima kemuliaan dengan diturunkannya Nabi terakhir dari kalangan mereka serta menjadikan bahasanya sebagai bahasa agama plus bahasa wahyu dari kitab terakhir yang diturunkan ke bumi.</p>
<p>Pertama kali datang tentunya saya harus banyak berurusan dengan lembaga formal swasta dan pemerintahan. Mulai dari buat akun bank, SIM (surat izin mengemudi), kartu identitas, izin kegiatan, hingga surat kelahiran anak yang lahir di jazirah ini. Sekian banyak interaksi yang terjalin memang mempunyai kesan tersendiri tentang tipikal warga di timur tengah ini. Cara pandang saya tentang warga timur tengah sedikit banyak berubah dari yang saya pernah bayangkan sebelumnya. Umumnya tipikal mereka terbuka dalam berbicara dan berekspresi. Spontanitas umumnya walau terkadang ada yang berlebihan. Jika berurusan dengan lembaga formal jangan berharap ada senyuman atau sapaan lembut karena hal seperti itu hanya khusus untuk yang terdekat dengan mereka saja rupanya. Jika satu ketika anda membawa persyaratan yang tidak pas atau sedikit saja kesalahan sengaja atau tidak maka ekspresi spontan akan langsung didapatkan. Biasanya kata pertama yang akan didengar adalah : &#8220;Syuhadza!&#8221;.</p>
<p>Di teluk Persia, kata &#8216;Syuhadza&#8217; menurut saya paling sering dijumpai dimana saja. urutannya kedua setelah kata &#8216;keif haa lak (apa kabar?). Mulai dari jalanan sampai ke urusan perkantoran. &#8216;Syuhadza&#8217; adalah bahasa slank. Syu (dengan syin besar) artinya APA. Hadza artinya INI. Kurang lebih bisa diartikan; &#8220;Kok begini?&#8221;, atau &#8220;Gimana sih?&#8221; . Semestinya kalimat ini biasa-biasa saja. Namun dalam perkembangannya makna dan kata kedua kata ini menjadi sebuah ungkapan kekesalan, kekecewaan, &#8216;blaming&#8217;, dan juga kemarahan. Ekspresi spontan diikuti kata &#8220;Syuhadza!&#8221; lambat laun menjadi sebuah ikon negatif terutama bagi yang mendengarnya. Dan ekspresi ini ternyata menular kepada para imigran yang tinggal di timur tengah. Satu ketika saya pernah melihat pembeli membanting-banting belanjaannya di depan kasir sambil berteriak &#8217;syuhadza!&#8221; hanya karena kasir harus bolak-balik karena mesin barcode temannya eror. Seorang supir taksi terjebak macet ia langsung teriak &#8220;Syuhadza!&#8221;. Madam melihat kerjaan khadimah (pembantu) tidak beres langsung teriak &#8220;Syuhadza!&#8221;. Cakil lupa membawa fotokopi ketka akan regsitrasi mobil, petugas langsung teriak &#8220;syuhadza!&#8221;. Virus &#8216;Syuhadza!&#8221; merebak dikalangan penduduk warga timur tengah dan seperti ada kesepakatan diam-diam jika anda kecewa, marah, menyalahkan, kesal, sebel, tinggal teriak &#8217;syuhadza!&#8221;. Ekspresi itu diluapkan bukan hanya terhadap manusia saja ternyata, mobil mogok, komputer rusak, AC bocor, ban pecah, radio mati sampai pada onta yang cuek bebek melintasi jalan.</p>
<p>Dalam Islam ekspresi spontan menjadi cerminan akhlak yang bersangkutan. Ingin melihat akhlak seseorang lihat saja ketika ia dihadapkan pada hal yang kurang menyenangkan. Ah..sambil menulis ini saya pun malu hati rasanya karena terjangkit virus &#8216;Syuhadza&#8221;. Pemahaman saya tentang akhlak yang ditempa di sebuah dusun kecil menjadi terkontaminasi dengan virus ini. Mudahnya saya gusar dan berkata syuhadza. Bukankah ada kata-kata yang lebih baik seperti tuntunan Nabi. Bisa dengan istigfar, tasbih dan tahmid. Menambah kebaikan juga bukan?. Dan malu ini menjadi-jadi saat beberapa hari yang lalu saya disempatkan bertemu dengan seseorang. Ia berasal dari Cambridge, UK. Seorang trainer peralatan microscope yang cukup canggih. Seharian bersamanya saya ternyata tidak sia-sia. Bukan hanya ilmu yang ia ajarkan tetapi juga ekspresi spontan yang saya temukan padanya.</p>
<p>Saya menemukan Islam dari ekspresi spontannya. Men-set up instrument dari awal tentu akan menemukan beberapa hal kendala dari software hingga hardware. Setiap kendala yang dihadapi olehnya dan saya sebagai trainee, sang trainer memberikan kesan yang berbeda dari keseharian yang saya temukan di timur tengah. Saat error, hang, atau hardware problem eskpresi spontan yang keluar dari mulutnya adalah &#8220;It&#8217;s very interesting!&#8221; atau &#8220;It&#8217;s interesting!&#8221;. Ini diucapkan berkali-kali tanpa terselip kata &#8220;shit!&#8221; yang biasanya diucapkan oleh sebangsanya. Awalnya saya kurang &#8216;ngeh&#8217; namun pada pengucapan kedua dan selanjutnya saya menyadarinya. Senang sekali mendengar sang professor menyebutkan kata &#8220;It&#8217;s very interesting!&#8217; dari setiap kesulitan yang dihadapi. &#8220;Sungguh menarik!&#8221; jika kita bisa mengganti kata-kata jelek atau &#8220;syuhadza&#8221; pada keseharian yang temui di timur tengah dengan kata-kata yang baik dan memotivasi pendengarnya. dan bersama sang professor hari itu saya merasakan aura semangat untuk mengubah cara pandang kendala atau kesulitan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipecahkan dibanding mendengar kata &#8220;syuhadza&#8221; yang terkadang penyakit inferior orang kampung ini menjadi kambuh.</p></div>
<div class="photo photo_none">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2945567&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=204538051797&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=204538051797&amp;id=546650512"></a></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/11/20/syuhadza/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jawadwipa, Menuju Titik Nol</title>
		<link>http://www.lawangbagja.com/2009/11/17/jawadwipa-menuju-titik-nol/</link>
		<comments>http://www.lawangbagja.com/2009/11/17/jawadwipa-menuju-titik-nol/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 03:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>goblog'er</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lawangbagja.com/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[Kita memilih diam saat angkara melenggang di atas purnama
Kita kembali terdiam saat ia kemudian menari di halaman mata
Diam..! jangan ada yang bersuara..
Ini Tanah Air Kita!
O..Sang Pemilik Kehidupan
Jika TANAH sudah bergolak maka AIR yang kemudian menenggelamkan.
O&#8230;Tanah Airku..
Dalam gelap, aku hanya melihat bahtera..
Tanahku..
Airku&#8230;
darimu aku tercipta
O..Sang Pemilik Cincin Api..
Jika TANAH dan AIR menyatu,
Maka &#8216;bahagiakan&#8217; kami bersama-Mu&#8230;
Tanahku tempat aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita memilih diam saat angkara melenggang di atas purnama<br />
Kita kembali terdiam saat ia kemudian menari di halaman mata<br />
Diam..! jangan ada yang bersuara..<br />
Ini Tanah Air Kita!</p>
<p>O..Sang Pemilik Kehidupan<br />
Jika TANAH sudah bergolak maka AIR yang kemudian menenggelamkan.<br />
O&#8230;Tanah Airku..<br />
Dalam gelap, aku hanya melihat bahtera..<br />
Tanahku..<br />
Airku&#8230;<br />
darimu aku tercipta<br />
O..Sang Pemilik Cincin Api..<br />
Jika TANAH dan AIR menyatu,<br />
Maka &#8216;bahagiakan&#8217; kami bersama-Mu&#8230;</p>
<p>Tanahku tempat aku menanam, dan Airku yang mengairinya.<br />
Tanah yang diam<br />
Air yang serakah<br />
Mereka yang ikut menyatu<br />
Antara pertemuan besar tanah dan air..<br />
Engkau bahagia..</p>
<p>O..Tanahku, Airku.<br />
O..di ujung pulau aku berdiri, menyaksikan bumi menjadi air<br />
Semua fana karena keserakahan yang memulainya<br />
O..aku betul merana<br />
Terpuruk dalam guyuran hujan yang tumpah<br />
dan ..<br />
Melebat!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lawangbagja.com/2009/11/17/jawadwipa-menuju-titik-nol/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
