Archive | Dongeng

(Naluri) Musim Penghujan dan kameraman Amatir

Posted on 14 December 2009 by goblog'er

Hujan identik dengan rizki, jadi musim penghujan artinya rizki bakal turun banyak. Itu dulu..setelah global warming melanda keadaan mungkin berubah atau mudah-mudahn tetap sama seperti itu. Rizki ini bisa turun sama siapa saja termasuk dengan tukang es sekalipun tidak terkecuali bagi para tukang shooting amatiran. Dulu Saat di Serang saya memang pernah punya kerjaan sampingan untuk dokumentasi video amatiran. Pekerjaan ini memang sedikit banyak terimbas oleh perubahan musim. Saat musim penghujan tiba, saat pengasnti sunat sudah menemukan ukurannya, juga para pasangan muda yang kebelet minta kawin, maka saat itulah para amatiran dokumenter kelas kampung beraksi. Pengalaman ini menghantarkan saya menjadi orang penting pada berbagai macam event. Dari hajatan di sebuah gedung besar sampai ke sebuah kampung di pinggiran sawah.

Saya masih ingat hingga pukul dua pagi harus mendokumentasikan penceramah dari sebuah pesta sunat. Dinginnya udara, suara jangkrik nge-’jazz’, kodok yang horny pertanda musim kawin, saat yang sama tiba-tiba ribuan kunang-kunang menggelar pesta, dan terakhir nyamuk menjadikan ajang malam itu untuk membuat kekacauan. Tidak jelas kesimpulannya apa dari materi penceramah karena saya sendiri lebih banyak sibuk dengan nyamuk yang kebut-kebutan di sekitar kedua telinga..dessiiingg..ziingg..! dan plak! karena kesal saya gampar ‘pembalap liar’ itu. Sesekali saya harus memastikan merubah angle kamera agar ketika diburning ke dalam compact disc penonton tidak bosan dibuatnya. Januari tepatnya saat itu. Angin malam bulan Januari seperti kisah lagu lama. Angin malamnya genit dan menggoda. Semua menambah terangkum dalam memori seperti lagu Broery Pesulima “angin Malam’ yang sering diputar saat minggu malam senin. Lepas acara selesai, saya tidak berani pulang langsung ke rumah. Maklum, di Banten lokasi sepi dan gelap masih sering ditunggui para begal motor yang suka mengoleksi motor. Jadilah saya melewati malam di kampung terpencil, pinggiran sawah hingga pagi menyapa. Menungu fajar membentang di langit-langit yang terkadang gelap pekat karena mendung semalaman.

Kawan, pekerjaan shooting video kelas kampung memang sangat mengasikkan. Saya bisa menjadi seorang penting yang mampu mengatur jalannya upacara pernikahan anak pejabat anngota DPRD yang terhormat itu.. atau satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk ketika calon pengantin untuk terakhir kalinya dimandikan oleh ayah dan bunda. Sebuah acara dramatis bagi keluarga mantan kepala koperasi tingkat kabupaten karena selain basah-basahan dengan air kembang juga air mata ikut berderai. Ketika memegang kamera, sekalipun hanya sekelas DDR atau 3CCD mungil, saya bisa menjadi begitu gagah menerobos barikade polisi yang mengawal artis dangdut dan tanpa malu-malu bertengger di pinggiran panggung percis seperti burung perkutut. Dengan video shooting pula saya mempunyai teman dengan berbagai kalangan baik militer hingga artis. Perjalanan terakhir saya saat membidani sebuah komunitas film di kota Serang dan bersama-sama mereka membuat acara ‘Menuju Bintang’ sebuah acara pencarian bakat dengan kehebohan yang bisa dibilang luar biasa di tingkat kabupaten yang jalan protokolnya tak lebih dari lima kilometer..

Begitulah lelaki dengan kamera bisa diibaratkan jenggo dengan pistol mautnya. Bersama kamera saya bisa menembus lokasi yang rahasia, sakral, penting, hingga pada peristiwa menegangkan. Saya pernah diciduk malam-malam dan diinterogasi oleh orang yang saya sendiri tidak kenal dan belakangan ia menjadi salah satu anggota dewan di kota Cilegon. kamera pun membawa saya pada pengepungan kecamatan dimana saya ada di dalamnya. Mereka sudah saling bersiap dalam pesta mandi darah jika sebuah kotak suara dibuka. Kamera juga yang membawa saya pada keisengan untuk meliput kehidupan malam di kota Serang namun akhirnya ‘kabur’ karena dicegat para wanita cantik yang berjakun. Sampai saat ini, saya masih penasaran dengan kehidupan malam yang konon pernah mendapat sebutan ‘kota santri’ itu. Maklum saja dari cerita supir taksi yang sering mangkal di beberapa tempat itu sering menjadi saksi sebuah kemunafikan di bawah kerlap-kerlip asma Tuhan.

Musim penghujan dan kameramen amatiran seperti bersepakat bahwa naluri manusia tidak tahan dalam cuaca dingin dengan rintik hujan yang tak mau berhenti. Sama seperti naluri manusia akan kekuasan, ketenaran, harta, dan sebagainya. Jika sudah menemukan momennya maka ia berusaha memenuhinya dengan berkolaborasi dengan pihak yang menyediakan jasa tersebut. Dalam hal ini tasawuf menyebutnya dengan kata zuhud. Zuhud bukan seseorang yang miskin kemudian dia meninggalkan dunia karena kemiskinannya tetapi yang bersangkutan harus berada dalam ‘momen’ atau saat ia berada di tengah kekayaan maka ia dianggap zuhud karena dunia yang bergelimang ditinggalkannya. Dalam sebuah hadist Nabi, terungkap kisah tentang 3 orang yang terjebak dalam gua oleh batu besar. Salah satu kebaikan yang mampu menggeser batu besar penghalang itu adalah saat si pelaku sudah berada di atas kedua paha wanita yang sangat dingininya dan momen itu begitu menggoda nafsu birahi sang pria namun segera ia meninggalkannya. Momen ini adalah ‘prime moment’ karena di saat semua keadaan bertemu dan ‘bersepakat’ untuk dilakukan serta merta ditinggalkan.

Comments (0)

Amnesti I

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Shadiq hanya memandang ibunya yang sedang memasukan pakaian ke dalam tas jinjing yang mulai kumal. Tak ada kata-kata yang bisa ia sampaikan sekedar untuk mencoba menahan sang ibu pergi.

“Ibu harus pergi nak!. Surat izin dari majikan ibu yang pertama sudah keluar. Begitu pula dari departemen luar negeri dan keimigrasian. Amnesti ini satu-satunya cara untuk ibu agar bisa kembali tanah air ibu nak!”.

Syarifah berkata dengan perasaan yang tak karuan. Baginya sudah sangat melelahkan hidup di negeri orang tanpa identitas resmi. Semua sudah habis tergadai hanya untuk sekedar bisa menopang hidup jazirah para nabi ini. Mungkin usia Shadiq bisa menjadi penanda berapa lama ia hidup dalam bayangan tak bertuan.

“Ibu sudah lelah!. Kau pun sudah besar!. Tinggal di panti di lembaga auqaf untukmu jauh lebih baik. Paling tidak hidupmu bisa lebih berguna”.

Shadiq hanya menunduk dan terdiam. Perpisahan yang selama ini ia khawatirkan sudah nampak di depan mata. Bagaimanapun ia tidak bisa menyalahkan Syarifah. Perempuan ini sudah menghabiskan segalanya untuk memberikan hak hidup kepadanya. Sebagai warga negara ilegal yang sewaktu-waktu di penjarakan dan dideportasi. Shadiq bisa mengerti keputusan inilah yang terbaik. Sekalipun ia harus rela tidak bisa bertemu kembali dengan ibunya sepanjang hidup. Shadiq dan Syarifah merasakan pahitnya hidup sebagai penduduk haram di negeri ini.

****

Syarifah yang pergi mengadu nasib sebagai TKW harus menerima takdir hidup dalam bayang-bayang rasa was-was. Majikan pertama memang baik cuma pelit minta maaf. Syarifah mendapat kabar dari kampung ibunya sakit. Syarifah butuh uang untuk membantu pengobatan ibu. Setelah minta izin walaupun sangat sulit Syarifah bekerja part time di rumah keluarga keturunan Syam. Malang tak dapat ditolak, satu hari ketika bekerja part time sang majikan lelaki pulang lebih cepat. Kondisi flat kosong dan Setan tahu kapan waktu yang tepat menggoda anak Adam. Syarifah diseret untuk mau melayani nafsu bejat majikan. Gelap! setelah hari itu semua gelap. Syarifah malu dan takut untuk melaporkan. Beberapa hari ia murung dan tak berhasrat bekerja. Syarifah memutuskan tidak kembali ke flat majikan yang Syria itu walaupun gaji tambahan yang seharusnya ia terima untuk membeli obat bisa masih bisa diperoleh.

Beberapa bulan setelah peristiwa laknat, Syarifah mulai didera ketakutan. Menstruasi yang seharusnya ia terima tanggal 25 setiap bulannya tak kunjung datang. Bayang-bayang ketakutan Syarifah menjadi-jadi hingga kehamilannya menginjak 3 bulan. Rasa mual yang mendera terpaksa ia tutupi sebisa-bisanya. Apalagi majikannya senang sekali meminta ia memasak kharouf kambing muda. Masakan khas arab yang disajikan dengan rempah-rempah. Bau daging kambing membuat rasa mual Syarifah menghebat. Hingga satu ketika Syarifah tidak kuat lagi menahan mual dan muntah di depan majikan.

Lambat laun kecurigaan dari majikan mulai tumbuh. Terlebih madam alias nyonya besar. Bibit syak wasangka wabha Syarifah dikerjai oleh salah satu penghuni rumah menjadi akar masalah keluarga besar itu. Suasana kekerabatan yang terjalin berbalik menjadi menegangkan. Semua penghuni rumah majikan kegerahan melihat perut Syarifah lambat laun membesar dan sulit ditutupi sekalipun ia memakai Abaya. kecurigaan madam terbukti, syarifah hamil. Dijambaknya jilbab Syarifah, ditampar, Syarifa hterjatuh.

“Syuhadza!!! Siapa lelaki jahannam yang zinah denganmu? katakan? Tuan besar atau tuan muda?!”
Syarifah menagis. Madam kalap. Jilbab syarifah ditarik.
” La’nat..! tak layak kau memakai hijab!”, jilbab Syarifah terlepas. Rambutnya terurai panjang, dijambaknya kuat-kuat oleh madam. Syarifah meringis kesakitan. Seperti kambing, madam menarik-narik rambut Syarifah keliling ruangan besar. Tak ada yang berani menghentikan. Para lelaki penghuni ruangan juga didera takut. Tuan muda dan besar saling menduga siapa yang menghamili Syarifah. mereka akan terkena gilirannya. Puas menarik-narik, madam mebenturkan kepala Syarifah pada ujung kursi yang lancip.
“rasakan wanita laknat..tak cukup rupanya kebaikan yang kami berikan! siapa lelaki jahannam itu?!
Syarifah meringis kesakitan. Darah segar mulai menets akibat benturan dengan ujung jursi yang lancip tadi.
“tidak ada madam!..tidak..” Syarifah berupaya menjelaskan. Belum habis kalimatnya diselesaikan. madam meninju mulutnya.Bibir syarifah pecah. Syarifah menubruk kaki sang madam, menghiba. Madam menendangnya kuat-kuat.
“Qul liiiiii.. (katakan padaku)!?” madam berteriak sampai terdengar serak.
“Ma fih hena..(tak ada di sini)” Syarifah berupaya menjelaskan.
Madam sedikit lega mendengar itu tapi ia merasa jijik. Terbayang olehnya Syarifah menjadi pelacur diam-diam tanpa sepengetahuannya. Mungkin saja dengan supir taksi, tukang kebun, atau ia menjajakan di lorong-lorong kota pada siapa saja. Tuan muda dan tuan besar bernapas lega. Mereka selamat. Sekarang gantian mereka berpartisipasi dalam pesta. Syarifah diseret ramai-ramai. Kedua tangannya diletakkan pada wajan panas. Syarifah menjerit kesakitan. Tangannya terbakar. Syarifah pingsan.

Dingin mengusik. Matahari bulat sempurna di timur sana. Lembut mengusap hamparan pepasir. Semilir angin menerpa wajah wanita muda yang tergeletak seperti dibuang begitu saja. Syarifah bergerak sedikit. Ia masih menikmati mimpi menimang bayi mungil dengan mata hijau bagaikan zambrud. Butiran pasir menerpa wajah Syarifah.Ia terbangun.Hamparan pasir membentang dihadapan. Sunyi. ia dibuang di tempat tak bertuan. Hanya buntalan baju dan beberapa dirham yang ia temukan. Syarifah mengaduh. kedua telapak tangannya masih terasa sakit. Sebagian terlihat melepuh. Direngkuhnya buntalan baju perlahan sakit sekali terasa jika tersentuh sesuatu. Syarifah terus berjalan. Tak peduli ia mati di gurun baginya ia harus bisa menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Tak terhitung langkah yang telah diayun.

Syarifah seperti melihat air. Syarifah lari mengejar tapi sepertinya sia-sia. Air masih terlihat jauh di hadapan. Syarifah tak putus asa. Ia khawatir bayi yang dikandungnya kehausan karena ia pun didera haus yang sangat. Matahari kian meninggi Syarifah lemas tak berdaya. Hamparan pasir seperti tak bertepi. Ia telah dibuang di wilayah tak bertuan dan tak ada siapa-siapa disini. Tak ada ibu, tak bapak, tak ada kakak, paman bibi, tak ada madam, tuan dan siapapun yang pernah ia kenal sebelumnya. Keleahan Syarifah terjatuh. Ia sadar, ia harus ikhlas. Aku tidak mati sendirian, bayiku menemaniku di wilayah tak berpenghuni ini. Biarlah Tuhan melihat dua hamba-Nya tergelepar menjemput ajal, bertemu dengan wajah bermandikan debu.” Tuhan, aku menerima ketentuan-Mu dengan ikhlas sekalipun aku tak pernah berharap menanggung semua ini. Aku tinggal di tempat yang seharusnya tidak aku datangi. Aku terzalimi, aku dinistai. Tak perlu kusembunyikan karena Engkau tak pernah terpejam pada semua urusan umat-MU” , Syarifah mengaduh.

perlahan kesadarannya menurun. Hingga semua gelap.

Comments (0)

Siapa Ki amuk; Jawaban

Posted on 16 January 2009 by goblog'er

Terjawab sudah siapa Ki Amuk..
Saya percaya lewat seni kita bisa menyampaikan pesan dan semangat perubahan.
saya loncat dulu, begini..
Jujur saja..saya sangat khawatir dengan Banten…gejala kehancuran tampak di tatanan masyarakat Banten.
Hal itu tampak dengan begitu kentaranya birokrasi, pebisnis, termasuk menurut info ada juga media, dll menggerogoti masa depan Banten dengan membiarkan KEKUASAAN dikuasai segelintir orang..ujungnya adalah penyimpangan..
Seperti kentut, baunya hoekk..bikin muntah tapi gak ada yang mau ngaku..
Dengan seribu alasan orang boleh berkata, hak politik lah, hak asazi lah, kumaha kuring lah, dijamin undang-undang lah, sampai muntah darah alasan bisa dicari..
Namun dibalik semua itu, nurani tak bisa DIBOHONGI..!
Semua karena keserakahan..ketamakan..pemimpinnya tamak, rakus, serakah..
semua didukung oleh segelintir orang yang culas, oportunis, muka badak..
Jadi..
Semua harus bergerak semampunya…yang nulis ya nulis..yg bikin ecovillage..bikin jaringan masyarakat cinta lingkugan..
yang nyanyi..ya terus nyanyi..tinggal isinya yang cerdas..Nah saya lihat Firman dkk bisa mewujudkan itu!
Saya masih di Pengasingan..
 
Desertasi belum kelar2..Golagong kasih beasiswa..sekolah belum beres, kemarin2 diminta pulang..
Saya bilang, belum selesai ujiannya. karena penelitian di universitas kehidupan memang gak ada habisnya.
Biar tidak hilang jejak, saya gawangi KI AMUK jadi Produser dan Executive Produsernya..
Mudah2an lewat musik2 KI AMUK perlahan msyarakat kita sadar hak dan perannya…
Ki Amuk bisa menyampaikan ide, kritikan, nasehat lewat musik..jadi tidak ada yg merasa digurui..
 
Mari kita salurkan cinta kita pada tanah Banten dengan konkrit..
semampunya..Saya juga membuka selebar-lebarnya warga wong Banten untuk menjadi penikmat sekaligus mensupport  Ki Amuk..energi yang dibutuhkan sangat besar..waktu perjuangan begitu panjang dan melelahkan..Namun tetap semua harus dimulai.
Bergerak..sekarang atau tidak sama sekali..!
 
Buat Firman,
Mungkin perlu dibuka lowongan untuk pemain.. drumer, kecrek’er, dll
Biar makin kaya musiknya..
 
Howgh!

Comments (0)

Tags:

KI AMUK: Menjadi Pemusik (kembali)

Posted on 16 January 2009 by goblog'er

Oleh Firman Venayaksa

 Tanggal 4 Januari 2009 yang lalu, saya diundang dalam acara pernikahan oleh seorang kawan, personil komunitas musikalisasi puisi “Hajar Aswad” di Ciwidey-Bandung. Namanya Yanyan. Di Hajar Aswad dia main perkusi (spesialisasi Jimbe). Ketika itu personil yang lain juga datang, seperti Sandi pemain keyboard, Asep Ibeng pemain biola I, Irfan Gomez pemain biola II, dan Ivan Kondor pemain gitar melodi. Sementara pemain lainnya seperti Bagja pemain bass dan Ayi Ittah pemain flute berhalangan hadir.

 Pertemuan di sebuah kampung yang sejuk itu membuat kami bergairah melepas kangen. Hingga menjelang jam dua dini hari kami terus bermain musikalisasi puisi (untuk sementara kami “melupakan” anak dan bini). Duh, perjumpaan yang cukup menyenangkan. Sudah lebih dari dua tahun kami tak bermain bersama. Terakhir di awal tahun 2006 kami main di Depdiknas dalam acara World Book Day. Setelah itu, dengan pelbagai kesibukan masing-masing, selesai sudah komunitas yang kami bangun semenjak tahun 2000. Mengenaskan memang. Padahal sejumput mimpi pernah kami bangun bersama. Dulu kami latihan gila-gilaan. Dari jam delapan malam hingga subuh, di gedung pentagon-UPI Bandung, rutin kami berdiskusi puisi dan musik, berlatih, bertengkar gara-gara kunci lagu, kata-kata dan arransemen. Bahkan, kami pernah masuk dapur rekaman, dilamar oleh sebuah perusahaan musik di Jakarta. Mimipi kami hampir saja terwujud, tetapi takdir bicara lain.

 Kini semua personil menjadi dirinya, berjalan sendiri-sendiri menemukan muara hidupnya. Sandi benar-benar menjadi ustad yang cukup serius dengan janggut tipis dan kopiah yang tak lepas dari kepalanya, dihiasi warna hitam di keningnya. Bahkan Fitri yang dulu sempat menjadi manager Hajar Aswad dan dinikahinya, kini menjadi perempuan berjilbab lengkap dengan cadar. Ivan Gomez bersetia menjadi guru les biola bagi anak-anak dan menciptakan generasi cukup memukau. Asep Ibeng menjadi PNS, guru SMA di Bandung. Dia pernah mengantarkan siswanya menjadi finalis di acara festival musikalisasi puisi se-Indonesia di Pusat Bahasa. Ivan Kondor menjadi editor di sebuah penerbitan di Bandung. Bagja bersetia kerja di Daaruttauhid. Yanyan menjadi guru TK dan membuat kursus perkusi. Anak-anak binaannya bahkan pernah meraih rekor MURI. Ayi Ittah yang pernah terbang ke Inggris karena musik, dia yang sangat seniman itu kini terjelembab pula ke jurang PNS, padahal konon dia akan hidup menjadi pemain teater. Semua menjadi berubah. Begitulah hidup.

 Beberapa kali, kami memang ingin bertemu kembali, bermusik kembali. Tapi kesibukan yang berbeda, tempat tidur yang berjauhan, membuat kami sulit mewujudkan hal itu. Salah satu hal mengapa Hajar Aswad seperti sekarang, tentu bagian dari ulah saya. Saya memilih kembali ke Banten. Bandung terlalu stagnan untuk saya. Semua terlalu tersedia dan itu sama sekali tak bagus untuk pengembangan diri saya sebagai “sufi gagal.”

 

Demikianlah. Maka, tanpa berpusing ingin mengumpulkan semua personil, saya tetap bersetia dengan musikalisasi puisi. Kendati tak lagi punya komunitas, beberapa puisi terus saya garap. Hingga tahun ini, saya sudah menggarap lebih dari 40 musikalisasi puisi. Dan tentu saja hal tersebut butuh penyaluran, mengomunikasikan dengan publik. Bisa jerawatan kalau saya tak menyodorkan kepada khalayak.

 Lalu saya mengajak Wahyu, salah seorang mahasiswa saya yang lumayan bisa main gitar. Kemudian saya ajak juga Roy, Relawan Rumah Dunia yang dulu pernah menjadi pengamen jalanan untuk main perkusi. Waktu Roy SD, saya pernah mengajar nyanyi di Rumah Dunia, dan Roy cukup konsisten rupanya. Saya juga mengajak Rizal, relawan Rumah Dunia. Sayangnya dia sedang konsentrasi menyelesaikan skrpisi dan alat bass rupanya tak terlalu membuat hatinya tertarik. Akhirnya tanpa pemain bass kami berkumpul.

 Sambil mencari pemain bas,  kami pun mulai mengaransemen beberapa lagu. Memang rumit kalau dibandingkan dengan anak-anak Hajar Aswad. Dulu, biasanya saya suka membuat lagunya, arransemen saya berikan kepada teman-teman lain yang hampir semuanya kuliah di Jurusan Seni Musik. Kini dengan keterbatasan saya, selain membuat lagu, saya juga harus mengaransemen dengan gaya jalanan. Cuma pakai feeling. Tetapi semua berjalan dengan lancar. Hingga saat ini kami sudah mengaransemen 12 lagu selama tiga bulan. Lumayanlah walau lambat. Ketika saya menghubungi Asep Ibeng untuk meminta bantuan mengarransemen, dia memberikan info yang menarik. Dia katakan ada salah seorang temannya dari jurusan musik yang dulu pernah membantu konser Hajar Aswad waktu di Taman Ismail Marzuki. Kini dia diterima menjadi PNS di Kota Serang. Seketika itu juga saya kontak (namanya sama-sama Asep). Dan alhamdulillah, dalam waktu dekat dia akan ke Serang, bahkan mau bergabung menjadi relawan di Rumah Dunia.

 Di tahun ini, saya dengan kawan-kawan berencana konser tunggal, bermusikalisasi puisi keliling Banten di awal bulan Mei. Awalnya saya ragu, apa lagi dengan kualitas bermusik yang sangat rata-rata. Tapi show must go on. Biarlah ini menjadi pembelajaran untuk semua personil, dan bagi saya, ini persoalan eksistensi.

 Setelah dikomunikasikan dengan beberapa penyair yang saya buat lagunya seperti Toto ST Radik, Gola Gong, Tias Tatanka dan Wan Anwar, mereka cukup antusias. Dan yang lebih gila lagi, ketika saya chatting dengan Jaya alias Lawang Bagja di Abudhabi sana, dia dengan santai bilang akan membantu untuk merekam lagu. Jadi selain konser tunggal, kami juga bisa jualan CD musikalisasi puisi. Wah, luar biasa! Lalu kami pun mencari-cari nama untuk komunitas musikalisasi puisi ini. Sebelumnya komunitas ini pernah dibaiat dengan nama Pangeling Gusti, tapi banyak yang protes. Sehabis menonton film Dead Poets Society, berubahlah namanya menjadi Carpe Diem, tapi kata Gola Gong tidak familiar dengan telinga orang Banten. Lawangbagja bertubi-tubi ngasih alternatif nama-nama, mulai dari bahasa arab hingga Kentut Semar….Tiba-tiba pikiran saya mengelana pada satu artefak Banten yang berada persis di depan museum Banten. KI AMUK! Ya, nama yang familiar, kuat, bertenaga. Akhirnya nama itu kami pakai. Semoga tak ada perubahan lagi.

 Pekerjaan saya tinggal satu lagi, yaitu mencari pemain bass. Hampir tiap hari, ketika saya masuk ke kelas, saya menanyakan siapa yang bisa main bass? Belum juga ditemukan. Hingga pada dua hari yang lalu, ketika saya mengawas Ujian Akhir Semester di Untirta, saya bertemu dengan Asep (lagi-lagi bernama Asep) yang tertarik untuk bergabung menjadi pemain bass. Thank God.

 Saya tak tahu apakah komunitas ini akan bisa langgeng atau porakporanda. Tetapi nama KI AMUK begitu kuat, bertenaga, menggelegar di setiap telinga yang mendengarnya. Semoga nama ini menjadi berkah, sehingga semua menjadi tak sia-sia adanya.

Tanah Air, 2009

 

Comments (0)

KEPADA SEORANG LELAKI

Posted on 04 June 2007 by goblog'er

mulut.jpg

cerpen

KEPADA SEORANG LELAKI

Lawangbagja

Lantai sedingin es. Masihkah aku bermimpi? Aku tak tahu berapa lama aku tergeletak diatas lantai dingin ini. Kubuka mataku perlahan. Satu-persatu kurasakan inderaku. Lantai dingin mengecup pipi dan sekujur tubuh. Lapat-lapat kudengar 2 lelaki yang berbicara dalam bahasa asing. Mungkin Hindi atau Bangla. Hidungku…!!? Ada cairan yang menetes perlahan dari hidungku. Kucoba mengingat-ingat, apakah karena dinginnya lantai ini aku terkena pilek?. Biasanya aku memang mudah terkena pilek terutama saat pagi hari. Tapi cairan ini sepertinya agak encer. Kucoba gerakkan tangan untuk mengusap cairan yang perlahan menetes ke lantai. “Grrrk…”. Rantai besi ini masih melingkar di tanganku!. Kucoba gerakkan kedua kaki perlahan, “Grrrk…” terdengar rantai besi berderit. Kususut cairan di hidung dengan lengan baju. Merah darah!!   Continue Reading

Comments (0)

PULANG (cerpen)

Posted on 13 May 2007 by goblog'er

Sepasang kaki

PULANG

lawang Bagja 

Jalan panjang untuk meraih impian aku lalui dengan susah payah. Lima tahun mengundi nasib menjadi TKW ke Timur Tengah memang sebuah waktu yang teramat panjang dan melelahkan. Aku masih ingat ketika pertama kali datang di kota Abu Dhabi. Ibu kota dari negara Uni Emirat Arab. Kota yang dihuni berjuta anak manusia dari lebih 30 suku anak bangsa. Kota dimana aku hampir dibawa lari oleh seorang supir taksi yang berasal dari imigran Asia Tengah. Continue Reading

Comments (4)

WANITA PELARIAN

Posted on 04 May 2007 by goblog'er

Cerpen 

WANITA PELARIAN

Kesepian meranaMatahari seperti berada sepenggalah di atas kepala. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Terkadang duduk bersandar pada pohon kurma yang sudah mulai berbuah. Pohon kurma memang hanya berbuah satu tahun sekali. Itupun hanya di musim panas saja.  Kulit kakiku mulai merah terkelupas. Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here