satu orang tea boy setelah diamati ternyata memiliki penampilan parlente. Ciri khasnya kumisnya yang lebat dan tampak teratur seperti disisi rapi dan dijaga sedemikian rupa jatuh ke bawah. Tidak seperti kumis saya jika panjang mirip duri landak, tak beraturan.
Semula ini hanya kebetulan saja tetapi hari demi hari kumis sang parlente office boy ini memang rapi, lebat dan rupanya selalu disisir. Terkadang sisiran kumisnya belah dua dengan menyisakan cekukan di bawah hidung, namun sering juga sejajar rapi.
Ini saya ketahui saat secara kebetulan di ruang vestibule, saat sunyi-senyap sang parlente offfice boy menyisir kumisnya. Mungkin ia mengira tidak ada orang di vestibule jam-jam sibuk tetapi pagi itu saya terburu-buru dan tidak ’setor’ maka untuk menunaikan hajat saya hadir di vestibule pada bukan jam biasanya.
Dengan tenang sang parlente office, si kumis dari India ini menyisir dengan penuh penghayatan. pelan-pelan ditarik secara teratur dari atas ke bawah. Sambil senyam-senyum sendiri memandang kumisnya yang gagah nan menawan.
“hai!’
Dia tersentak dan langsung secara reflek menutup kumisnya, malu-malu.
Suara sapaan saya rupanya mengejutkan sang parlente office boy yang berkumis ini.
Sambil tersipu-sipu, menutupi mulut-plus kumisnya ia berkata “sorri sir..!’
(heran..)’ kok sorri?’ batin saya.
Sejak saat itu, teman2 warga Indonesia sering bercanda dengan bertanya,
“kumis kamu asli?”
jika mendapat komentar soal kumisnya, sang office boy dengan tersipu-sipu malu mirip di film, menutup kumisnya sambil memalingkan muka dan cekikikan dan berlalu begitu saja.
halahh..




