Archive | Catatan Perjalanan

(Naluri) Musim Penghujan dan kameraman Amatir

Posted on 14 December 2009 by goblog'er

Hujan identik dengan rizki, jadi musim penghujan artinya rizki bakal turun banyak. Itu dulu..setelah global warming melanda keadaan mungkin berubah atau mudah-mudahn tetap sama seperti itu. Rizki ini bisa turun sama siapa saja termasuk dengan tukang es sekalipun tidak terkecuali bagi para tukang shooting amatiran. Dulu Saat di Serang saya memang pernah punya kerjaan sampingan untuk dokumentasi video amatiran. Pekerjaan ini memang sedikit banyak terimbas oleh perubahan musim. Saat musim penghujan tiba, saat pengasnti sunat sudah menemukan ukurannya, juga para pasangan muda yang kebelet minta kawin, maka saat itulah para amatiran dokumenter kelas kampung beraksi. Pengalaman ini menghantarkan saya menjadi orang penting pada berbagai macam event. Dari hajatan di sebuah gedung besar sampai ke sebuah kampung di pinggiran sawah.

Saya masih ingat hingga pukul dua pagi harus mendokumentasikan penceramah dari sebuah pesta sunat. Dinginnya udara, suara jangkrik nge-’jazz’, kodok yang horny pertanda musim kawin, saat yang sama tiba-tiba ribuan kunang-kunang menggelar pesta, dan terakhir nyamuk menjadikan ajang malam itu untuk membuat kekacauan. Tidak jelas kesimpulannya apa dari materi penceramah karena saya sendiri lebih banyak sibuk dengan nyamuk yang kebut-kebutan di sekitar kedua telinga..dessiiingg..ziingg..! dan plak! karena kesal saya gampar ‘pembalap liar’ itu. Sesekali saya harus memastikan merubah angle kamera agar ketika diburning ke dalam compact disc penonton tidak bosan dibuatnya. Januari tepatnya saat itu. Angin malam bulan Januari seperti kisah lagu lama. Angin malamnya genit dan menggoda. Semua menambah terangkum dalam memori seperti lagu Broery Pesulima “angin Malam’ yang sering diputar saat minggu malam senin. Lepas acara selesai, saya tidak berani pulang langsung ke rumah. Maklum, di Banten lokasi sepi dan gelap masih sering ditunggui para begal motor yang suka mengoleksi motor. Jadilah saya melewati malam di kampung terpencil, pinggiran sawah hingga pagi menyapa. Menungu fajar membentang di langit-langit yang terkadang gelap pekat karena mendung semalaman.

Kawan, pekerjaan shooting video kelas kampung memang sangat mengasikkan. Saya bisa menjadi seorang penting yang mampu mengatur jalannya upacara pernikahan anak pejabat anngota DPRD yang terhormat itu.. atau satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk ketika calon pengantin untuk terakhir kalinya dimandikan oleh ayah dan bunda. Sebuah acara dramatis bagi keluarga mantan kepala koperasi tingkat kabupaten karena selain basah-basahan dengan air kembang juga air mata ikut berderai. Ketika memegang kamera, sekalipun hanya sekelas DDR atau 3CCD mungil, saya bisa menjadi begitu gagah menerobos barikade polisi yang mengawal artis dangdut dan tanpa malu-malu bertengger di pinggiran panggung percis seperti burung perkutut. Dengan video shooting pula saya mempunyai teman dengan berbagai kalangan baik militer hingga artis. Perjalanan terakhir saya saat membidani sebuah komunitas film di kota Serang dan bersama-sama mereka membuat acara ‘Menuju Bintang’ sebuah acara pencarian bakat dengan kehebohan yang bisa dibilang luar biasa di tingkat kabupaten yang jalan protokolnya tak lebih dari lima kilometer..

Begitulah lelaki dengan kamera bisa diibaratkan jenggo dengan pistol mautnya. Bersama kamera saya bisa menembus lokasi yang rahasia, sakral, penting, hingga pada peristiwa menegangkan. Saya pernah diciduk malam-malam dan diinterogasi oleh orang yang saya sendiri tidak kenal dan belakangan ia menjadi salah satu anggota dewan di kota Cilegon. kamera pun membawa saya pada pengepungan kecamatan dimana saya ada di dalamnya. Mereka sudah saling bersiap dalam pesta mandi darah jika sebuah kotak suara dibuka. Kamera juga yang membawa saya pada keisengan untuk meliput kehidupan malam di kota Serang namun akhirnya ‘kabur’ karena dicegat para wanita cantik yang berjakun. Sampai saat ini, saya masih penasaran dengan kehidupan malam yang konon pernah mendapat sebutan ‘kota santri’ itu. Maklum saja dari cerita supir taksi yang sering mangkal di beberapa tempat itu sering menjadi saksi sebuah kemunafikan di bawah kerlap-kerlip asma Tuhan.

Musim penghujan dan kameramen amatiran seperti bersepakat bahwa naluri manusia tidak tahan dalam cuaca dingin dengan rintik hujan yang tak mau berhenti. Sama seperti naluri manusia akan kekuasan, ketenaran, harta, dan sebagainya. Jika sudah menemukan momennya maka ia berusaha memenuhinya dengan berkolaborasi dengan pihak yang menyediakan jasa tersebut. Dalam hal ini tasawuf menyebutnya dengan kata zuhud. Zuhud bukan seseorang yang miskin kemudian dia meninggalkan dunia karena kemiskinannya tetapi yang bersangkutan harus berada dalam ‘momen’ atau saat ia berada di tengah kekayaan maka ia dianggap zuhud karena dunia yang bergelimang ditinggalkannya. Dalam sebuah hadist Nabi, terungkap kisah tentang 3 orang yang terjebak dalam gua oleh batu besar. Salah satu kebaikan yang mampu menggeser batu besar penghalang itu adalah saat si pelaku sudah berada di atas kedua paha wanita yang sangat dingininya dan momen itu begitu menggoda nafsu birahi sang pria namun segera ia meninggalkannya. Momen ini adalah ‘prime moment’ karena di saat semua keadaan bertemu dan ‘bersepakat’ untuk dilakukan serta merta ditinggalkan.

Comments (0)

Wujud Duit 6,7 trilyun

Posted on 10 December 2009 by goblog'er

(dari milis kotabogor-Petrus Suryadi)

Sehubungan dengan HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL, menyangkut masalah Bank
Century dengan bill-out 6,7 triliun dinalisa secara matematika sbb:

Wujud Rp 6,7 Triliun Bank Century

Begitu mendengar kata “Rp 6,7 Triliun” kemungkinan besar pikiran kita
langsung mengasosiasikannya pada kasus bank Century. Tapi pernahkah kita
bertanya dalam hati: Bagaimana sih wujudnya uang Rp 6,7 triliun tersebut?

Berikut ini visualisasinya.

Sebuah kertas HVS Folio 80gram bisa “menampung” 7 lembar uang kertas pecahan
100ribu dengan menyisakan sedikit ruangan dengan panjang 6,5cm dan lebar
3cm. Jika mau akurat, 1 buah kertas HVS Folio bisa menampung 7,2 lembar uang
kertas.

Dalam keadaan terpacking, 1 rim (500 lembar) kertas memiliki ukuran:
panjang x lebar x tinggi = 33 x 21,5 x 5,5 cm

Jika kita asumsikan tebal kertas yang sama, maka 1 rim kertas bisa menampung
uang sebesar:
500 x 7,2 lembar uang
= 3600 lembar uang
= 3600 * Rp 100ribu
= Rp 360 000 000
Angka diatas dibaca: Rp 360juta
Jadi 1 rim kertas HVS Folio muat 360juta.

Lantas seberapa besarkah ukuran Rp 6,7 triliun jika ditumpuk dalam pecahan
Rp 100ribuan?
Jawabannya ada dalam hitungan sederhana:

1 ribu = 1 000
1 juta = 1 000 000
1 milyar = 1 000 000 000
1 triliun = 1 000 000 000 000

Rp 6,7 triliun / Rp 360 juta
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000
= 6 700 000 000 000 / 360 000 000
= 6 700 000 / 360
= 18 611,1111

Wow, ternyata uang Rp 6,7 triliun sebanding dengan 18ribuan rim kertas HVS
Folio. Jika diletakkan dalam sebuah gudang, tak terbayangkan berapa besarnya
gudang tersebut.

Jika di tumpuk dengan ukuran 1 rim kertas HVS tadi, berapakah tingginya?
18 611, 1111 x 5,5cm
= 102 361 cm
= 1023,61 meter
Angka diatas dibaca: 1 kilometer lebih.
Itu 7 kali lebih tinggi dari Monas.

Comments (0)

Marega ya Koruptor (Matilah Wahai para Koruptor!)

Posted on 09 December 2009 by goblog'er

Hari anti korupsi di dunia dicanangkan oleh PBB hari ini tanggal 9 Desember. Betapa pentingnya hari ini karena kehancuran dunia, masa depan kita dan tak terlepas juga dengan isu global warming terkait dengan ulah para koruptor yang banyak menyengsarakan umat manusia.

kONFLIK POLITIK MAKELAR KASUS, Ratusan ribu pohon ditebang, pendidikan terpuruk, biaya ekonomi mahal, kualitas jalan yang buruk, keadilan yang terkoyak, lambannya pembangunan, dan masih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh para durjana bernama koruptor.

maka MAREGA YA KORUPTOR..MATILAH WAHAI KORUPTOR..!!

Semoga demo hari ini di semua tempat aman dan lancar. Kita merindukan negara yang bersih. Saya mendoakan agar momen ini menjadi tonggak sejarah kebangkitan Indonesia. Sebagai warga MARGINAL sering merasa frustasi dengan fungsi negara. tak ada harapan bagi kami karena hukum sering diatur dengan UANG.
Jayalah bangsaku..!
dan MATILAH wahai para KORUPTOR..!

INDONESIA BERSIH 2009

Comments (0)

wALKING ON THE gRAss

Posted on 08 December 2009 by goblog'er

Mulailah mengoleksi hal-hal yang kecil namun membuat kita bersyukur pada nikmat Sang Pencipta. Segeralah mengisi ruang hati dengan sesuatu yang sederhana, simpel namun sebagai individu yang merdeka kita merasa senang berada di dalamnya. Sesenang seorang anak kecil dengan mainan plastiknya. Sedamai bayi yang tertidur dalam pangkuan bundanya. Saat oksigen masih bebas dihirup, saat kaki masih tegap melangkah, saat kedua tangan masih kuat merengkuh, saat mata masih bisa melihat indahnya pelangi kala senja, kulit masih bisa merasakan sepoinya angin mengusap lembut, telinga masih jelas mendengar kicauan burung, lidah masih bisa membedakan mana pedas, asin dan manis dan masih segudang lagi hal-hal kecil yang memberikan nikmat luar biasa namun karena malas dikoleksi dalam ruang hati menjadi terlewatkan begitu saja. “Ah..! sudah biasa!” atau “Basi ah..!”

Jika diberikan kesanggupan mengelilingi dunia kita akan banyak menemukan betapa manusia menemukan kesulitan untuk meraih atau merasakan kebahagiaan. Semua menggantungkan nilai kebahagiaan tinggi-tinggi hingga sulit terjangkau. Seting parameternya ‘over speck’, sampai mati pun belum tentu bisa teraih. lantas untuk apa hidup? 60 years begitu singkat kawan! Sudah bisa dihitung pakai jari untuk menembus umur ke angka 80 tahun! apalagi 100 tahun?. Diabetes, jantung koroner, kanker plus kantong kering, dari ’swine’ sampai ‘bird flu’ mungkin telah membuat umur kita terkorupsi hingga 20 tahun!. Anak-anak muda perkotaan sudah banyak menderita jantung koroner, diabetes akut, asam urat yang kronis, dan segudang penyakit lainnya dan itu datang pada usia di bawah 40 tahun!. Di Gulf penyakit yang mengancam para penghuninya adalah diabetes dan jantung koroner karena ‘obesitas’ kelebihan ‘gizi’.

Paradoksnya Kehidupan
Manusia cenderung akan mengukur sebuah kebahagiaan dengan status sosialnya. Darimana ukuran status sosial didapat? apakah betul harus berbanding lurus? Semakin kaya, semakin tinggi jabatan, apakah tidak boleh hidup sederhana? Pertanyaan selanjutnya yang membingungkan adalah apa ukuran sederhana? Kesederhanaan menjadi melar seperti karet tergantung status sosial begitu yang bisa saya simpulkan. Lagi-lagi alibi ini yang menjadikan alasan seseorang bisa hidup ‘mewah’ walaupun menurut dia ’sederhana’ padahal lingkungan sekitarnya miskin dan papa.

Di Gulf mempunyai fenomena menarik tentang ‘kesederhanaan’ di tengah 200 jenis warga dunia yang multikultur dan kesenjangan sosial yang lebar seperti langit dan bumi. Ada sebuah pergeseran budaya yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 generasi. Dulu wilayah ini hanya dihuni oleh sekumpulan tribal bedouin yang hanya mengenal onta ‘pungguk satu’ sebagai makhluk yang paling indah dalam sejarah nenek moyang para tribal. Dalam kurun kurang dari 50 tahun sejak berdirinya negara ‘Syaikhdom’ ini terjadi ’shock culture’ dari ‘rags’ menjadi OKB, orang kaya bangeet!. Sebuah kendaraan BMW X5 hanya menjadi barang mainan anak-anak muda yang baru kemarin lulus kuliah. bagi mereka semua itu biasa dan ada perubahan besar dalam memandang kebahagiaan tentunya.

Dahulu orang tua mereka adalah generasi pertama yang masih merasakan sebuah perjalanan yang berjarak 120 km harus ditempuh beberapa hari itu pun terlebih dahulu harus dilepas dengan tarian tradisional dengan memainkan senapan angin ke udara karena konon tidak ada jaminan akan bertemu kembali. Layaknya seperti sebuah perpisahan untuk menyambut kematian. Wilayah ini kosong dan liar. Hanya serigala gurun dan para ‘harami’ alias begal padang pasir yang berkeliaran yang siap menghabisi para mangsanya tak peduli siang atau malam. Saat saya sempat ngobrol dengan seorang rekan dari Belgia, kendaraan sekelas BMW X5 di negara mereka akan sangat-sangat sulit ditemui karena pajak yang mencekik. Rekan saya ini seorang yang mewakili dari ‘kasta’ expatriat, ‘western’, bisa dibilang warga negara kelas ‘1A’.

Walking on the Grass
Bagaimana dengan para buruh dari Asia? Suatu sore saya sempat berbincang dengan seorang pekerja hotel dari Bangladesh di kota Abu Dhabi dan ngalor ngidul ‘nongkrong’ menemani ia bekerja. Saya bisa memahami bagaimana keseharian yang dilalui olehnya begitu keras dengan gaji 500-600 dirham, tanpa libur=7 hari non stop, tinggal di mess seperti ‘kobong santri’ = satu kamar untuk 10-15 orang, dan bisa pulang setelah 2 tahun. Ia lelaki dengan satu orang putra! Bertemu isterinya terakhir kali ketika hamil 7 bulan dan baru bisa bertemu kembali saat putranya hampir berusia 2 tahun!. Sementara saat ia memakirkan kendaraan yang singgah di hotel semuanya kendaraan yang super mewah..dan wah!. Namun kawan..saat ditanya apa baginya arti sebuah kebahagiaan, ia menjawab simpel: “Saat saya bertemu anak saya nanti, ia tumbuh sehat dari uang yang saya kirim setiap bulannya untuk membeli makanannya”.

Paradoksnya kehidupan mereka yang bekerja keras, bermandikan keringat, membanting tulang umumnya mempunyai ukuran kebahagiaan yang simpel. Mungkin mereka lebih berbahagia? Saya tidak tahu jawabannya..satu hal yang sedang saya lakukan adalah mengoleksi hal-hal yang sederhana, simpel, mudah, menjadi sebuah kekayaan hati dengan tidak bosannya menghitung hal-hal yang kecil tersebut sebagai sebuah parameter kebahagiaan untuk saya dan keluarga. Dari sekian koleksi ‘the simple thing but make you happy’ buat saya adalah..’Walking on the grass’..! Ya, berjalan diatas rumput yang hijau, terpangkas rapih, menghampar bak permadani sering membuat saya ‘excited’ ketika berjalan di atasnya..entahlah apa karena di sini terlalu sering lihat padang pasir atau terlanjur ter”anchor’ dalam memory, pokoknya aku sukaaaa…!

Comments (0)

Catatan Kecil untuk Pak Haji dan Bu Hajjah

Posted on 27 November 2009 by goblog'er

Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, dilarang memotong rambut atau kuku, dan lain sebagainya. Di kampung calon jamaah haji biasanya dibacakan talbiyah lewat pengeras suara. Tentu kebiasaan ini hanya ada di wilayah yang jauh dari tanah suci. Tidak untuk orang-orang disekitar hijaz. Menunaikan ibadah haji dipandang sebagai tingkat paripurnanya nilai keislaman seorang muslim. Ia dipandang sudah terbebas dari hal-hal yang menghambat karena ibadah haji disyariakan bagi yang ‘mampu’. Hartanya berasal dari yang halal dan baik juga keluarga serta sanak famili yang ditinggalkan sudah disediakan bekal yang cukup.

Dibeberapa negara muslim terutama di wilayah Afrika dan Syam juga mempunyai kebiasaan tersendiri bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Ada yang diarak keliling kampung dengan menggunakan baju ihram dengan berkendaraan keledai, mungkin seperti sado. mereka pun sama memandang bahwa ibadah haji sebuah pencapaian tertinggi hingga harus diarak guna menuai doa dari setiap warga yang ditemui. Sang calon mendatangi para tetangganya bukan para tetangga mendatangi sang calon ‘pengantin’ haji. Ini agak berbeda dengan kondisi di tanah air. Beberapa ulama yang pernah saya dengar berpendapat bahwa bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji tidak serta merta ia asal cukup ongkos dan biaya selama perjalanan saja tetapi juga sang calon ‘pengantin’ haji mempunyai kewajiban sosial yang harus dipenuhi. Bagi yang ingin berangkat pertama kali maka keluarganya harus dipastikan cukup bekalnya. Bagi yang berangkat untuk kedua, ketiga hingga berikutnya maka ia harus mencukupi kebutuhan 40 tetangga samping kanan, 40 tetangga samping kiri serta 40 tetangga depan dan belakang. Begitu ketatnya ulama memfatwakan seperti itu bukan karena tanpa alasan.

Ketika ibadah haji dipandang sebagai ibadah paripurna dan seseorang yang layak menjadi pengantin karena dianggap mampu dalam artian lebih maka menjadikan sebuah ‘cacat’ jika ketika ia berangkat menunaikan ibadah haji untuk kesekian kalinya namun masih ada tetangga yang berdekatan dengan rumahnya ternyata sedang mengalami kesusahan. Entah ia sedang sakit, kelaparan, atau dibelit hutang hingga tidak mampu untuk membeli makanan. Maka dihadapan Allah lebih mulia bagi sang calon pengantin membantu tetangganya yang kesusahan daripada ia berangkat menunaikan ibadah haji. Ibadah haji bukan plesir..! Sepertinya umumnya ibadah yang ada dalam Islam tidak pernah terlepas hanya ‘hamblum minallah’ semata tetapi juga selalu ada aspek sosial. Seperti puasa, tidak sah puasa Ramadhan seseorang jika tidak menunaikan zakat fitrah. Solat diperintahkan di masjid bagi mereka yang merasa dirinya lelaki. Zakat adalah ibadah yang menyertai solat. Setiap perintah menunaikan solat selalu diikuti untuk menunaikan zakat. Semua mempunyai aspek sosial, hubungan terhadap sesama manusia. Sudah barang tentu dengan ibadah haji sebagai tingkat paripurna.

Dalam berbagai kisah banyak disampaikan bahwa seseorang yang batal menunaikan ibadah haji karena menolong tetangganya, sanak familinya atau kerabatnya di hadapan Allah ia tercatat sebagai seseorang yang telah ‘dihaji’kan. Hal yang memang sulit diterima nalar biasa namun Allah, Sang Pemilik Hakikat tentu Maha Berkehendak dan Mampu untuk itu semua. Menakar peristiwa ghaib hanya dengan keimanan bukan dengan logika. Ibadah haji bukan sebuah jurnal perjalanan biasa. Ibadah haji sebuah jurnal perjalanan anak manusia untuk menemukan kembali hakikat kehidupannya di alam semesta.

Dalam teori ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa segala sesuatu di alam raya ini tak lebih dari ‘permainan’ energi vibrasi yang berlangsung secara terus menerus. Vibrasi sendiri bisa dipahami sebagai berputarnya sebuah zat/benda. Benda yang berputar tentu menghasilkan medan magnet. Dan itulah yang terjadi pada alam semesta. Bumi berputar pada porosnya. Bulan,matahari, venus, mars, bahkan hingga elektron yang terkecil sekalipun semua berputar. Medan magnet yang dihasilkan sebagai bentuk kesetimbangan agar semua tetap pada lintasannya sesuai hukum yang telah ditetapkan SANG PENCIPTA. Putaran semesta menjadi sebuah bentuk harmoni ketaatan yang ALLAH simpelkan pada miniatur prosesi thawaf di seputar ka’bah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa ka’bah diibaratkan sebagai porosnya semesta. Kalimat talbiyah labbaik allahumma Labbaik, (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah!) sebuah isyarat pengakuan untuk tunduk terhadap hukum semesta yang telah digariskan.

Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji hendaknya pula menjadi ‘magnet’ yang menarik manusia sekelilingnya pada ketaatan. Menuju baitullah adalah merupakan awal untuk selanjutnya sepulang dari baitullah ia mengalami ‘kelimpahan energi’ karena terasah dalam putaran porosnya semesta. Tidaklah seseorang menjadi haji mabrur jika sepulang dari menunaikan ibadah haji tidak mempunyai daya untuk ‘menarik’ hamba Allah kembali pada ketaatan. Besi yang usang saja jika digosok-gosokkan pada magnet maka ia mempunyai sifat magnet. Jiwa seseorang yang berhaji hendaknya pula seperti itu. Jika tidak, menjadi sebuah pertanyaan besar tentunya. Tidak pula ibadah haji diganti dengan ‘jannah’ bertelkan permadani dan taman-taman hijau yang dijanjikan jika kepulangannya dari baitullah menjadi penambah problem ummat. Ia hanya berlabelkan ‘haji dunia’ dan pernah ‘jalan-jalan’ melihat kedua kota suci, Madinah dan Makkah saja. Semoga para jamaah haji yang 3 juta orang menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Kepulangannya menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Ia adalah magnet ketakwaan bagi kita yang lemah dan belum mampu dan masih ada dalam daftar antrian tunggu ditahun mendatang, insya Allah amien..

Labbaik Allahuma Labbaik..Aku menunggu panggilan-Mu ya Rabb, dalam kelemahan dan ketidakberdayaanku..(buruhmigren, Tepian Teluk Persia)
“hati Emak sudah lama disana..” (Emak Ingin Naik Haji)

Comments (0)

“Syuhadza!”

Posted on 20 November 2009 by goblog'er

Dahulu Saya pernah membaca tulisan, “Ke timur tengah bertemu muslim, ke Eropa bertemu Islam”. Hanya dengan izin-Nya sejak beberapa tahun yang lalu saya memulai tinggal di timur tengah. Menarik memang episode perjalanan kali ini. Bertahun-tahun tinggal di jazirah para nabi saya mengamati gaya hidup, cara pandang mereka pada keyakinannya (islam), etos kerja,budaya, dan tentunya juga karakter keseharian dari bangsa yang dipilih oleh Allah menerima kemuliaan dengan diturunkannya Nabi terakhir dari kalangan mereka serta menjadikan bahasanya sebagai bahasa agama plus bahasa wahyu dari kitab terakhir yang diturunkan ke bumi.

Pertama kali datang tentunya saya harus banyak berurusan dengan lembaga formal swasta dan pemerintahan. Mulai dari buat akun bank, SIM (surat izin mengemudi), kartu identitas, izin kegiatan, hingga surat kelahiran anak yang lahir di jazirah ini. Sekian banyak interaksi yang terjalin memang mempunyai kesan tersendiri tentang tipikal warga di timur tengah ini. Cara pandang saya tentang warga timur tengah sedikit banyak berubah dari yang saya pernah bayangkan sebelumnya. Umumnya tipikal mereka terbuka dalam berbicara dan berekspresi. Spontanitas umumnya walau terkadang ada yang berlebihan. Jika berurusan dengan lembaga formal jangan berharap ada senyuman atau sapaan lembut karena hal seperti itu hanya khusus untuk yang terdekat dengan mereka saja rupanya. Jika satu ketika anda membawa persyaratan yang tidak pas atau sedikit saja kesalahan sengaja atau tidak maka ekspresi spontan akan langsung didapatkan. Biasanya kata pertama yang akan didengar adalah : “Syuhadza!”.

Di teluk Persia, kata ‘Syuhadza’ menurut saya paling sering dijumpai dimana saja. urutannya kedua setelah kata ‘keif haa lak (apa kabar?). Mulai dari jalanan sampai ke urusan perkantoran. ‘Syuhadza’ adalah bahasa slank. Syu (dengan syin besar) artinya APA. Hadza artinya INI. Kurang lebih bisa diartikan; “Kok begini?”, atau “Gimana sih?” . Semestinya kalimat ini biasa-biasa saja. Namun dalam perkembangannya makna dan kata kedua kata ini menjadi sebuah ungkapan kekesalan, kekecewaan, ‘blaming’, dan juga kemarahan. Ekspresi spontan diikuti kata “Syuhadza!” lambat laun menjadi sebuah ikon negatif terutama bagi yang mendengarnya. Dan ekspresi ini ternyata menular kepada para imigran yang tinggal di timur tengah. Satu ketika saya pernah melihat pembeli membanting-banting belanjaannya di depan kasir sambil berteriak ’syuhadza!” hanya karena kasir harus bolak-balik karena mesin barcode temannya eror. Seorang supir taksi terjebak macet ia langsung teriak “Syuhadza!”. Madam melihat kerjaan khadimah (pembantu) tidak beres langsung teriak “Syuhadza!”. Cakil lupa membawa fotokopi ketka akan regsitrasi mobil, petugas langsung teriak “syuhadza!”. Virus ‘Syuhadza!” merebak dikalangan penduduk warga timur tengah dan seperti ada kesepakatan diam-diam jika anda kecewa, marah, menyalahkan, kesal, sebel, tinggal teriak ’syuhadza!”. Ekspresi itu diluapkan bukan hanya terhadap manusia saja ternyata, mobil mogok, komputer rusak, AC bocor, ban pecah, radio mati sampai pada onta yang cuek bebek melintasi jalan.

Dalam Islam ekspresi spontan menjadi cerminan akhlak yang bersangkutan. Ingin melihat akhlak seseorang lihat saja ketika ia dihadapkan pada hal yang kurang menyenangkan. Ah..sambil menulis ini saya pun malu hati rasanya karena terjangkit virus ‘Syuhadza”. Pemahaman saya tentang akhlak yang ditempa di sebuah dusun kecil menjadi terkontaminasi dengan virus ini. Mudahnya saya gusar dan berkata syuhadza. Bukankah ada kata-kata yang lebih baik seperti tuntunan Nabi. Bisa dengan istigfar, tasbih dan tahmid. Menambah kebaikan juga bukan?. Dan malu ini menjadi-jadi saat beberapa hari yang lalu saya disempatkan bertemu dengan seseorang. Ia berasal dari Cambridge, UK. Seorang trainer peralatan microscope yang cukup canggih. Seharian bersamanya saya ternyata tidak sia-sia. Bukan hanya ilmu yang ia ajarkan tetapi juga ekspresi spontan yang saya temukan padanya.

Saya menemukan Islam dari ekspresi spontannya. Men-set up instrument dari awal tentu akan menemukan beberapa hal kendala dari software hingga hardware. Setiap kendala yang dihadapi olehnya dan saya sebagai trainee, sang trainer memberikan kesan yang berbeda dari keseharian yang saya temukan di timur tengah. Saat error, hang, atau hardware problem eskpresi spontan yang keluar dari mulutnya adalah “It’s very interesting!” atau “It’s interesting!”. Ini diucapkan berkali-kali tanpa terselip kata “shit!” yang biasanya diucapkan oleh sebangsanya. Awalnya saya kurang ‘ngeh’ namun pada pengucapan kedua dan selanjutnya saya menyadarinya. Senang sekali mendengar sang professor menyebutkan kata “It’s very interesting!’ dari setiap kesulitan yang dihadapi. “Sungguh menarik!” jika kita bisa mengganti kata-kata jelek atau “syuhadza” pada keseharian yang temui di timur tengah dengan kata-kata yang baik dan memotivasi pendengarnya. dan bersama sang professor hari itu saya merasakan aura semangat untuk mengubah cara pandang kendala atau kesulitan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipecahkan dibanding mendengar kata “syuhadza” yang terkadang penyakit inferior orang kampung ini menjadi kambuh.

Comments (0)

Jawadwipa, Menuju Titik Nol

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Kita memilih diam saat angkara melenggang di atas purnama
Kita kembali terdiam saat ia kemudian menari di halaman mata
Diam..! jangan ada yang bersuara..
Ini Tanah Air Kita!

O..Sang Pemilik Kehidupan
Jika TANAH sudah bergolak maka AIR yang kemudian menenggelamkan.
O…Tanah Airku..
Dalam gelap, aku hanya melihat bahtera..
Tanahku..
Airku…
darimu aku tercipta
O..Sang Pemilik Cincin Api..
Jika TANAH dan AIR menyatu,
Maka ‘bahagiakan’ kami bersama-Mu…

Tanahku tempat aku menanam, dan Airku yang mengairinya.
Tanah yang diam
Air yang serakah
Mereka yang ikut menyatu
Antara pertemuan besar tanah dan air..
Engkau bahagia..

O..Tanahku, Airku.
O..di ujung pulau aku berdiri, menyaksikan bumi menjadi air
Semua fana karena keserakahan yang memulainya
O..aku betul merana
Terpuruk dalam guyuran hujan yang tumpah
dan ..
Melebat!

Comments (0)

Cinta Bagai Anggur

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

erpisahan begitu menyakitkan!
Ia seperti penyakit sawan yang menimpa ayam saat tengah hari bolong
Si ayam diam, dengan mata yang tak pernah berkedip. Tak ada yang dipikirkan, tak mau beranjak, dan tak bisa tak..! semuanya yang terjadi begitu membekas dan sulit dilupakan.

Kebersamaan yang terlewati seolah menjauh dan tak kan pernah bisa diraih kembali. Itulah sebabnya Audy begitu menyayat-nyayat saat mengekspresikan lagu “Satu Jam Saja!” tentang makna kebersamaan dari ’sesuatu’ yang dicintai kemudian terenggut atau berpisah begitu saja.

Berpisah..
Bertemu..
mengapa ada perpisahan setelah ada pertemuan?

Anang dan KD pun ikut nelangsa karena sebuah perpisahan. (Anang menangis, KD?)
Laila memilih kematian setelah Majnun pergi ke haribaan.
Zulaikha meminta sekarat di depan nisan Yusuf dan kemudian harapannya dipertemukan oleh Tuhan dengan terkulai menjemput ajal di depan nisan terkasih.
Bagi para pecinta sejati, perpisahan dengan sang kekasih ibarat berada di lembar terakhir. Tak ada hasrat menuliskan episode kehidupan selanjutnya. Ia bertemu dan enggan berpisah. Seperti sebuah molekul yang jika tercerai maka tidak ada bentuk senyawa tersebut.

Cinta memang menyatukan dan mengikat.
“Cinta bagai anggur”, Muzaffer Ozaq pernah berkata. Dalam maqam tertinggi cinta adalah fana. karena yang kekal adalah Sang Pemilik Hakikat.
amboiyy..gila cinta Majnun membungkam singa yang kelaparan. Tak ada hasrat bagi singa karena baginya Majnun telah fana.

Ah..cinta bagai anggur..kapan aku bisa mabuk sempoyongan?
Terkulai lemas, saat terjaga diri sudah diselimuti cahaya.
“Berikan aku satu tetes saja!”, suaraku tercekat dikerongkongan.

Satu malam, seorang tua membawakan secawan anggur padaku.
“minumlah saat hendak melangkah menuju rumah Tuhan!”
Aku memandang dengan nanar.
Kutenggak hingga membasahi dadaku. Tak ada reaksi..katanya anggur ini anggur pecinta.
Kepalaku berat, dada terasa sesak, benarkah aku mabuk cinta?
Kulihat kembali anggur dalam cawan yang diberikan
ungu atau hitam warnanya
“keparat! ini anggur cap kakak tua..!”

Comments (0)

Gelisah

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Saya ingin menyampaikan rasa kegelisahan.
Saat kemarau menghabiskan sisa air di sumur-sumur kami. Kerontang tenggorokan dan semakin mengentalnya darah karena kekurangan cairan hingga mesti berbagi dengan hewan ternak untuk sekedar penghilang dahaga yang kian pahit terasa.

Sendirian aku tatapi ladang usang yang tak karuan lagi bentuknya. Bumi sepertinya kian memerah darah karena retakannya sudah hampir menembus lapisan magma. Tanah ini memang menyimpan api yang setiap saat bisa saja menyembur ke permukaan. Aku pun bertanya, apakah hati-hati kami seperti mu wahai kemarau? gersang walau setiap saat terbasuh wudhu? apakah kebencian kami terus beranak pinak hingga perseteruan ini terus terjadi.

Hujan pun tiba. Ia membawa pesona saat awal perjumpaan tapi kemudian berubah menjadi petaka. Air meluap, menenggelamkan semua dihadapan, tak hanya selokan, tetapi jalanan, perumahan, sawah, hingga bendungan jebol tak dapat menanggung asamu. Apa kami rakus seperti wahai hujan? hingga yang ada dihadapan akan dilahap. Namun tetap semua berkilah hujan adalah rahmat.

Negeriku seperti perempuan tua yang sudah diperkosa ratusan kali oleh perampok durjana. Silih berganti. Setiap kali habis digagahi, dicampakkannya lalu kemudian ditinggalkan. Belum sempat sang perempuan membasuh tubuh untuk membersihkan badan untuk mandi di sungai ampunan, datang lagi para begundal untuk memuaskan nafsu. Padahal ia sudah tak berdaya dan tak mampu lagi memaki. Mungkin dahulu negeriku seperti perawan desa yang belum pernah disentuh oleh seorang lelaki pun. Ia selalu berdiri di tepi pantai dengan membawa bunga-bunga aneka warna.

Rayuan pulau kelapa masih selalu kudengar sayup-sayup saat acara TVRI selesai. Aku masih merindukan Indonesia yang hilang dan mungkin tak kan pernah ketemukan.

Comments (0)

Doa dan Kebiasaan Orang Di Pesisir Teluk Persia

Posted on 17 November 2009 by goblog'er

Salah satu kebiasaan orang Arab di Pesisir Teluk Persia Teluk adalah saat mereka saling bertemu satu sama lain, juga ketika mereka mengawali pembicaraan di telepon atau bertatap muka langsung kata-kata pembuka yang mereka lontarkan begitu hangat dan manis sekali di dengar. Bukan hanya itu, mereka pun saling melemparkan doa kepada lawan bicaranya dan dibalas dengan hal yang sama.

Saya kadang suka iri dengan kebiasaan mereka. Diawali dengan salam, doa keselamatan mereka menanyakan kabar lawan bicaranya. Setelah dijawab dengan tahmid, pujian kepada Sang khalik yang telah memberikan nikmat. Mereka seperti berbalas pantun dengan mendoakan panjang umur (Hayyakallah -Allah yuhayyik), diberi keselamatan (Allah ya Sallim), dilimpahi keberkahan (barakallah-Allahyubaarik fik), dimaafkan segala kesalahan (allah ya’fiik), dan masih banyak lagi. Kata-kata pembuka ini bukan sekedar basa-basi tapi memang benar-benar serius diucapkan dengan senyuman, intonasi suara yang renyah terdengar.

Ungkapan-ungkapan lainnya adalah kata-kata penyambutan ketika seseorang datang menemui teman atau kerabatnya. Jika di Indonesia, cukup dengan selamat datang itupun di tempat-tempat formal saja disampaikan. Bahkan cukup sekedar “hai..!”, tetapi di Teluk berbeda. Ungkapan penyambutan begitu beraneka dan memiliki bobot masing-masing. Misalnya; Marhaban milyoon (sejuta selamat atas kedatanganmu), ada juga Marhabassa’ (your are most welcome, anda paling atau sangat dinanti), Marhaban bik..!, marhaban laayiin, dan lain sebagainya. Semuanya begitu diungkapkan dengan semangat seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun tidak pernah bersua.

Sampai saat ini saya belum menemukan ungkapan yang sepadan atau cara kita dalam menyambut, bertemu teman atau kerabat seperti para penghuni teluk. Saya membayangkan jika kita bertemu, setelah ucapan salam atau selamat pagi kemudian kita melanjutkan dengan menanyakan kabar lawan bicara kita dan menyampaikan doa untuknya. “Semoga kamu selalu dipanjangkan umur”. Dibalas ” begitupun dengan mu, senantiasa panjang umur dan sehat senantiasa. Dilanjutkan, “Semoga keberkahan dan keselamatan untukmu dan sekeluarga”. Dijawab, “amien, begitu juga untukmu sahabat..semga Allah mema’afkan kehilafanmu dan menempatkanmu dalam kemulyaan”. Sahabatnya berkata lagi,” Bagaimana dengan keluargamu? putra-putrimu” semoga mereka dijadikan anak yang shalih dan shalihah, mutiara kehidupan dan mendapatkan derajat yang tinggi”. Dijawab,”segala puji bagi-Nya yang memberikan perlindungan. Aku pun berdoa untuk putra-putri dan keluarga agar mereka senantiasa ada dalam kebaikan, cahaya kehidupan dan pemimpin hamba-hamba-Nya yang bertakwa”.

Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa diungkapkan, setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan inti. Kebiasaan ini akan membantu kita melenyapkan iri, dengki, hasad, dan turunnya rahmat Allah dengan dikabulkannya doa dari kedua pihak. Bukankah doa yang diungkapkan dari hati yang tulus dan tidak tulus akan mudah dibedakan oleh kuping yang mendengarnya? Jika ada kekurangsukaan akan membantu si pemilik hati dan lawan bicaranya menjadi luluh karena doa-doa yang disampaikan. Terkadang manusia seringkali selalu mendahulukan praduga dan sakwasangka namun setelah disapa suasana menjadi cair. Dan menebarkan doa bukan sesuatu yang sulit ia teramat mudah namun perlu hati yang ringan dalam membawakannya.

Saya jadi teringat pada sebuah kisah tentang Fatimah Az-Zahra, putri dari Muhammad SAW-pembawa risalah terakhir kenabian bersama putranya Hasan dan Husain. Satu ketika, Fatimah sedang berdoa dan doanya terdengar oleh kedua putranya. Mereka mendengar lantunan doa Fatimah hingga selesai dan ada satu hal yang mengherankan keduanya. Dalam doa Fatimah nama Hasan dan Husain tidak pernah disebut sama sekali. Lantas salah satu dari keduanya menanyakan perihal tersebut pada ibunda Fatimah. “Bunda, saya mendengar doa yang bunda lantunkan namun ananda sama sekali tidak mendengar bunda mendoakan kami berdua. Bunda hanya mendoakan kaum muslimin saja”. Begitu putranya merajuk. Fatimah menjelaskan, bahwa ia sesungguhnya mendoakan kedua putranya. Bukankah mereka berdua adalah bagian dari kaum muslimin. Fatimah ingin berbagi dengan doa-doanya yang yang makbul bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja tetapi juga untuk kemaslahatan umat muslim.

Seringkali tanpa kita sadari kita dirundung rasa takut dan khawatir bahwa mendoakan jamaah/umum atau umat Islam tidak seampuh jika mendoakan nama yang bersangkutan secara langsung. Dalam doa saja kita sering bakhil bagaimana soal harta? Jika seperti ini bagaimana keberkahan akan melingkupi kita?. Seorang shalih mengibaratkan bahwa doa-doa yang dipanjatkani akan kembali kepada si empunya. Seperti ada lapisan di atas langit kita yang memantulkannya kembali kepada pemliknya saat kita mendoakan saudara seakidah di belahan bumi lain. Dan mendoakan bisa dimulai kapan saja tidak harus dalam waktu khusus atau selepas solat fardhu atau sunnah. Di awal pembicaraan saat berjumpa di kantor, di pasar, di sekolah, dimanaaaa saja tebarkanlah doa. Jika tebar hewan qurban tidak mampu, apalagi tebar duit bukan seorang milyuner maka doa saja kita bagi-bagi secara gratis. Insya Allah semua akan kembali pada si pemilik empunya. Nah, kapan kita bisa mencobanya..?

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here