Hujan identik dengan rizki, jadi musim penghujan artinya rizki bakal turun banyak. Itu dulu..setelah global warming melanda keadaan mungkin berubah atau mudah-mudahn tetap sama seperti itu. Rizki ini bisa turun sama siapa saja termasuk dengan tukang es sekalipun tidak terkecuali bagi para tukang shooting amatiran. Dulu Saat di Serang saya memang pernah punya kerjaan sampingan untuk dokumentasi video amatiran. Pekerjaan ini memang sedikit banyak terimbas oleh perubahan musim. Saat musim penghujan tiba, saat pengasnti sunat sudah menemukan ukurannya, juga para pasangan muda yang kebelet minta kawin, maka saat itulah para amatiran dokumenter kelas kampung beraksi. Pengalaman ini menghantarkan saya menjadi orang penting pada berbagai macam event. Dari hajatan di sebuah gedung besar sampai ke sebuah kampung di pinggiran sawah.
Saya masih ingat hingga pukul dua pagi harus mendokumentasikan penceramah dari sebuah pesta sunat. Dinginnya udara, suara jangkrik nge-’jazz’, kodok yang horny pertanda musim kawin, saat yang sama tiba-tiba ribuan kunang-kunang menggelar pesta, dan terakhir nyamuk menjadikan ajang malam itu untuk membuat kekacauan. Tidak jelas kesimpulannya apa dari materi penceramah karena saya sendiri lebih banyak sibuk dengan nyamuk yang kebut-kebutan di sekitar kedua telinga..dessiiingg..ziingg..! dan plak! karena kesal saya gampar ‘pembalap liar’ itu. Sesekali saya harus memastikan merubah angle kamera agar ketika diburning ke dalam compact disc penonton tidak bosan dibuatnya. Januari tepatnya saat itu. Angin malam bulan Januari seperti kisah lagu lama. Angin malamnya genit dan menggoda. Semua menambah terangkum dalam memori seperti lagu Broery Pesulima “angin Malam’ yang sering diputar saat minggu malam senin. Lepas acara selesai, saya tidak berani pulang langsung ke rumah. Maklum, di Banten lokasi sepi dan gelap masih sering ditunggui para begal motor yang suka mengoleksi motor. Jadilah saya melewati malam di kampung terpencil, pinggiran sawah hingga pagi menyapa. Menungu fajar membentang di langit-langit yang terkadang gelap pekat karena mendung semalaman.
Kawan, pekerjaan shooting video kelas kampung memang sangat mengasikkan. Saya bisa menjadi seorang penting yang mampu mengatur jalannya upacara pernikahan anak pejabat anngota DPRD yang terhormat itu.. atau satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk ketika calon pengantin untuk terakhir kalinya dimandikan oleh ayah dan bunda. Sebuah acara dramatis bagi keluarga mantan kepala koperasi tingkat kabupaten karena selain basah-basahan dengan air kembang juga air mata ikut berderai. Ketika memegang kamera, sekalipun hanya sekelas DDR atau 3CCD mungil, saya bisa menjadi begitu gagah menerobos barikade polisi yang mengawal artis dangdut dan tanpa malu-malu bertengger di pinggiran panggung percis seperti burung perkutut. Dengan video shooting pula saya mempunyai teman dengan berbagai kalangan baik militer hingga artis. Perjalanan terakhir saya saat membidani sebuah komunitas film di kota Serang dan bersama-sama mereka membuat acara ‘Menuju Bintang’ sebuah acara pencarian bakat dengan kehebohan yang bisa dibilang luar biasa di tingkat kabupaten yang jalan protokolnya tak lebih dari lima kilometer..
Begitulah lelaki dengan kamera bisa diibaratkan jenggo dengan pistol mautnya. Bersama kamera saya bisa menembus lokasi yang rahasia, sakral, penting, hingga pada peristiwa menegangkan. Saya pernah diciduk malam-malam dan diinterogasi oleh orang yang saya sendiri tidak kenal dan belakangan ia menjadi salah satu anggota dewan di kota Cilegon. kamera pun membawa saya pada pengepungan kecamatan dimana saya ada di dalamnya. Mereka sudah saling bersiap dalam pesta mandi darah jika sebuah kotak suara dibuka. Kamera juga yang membawa saya pada keisengan untuk meliput kehidupan malam di kota Serang namun akhirnya ‘kabur’ karena dicegat para wanita cantik yang berjakun. Sampai saat ini, saya masih penasaran dengan kehidupan malam yang konon pernah mendapat sebutan ‘kota santri’ itu. Maklum saja dari cerita supir taksi yang sering mangkal di beberapa tempat itu sering menjadi saksi sebuah kemunafikan di bawah kerlap-kerlip asma Tuhan.
Musim penghujan dan kameramen amatiran seperti bersepakat bahwa naluri manusia tidak tahan dalam cuaca dingin dengan rintik hujan yang tak mau berhenti. Sama seperti naluri manusia akan kekuasan, ketenaran, harta, dan sebagainya. Jika sudah menemukan momennya maka ia berusaha memenuhinya dengan berkolaborasi dengan pihak yang menyediakan jasa tersebut. Dalam hal ini tasawuf menyebutnya dengan kata zuhud. Zuhud bukan seseorang yang miskin kemudian dia meninggalkan dunia karena kemiskinannya tetapi yang bersangkutan harus berada dalam ‘momen’ atau saat ia berada di tengah kekayaan maka ia dianggap zuhud karena dunia yang bergelimang ditinggalkannya. Dalam sebuah hadist Nabi, terungkap kisah tentang 3 orang yang terjebak dalam gua oleh batu besar. Salah satu kebaikan yang mampu menggeser batu besar penghalang itu adalah saat si pelaku sudah berada di atas kedua paha wanita yang sangat dingininya dan momen itu begitu menggoda nafsu birahi sang pria namun segera ia meninggalkannya. Momen ini adalah ‘prime moment’ karena di saat semua keadaan bertemu dan ‘bersepakat’ untuk dilakukan serta merta ditinggalkan.





