Pertama kali datang tentunya saya harus banyak berurusan dengan lembaga formal swasta dan pemerintahan. Mulai dari buat akun bank, SIM (surat izin mengemudi), kartu identitas, izin kegiatan, hingga surat kelahiran anak yang lahir di jazirah ini. Sekian banyak interaksi yang terjalin memang mempunyai kesan tersendiri tentang tipikal warga di timur tengah ini. Cara pandang saya tentang warga timur tengah sedikit banyak berubah dari yang saya pernah bayangkan sebelumnya. Umumnya tipikal mereka terbuka dalam berbicara dan berekspresi. Spontanitas umumnya walau terkadang ada yang berlebihan. Jika berurusan dengan lembaga formal jangan berharap ada senyuman atau sapaan lembut karena hal seperti itu hanya khusus untuk yang terdekat dengan mereka saja rupanya. Jika satu ketika anda membawa persyaratan yang tidak pas atau sedikit saja kesalahan sengaja atau tidak maka ekspresi spontan akan langsung didapatkan. Biasanya kata pertama yang akan didengar adalah : “Syuhadza!”.
Di teluk Persia, kata ‘Syuhadza’ menurut saya paling sering dijumpai dimana saja. urutannya kedua setelah kata ‘keif haa lak (apa kabar?). Mulai dari jalanan sampai ke urusan perkantoran. ‘Syuhadza’ adalah bahasa slank. Syu (dengan syin besar) artinya APA. Hadza artinya INI. Kurang lebih bisa diartikan; “Kok begini?”, atau “Gimana sih?” . Semestinya kalimat ini biasa-biasa saja. Namun dalam perkembangannya makna dan kata kedua kata ini menjadi sebuah ungkapan kekesalan, kekecewaan, ‘blaming’, dan juga kemarahan. Ekspresi spontan diikuti kata “Syuhadza!” lambat laun menjadi sebuah ikon negatif terutama bagi yang mendengarnya. Dan ekspresi ini ternyata menular kepada para imigran yang tinggal di timur tengah. Satu ketika saya pernah melihat pembeli membanting-banting belanjaannya di depan kasir sambil berteriak ’syuhadza!” hanya karena kasir harus bolak-balik karena mesin barcode temannya eror. Seorang supir taksi terjebak macet ia langsung teriak “Syuhadza!”. Madam melihat kerjaan khadimah (pembantu) tidak beres langsung teriak “Syuhadza!”. Cakil lupa membawa fotokopi ketka akan regsitrasi mobil, petugas langsung teriak “syuhadza!”. Virus ‘Syuhadza!” merebak dikalangan penduduk warga timur tengah dan seperti ada kesepakatan diam-diam jika anda kecewa, marah, menyalahkan, kesal, sebel, tinggal teriak ’syuhadza!”. Ekspresi itu diluapkan bukan hanya terhadap manusia saja ternyata, mobil mogok, komputer rusak, AC bocor, ban pecah, radio mati sampai pada onta yang cuek bebek melintasi jalan.
Dalam Islam ekspresi spontan menjadi cerminan akhlak yang bersangkutan. Ingin melihat akhlak seseorang lihat saja ketika ia dihadapkan pada hal yang kurang menyenangkan. Ah..sambil menulis ini saya pun malu hati rasanya karena terjangkit virus ‘Syuhadza”. Pemahaman saya tentang akhlak yang ditempa di sebuah dusun kecil menjadi terkontaminasi dengan virus ini. Mudahnya saya gusar dan berkata syuhadza. Bukankah ada kata-kata yang lebih baik seperti tuntunan Nabi. Bisa dengan istigfar, tasbih dan tahmid. Menambah kebaikan juga bukan?. Dan malu ini menjadi-jadi saat beberapa hari yang lalu saya disempatkan bertemu dengan seseorang. Ia berasal dari Cambridge, UK. Seorang trainer peralatan microscope yang cukup canggih. Seharian bersamanya saya ternyata tidak sia-sia. Bukan hanya ilmu yang ia ajarkan tetapi juga ekspresi spontan yang saya temukan padanya.
Saya menemukan Islam dari ekspresi spontannya. Men-set up instrument dari awal tentu akan menemukan beberapa hal kendala dari software hingga hardware. Setiap kendala yang dihadapi olehnya dan saya sebagai trainee, sang trainer memberikan kesan yang berbeda dari keseharian yang saya temukan di timur tengah. Saat error, hang, atau hardware problem eskpresi spontan yang keluar dari mulutnya adalah “It’s very interesting!” atau “It’s interesting!”. Ini diucapkan berkali-kali tanpa terselip kata “shit!” yang biasanya diucapkan oleh sebangsanya. Awalnya saya kurang ‘ngeh’ namun pada pengucapan kedua dan selanjutnya saya menyadarinya. Senang sekali mendengar sang professor menyebutkan kata “It’s very interesting!’ dari setiap kesulitan yang dihadapi. “Sungguh menarik!” jika kita bisa mengganti kata-kata jelek atau “syuhadza” pada keseharian yang temui di timur tengah dengan kata-kata yang baik dan memotivasi pendengarnya. dan bersama sang professor hari itu saya merasakan aura semangat untuk mengubah cara pandang kendala atau kesulitan menjadi sesuatu yang menarik untuk dipecahkan dibanding mendengar kata “syuhadza” yang terkadang penyakit inferior orang kampung ini menjadi kambuh.



