Saya ingin menyampaikan rasa kegelisahan.
Saat kemarau menghabiskan sisa air di sumur-sumur kami. Kerontang tenggorokan dan semakin mengentalnya darah karena kekurangan cairan hingga mesti berbagi dengan hewan ternak untuk sekedar penghilang dahaga yang kian pahit terasa.
Sendirian aku tatapi ladang usang yang tak karuan lagi bentuknya. Bumi sepertinya kian memerah darah karena retakannya sudah hampir menembus lapisan magma. Tanah ini memang menyimpan api yang setiap saat bisa saja menyembur ke permukaan. Aku pun bertanya, apakah hati-hati kami seperti mu wahai kemarau? gersang walau setiap saat terbasuh wudhu? apakah kebencian kami terus beranak pinak hingga perseteruan ini terus terjadi.
Hujan pun tiba. Ia membawa pesona saat awal perjumpaan tapi kemudian berubah menjadi petaka. Air meluap, menenggelamkan semua dihadapan, tak hanya selokan, tetapi jalanan, perumahan, sawah, hingga bendungan jebol tak dapat menanggung asamu. Apa kami rakus seperti wahai hujan? hingga yang ada dihadapan akan dilahap. Namun tetap semua berkilah hujan adalah rahmat.
Negeriku seperti perempuan tua yang sudah diperkosa ratusan kali oleh perampok durjana. Silih berganti. Setiap kali habis digagahi, dicampakkannya lalu kemudian ditinggalkan. Belum sempat sang perempuan membasuh tubuh untuk membersihkan badan untuk mandi di sungai ampunan, datang lagi para begundal untuk memuaskan nafsu. Padahal ia sudah tak berdaya dan tak mampu lagi memaki. Mungkin dahulu negeriku seperti perawan desa yang belum pernah disentuh oleh seorang lelaki pun. Ia selalu berdiri di tepi pantai dengan membawa bunga-bunga aneka warna.
Rayuan pulau kelapa masih selalu kudengar sayup-sayup saat acara TVRI selesai. Aku masih merindukan Indonesia yang hilang dan mungkin tak kan pernah ketemukan.


