Shadiq hanya memandang ibunya yang sedang memasukan pakaian ke dalam tas jinjing yang mulai kumal. Tak ada kata-kata yang bisa ia sampaikan sekedar untuk mencoba menahan sang ibu pergi.
“Ibu harus pergi nak!. Surat izin dari majikan ibu yang pertama sudah keluar. Begitu pula dari departemen luar negeri dan keimigrasian. Amnesti ini satu-satunya cara untuk ibu agar bisa kembali tanah air ibu nak!”.
Syarifah berkata dengan perasaan yang tak karuan. Baginya sudah sangat melelahkan hidup di negeri orang tanpa identitas resmi. Semua sudah habis tergadai hanya untuk sekedar bisa menopang hidup jazirah para nabi ini. Mungkin usia Shadiq bisa menjadi penanda berapa lama ia hidup dalam bayangan tak bertuan.
“Ibu sudah lelah!. Kau pun sudah besar!. Tinggal di panti di lembaga auqaf untukmu jauh lebih baik. Paling tidak hidupmu bisa lebih berguna”.
Shadiq hanya menunduk dan terdiam. Perpisahan yang selama ini ia khawatirkan sudah nampak di depan mata. Bagaimanapun ia tidak bisa menyalahkan Syarifah. Perempuan ini sudah menghabiskan segalanya untuk memberikan hak hidup kepadanya. Sebagai warga negara ilegal yang sewaktu-waktu di penjarakan dan dideportasi. Shadiq bisa mengerti keputusan inilah yang terbaik. Sekalipun ia harus rela tidak bisa bertemu kembali dengan ibunya sepanjang hidup. Shadiq dan Syarifah merasakan pahitnya hidup sebagai penduduk haram di negeri ini.
****
Syarifah yang pergi mengadu nasib sebagai TKW harus menerima takdir hidup dalam bayang-bayang rasa was-was. Majikan pertama memang baik cuma pelit minta maaf. Syarifah mendapat kabar dari kampung ibunya sakit. Syarifah butuh uang untuk membantu pengobatan ibu. Setelah minta izin walaupun sangat sulit Syarifah bekerja part time di rumah keluarga keturunan Syam. Malang tak dapat ditolak, satu hari ketika bekerja part time sang majikan lelaki pulang lebih cepat. Kondisi flat kosong dan Setan tahu kapan waktu yang tepat menggoda anak Adam. Syarifah diseret untuk mau melayani nafsu bejat majikan. Gelap! setelah hari itu semua gelap. Syarifah malu dan takut untuk melaporkan. Beberapa hari ia murung dan tak berhasrat bekerja. Syarifah memutuskan tidak kembali ke flat majikan yang Syria itu walaupun gaji tambahan yang seharusnya ia terima untuk membeli obat bisa masih bisa diperoleh.
Beberapa bulan setelah peristiwa laknat, Syarifah mulai didera ketakutan. Menstruasi yang seharusnya ia terima tanggal 25 setiap bulannya tak kunjung datang. Bayang-bayang ketakutan Syarifah menjadi-jadi hingga kehamilannya menginjak 3 bulan. Rasa mual yang mendera terpaksa ia tutupi sebisa-bisanya. Apalagi majikannya senang sekali meminta ia memasak kharouf kambing muda. Masakan khas arab yang disajikan dengan rempah-rempah. Bau daging kambing membuat rasa mual Syarifah menghebat. Hingga satu ketika Syarifah tidak kuat lagi menahan mual dan muntah di depan majikan.
Lambat laun kecurigaan dari majikan mulai tumbuh. Terlebih madam alias nyonya besar. Bibit syak wasangka wabha Syarifah dikerjai oleh salah satu penghuni rumah menjadi akar masalah keluarga besar itu. Suasana kekerabatan yang terjalin berbalik menjadi menegangkan. Semua penghuni rumah majikan kegerahan melihat perut Syarifah lambat laun membesar dan sulit ditutupi sekalipun ia memakai Abaya. kecurigaan madam terbukti, syarifah hamil. Dijambaknya jilbab Syarifah, ditampar, Syarifa hterjatuh.
“Syuhadza!!! Siapa lelaki jahannam yang zinah denganmu? katakan? Tuan besar atau tuan muda?!”
Syarifah menagis. Madam kalap. Jilbab syarifah ditarik.
” La’nat..! tak layak kau memakai hijab!”, jilbab Syarifah terlepas. Rambutnya terurai panjang, dijambaknya kuat-kuat oleh madam. Syarifah meringis kesakitan. Seperti kambing, madam menarik-narik rambut Syarifah keliling ruangan besar. Tak ada yang berani menghentikan. Para lelaki penghuni ruangan juga didera takut. Tuan muda dan besar saling menduga siapa yang menghamili Syarifah. mereka akan terkena gilirannya. Puas menarik-narik, madam mebenturkan kepala Syarifah pada ujung kursi yang lancip.
“rasakan wanita laknat..tak cukup rupanya kebaikan yang kami berikan! siapa lelaki jahannam itu?!
Syarifah meringis kesakitan. Darah segar mulai menets akibat benturan dengan ujung jursi yang lancip tadi.
“tidak ada madam!..tidak..” Syarifah berupaya menjelaskan. Belum habis kalimatnya diselesaikan. madam meninju mulutnya.Bibir syarifah pecah. Syarifah menubruk kaki sang madam, menghiba. Madam menendangnya kuat-kuat.
“Qul liiiiii.. (katakan padaku)!?” madam berteriak sampai terdengar serak.
“Ma fih hena..(tak ada di sini)” Syarifah berupaya menjelaskan.
Madam sedikit lega mendengar itu tapi ia merasa jijik. Terbayang olehnya Syarifah menjadi pelacur diam-diam tanpa sepengetahuannya. Mungkin saja dengan supir taksi, tukang kebun, atau ia menjajakan di lorong-lorong kota pada siapa saja. Tuan muda dan tuan besar bernapas lega. Mereka selamat. Sekarang gantian mereka berpartisipasi dalam pesta. Syarifah diseret ramai-ramai. Kedua tangannya diletakkan pada wajan panas. Syarifah menjerit kesakitan. Tangannya terbakar. Syarifah pingsan.
Dingin mengusik. Matahari bulat sempurna di timur sana. Lembut mengusap hamparan pepasir. Semilir angin menerpa wajah wanita muda yang tergeletak seperti dibuang begitu saja. Syarifah bergerak sedikit. Ia masih menikmati mimpi menimang bayi mungil dengan mata hijau bagaikan zambrud. Butiran pasir menerpa wajah Syarifah.Ia terbangun.Hamparan pasir membentang dihadapan. Sunyi. ia dibuang di tempat tak bertuan. Hanya buntalan baju dan beberapa dirham yang ia temukan. Syarifah mengaduh. kedua telapak tangannya masih terasa sakit. Sebagian terlihat melepuh. Direngkuhnya buntalan baju perlahan sakit sekali terasa jika tersentuh sesuatu. Syarifah terus berjalan. Tak peduli ia mati di gurun baginya ia harus bisa menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Tak terhitung langkah yang telah diayun.
Syarifah seperti melihat air. Syarifah lari mengejar tapi sepertinya sia-sia. Air masih terlihat jauh di hadapan. Syarifah tak putus asa. Ia khawatir bayi yang dikandungnya kehausan karena ia pun didera haus yang sangat. Matahari kian meninggi Syarifah lemas tak berdaya. Hamparan pasir seperti tak bertepi. Ia telah dibuang di wilayah tak bertuan dan tak ada siapa-siapa disini. Tak ada ibu, tak bapak, tak ada kakak, paman bibi, tak ada madam, tuan dan siapapun yang pernah ia kenal sebelumnya. Keleahan Syarifah terjatuh. Ia sadar, ia harus ikhlas. Aku tidak mati sendirian, bayiku menemaniku di wilayah tak berpenghuni ini. Biarlah Tuhan melihat dua hamba-Nya tergelepar menjemput ajal, bertemu dengan wajah bermandikan debu.” Tuhan, aku menerima ketentuan-Mu dengan ikhlas sekalipun aku tak pernah berharap menanggung semua ini. Aku tinggal di tempat yang seharusnya tidak aku datangi. Aku terzalimi, aku dinistai. Tak perlu kusembunyikan karena Engkau tak pernah terpejam pada semua urusan umat-MU” , Syarifah mengaduh.
perlahan kesadarannya menurun. Hingga semua gelap.



