Categorized | Jurnal

“Serri Lel Ghayah” (Ranjang dan Cinta, hal yang tabu?)

Posted on 27 September 2009 by goblog'er

perempuan bedouin
Keterbukaan seringkali membuat pro dan kontra. Apalagi jika keterbukaan justru datang dari salah seorang wanita dari lingkungan arab Gulf yang sangat tertutup dan tabu dengan keterbukaan. Soalnya apa yang dibuka dan dikemukakan menyangkut urusan ranjang, cinta, dan wanita. Sebuah materi pembahasan yang tertutup rapat dan sangat rahasia. Tak ada yang berani membuka mulut, semua bungkam. Seperti bungkamnya pepasir di bumi jazirah.

Masyarakat Gulf memang saat ini sedang hangat memperbincangkan sebuah buku yang berjudul “serri Lel Ghayah” atau “Top Secret” yang ditulis oleh Weedad Lootah, seorang wanita yang kesehariannya bekerja sebagai konselor keluarga di pengadilan Dubai. Profesi sebagai konselor keluarga membawa Weedad pada realitas masyarakatnya yang hidup di tengah modernisme kemajuan infrastruktur dan warga dunia multi etnik yang terbuka namun masih menghadapi kendala menyangkut tertutupnya tabir urusan wanita, cinta dan keluarga.

Buku ini mengupas dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Weedad, yang kesehariannya bertugas memberikan konseling serta pendampingan bagi wanita serta pasangan yang dilanda persoalan keluarga. Bagaimana gagapnya seorang wanita dalam memahami kehidupannya yang sudah kadung tersekat oleh budaya yang membatasinya dalam segala hal. Weedad memang berusaha melabrak barier kultur yang sudah berdiri kokoh ratusan tahun. Ia mempunyai pandangan yang jauh dari masanya saat ini. Bahwa persoalan ranjang, cinta dan keluarga adalah persoalan fitrah yang harus bisa menempatkan siapa saja yang terlibat di dalamnya secara setara, satu level. Wanita bukan sekedar pelengkap seperti halnya perkakas dalam rumah tangga dan pria bukan diktator yang bisa melampiaskan semaunya.

Buku yang ditulis Weedad memang magnet yang menarik banyak perhatian. Sekalipun Islam, agama yang dianut oleh mayarakat arab gulf sudah ada ribuan tahun silam dan Ia membebaskan wanita dari perbudakan serta memberikan kesetaraan dalam hubungan rumah tangga namun pada praktiknya budaya menggeser kesetaraan itu dan meninggalkannya sendirian. Weedad dalam bukunya berusaha mengambil kembali apa yang selama ini ditinggalkan. Bahwa ranjang adalah sebuah arena pertarungan cinta dan bukan arena perbudakan. Semua bisa berawal dari tatapan dan senyuman para suami kepada isterinya dan mengelola bahtera tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja tetapi kerjasama keduanya dalam kesetaraan hak dan kewajiban adalah hal yang tak bisa ditawar. Sebuah mimpi bagi para wanita gurun tentunya.

Buku yang ditulis Weedad memang memberikan implikasi yang cukup besar termasuk sedang diusahakannya pendidikan sex di lingkungan sekolah dalam bentuk memberikan pemahaman yang benar tentang apa yang tidak boleh dilakukan oleh anak-anak pada usia tertentu, hubungan apa yang dilarang oleh agama pada usia mereka dan sebagainya. Perubahan yang sangat terasa bagi lembaga konseling tempat Weedad bekerja adalah dalam bahasa pengaduan. Dahulu wanita arab Gulf malu untuk mengadukan apa yang sebenarnya terjadi dalam bahasa verbal yang sederhana tetapi berkat usaha konseling dalam perkembangannya menjadi lebih terbuka.

Weedad berpendapat ranjang dan cinta memang pangkal kebahagiaan dalam rumah tangga. Jika cinta sudah tidak bisa lagi diberikan maka tetap perlakukanlah wanita dengan cara yang baik dan itu pun sudah cukup memberikan kebahagiaan pada wanita. Hal yang sama di Indonesia dengan diberlakukannya undang-undang KDRT. Bagaimana hukum berusaha menjaga wanita agar para suami tetap memberikan perlakuan yang baik sekalipun cinta seringkali menemukan takdirnya di tempat lain. Perlindungan ini mutlak diberikan karena menyangkut hak hidup manusia yang bebas dari intimidasi dan kekerasan. Rumah tangga sebagai wilayah privasi seringkali memendam hal-hal buruk. Ia seperti sebuah negara kecil dengan batas wilayah pintu depan rumah dan belakang.

Apa yang dilakukan Weedad memang sebuah usaha yang tidak mudah di tengah budaya tertutup masyarakatnya. Kekuatan cinta Weedad yang menuliskannya dari hati membuahkan hasil hingga perlahan namun pasti banyak hati yang terbuka. Dukungan atas usahanya mengalir deras. Bukunya saat ini menunggu dialih bahasakan ke dalam bahasa Inggris. Wanita, pena, dan perasaannya…ah! apa yang lebih hebat dari semua itu?

Dari Tepian Teluk Persia,

2 Comments For This Post

  1. Pencarian Puisi Says:

    Permisi teman ! salam kenal salam persahabatan

  2. admin Says:

    sami-sami..kumaha wartos teh?

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here