Tidak berselang lama sebuah hipermarket bagian dari gurita hipermarket dunia, Carrefour juga berdiri di perempatan Ciceri. Saya memang belum melihat betapa megah dan prestisiusnya bangunan itu namun membaca tulisan dari teman Idi Dimyati yang berjudul “Carrefour dan Raupoor” saya terhenyak oleh ulasan bahwa pertarungan pasar tradisional dengan hipermarket akhirnya akan membawa korban baru di tanah para sultan ini. Carrefour yang menggurita memiliki banyak ‘pisau tajam’ untuk menghabisi golok pasar Rau yang tradisional itu. Lorong-lorong pasar yang sepi, kios-kios yang belum terisi ditambah infrastuktur yang sedari awal pembangunan konon banyak menimbun complain, dari mulai air buangan yang rembes sampai soal siapa yang berhak mengorganisir keamanan terpadu di pasar ‘induk’ termegah’ se-Banten yang pernah diresmikan oleh mantan Ibu Presiden ini.
Saya tidak ingin menimbun kekecewaan para warga dengan memantiknya dengan berbagai persepsi sentimen negatif dari geliat Banten yang masih keteteran membangun kembali kejayaannya. Di saat “Banten Songo”, miliser Rumah Dunia dan GolaGong menyebut ulang tahun ke-9 propinsi ini dan menjadikannya sebagai gerakan kebudayaan sebuah upaya gerilya membangunkan kembali semangat para penghuninya untuk tetap mencintai dan berjuang untuk Banten yang dalam sebuah kesempatan bagaimana Golagong disaat yang sama sedang berjuang untuk sembuh dari sakit kronis yang dideritanya juga sedang berusaha membuat areal publik yang sehat lewat yayasan Pena Dunia ditambah kesibukannya membantu sumber daya Banten lewat Banten TVnya. Maka semalaman saya susah tidur. Susah tidur karena bayi ketiga saya yang tidak bisa tidur!. Ia seperti memaksa saya untuk memikirkan sesuatu. Padahal seperti lagu mbah Surip, sudah saya gendong kemana-mana di saat tepian Teluk persia dalam keadaan sunyi senyap. Beberapa kali saya buka facebook, membaca Banten songo, saya buka mailing list ada juga Banten Songo dan saat saya membaca status seorang teman saya terdiam. Ada sebuah keinginan untuk berbuat. Namun apa? saya terdiam. Saya bukan pengambil keputusan apalagi orang berpengaruh juga bukan dari keluarga dinasti tertentu. Namun saya ingin..ingin sekali berbuat untuk Banten sekalipun saya tidak lahir di Banten.
Wakaf Kiamuk dan Save Banten
Saya mengenal Firman Venayaksa lewat musikalisasi puisi Hajar Aswad. Saya menikmatinya dan sungguh saya menyukai musikalisasi ini. Ada sesuatu lain yang saya rasakan jika mendengar musikalisasi puisi. Lebih hidup dan segar. Maka dalam beberapa kali kesempatan chatting dan Firman mengungkapkan ingin membuat album dan grup baru maka saya mendukungnya. Biarkan Banten juga mempunyai karya musikalisasi dari anak-anak Banten dengan memproduksinya sendiri. Rekaman berjalan dengan baik dan musikalisasi puisi rampung. Saat itu kita kebingungan dengan nama grupnya. Beberapa nama dicari sampai akhrinya bertemu dengan KIAMUK.
Kiamuk dalam sejarah Banten adalah sesuatu yang akan menggetarkan musuh saat mereka berusaha menguras, menjajah, membakar dan memperbudak Banten. Suaranya menggelegar!. Saya suka spirit itu. Dan tangisan bayi putri saya mempertemukan saya pada keinginan di kalimat berikut ini. Saya BERNIAT MEWAKAFKAN HASIL PENJUALAN CD MUSIKALISASI KIAMUK DENGAN ALBUM “MENCARI PELANGI” UNTUK SEBUAH GERAKAN SAVE BANTEN. Silahkan digunakan semua hasil penjualan musikalisasi ini untuk sesuatu yang bermanfaat bagi Banten. Bagi orang-orang yang berkegiatan dan beraktifitas di untuk mencerdaskan, memberdayakan rakyat Banten. Saya percaya Firman Venayaksa dan teman-teman yang berkegiatan di tanah Banten juga mendukung upaya ini. Saya bukan siapa-siapa dan tidak mempunyai rencana apa-apa ke depan di Banten. Saya rakyat biasa yang pernah menghirup udara dan meminum air di tanah Banten.
Saya ingin berarti berkali-kali..tidak hanya sekali!.
Sudah capek rasanya mendengar..berkeluh kesah..protes..mengumpat..mencaci..tapi tangan kita masih terkepal tidak mau memberi. Saya juga ingin mengajak para warga Banten dimana saja berada dan yang mempunyai keahlian serta peran apa saja untuk sama-sama mewakafkan ilmu. keahliannya untuk Banten. Jika ia seorang praktisi hukum, lewat gerakan save Banten ia aktif mengadvokasi kepentingan rakyat Banten. Jika ia seniman ia berkarya yang membangun kebudayaan Banten, jika ia wartawan ia bukan wartawan pesanan. Jika ia penegak hukum maka ia menjadi Umar bin khattab yang akan menggariskan huruf alif pada kerangka tulang bagi siapa saja. Siapa saja dan apa saja maka berbuatlah untuk Banten hari ini.



