Categorized | Goresan

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Posted on 19 September 2009 by goblog'er

Ada yang baru pada setiap perjumpaan dengan Ramadhan. Saat ramadhan usai, maka sesuatu itu menambah list dari karunia Tuhan yang diberikan. Begitulah tahun demi tahun seiring dengan bertambahnya usia ramadhan seperti sebuah ruangan yang masih kosong yang akan terus meminta kita untuk mengisinya dengan hal baru untuk kemudian rungan yang sudah terisi tersebut menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk kita tinggali.

Ruang kosong itu terletak di sebuah sudut dalam bangunan besar hati kita. Seberapa besar ruangan ini tersedia sangat bergantung pada seberapa besar kita mempunyai bangunan hati in dan adakah kita menganggap penting ruangan inii. Bisa saja kita hanya menempatkan ramadhan sebagai ruang kosong yang terletak di ujung paling belakang dekat ‘toilet’ dengan ukuran 1,5 X 1,5 m2 di dalamnya berisi tumpukan sampah atau kertas-kertas yang berserakan dipenuhi sarang laba-laba, tak terurus!.

Adakah Ruangan Ramadhan dalam Bangunan Hati Kita?

Bagi yang menyediakan Ramadhan sebuah ruangan sempit tanpa tujuan dan ia ada hanya sebatas upaya memenuhi tuntutan tata ruang sebuah bangunan maka besar kemungkinan si pemilik bangunan tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari ruang kosong yang bernama ramadhan tersebut. Ia menjadi ruangan yang hanya dijumpai saat Ia melintasinya. Mungkin Ia mampir kemudian membuang puntung rokok, meludah atau sekedar formalitas diam sejenak di dalamnya atau bahkan tidak akan pernah sudi untuk memasuki ruangan tersebut dan duduk di dalamnya. Sepertinya ramadhan sebuah ruangan pengap yang membatasi kebebasan hidupnya. Tak boleh makan, minum, tak boleh cipika-cipiki, tak bisa memaki dan mengumpat semau kata hati, tak mungkin berbohong, tak bisa ajojing, apalagi gosip di tengah hari bolong dan masih banyak tak boleh-tak boleh lainnya.

Bagi seseorang yang tidak begitu peduli menata bangunan hati memang tidak akan pernah memerlukan sebuah ruangan ramadhan dalam bangunan hatinya. Ia hanya menyediakan ruangan besar-besar untuk sebuah party, party, dan party..!. Tempat semua orang bisa bebas datang berlalu lalang dan melolong mengikuti rentak irama musik kehidupan tanpa mengenal aturan. Kepala terus menggeleng, badan bergoyang, kaki dihentakkan, seringai tawa, kepulan asap, bau alkohol, sesekali makian tanda persahabatan begitu asik tanpa henti..tanpa henti sampai akhirnya jantung kehidupan yang diberikan terbatas ‘life timenya’ pun berhenti. Ia mati kelelahan tanpa sempat berhenti untuk membenahi ruangan ‘pesta’ kehidupan yang berantakan seperti kapal pecah. ‘Ceceran makanan dan minuman yang tidak jelas halal haramnya’, ‘puntung rokok makruh dan kesubhatan’, ’tissue pengelap kotoran dosa’, ‘kulit kacang dosa-dosa kecil yang berhamburan’ dan masih banyak lagi ’sampa’h yang memenuhi ruangan besar dalam bangunan hatinya.

Menata Kehidupan, Menata Ruang Ramadhan

Andai saja..andai saja Ia berdiri di sebuah ruangan yang bisa memandang hall pesta kehidupan dan menghentikan pesta itu sejenak dalam keadaan segar memakai akal sehat serta memenuhi kemauan fitrah ruhnya maka betapa ia akan muak dengan semua kekacauan yang ia lihat di dalam bangunan hatinya. Nah..ramadhan adalah ruangan di mana kita berdiri memandang dan memulai untuk mengatur strategi sudah benarkah kita menata ruangan di dalam bangunan hati ini. Berdiri dan mentafakuri dalam kondisi bebas intervensi dari ‘teman’ nafsu yang sering mempengaruhi dan memperdayai. Maklum, teman nafsu yang menjadi penghuni bersama dalam bangunan hati ini memang ’seorang’ yang bergaya hidup hedonis, suka-suka, free life, ia memang DJ yang memutar piringan musik kehidupan kita, ia pula event organizer yang mengatur siapa yang boleh dan bisa datang, ia memang master ceremonial dalam bangunan hati. Saat ramadhan, teman kita yang satu ini diliburkan sejenak pulang kampung dan kita lah yang sesungguhnya pengelola bangunan hati ini.

Saat ini saya berada di ruangan ramadhan dan sebentar lagi hendak beranjak meninggalkan ruangan ini. Untuk kesekian kalinya saya memandang bangunan hati dengan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Sudahkah semua ruangan ini benar sebagaimana perintah dari Sang Pemilik hati, Tuhan Semesta alam? Dimana akan saya letakkan ruangan syukur? seberapa besar semestinya ruangan syukur ini saya tujukan. Sudahkah saya merenovasi ruangan tamu yang biasa pakai untuk bergaul? mungkin saya jarang memberikan wajah yang menyenangkan hati ketika tamu datang atau saya sering menjawab dengan ketus tak enak didengar. Dan masih banyak yang saya pikir harus dirubah. Oh ya..!saya harus menyediakan ruang ikhlas dan sabar seluas-luasnya. Alamaak..! mengapa saya masih belum mau membongkar ruang prasangka dan buruk sangka ini? bukankah ini yang menjadi biang kerok kacaunya hidup saya selama ini?

Ramadhan dalam hitungan menit akan usai. Saya masih dijejali beragam pekerjaan rumah untuk menata ruangan dalam bangunan hati. Tak pernah cukup waktu yang disediakan untuk mengecek semua ruangan. Sementara esok, hingar bingar itu datang lagi. Bising..! bisingnya hati ini..pintaku pada-MU Rabb, temukan hambamu dengan ramadhan lagi tahun depan. Belum siap hamba berjumpa dengan-MU dengan bangunan hati yang kumuh tak beraturan.

Dari Tepian Teluk Persia,

” Bukankah mereka yang datang dengan hati yang ’selamatlah’ (qolbun salim) yang dapat bertemu Tuhannya?”

2 Comments For This Post

  1. BS Says:

    Bersilaturahmi kepada semua teman-teman
    Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir bathin.

  2. admin Says:

    muhun teh..sami. neda dihapunteun samudaya kalepatan..

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here