Categorized | Goresan

Revolusi Buruh Migran dan Seikat Cerita Kemiskinan

Posted on 04 September 2009 by goblog'er

Kemiskinan dan Dogma, Miskin=Surga?

Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin).
(HR. Al Bukhari dan Muslim)”

“Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun(1) sebelum orang-orang kaya memasukinya. ” (Al Hadist)

“Jika ingin bertemu dengan Tuhan, maka temuilah orang-orang miskin”, (sufi)

“Kesengsaraan yg paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.” (Al Hadist)

“Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (Al Hadist)

Ibrahim bin Adham mungkin satu-satunya manusia yang tidak akan pernah kita temui di masa sekarang. Seorang raja yang hidup bergelimang harta, kekuasaan, tinggal di istana mewah dengan halaman luas dan pagar yang tinggi. Semua kemudahan dikaruniakan kepadanya hingga pada suatu hari semua ditinggalkan dan memilih hidup sebagai orang biasa yang miskin dan bersahaja.

Siapa yang berani miskin? Apa yang salah dengan kemiskinan? dan masih banyak pertanyaan yang mengantri di benak menunggu jawaban. Kemiskinan sebuah mimpi buruk yang ditakuti manusia di penghujung peradaban saat ini. Ia adalah label penistaan lengkap dengan legalisir dari RT sampai kecamatan untuk (diizinkan) ditindas, dibohongi, diming-imingi, ditipu, dikadali bukan hanya psikis tapi juga fisik. Tidak cuma cercaan, hinaan, serapah kotor, tetapi juga penghianatan dan perampasan hak hidup.

Kemiskinan dan Negara Demokrasi

Manusia yang sudah dicap miskin maka ia adalah mangsa. Dalam politik suaranya si miskin dan si kaya sama. Sah-sah saja demokrasi, sekelompok orang memelihara kemiskinan agar hajat politiknya senantiasa terpenuhi. Maka dalam pesta demokrasi terjadi siklus 5 tahunan. Di mulai dari zero tahun, dikenal dengan musim kampanye. Semua modal dikerahkan, Hutang pun menumpuk, masa pemilih yang miskin adalah mangsa empuk. Saat kedudukan dan target partai tercapai, fase berikutnya refund. Hutang-hutang dilunasi lewat rebutan proyek, sodok kanan dan kiri. Rapat, sidak, kunjungan kerja, studi banding, pembahasan anggaran, dan entah apalagi namanya, yang jelas semua bisa memenuhi pundi-pundi modal politik. Proses ini berjalan sampai tahun ketiga. Tahun keempat dan kelima tahun persiapan untuk pemilu berikutnya. Perlu modal lebih besar!

Kemiskinan adalah kebodohan. Fase kehidupan yang paling gelap dalam sejarah anak Adam. “Orang miskin dilarang sekolah”, adalah jargon terselubung di dunia pendidikan. Atas nama peningkatan kualitas pendidikan, minimnya bantuan pemerintah, serta peningkatan kesejahteraan guru melahirkan fatwa halal bagi biaya pendidikan tinggi nan melambung. Bukan hanya sekolah umum saja tetapi sekolah dengan label agama disertai plus atau terpartri, atau dengan embel-embel ‘terlengkap’ ‘teruji’ mungkin juga ‘tersholeh’ menetapkan biaya pendidikan yang selangit. Anak-anak dari keluarga miskin yang mengandalkan BLT dalam biaya hidup sehari-hari harus rela sekolah ‘pinggiran’ yang guru, kepala sekolah dan murid-muridnya adalah potret berkaratnya seikat cerita kemiskinan. Sekolah ini tinggal menunggu waktunya saja untuk kemudian sekarat, dan mati. Anak-anak yang orang tuanya miskin dan lebih mementingkan rokok itu pun lambat laun takut bermimpi. Kenyataan begitu keras menampar kehidupan. Semua berakhir dengan putus sekolah. Akses pendidikan memang baru sebatas gedung sekolah dan kebodohan akan kita temui di jalanan.

Lingkaran ‘kelam’ dari kemiskinan menjerumuskan manusia turun temurun. Jika si bapak dan ibu miskin maka anak-anak mereka pun miskin. Pekerjaan dengan posisi empuk dengan gaji serta fasilitas mewah hanya bisa didapatkan dengan titel berjejer. Simbol dari ikan besar hanya bisa didapat dengan kail yang besar pula. Anak-anak dari kelurga miskin melahirkan tenaga kerja untuk kelas bawah. Buruh kasar, kuli panggul, tenaga kontrak dan borongan. Tak ada jaminan kesehatan, fasilitas perumahan, pendidikan, apalagi tunjangan karir. Selesai jasa serta keringat mereka diperas kemudian dicampakan.

Revolusi Buruh Migran dan Pemberantasan Kemiskinan

Seikat cerita kemiskinan. Ia seperti belenggu yang menjerat manusia hingga beberapa generasi. Penguasa yang lalai dalam menunaikan tugasnya menjadi kian lemah syahwat dalam memutus rantai kemiskinan. Alih-alih memutus rantai kemiskinan yang ada justru melanggengkan kantong-kantong kemiskinan. Memutus rantai kemiskinan tidak harus dengan membagikan uang pada setiap kepala keluarga miskin. Namun cukup dengan meningkatkan kualitas pendidikan dengan biaya seminim-minimnya. Tidak ada lagi sekolah mahal baik itu negeri maupun swasta. Bebaskan rakyat untuk belajar sepuas-puasnya. Tidak ada perguruan tinggi yang membuat jalur khusus lagi hanya untuk segelintir mereka yang kaya. Biarkan satu generasi merasakan pendidikan hingga perguruan tinggi. Darimana semua dana operasionalnya? Pusat dan daerah mampu mewujudkan. Berikan kesempatan satu generasi saja menikmati pendidikan hingga universitas maka niscaya mereka yang terlahir dengan pendidikan tinggi ini bisa memberdayakan diri mereka sendiri dengan keilmuannya. Para pekerja dengan ilmu dan keterampilan bisa dilepaskan berdikari hingga menjadi tenaga kerja/ buruh migran di negara lain.

Dunia semakin mengecil. Para tenaga kerja terampil banyak dicari oleh bangsa lain. bayangkan jika jutaan tenaga kerja Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan bisa bersaing dan menyerap berbagai posisi di negara asing dengan gaji dan kesejahteraan yang lebih baik maka imbasnya akan mengalir kepada saudara dan handaitaulan mereka. Dengan komposisi tenaga kerja yang masih didominasi oleh buruh kasar dan unskill labour saja para tenaga kerja Indonesia mampu mengirimkan uang 100 trilyun bagi negerinya! pertahun. Semua jerih keringat mereka bukan berarti tanpa pengorbanan. Kita sudah muak dan bosan dengan cerita penyiksaan, penganiayaan, pemorkoasaan serta penistaan lainnya. Bayangkan jika semua tenaga kerja yang ada adalah tenaga terdidik dan terampil!. Berapa besar yang dapat disumbangkan?

Dalam data Institut Migrant worker, Indonesia masih jauh kalah dibanding tenaga kerja Filipina. kesadaran pemerintah Filipina dalam mendorong warga negara untuk menjadi para pekerja terdidik dan terampil sangat kuat. Ini karena pemerintah Filipina tahu betul, remittance para tenaga kerja mereka sangat membantu perekonomian negaranya. Jargon tenaga kerja migran sebagai pahlawan devisa bukan sekedar fake campaign!. Seorang buruh wanita, pembantu rumah tangga yang akan dihukum mati saja bisa selamat dan bebas oleh campur tangan presiden mereka saat itu. Seorang presiden mengurus pembantu?! itu sebuah nilai kemanusiaan yang luar biasa!. Sementara para pembantu rumah tangga Indonesia dari yang hamil tidak jelas, dianiaya bahkan konon hingga ada yang hilang atau ditemukan di tempat sampah dalam kondisi menggenaskan dan yang harus mati terkena hukum had (hukuman mati) semua berlalu begitu saja. masih segar dalam ingatan kita, ketika ratusan warga Indonesia berada di kolong jembatan di pinggiran kota Jeddah (mungkin sekarang masih kelar?). Apakah tidak cukup merasa dinistakan? atau kita memang sudah bebal dan tebal muka melihat anak bangsa sendiri dibiarkan tersiksa. Mereka mungkin salah karena tinggal secara ilegal namun kita perlu juga bertanya apakah kita sebagai anak bangsa pernah memperlakukan anak bangsa lain yang overstay dengan menempatkannya dipinggiran tol jagorawi misalnya?.

Jika pemerintah sudah lelah mengangkat nasib atau memutuskan rantai kemiskinan maka cobalah tips diatas. Berikan pendidikan setinggi-tinggi untuk satu generasi, setelah lulus berikan mereka pasport kemana saja ke negara mana saja mereka inginkan kalau perlu hal ini dijasikan semacam produk unggulan untuk kampanye tenaga kerja profesional nan mendunia. Maka ketika semua tenaga kerja tadi terserap dibelahan negara lain mereka akan memberikan tanda terimakasihnya melalui remittance. Dana segar yang mengalir ke dalam negeri bisa membantu menggerakkan roda perekonomian. Mereka datang dengan modal segar lagi halal. Bebas dari money laundry. Cita-cita indonesia menjadi bangsa maju bisa dipercepat ketika angka kemsikinan bisa direvolusi. Sehingga tidak ada lagi cerita seikat cerita kemiskinan dari generasi ke generasi.


1 Comments For This Post

  1. Rumpun Tjoet Njak Dien Says:

    Rumpun Tjoet Njak Dien adalah lembaga sosial yang bergerak dalam penguatan, pendampingan dan perlindungan pekerja rumah tangga. Kunjungi blog kami di rumpuntjoetnjakdien.blogspot.com dan website kami di http://www.rtnd.org. Hidup PRT!

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here