Categorized | Goresan

Menembus ‘Rub al Khali’, ‘Dinner La Bedouin’ dan Syair Bedouin

Posted on 12 May 2009 by goblog'er

Saya pernah menulis tentang Rub al khali (empty quarter), sebuah gurun yang luasnya ratusan ribu kilometer persegi. Daratan yang memiliki perbedaan temperatur ekstrim saat siang dan malam terlebih di musim panas yang baru tiba ini. Ruwais, kota kecil yang cantik tempat kami tinggal sekeluarga sebenarnya masih berada dalam wilayah ini. Cuma memang letaknya berada di pesisir teluk Persia. Kota Ruwais adalah kota kedua terdekat setelah Al-Sila dari arah border Saudi. Ke dua kota ini memang kota paling barat negeri UAE. Halaman depan kami sangat luas menghampar. JIka naik ke atas gedung maka hamparan gurun rub al khali begitu menggoda untuk dijelajahi.

Menembus ‘Halaman Belakang’ Rub al khali
Selepas magrib saya dijemput oleh tiga warga pribumi dan seorang sobat (Bin Husen) dengan mengendarai nissan patrol. Acaranya memang masih belum begitu jelas. Namun saat diberitahu akan ‘menggerayangi’ gurun di belakang kota Ruwais saya menjadi bergitu bersemangat. Lewat gate security di belakang istana syeikh Khalifa kami mulai ‘ekspedisi’ ini. Raungan 4wd nissan patrol yang menerjang gundukan-gundukan pasir menjadi menu pembuka perjalanan malam itu. Sesekali sang driver, Bin Sheiba lelaki yang mempunyai trah Bedouin menggoda adrenalin kami. Mobil yang dikendarai seperti kuda liar dalam acara rodea. Berputar-putar, meraung, zigzag, melompat, terlebih saat menerjang gundukan yang lebih tinggi dan dibawahnya ternyata ada kobakan kosong. Bedebum, bruumm..! kami bersorak!

Suasananya memang menyenangkan. seperti arena pasar malam. Terlebih saat kami tidak diperkenankan mengenakan safety belt. Mobil 4wd seperti hendak ’slightly turn over’, namun kembali ke posisi normal karena kepiawaian sang pengemudi. Bagaimanapun saya harus akui lelaki bedouin ini sangat terampil. Ia memang lahir dan besar di jazirah ini. Dalam tulisan saya tentang Bedu sebelumnya, suku ini memang salah satu suku tertua yang masih eksis. Bedu atau bedouin adalah anak-anak manusia yang mempunyai garis keturunan hingga Ibrahim/ Abraham. Seperti sebuah sumpah kesetiaan, Bedu memilih tinggal dan bersahabat bersama gurun.Kami semua larut dalam perjalanan yang mengasyikkan. Kami terus menembus lebih dalam ke arah gurun. Meninggalkan gemerlap lampu kota Ruwais. Lebih dalam, terus menjauh hingga sampai pada sebuah tempat entah dimana karena kami tidak membawa GPS di padang dengan pasir lembut dan pohon Romts yang tumbuh liar di sekitarnya.

Dinner La Bedouin (Makan Malam Ala Bedouin)
Bulan seperti potongan semangka. Cahayanya masih redup. Terhalang oleh bukit-bukit pasir rub al khali. Kami memutuskan berhenti dan menggelar perbekalan yang telah disiapkan. Mungkin ini tujuan kami sebenarnya. Makan malam di tengah gurun rub al khali. Ranting-ranting kering Romts dikumpulkan untuk bahan kayu bakar.Romts salah satu keajaiban di gurun. Tumbuhan ini bisa hidup di daerah kering minim air Selain menjadi makanan gamel/unta, kegunaannya untuk bahan bakar memasak. Baranya seperti bara batok kelapa, awet. Menu makan malam yaitu ‘Dajjaj kabsah wa magdi’ (chicken kabsah-semacam nasi kebuli dan grilled chicken). Cara memasaknya seperti ‘gonjlengan’ di rumah dunia. Bedanya ayam dan nasi dicampur menjadi satu bersama bumbu. Dimasukan dulu bawang bombai, tomat, dan bumbu lainnya untuk ditumis, kemudian potongan ayam. Ditambahkan air dulu sedikit. Setelah dianggap cukup meresap baru dimasukan beras dan air secukupnya. Dimasak dalam bara yang tidak terlalu besar. Sebenarnya menu dajjaj kabsah ini pengganti dari kharouf. Menu Bedouin sesungguhnya adalah kharouf. Dagingnya kambing muda atau juga daging onta. Menurut tradisi bedouin cara mereka menghormati tamu dengan memotong onta dan masakannya disajikan kepada tamu.

Sambil menunggu chicken kabsah dan grilled chicken yang dibulak-balikan, gahwah arabic disiapkan. gahwah atau kopi arabic rasanya menjadi lebih nikmat dan aromanya menjadi spesial jika dicampur dengan ‘heil dan ghirfah’. Gahwah biasa disajikan tanpa gula. Kadar pahitnya bisa disesuaikan selera. Namun dengan tambahan ‘heil dan ghirfah’ rasanya menjadi unik dan segar. Gahwah dimasak dengan teko arabic seperti dalam kisah aladin. gelasnya kecil-kecil jika ingin tambah, cukup gelas diangkat maka tuan rumah akan menuangkan gahwah kembali. Jika sudah cukup, cangkir kecil mesti diacungkan dan digoyang-goyangkan oleh jari-jari kita. Singkatnya, perjalana kami membelah malam, menusuk perut rub al khali yang sepi tidak sia-sia. Makanan yang dimakan bersama dalam satu nampan besar cukup mengenyangkan perut lima orang. Tradisi makan bedu selalu bersama dalam satu wadah. Digelar seperti acara muludan. Kebersamaan akan semakin kental dan kuat dengan tradisi semacam ini.

Sambil menunggu makanan turun, kami ditawari Shisha. Sekedar ingin tahu rasanya saya ikut mencoba. Shisha memang rokok khas Arab yang beraroma khas. Pipa cangklongnya khas dan besar. Aromanya memang diambil dari rasa buah. Malam itu shisha yang dibawa beraroma apel. Saya tidak tahu apakah shisha sama dengan rokok, alias sama-sama mempunyai kadar nikotin. Hanya memang menghisap shisha perlu tarikan napas yang dalam. Seperti menghisap gas menggunakan selang. Umumnya pandangan masyarakat arab terhadap shisha sama dengan pandangan orang Indonesia terhadap rokok. Hanya untuk orang dewasa saja dan dianggap sesuatu yang kurang lazim atau kurang baik jika yang menghisapnya seorang mutawa. Mutawa adalah sebutan seorang alim dalam hal ilmu agama, Kiyai jika ia di Jawa. Namun di Jawa Kiyai bebas merokok.

Syair Bedouin
Merebahkan diri di atas pasir-pasir lembut dan memandang langit dengan bintang yang bertebaran begitu menenangkan. Tak ada sesuatu yang menghalangi pandangan kami. Langit begitu polos menelingkupi. Cahaya bulan perlahan mulai sedikit menerangi. Maha suci Allah yang menjadikan malam dan siang sebuah pasangan yang serasi dalam kehidupan. Saya Menikmati kesunyian di hamparan padang pasir dengan bermandikan cahaya. Sunyi, tanpa suara jangkrik. Badan terlentang mencoba mengitung bintang. Gugusan rasi bintang scorpio tetap menggantung setia tak berubah letak susunannya. Bin Sheiba mulai membacakan syair dalam bahasa arab. Saya masih sulit memahami namun mendengarnya sudah cukup menyenangkan. Kebiasaan orang arab dalam syair sudah sedari dulu. Syair-syair itu turut hidup dalam kehidupan mereka. Seperti air dalam kehidupan manusia. Cerita tentang seorang Qandariyah-lelaki bedouin, cinta, asmara, anak, keluarga, peperangan, pemimpin, gurun, langit, hujan, semua disyairkan. Sangat indah!

Dalam tulisan saya tentang “syair million” bisa lebih jelas menjadi gambaran betapa masyarakat arab memang terampil dalam hal kata. hadiah besar disediakan untuk sebauh kompetisi bergengsi membacakan syair karangan sendiri. Saya sendiri suka membaca syair arab dan mencoba cari tahu artinya. Syair-syair mereka begitu membumi. Deskripsi dan metaforanya selalu segar dipahami. Ada seorang penyanyi terkenal di jazirah ini, Muhammad Abduh namanya. Ia legendaris yang menyanyikan syair, seperti halnya musikalisasi puisi. Lagu-lagunya digandrungi para pemuda lokal. Bedouin pun sangat gandrung dengan syair. Jika mendengar seorang bedu/ bedouin mengungkapkan syair sekalipun tideak mengerti kita tetap bisa menikmatinya. Di Dubai baru-baru ini juga dipentaskan sebuah ajang penampilan pembacaan puisi lintas bahasa. Semua warga dunia hadir menikmati syair dalam bahasa yang berbeda. Ya, syair dan puisi adalah ungkapan bahasa kalbu manusia.

Pukul 23.00 malam. Karena kami harus bekerja esok pagi maka Kami segera berkemas. Sayang sekali mengakhiri ini semua. Semua dibereskan dan siap menuju ke kota cantik, Ruwais namanya. Seperti biasa desert safari dimulai kembali. Mobil dipacu kecepatan tinggi. Semua diterjang. Meraung-raung, berputar-putar, melompat, sizzag, ya!seperti kuda liar. Di tengah perjalanan sang driver melihat arnab.Sejenis kelinci gurun. “Syuf..! arnab!” , lihat kelinci!. Seperti kerasukan mobil dipacu seperti harimau yang berlari mengejar mangsa. Mobil terapung-apung di atas bukit-bukit pasir. Tidak ada yang ingat ke arah mana kami berlari. Menerobos gelapnya malam. Baru hendak pulang, tiba-tiba muncul lagi kelinci gurun kemudian dikejar lagi. Biasanya jika kelelahan kelinci ini akan berhenti seperti pasrah menerima nasib yang akan menimpanya. Sampai satu ketika, kami mengingatkan dirver untuk pulang. Dan, Kami baru tersadar bahwa kami kehilangan arah. Get Lost on the desert!
(continue)

 

Howgh!
,Dari tepian teluk Persia

1 Comments For This Post

  1. Redi Says:

    Salam kenal

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here