Wajahnya sepert cermin yang bersih. Memandangnya seperti membuat teduh batin. JIka boleh, aku ingin memeluknya erat dan tidak kulepaskan.
Wajah inilah aku doakan siang dan malam. Wajah yang akan bercahaya nanti di padang mahsyar. Rabbi.., kupinta untuk selamatkan wajahnya dari api jahannam.
Saat lelah, raut wajah inilah yang membangunkan semangat. Saat sedih, wajahnya obat pelipur lara. Pun ketika gundah gulana. Ia seperti mantra ajaib yang membisukan kekacauan.
Wajah kedua anakku yang melekat dibilik jiwa yahandanya yang lusuh seperti kilauan mutiara dalam onggokan sesuatu yang usang.




April 28th, 2009 at 7:45 am
Aku dulu menulis puisi dengan judul wajah. Tapi wajahnya wajah tak dikenal
Hanya saja puisiku kubuat buat wajah yang ganteng haha