Categorized | Jurnal

Meranggas di Musim Panas

Posted on 22 April 2009 by goblog'er

April. Beberapa pohon perlahan mulai meranggas. Mengucapkan selamat tinggal pada dedaunan. Satu persatu meninggalkan ranting dan cabang. menguning kemudian mengering berguguran. Sepertinya perpisahan begitu berat untuk diucapkan. Namun memang seperti inilah cara agar pohon itu bisa bertahan di musim panas, di batas empty quarter, tepian teluk Persia. Saat semilir angin berubah seperti tamparan keras yang menyengat di pipi. Matahari merajang hamparan pasir seperti hendak menjadikannya santapan siang. Kami memang kelebihan cahaya beberapa bulan ke depan. Semua terasa memutih. Beberapa kali kupandangi pohon tersebut saat melintas mesjid Abdul Aziz, Ruwais. Entah pohon apa namanya. Mungkin tak penting untuk diketahui seperti halnya ratusan jamaah yang lalu lalang menganggap hampa kosong saja pada apa yang terjadi pada pohon tersebut.

Di seberang pohon tadi berdiri kokoh batang yang lurus, tegak. pelepah daunnya rimbun, menghijau. Dari sela-sela pelepah menjulur bakal buah yang sebentar saja begitu cepat membesar, menghijau. Ada yang kekuningan juga ada yang kemerahan. Hingga kemudian matang pada saat udara hangat dan basah. Pepohonan kurma yang berderat rapih di sepanjang jalan-jalan komplek perumahan Ruwais memang selalu menggoda untuk dipetik saat kita tergesa-gesa melaluinya karena sengatan matahari. Panas memang menjadi inspirasi bagi penghuni gurun yang satu ini. Seolah banyaknya sinar matahari yang terserap ikut memberikan citra rasa buah yang dihasilkan. Ada yang manis terasa lembut di lidah. Tidak kurang dan lebih. Takaran fruktosa begitu pas di lidah. Menikmati buah kurma yang matang di pohon memang tiada duanya. Jauh berbeda dengan buah kurma yang biasa kita beli di pasar,toko atau mall. Semewah apapun kemasannya rasanya tidak sebanding dengan kelezatan yang kita petik dengan tangan sendiri. Begitu ‘gentle’ dan mengesankan seperti halnya menikmati coklat panas yang terhidang yang baru saja dibuat oleh para masterpiece di gunung Alpen sana.

Hubungan antara pohon yang meranggas dan pohon kurma keduanya baik-baik saja. Mungkin sekedar saling menyapa dan kemudian terdiam. Keduanya mengerti bagaimana menghadapi kondisi alam. Saya lupa menanyakan lulusan apa kedua pohon yang Allah ciptakan ini. Satu pohon melepas semua dedaunan, ‘bertelanjang’ dengan hanya ranting dan cabang hingga saatnya lima atau enam bulan berikutnya kembali mengenakan baju hijaunya. Sedangkan pohon yang satu lagi justru ‘menyambut gembira’ panas yang tercipta. Buahnya bermunculan, ranum dan menggoda. Maha suci Allah yang tidak menjadikan sesuatu, yaitu teriknya musim panas, hanya untuk sia-sia belaka. Maka di atas padang kehidupan aku pun berharap bisa seperti pohon yang ‘meranggas’ jika keadaan serta nasib yang diterima begitu berat menghimpit. Begitu banyak cara kita untuk mampu bertahan dalam memenangkan berbagai persoalan hidup. Rumus input harus balance dengan output adalah kunci sederhana. Kita memang harus merelakan sesuatu yang sebelumnya pernah dimiliki dan membanggakan untuk kemudian dilepas pergi sesuai ketentuan sunnah-Nya.

Mungkin cara pohon kurma adalah sebuah inspirasi dahsyat. Saat semua makhluk sembunyi dan mengurung diri di tengah teriknya mentari. Pohon kurma berdiri tegak menghadang. Lurus dan kokoh. Disambutnya sinar matahari diserap dan dikunyah. Hasilnya buah kurma yang manis, lembut, dan melezatkan. Kemudian buah itu tersebar hingga ke pelosok Alaska sekalipun. Tidak ada kondisi yang ideal memang dalam hidup ini. Namun kondisi sulit sekalipun akan selalu tercipta peluang yang menjanjikan bagi siapa saja yang mau dan tegar menerjang badai kehidupan. Peluang bukan sebuah hadiah tapi ia terlahir dari keuletan yang garang. Kondisi ekonomi sesulit apapun akan tetap melahirkan banyak peluang. Bagi yang meranggas dan sedang berbuah senantiasa bertasbihlah pada Sang Khalik. Sungguh Allah tidak menjadikan sesuatu hanya untuk sia-sia belaka. Subhanallah!

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here