Oleh Firman Venayaksa
Tanggal 4 Januari 2009 yang lalu, saya diundang dalam acara pernikahan oleh seorang kawan, personil komunitas musikalisasi puisi “Hajar Aswad” di Ciwidey-Bandung. Namanya Yanyan. Di Hajar Aswad dia main perkusi (spesialisasi Jimbe). Ketika itu personil yang lain juga datang, seperti Sandi pemain keyboard, Asep Ibeng pemain biola I, Irfan Gomez pemain biola II, dan Ivan Kondor pemain gitar melodi. Sementara pemain lainnya seperti Bagja pemain bass dan Ayi Ittah pemain flute berhalangan hadir.
Pertemuan di sebuah kampung yang sejuk itu membuat kami bergairah melepas kangen. Hingga menjelang jam dua dini hari kami terus bermain musikalisasi puisi (untuk sementara kami “melupakan” anak dan bini). Duh, perjumpaan yang cukup menyenangkan. Sudah lebih dari dua tahun kami tak bermain bersama. Terakhir di awal tahun 2006 kami main di Depdiknas dalam acara World Book Day. Setelah itu, dengan pelbagai kesibukan masing-masing, selesai sudah komunitas yang kami bangun semenjak tahun 2000. Mengenaskan memang. Padahal sejumput mimpi pernah kami bangun bersama. Dulu kami latihan gila-gilaan. Dari jam delapan malam hingga subuh, di gedung pentagon-UPI Bandung, rutin kami berdiskusi puisi dan musik, berlatih, bertengkar gara-gara kunci lagu, kata-kata dan arransemen. Bahkan, kami pernah masuk dapur rekaman, dilamar oleh sebuah perusahaan musik di Jakarta. Mimipi kami hampir saja terwujud, tetapi takdir bicara lain.
Kini semua personil menjadi dirinya, berjalan sendiri-sendiri menemukan muara hidupnya. Sandi benar-benar menjadi ustad yang cukup serius dengan janggut tipis dan kopiah yang tak lepas dari kepalanya, dihiasi warna hitam di keningnya. Bahkan Fitri yang dulu sempat menjadi manager Hajar Aswad dan dinikahinya, kini menjadi perempuan berjilbab lengkap dengan cadar. Ivan Gomez bersetia menjadi guru les biola bagi anak-anak dan menciptakan generasi cukup memukau. Asep Ibeng menjadi PNS, guru SMA di Bandung. Dia pernah mengantarkan siswanya menjadi finalis di acara festival musikalisasi puisi se-Indonesia di Pusat Bahasa. Ivan Kondor menjadi editor di sebuah penerbitan di Bandung. Bagja bersetia kerja di Daaruttauhid. Yanyan menjadi guru TK dan membuat kursus perkusi. Anak-anak binaannya bahkan pernah meraih rekor MURI. Ayi Ittah yang pernah terbang ke Inggris karena musik, dia yang sangat seniman itu kini terjelembab pula ke jurang PNS, padahal konon dia akan hidup menjadi pemain teater. Semua menjadi berubah. Begitulah hidup.
Beberapa kali, kami memang ingin bertemu kembali, bermusik kembali. Tapi kesibukan yang berbeda, tempat tidur yang berjauhan, membuat kami sulit mewujudkan hal itu. Salah satu hal mengapa Hajar Aswad seperti sekarang, tentu bagian dari ulah saya. Saya memilih kembali ke Banten. Bandung terlalu stagnan untuk saya. Semua terlalu tersedia dan itu sama sekali tak bagus untuk pengembangan diri saya sebagai “sufi gagal.”
Demikianlah. Maka, tanpa berpusing ingin mengumpulkan semua personil, saya tetap bersetia dengan musikalisasi puisi. Kendati tak lagi punya komunitas, beberapa puisi terus saya garap. Hingga tahun ini, saya sudah menggarap lebih dari 40 musikalisasi puisi. Dan tentu saja hal tersebut butuh penyaluran, mengomunikasikan dengan publik. Bisa jerawatan kalau saya tak menyodorkan kepada khalayak.
Lalu saya mengajak Wahyu, salah seorang mahasiswa saya yang lumayan bisa main gitar. Kemudian saya ajak juga Roy, Relawan Rumah Dunia yang dulu pernah menjadi pengamen jalanan untuk main perkusi. Waktu Roy SD, saya pernah mengajar nyanyi di Rumah Dunia, dan Roy cukup konsisten rupanya. Saya juga mengajak Rizal, relawan Rumah Dunia. Sayangnya dia sedang konsentrasi menyelesaikan skrpisi dan alat bass rupanya tak terlalu membuat hatinya tertarik. Akhirnya tanpa pemain bass kami berkumpul.
Sambil mencari pemain bas, kami pun mulai mengaransemen beberapa lagu. Memang rumit kalau dibandingkan dengan anak-anak Hajar Aswad. Dulu, biasanya saya suka membuat lagunya, arransemen saya berikan kepada teman-teman lain yang hampir semuanya kuliah di Jurusan Seni Musik. Kini dengan keterbatasan saya, selain membuat lagu, saya juga harus mengaransemen dengan gaya jalanan. Cuma pakai feeling. Tetapi semua berjalan dengan lancar. Hingga saat ini kami sudah mengaransemen 12 lagu selama tiga bulan. Lumayanlah walau lambat. Ketika saya menghubungi Asep Ibeng untuk meminta bantuan mengarransemen, dia memberikan info yang menarik. Dia katakan ada salah seorang temannya dari jurusan musik yang dulu pernah membantu konser Hajar Aswad waktu di Taman Ismail Marzuki. Kini dia diterima menjadi PNS di Kota Serang. Seketika itu juga saya kontak (namanya sama-sama Asep). Dan alhamdulillah, dalam waktu dekat dia akan ke Serang, bahkan mau bergabung menjadi relawan di Rumah Dunia.
Di tahun ini, saya dengan kawan-kawan berencana konser tunggal, bermusikalisasi puisi keliling Banten di awal bulan Mei. Awalnya saya ragu, apa lagi dengan kualitas bermusik yang sangat rata-rata. Tapi show must go on. Biarlah ini menjadi pembelajaran untuk semua personil, dan bagi saya, ini persoalan eksistensi.
Setelah dikomunikasikan dengan beberapa penyair yang saya buat lagunya seperti Toto ST Radik, Gola Gong, Tias Tatanka dan Wan Anwar, mereka cukup antusias. Dan yang lebih gila lagi, ketika saya chatting dengan Jaya alias Lawang Bagja di Abudhabi sana, dia dengan santai bilang akan membantu untuk merekam lagu. Jadi selain konser tunggal, kami juga bisa jualan CD musikalisasi puisi. Wah, luar biasa! Lalu kami pun mencari-cari nama untuk komunitas musikalisasi puisi ini. Sebelumnya komunitas ini pernah dibaiat dengan nama Pangeling Gusti, tapi banyak yang protes. Sehabis menonton film Dead Poets Society, berubahlah namanya menjadi Carpe Diem, tapi kata Gola Gong tidak familiar dengan telinga orang Banten. Lawangbagja bertubi-tubi ngasih alternatif nama-nama, mulai dari bahasa arab hingga Kentut Semar….Tiba-tiba pikiran saya mengelana pada satu artefak Banten yang berada persis di depan museum Banten. KI AMUK! Ya, nama yang familiar, kuat, bertenaga. Akhirnya nama itu kami pakai. Semoga tak ada perubahan lagi.
Pekerjaan saya tinggal satu lagi, yaitu mencari pemain bass. Hampir tiap hari, ketika saya masuk ke kelas, saya menanyakan siapa yang bisa main bass? Belum juga ditemukan. Hingga pada dua hari yang lalu, ketika saya mengawas Ujian Akhir Semester di Untirta, saya bertemu dengan Asep (lagi-lagi bernama Asep) yang tertarik untuk bergabung menjadi pemain bass. Thank God.
Saya tak tahu apakah komunitas ini akan bisa langgeng atau porakporanda. Tetapi nama KI AMUK begitu kuat, bertenaga, menggelegar di setiap telinga yang mendengarnya. Semoga nama ini menjadi berkah, sehingga semua menjadi tak sia-sia adanya.
Tanah Air, 2009


