Sebut saja Alam. 31 tahun umurnya. Lulusan sarjana ekonomi di sebuah universitas Bangladesh ini mengadu nasib menjadi supir taxi di Dubai. Ijazah baginya bukan jaminan meraih pekerjaan impian. Selama penghasilan yang diterima cukup memenuhi kebutuhannya apapun jenis kerjaannya tidak jadi soal. Seperti warga dunia ketiga lainnya, gemerlap Dubai memang menjadi magnet yang ikut menariknya kedalam pusaran roda nasib.
Alam bekerja 12 jam setiap harinya sebagai supir taxi. Bergantian (shift) dengan patnernya yang sudah lama ia kenal sejak masa sekolah dulu. Hidup di kota besar seperti Dubai yang multi etnis dari belahan dunia lainnya menuntut Alam mahir berbicara dalam beberapa bahasa seperti Inggris, Hindi, Benggali, dan Arab.
Alam tidak sendirian di Dubai. Ada beberapa temannya yang berasal dari kampung mereka di Dhaka, Bangladesh. Dan mereka tinggal saling berdekatan di Dubai. Mengundi nasib dengan bekal titel sarjana ekonomi ia bekerja sebagai supir taxi walaupun itu bukan pilihan sebenarnya. Tuntutan ekonomi dari keluarga besarnya di Dhaka menguatkan ia untuk siap bertarung di kerasnya kota Dubai. Bukan hanya anak dan isteri Alam saja yang butuh biaya. Seperti warga dunia lainnya yang merantau di Dubai dan Abu Dhabi sekitarnya, Alam menjadi tumpuan dari adik, paman, bibi, dan lain sebagainya.
Sudah menjadi hal yang lumrah jika ada salah satu saudara bekerja di luar negeri maka kerabat dan handaitaulan berharap cukup banyak padanya. Namun Alam menjalaninya cukup berbahagia sekalipun hanya sebagai supir taxi. Hasil jerih payah sedikit banyak membantu keluarganya di Dhaka. Ketika ditanya penghasilannya rata-rata sebulan, Alam menjawab ia bisa mengantongi rata-rata 7000-an dirham perbulan atau sekitar 20 jutaan (dengan rate kurs 1 dolar 11 ribu rupiah).
Pernah satu ketika di bulan Oktober penghasilan Alam menembus 11 ribu dirham (32 jutaan). “Saya seperti dapat lotere rasanya”, Ujar Alam dengan wajah berbinar-binar. Namun ia sengaja tidak menceritakan hal ini kepada teman-temannya sesama supir taxi. “Saya khawatir mereka cemburu, jadi biar saja saya rahasiakan”. Tukar menukar cerita dan ’rit’ pendapatan yang mereka terima sudah hal yang lazim saat mereka kongkow di waktu-waktu tertentu.
Alam tinggal sebagai bujangan di Dubai. Anak dan isterinya tinggal di Dhaka. Bersama ke empat rekannya sesama supir taxi mereka tinggal bersama di sebuah flat yang sudah disediakan. Perusahaan yang memperkerjakannya memotong 400 dirham sebulan untuk biaya tinggal di flat. “Saya rasa ini masih cukup wajar, di Dubai sewa akomodasi sangat mahal”, ujar Alam. “Saya patungan dengan 3 rekan lainnya”. Di ruangan flat kami sudah tersedia, kursi, kasur, serta beberapa perobatan lain alakadarnya. Waktu luang ia habiskan untuk kumpul bersama teman-temannya sekedar berbincang-bincang, menonton acara TV satelit yang ia beli second seharga 300 dhs, jika ada uang lebih Alam menonton film di bioskop dan selebihnya membaca buku di saat sengggang. Saat ini ia sedang membaca “Secret” nya Rhonda Byrne.
Flat tempat tinggal Alam ada di pinggiran kota Dubai. Masifnya pembangunan di Dubai belum menyentuh lokasi jalan menuju apartemen mereka. Jalannya belum seperti di lokasi apartemen lainnya, berbatu dan berpasir. Ia terkadang kesal jika mendapati taxinya menjadi kotor.
”Kami bekerja dituntut untuk menjaga kendaraan selalu prima dan bersih. Ini sering membuat saya kesal”, gerutu alam.
Alam memang tidak seperti supir taxi lainnya. Ia tampil necis dan rapih. Seperti warga Dubai kantoran layaknya.
Biaya hidup di Dubai memang tinggi. Alam bercerita bahwa ia harus bisa mengatur pola makan dan di mana saja ia bisa mendapatkan makanan dengan harga terjangkau. Bekerja secara bergantian 12 jam perhari dengan ke empat rekannya yang sama-sama membujang memang menghadapi beberapa kendala terkait dengan pola makan. Alam bercerita, waktu yang ada ia gunakan istirahat. Sementara untuk memasak sendiri butuh waktu dan kadang bersisa. Padahal memasak salah satu cara untuk menghemat uangnya. Seringkali selama 12 jam bekerja di jalan ia menahan lapar. Sementara untuk memasak sudah tidak ada waktu. Alam bersyukur menemukan ’warung makanan’ yang cocok untuk sakunya dan kebetulan tidak ada kesulitan menjangkaunya.
Alam berharap roda nasib berpihak padanya. Dengan bekal ijazah ekonomi satu hari Alam bermimpi bekerja di menara-menara yang menjulang mencakar langit dan bisa membawa keluarganya menimati gemerlapnya Dubai. Selamat bermimpi Alam..


