Categorized | Jurnal

Bertemu Emha di Abu Dhabi

Posted on 01 January 2009 by goblog'er

Saya mendapat berita soal kedatangan Emha dan Kyai Kanjeng langsung dari Dubes Indonesia untuk UAE, Pak Wahid Supriyadi sewaktu menghadiri undangan peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Sewaktu difoto bareng bersama, beliau berkata kalau Emha dan Kyai Kanjeng bakal manggung di Abu Dhabi. Saya bahagia mendengarnya. Sepertinya sesuatu yang langka jika Emha dan Kyai Kanjeng bisa manggung di Abu DHabi dan seolah saya meragukan bisa tidaknya Emha hadir, namun karena yang bilang langsung pak Dubes maka saya percaya.

“Dipertemukan” Lewat Emha

Emha rupanya sudah digariskan terlibat dalam episode kehidupan pribadi saya. Emha memang yang mempertemukan saya dan bakal ibu dari kedua anak saya sekarang ini. Tentunya ini semua menjadi spesial bagi kehidupan saya. Ceritanya suatu pagi di tahun 1999, saat sedang menunggu bis jemputan ke pabrik saya menggunakan waktu yang ada dengan membaca. Apa saja dibaca termasuk ketika pagi itu buku kumpulan essai Emha yang kena giliran saya baca. Saya begitu asik saat itu berinteraksi dengan buah pikiran Emha. Terkadang senyum sendiri membaca kalimat-kalimat cerdas Emha. Saya memang kagum dengannya dalam mendekontruksi alur fikir orang Indonesia kala itu. Saya semakin terhanyut sampai saya tidak begitu mempedulikan siapa yang ada di hadapan, yang lewat atau yang kebetulan sama-sama menunggu bis jemputan. Tiba-tiba.. 

“Baca buku Emha ya?!” suara halus itu mengusik konsentrasi saya. Saya mencoba seperti seorang pertapa yang tahan godaan dari bisikan sang Dewi, tanpa menoleh saya menjawab “Ya!” dan mencoba kembali ke fokus kalimat yang dibaca. Kemudian 

“Saya juga suka dengan Emha! Tulisan-tulisannya bagus!” Rupanya kalimat terakhir itu bak anak panah yang melesat dari busur langsung melesat tepat mengenai sasaran.  Dewi cinta rupanya sudah berdiri di depan dengan sayap putih mengembang mengajak saya terbang ke langit biru yang di atas menunggu awan-awan tebal seperti gumpalan kapas.  

Maka kelajangan saya pun tidak lama lepas setelah peristiwa itu. Dan Emha adalah lelaki yang harus bertanggung jawab!

 Jalan Sunyi Emha

Buku terakhir yang saya beli tentang Emha adalah Jalan Sunyi yang ditulis oleh Ian Leonard Bets yang berisikan biografi Emha, pandangan para tokoh dan warga dunia tentang sosok Emha. Buku ini seperti buku kesan dan pesan orang-orang yang selama ini bersinggungan dengan Emha dan Kyai Kanjeng. Sosok Emha dan apa serta siapa dia diungkapkan bukan dari pengakuan Emha tapi dari mereka yang kenal dan mengikuti kiprahnya. Bukan hanya muslim tapi pendapat tokoh lintas agama. Bahwa manusia ini menarik dan nyentrik bukan karena hanya sebatas kiprahnya namun lebih dari itu ia ikut mendekontruksi pemikiran-pemikiran yang kita anggap lazim. Bukan untuk sebuah jabatan ia melakukannya tapi semua dilakukan untuk misi utamanya yaitu menjadi manusia biasa. Ya! manusia biasa. Dalam salah satu halaman ia menyatakan bahwa salah satu perjuangan mendasar para Nabi dan manusia hebat lainnya adalah menjadi manusia biasa seutuhnya. 

Bertemu Emha bagi orang kebanyakan seperti saya seperti bertemu dengan sahabat seperjuangan yang lama tidak jumpa. Betapa rakyat, manusia-manusia yang dianggap marjinal atau dimarjinalkan karena proses pembangunan atau karena dikorbankan demi kepentingan bangsa dan masa depan negeri begitu mencintai Emha dari kulit ari sampai tulang sumsum. Hati-hati kami sudah terpaut sekalipun raga tak pernah bersua. Saat semua tiarap dan bungkam melihat keangkuhan rezim orde baru maka Emha sendirian berdiri seolah menantang untuk ditebas. Tulisan-tulisan esainya serta aksi teatrikalnya sarat pembelaan kepada mereka yang dikorbankan.  

Manusia Indonesia itu ternyata butuh empati. Tidak banyak yang diminta kecuali cinta tulus dari para pemimpinnya dan mereka tidak bersedia memberikan. Emha hadir memberikannya serta menyatakan siap menjadi pelayan mereka. Wajarlah pengajian Padhang Mbulan selalu dihadiri ribuan orang. Konon, dalam sebulan Kyai Kanjeng bisa hadir puluhan kali. Ia bukan ustad, bukan orang pinter bahkan sekolah pun cuma sampai semester satu di UGM tapi berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan orang yang serba tahu dan menguasai ilmu masa depan. 

Bertemu Emha

22 Nopember 2008. Sejauh 250 km saya bersama beberapa teman meluncur ke kota Abu Dhabi. Semestinya Ibu dari 2 anak kami ikut pergi untuk menemui Emha guna meminta kejelasan kenapa ia ikut campur dalam kisah kehidupan kami berdua. Tetapi karena si sulung sedang ujian semester pertama dan butuh bimbingan terpaksa saya berangkat sendirian. Mulanya saya pun tidak jadi berangkat karena solidaritas walaupun hati terasa galau. Air muka saya rupanya terbaca oleh ibu anak-anak maka ia mempersilahkan saya pergi dengan ringan. Ia tentu merasakan betapa saya menggebu-gebu bertemu dengan Emha setelah terakhir kali kami bertemu di Cilegon saat acara Isra Mi’raj.

 Mina Port, Abu Dhabi 15:00. Ruang pertemuan besar belum begitu terlalu ramai. Saya masuk ke ruangan dan mata saya langsung tertuju ke panggung pertunjukan. Saya mendekat. Melihat-lihat situasi. Kemudian ke belakang panggung bertemu beberapa staf embasy yang kebetulan kenal. Saya bilang pada Pak Bambang, salah satu staf di kedubes bahwa saya ingin langsung bertemu dengan Emha. Beliau mempersilakan. Di belakang panggung ada ruangan, saya masuk ke dalam. Para kru Kyai Kanjeng sedang santai sebagian  mengobrol ngalor-ngidul. Saya tanya, mana Emha. Mereka menunjuk seseorang yang sedang tidur pulas diatas kursi.

 Seorang pria dengan memakai kopiah rajut sedang terbaring memejam mata. Saya tidak jadi menemuinya saat itu dan balik ke tempat semula. Selanjutnya saya bulak balik ke ruangan di belakang panggung. Dan Emha masih tertidur pulas. Capek rupanya. Sampai akhirnya saya putuskan duduk di pojok ruangan menemani Emha yang tertidur. Setelah sekian lama, Mbak Via (Novia Kolopaking) masuk ruangan. Saya minta izin agar ia tidak merasa terganggu saya ada di ruangan tersebut.

 Setelah bercakap-cakap dengan Mbak Via, Emha akhirnya terbangun. Beberapa saat saya memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan kesadarannya pulih. Setelah itu sorot matanya tajam menatap saya. Saya menghampiri dan kami pun berbincang. Saya bahagia kami akhirnya bertemu. Klarifikasi sudah didapatkan kenapa Emha hadir dalam hidup kami. Kami saling mendoakan.  Selanjutnya ia memberikan ‘hadiah’ untuk kami sekeluarga. Sebuah pesan yang tergores di atas halaman muka buku “Jalan Sunyi” yang saya bawa jauh-jauh dari Indonesia.

 ”Tidak terlewatkan segala sesuatu untuk dibarokahkan”, Emha

 Pesan ini begitu dalam maknanya buat saya. Begitu dalam sampai menghujam ke kalbu, saya terharu. Sebelum berpisah karena pentas Kyai Kanjeng akan dimulai kami berfoto sejenak. Emha, akhirnya kita bertemu di tanah yang sama sekali tidak terlintas sebelumnya dalam benak kita berdua. Kita kebetulan bertemu di sebuah perempatan di jalan sunyi Emha!

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here