Categorized | Kontributor

Homeostasis

Posted on 26 December 2008 by goblog'er

Keinginan berubah ada dalam diri setiap manusia. Apalagi perubahan yang dimaksud menuju kondisi yang lebih baik tentunya. Sering kita mengikuti bermacam-macam workshop untuk meningkatkan value diri kita mulai dari emotinal intelegence, indopower, achievement motivation, sampai ESQ. Pada saat lepas dari workshop kita menemukan jawaban bahwa untuk menuju hasil yang diinginkan dituntut sebuh perubahan. Namun seiring perjalanan waktu keinginan hanya sebatas keinginan dan selanjutnya kita kembali ke kondisi asal (ground state).

 Saya pribadi mempunyai cerita tentang hal ini. Berubah bagi saya sebuah proses pertarungan tiada henti di dalam diri. Ada momentum yang saya pakai sebagai media perubahan. Saya menggunakan Ramadhan sebagai laboratorium tempat reaksi intra dan inter personal menuju keadaan yang lebih baik. Namun hasilnya tak kunjung memuaskan. Sebenarnya perubahan yang saya inginkan tidak muluk-muluk dan memerlukan biaya tinggi. Ini hanya sebuah perubahan sifat dasar manusia seperti dari mudah gusar menjadi lebih sabar, yang semula selalu perhitungan dalam bekerja menjadi ikhlas dan selalu ingin memberi terbaik, suka berburuk sangka menjadi positif minded, dlsb.

 Percayalah dibalik semua workshop yang berkaitan emotional intelegece kunci yang kita temukan dibilik jiwa kita yang lusuh ini bahwa musuh yang pertama harus dirobohkan adalah keinginan untuk mempertahankan sifat asal. Seperti sebuah elektron yang setiap kali mendapat kelebihan energi ia merasa tidak nyaman dan selalu kembali pada keadaan ground state. Sama pula dengan manusia yang sudah memilih kondisi ground statenya sebagai pilihan nyaman. Seorang pemarah akan merasa bahwa dengan mudah menumpahkan amarah pada siapa saja sebagai sesuatu yang nyaman. Ia akan merasa gusar saat diminta menahan amarah atau sabar barang sebentar. Kesukaan kita kembali ke ground state itulah dikenal dengan istilah HOMEOSTASIS.

 Menurut pakar psikolog, inilah kekuatan dalam diri manusia yang paling besar. ketidaksukaan pada perubahan atau sesuatu yang baru dan berusaha mengembalikan pada kondisi semula. Ini diibaratkan seperti karet gelang, saat karet ditarik untuk diregangkan kemudian karet dilepaskan. Karet kembali pada kondisi semula. Masih menurut sudut pandang psikolog bahwa HOMESTASIS bekerja di alam bawah sadar kita.  Saat alam sadar menginginkan perubahan maka terjadi pergulatan dengan alam bawah sadar.

 Saya menganalogikan pada sebuah lingkaran elektron dengan beberapa elektron yang ada pada lintasan energi tersebut. Kestabilan sudah tercipta dan elektron bergerak sesuai dengan energinya. Dalam sebuah atom terdapat beberapa lintasan elektron. Masing-masing lintasan akan mempertahankan kondisi stabilnya. Saat elektron beranjak  menuju ke lintasan berikutnya maka ia-elektron tersebut harus kembali menyesuaikan diri  dan berusaha menemukan kenyamanan baru. Saat kenyamanan tersebut bisa dicapai maka ia akan kembali mempertahankan kestabilannya sekalipun semula ia tidak menyukainya.

 Seperti itulah kondisi homestasis pada diri manusia. Perlu energi besar untuk meruntuhkannya. Saya bisa mengambil contoh pada pengalaman pribadi. Saat memutuskan keluar bekerja dari sebuah pabrik di Cilegon dan memutuskan pindah ke tempat baru dengan lingkungan dan kehidupan baru di Gulf bukan sebuah keputusan yang mudah. Saya sudah merasakan ‘kenyamanan’ dengan lingkungan serta irama kehidupan yang ada. Bekerja mencari rizki di lain waktu dan menyempatkan waktu lainnya di lingkungan sosial berinteraksi bersama dengan memupuk idealisme sungguh indah. Meninggalkan itu semua seperti meninggalkan sebuah kehidupan dan pindah ke alam berikutnya. Di tepian waktu saya menghabiskannya dengan merenung dan berusaha untuk ‘berdamai’ dengan alam bawah sadar saya. Seperti ada sebuah kesepakatan antara alam bawah sadar dan alam sadar bahwa saya sedang menuju perubahan yang ‘lebih baik’.

 Menaklukan homestasis memang HARUS dengan kompromi. Hal tersebut pula yang dilakukan para terapist dalam memberikn konseling kepada pasien mereka. Kompromi antara alam bawah sadar dan alam sadar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Ya! lebih baik..! itu kata kucinya. Alam bawah sadar kita cenderung melakukan penolakan terhadap sebuah perubahan karena terlanjur stereotip bahwa perubahan tersebut sesuatu yang belum tentu baik dan nyaman. Usaha untuk meyakinkan alam bawah sadar memang memerlukan dialog intra personal. Jika tidak sanggup kita memerlukan teman untuk menemukan titik kompromi dalam diri kita.

 Dalam sebuah literatur, Homestasis tumbuh saat daya kritis pada diri manusia terbentuk. Makin kritis maka makin kuat daya Homeostasisnya. Pada diri anak-anak daya kritis baru berkembang. Itulah sebabnya pendidikan dini dengan menanamkan hal-hal positif lebih efektif dan manjur pada usia anak-anak. Seiring perkembangannya maka resistensi dari Homeostasis makin kuat. Di saat itulah dialog sebagai jalan keluar yang aman tanpa pertumpahan emosi.

 Sebagai penutup, Homestasis sebuah bentukan yang ada dalam diri kita. Ia hadir sebagai penjaga pola serta ritme kehidupan kita yang tanpa kita sadari kita memilihnya sebagai jalan kehidupan kita. Ia begitu setia menemani kita dalam setiap kondisi dan memberikan perlindungan dengan rasa aman yang kita rasakan. Jika ingin meninggalkan sebuah kondisi dan hijrah pada kondisi berikutnya maka ajaklah terlebih dahulu ia untuk berdialog. Tanyakan padanya apakah ia berkenan menuju sesuatu yang lebih baik. lebih baik..jangan lupa sampaikan itu padanya!.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here