cerpen
KEPADA SEORANG LELAKI
Lawangbagja
Lantai sedingin es. Masihkah aku bermimpi? Aku tak tahu berapa lama aku tergeletak diatas lantai dingin ini. Kubuka mataku perlahan. Satu-persatu kurasakan inderaku. Lantai dingin mengecup pipi dan sekujur tubuh. Lapat-lapat kudengar 2 lelaki yang berbicara dalam bahasa asing. Mungkin Hindi atau Bangla. Hidungku…!!? Ada cairan yang menetes perlahan dari hidungku. Kucoba mengingat-ingat, apakah karena dinginnya lantai ini aku terkena pilek?. Biasanya aku memang mudah terkena pilek terutama saat pagi hari. Tapi cairan ini sepertinya agak encer. Kucoba gerakkan tangan untuk mengusap cairan yang perlahan menetes ke lantai. “Grrrk…”. Rantai besi ini masih melingkar di tanganku!. Kucoba gerakkan kedua kaki perlahan, “Grrrk…” terdengar rantai besi berderit. Kususut cairan di hidung dengan lengan baju. Merah darah!!
***
“Kang, gimana nasib anak kita?” Nani terisak sendu.
“Sabarlah Nan, kita harus tunggu dulu kelahirannya baru kita akan tahu apakah ia positif atau tidak”, Kupeluk Nani dan kubiarkan ia menangis dibahuku. usia kandungannya memang semakin membesar. Segurat kepedihan menyayat di hati. Tuhan, penyesalan memang selalu datang terlambat. Kami menangis berdua di paviliun Krakatau Medika. Sepertinya langit kehidupan kami terasa mendung.
Sebulan sudah Taubat lahir. Anak lelaki ini memang kuberi nama Taubat agar terus mengingatkan sisa hidupku untuk bertaubat. Aku dan Nani merasakan suka cita tak terkira. Seolah mendung akan segera sirna. Tapi kami memang harus bersabar sebelum dokter mengambil darahnya. Rencananya esok nanti. Entah kenapa malam ini aku tidak bisa tidur. Jantungku berpacu kencang. Dadaku terasa sesak. Kutatap Nani dan Taubat yang tertidur pulas. Perasaan bersalah seperti terus menertawakanku. Kulangkahkan kaki, kubasuh anggota tubuhku dengan air wudhu. Aku akan solat tahajud malam ini. Semoga ada keajaiban esok nanti. “Tuhan, kumohon dengarlah doaku kali ini saja. Biarkan Taubat terbebas dari mendung kehidupan kami”.
“Kang, kata dokter biasanya anak akan ikut seperti orang tuanya”, kulihat Nani begitu cemas. Aku diam tak menjawab. Memang yang lazimnya seperti itu. Akankah keajaiban akan terjadi dalam minggu ini?. “Sekali ini saja ya tuhan, kau kabulkan doaku”. Tak henti aku terus berdoa.
“Muhammad Taubat Nasuha!”,
“Ya hadir..!”, Kami segera bergegas ke dalam ruangan saat suster memanggil. Kudengar sekilas obrolan pasien lain yang menunggu.
“Ane-ane wae, arane Taubat Nasuha. Emang lake arane sing lian tah”. Seorang bapak setengah baya berbicara kepada teman disampingnya.
“Bagaimana dok hasil tes putra kami?”. Dokter hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Mungkin ia bisa membaca gundahku dan mencoba menyejukkan dengan senyumannya.
“Saya tidak tahu apa penyebab hasil kelainan test klinik kami. Tapi saya juga sudah kirimkan darah putra bapak ke rumah sakit di Jakarta dan hasilnya pun tetap sama”.
‘Positif dok?”, aku tertunduk pejamkan mata. Nani memegang tanganku.
“Sebentar kang, biarkan pak dokter berbicara”.
“Iya, justru saya mau menyampaikan kelainan yang kami temui. Memang biasanya jika orang tua positif mengidap HIV maka anak yang dikandung akan positif juga. Namun hasil lab kami manyatakan putra bapak negatif. Saya tidak tahu pasti kenapa. Apa karena sang ibu baru terkena HIV saat kandungannya berusia 3 bulan atau lainnya. Saya tidak bisa memberi jawaban karena kasus seperti ini memang sangat jarang. Kecuali atas kehendak Tuhan”
Aku dan Nani berpelukan bahagia. Kuciumi Taubat berulang kali. Aku terasa memiliki semangat baru menghadapi hidup. Biarkan aku dan Nani menjalani hidup yang terasa semakin membusuk. Sambil membuka lembaran baru dari sisa hidup, Taubat akan kubesarkan secara sehat. Jauh dari narkoba. Biarkan aku saja yang pernah merasakan terjerumus ke dunia hitam ini. Anyer memberikan catatan kelam dalam hidupku. Tempat dimana aku bersama pecandu narkoba lainnya sering mengadakan pesta narkoba. penyaklit Aids yang aku derita saat ini memang disebabkan lewat jarum suntik dari narkoba yang aku pakai. kedua temanku sudah lebih dulu menemui ajalnya. Celakanya, Nani pun akhirnya positif menderita HIV lewat hubungan suami istri.
***
Aku mencoba terus memantapkan hati melangkah ke depan. Pintu taubat telah kumasuki. Terasa damai hidup ini. Untuk menyangga kehidupanku dan Nani kami rutin berobat. Kami memang perlu mengkonsumsi obat-obatan ini. Terlambat memakannya akan menyebabkan pendarahan pada hidung, belum lagi diare tak pernah henti. Bisa mati lemas kehabisan cairan. Imun tubuh kami memang semakin menurun. Itulah kenapa kami sangat tergantung dengan obat-obatan ini. Sementara Taubat, Alhamdulilah tumbuh sehat dan normal.
****
“Aku dapat tawaran kerjaan dari agen untuk bekerja di Madinah, Saudi. Gimana menurutmu Nan?”. Nani diam tak menjawab. Ia masih terus menyuapi Taubat.
“Aku tidak enak mendapat bantuan terus dari orang tua kita untuk membeli obat. Sementara usaha wartel modal dari kedua orangtua kita hanya cukup untuk biaya sehari-hari”
“Akang yakin mau kerja disana?”. Nani menjawab sambil terus menyuapi.
“ Akang sudah pikir-pikir. Mungkin ini jalan akang untuk bertobat. Akang ingin dekat dengan Rasulullah. Di masjid Madinah nanti akang bisa mengadukan semua pertobatan akang. Katanya Rasul mah tidak wafat Nan, Sekalipun di alam kubur beliau pasti mendengar ucapan solawat umatnya”
“Ah akang bisa aja”. Kali ini Nani tersenyum padaku. “Akang dengar itu di ceramah mulud minggu kemarin kan?”.
Sebuah Agen PJTKI di Jakarta memang menawarkanku bekerja di kota Madinah, Arab Saudi, lewat info seorang teman. Sekalipun aku harus membayar sejumlah uang kepada agen untuk alasan kelancaran proses perekrutan aku tetap membulatkan tekad untuk bekerja di sana. Sepertinya aku begitu ingin mengadukan kesedihan serta penyesalanku kepada seorang lelaki. Lelaki yang mulia di mata tuhan dan menjadi penerang jalan hidupku. Meskipun dengan berat hati berpisah dengan Nani dan Taubat selama 2 tahun sesuai kontrak kerjaku menurut agen. Segala urusan memang diurus agen termasuk juga aku sampaikan bahwa aku ODHA atau pengidap HIV. Menurut mereka aku tetap bisa berangkat asal obat-obatanku selalu dibawa. Entahlah, aku percaya saja apa kata agen mereka tentu tahu peraturan di sana.
***
Aku terduduk lemas dengan tangan dan kaki yang masih terbelenggu. Sudah 7 kali aku bolak-balik ke kamar mandi di ruangan bersel ini. Para penghuninya ternyata mengidap berbagai macam penyakit menular. Aku sudah tak perduli lagi dengan bau ruangan yang tak jelas aromanya. Aku meringkuk tak berdaya. Sudah 3 hari aku tak meminum obat yang kubawa dari Cilegon. Mereka merampasnya setelah tahu hasil test kesehatanku di Madinah.
***
Tujuh hari pertama di Madinah aku lewatkan dengan syahdu. Sambil menunggu hasil kesehatan yang biasanya baru diketahui seminggu kemudian. Untuk mengurus iqomah memang disyaratkan melewati test kesehatan secara lengkap. Aku manfaatkan masa menunggu dengan tidak melewatkan setiap waktu pun untuk bermunajat di Masjid Nabawi. Sekalipun harus berdesakkan aku tetap berusaha agar bisa mendapatkan tempat solat di Raudhah. Menurut hadist Nabi ini adalah bagian dari taman-taman surga. Biarlah dalam hidupku yang berkarat ini bisa merasakan nikmatnya bagian dari tama-taman surga. Karena di akherat kelak mungkin tempatku di neraka.
“Ya Rasul, aku menghadapmu dalam gundah dan penyesalan tak terperi. Solawat dan salam semoga tercurah padamu sebanyak bilangan dosaku yang memenuhi arasy”.
Biasanya aku menangis terseguk dengan airmata yang terus menganak sungai. Aku hanya bisa menangis di depan mihrab lelaki yang mulia. Demi cintaku padanya, aku semakin mantap di jalan taubat. Aku juga berdoa juga untuk Nani dan anakku.
Siang itu aku dijemput petugas imigrasi setempat yang ditemani polisi saat hendak pergi ke masjid dari kamp tempat aku tinggal. Mereka langsung memborgol kedua tangan dan kakiku percis seperti para tahanan teroris dan langsung menjebloskan aku ke penjara yang dihuni oleh mereka yang penyakitan. Obat-obatan serta tas koper yang
aku bawa dirampas. Aku tidak tahu pada siapa aku menitipkan pesan mengenai kondisiku. Aku benar-benar pasrah.
***
Kesehatanku terus memburuk. Kondisi lingkungan penjara serta para penghuni yang penyakitan serta obat yang mestinya aku teguk setiap hari mungkin penyebabnya. Diareku masih belum berhenti. Dalam kondisi lemah aku paksakan melangkah ke kamar kecil.
Para penghuni satu sel tak ada yang mau mendekat. Sekalipun mereka mengidap penyakit tapi mereka memandang jijik padaku. Aku tergeletak di pojok ruangan. Tangan dan kakiku memang sudah tak diborgol lagi. Kian hari aku bisa merasakan kekuatanku semakin menurun. “Ya, Alloh jika ini hukuman yang Kau dahulukan di dunia aku terima dengan ikhlas”, batinku.
Aku sudah tak sanggup menghitung hari. Tak ada perawatan memadai di penjara penyakitan ini. Darah sesekali mengalir dari hidungku. Diareku pun masih tak berhenti. Sekalipun tidak ada cairan lagi yang mesti dikeluarkan. Mungkin Ini adalah ajalku. Dalam keadaan tidak sadar aku melihat lelaki bercahaya. Yang cahayanya bak purnama melintas dihadapanku. Apakah aku bermimpi? Kesejukan terasa mengalir didadaku, merembet ke sekujur tubuh.
Lapat-lapat kudengar pintu sel dibuka.
“Hamid..!, mid..!” Kudengar seseorang memanggil namaku dan bergegas menghampiri.
“Hamid, bertahanlah!. Kau akan pulang 2 hari lagi ke Cilegon!”, aku mendengar suara itu yang sepertinya kukenal. Entah dimana. Mungkinkah teman satu kamp?. Untuk membuka kelopak mataku saja aku sudah tidak berdaya. Saat ini hanya ada dua raut wajah dalam benakku. Dapatkah aku kembali menjumpainya?
***
Glosary:
Iqomah: izin tinggal/ resident visa. Biasanya harus dinyatakan sehat dan bebas AIDS. Jika terbukti positif akan dideportasi.
Raudhah: sebuah ruangan antara mihrab dan tempat tinggal nabi. Saat ini sudah dalam satu kesatuan dengan masjid Nabawi.
Mihrab: tempat Salat.
“ane wae, arane Taubat Nasuha. Emanglake arane sing lian tah” : Ada-ada aja, namanya kok taubat nasuha. Memang tidak ada nama yang lain. (dialeg Cilegon)


