Categorized | Dongeng

PULANG (cerpen)

Posted on 13 May 2007 by goblog'er

Sepasang kaki

PULANG

lawang Bagja 

Jalan panjang untuk meraih impian aku lalui dengan susah payah. Lima tahun mengundi nasib menjadi TKW ke Timur Tengah memang sebuah waktu yang teramat panjang dan melelahkan. Aku masih ingat ketika pertama kali datang di kota Abu Dhabi. Ibu kota dari negara Uni Emirat Arab. Kota yang dihuni berjuta anak manusia dari lebih 30 suku anak bangsa. Kota dimana aku hampir dibawa lari oleh seorang supir taksi yang berasal dari imigran Asia Tengah.

****

Yas  mengantarkanku sampai bandara. Ia putra majikanku yang pertama. Majikanku seorang pejabat penting  di Wazarah Kharijiyyah. Semacam Departemen luar negerinya UAE. Anaknya ada 13 orang. Yas adalah putra ketiga. Diantara semua anak majikanku ia yang cukup ramah padaku. Sekarang Yas sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan industri Ruwais. Tipikal Yas memang agak berbeda dibanding pemuda seusianya. Ia dikenal Mutawa selain itu juga sopan dan rendah hati. Pandangannya jauh ke depan. Ia sering menanyakan kepadaku perihal Indonesia. Pertanyaannya terkadang membuatku geli. Misalnya suatu hari ia menanyakan,

“Kenapa Indonesia banyak mengirimkan wanitanya menjadi pembantu? Kenapa tidak para lelaki yang keluar rumah?  Apakah tidak ada wanita Indonesia yang pintar dan sekolah? Apa saja kerjaan para lelakinya? Kenapa wanita Indonesia mudah ‘tersenyum’ pada siapa saja? kenapa lelaki Indonesia membiarkan wanitanya pergi jauh seorang diri?  ”.

 Ya, beberapa hal memang ada yang sangat tabu di timur tengah tentang wanita. Membiarkan wanita pergi jauh tanpa kerabat bisa berarti sebuah kesalahan besar.  Banyak yang berakibat tindakan pelecehan serta perbuatan asusila lainnya. Hal yang sepele misalnya senyum. Senyum wanita di sini bisa diartikan sebagai ‘lampu hijau’ dan undangan bagi pria. Aku sendiri suka menjawab pertanyaan-pertanyaan Yas seadanya. Mungkin para lelaki Indonesia percaya bahwa Timur Tengah yang mayoritas muslim bisa menjaga kehormatan para wanita yang bekerja di rumah mereka. Orang Indonesia memang sering dikenal ‘terlalu’ percaya dan ‘penyabar’.

Oh ya.., masalah senyum aku punya pengalaman tersendiri. Suatu hari aku ikut majikan perempuan belanja kebutuhan dapur. Selesai belanja Majikan memintaku pulang lebih dulu karena beliau masih sibuk memilih parfum baru di SwissArabiyya. Biasanya diteruskan ke Medinat Zayed mencari koleksi perhiasan terbaru.

Aku berdiri menunggu taksi. Kulambaikan tangan, taksi merapat ke arahku.

“Al-Bateen..”.

Di dalam taksi supir banyak bertanya padaku dalam bahasa arab. Aku masih belum mengerti benar. Terkadang aku ’senyam-senyum’ menjawab sekenanya. Rupanya ia mengira aku ’suka dan mengajak’ sesuatu padanya. Kalau boleh aku bilang, orang sini saja yang memang ge’eran Tapi memang seperti itulah budaya setiap tempat memang berlainan. Banyak hal yang di negara kita dianggap sopan tapi di sini bisa berarti lain. waktu itu hampir saja aku dilarikan ke Musaffah, kalau tidak dengan mengancamnya akan melaporkan ke polisi jika ia tidak memutar arah kembali. 

Contoh lainnya buat pembantu sepertiku yang sering belanja bumbu dapur atau lainnya sering menawar sesuatu sambil mencoba berakrab ria dengan penjual. Di Indonesia lazim seperti itu, tapi tidak untuk di sini. Bisa salah paham nanti. Makanan dan alam memang mempengaruhi karakter manusia. Tapi di sini bisa juga disebabkan oleh banyaknya warga imigran terutama yang bekerja di sektor bawah, kuli,supir, buruh dan sebagainya hidup dalam keadaan membujang. Kebanyakan mereka berasal dari India, Pakistan, Afghan, Bangladesh. Sekalipun dari negara arab dan Afrika lainnya juga ada seperti dari Mesir, Maroko, Sudan, Somalia, dll. Mereka sangat jarang bertemu keluarga bisa 1-2 tahun sekali. Artinya potensi kejahatan seksual memang sangat rawan. 

****

“Jika kamu berubah pikiran, telepon saja kami. Kami masih menerimamu bekerja di rumah kami”, begitu pesan Yas sebelum pergi meninggalkanku di pintu pemeriksaan imigrasi.

 ”Insya Allah”, jawabku.

Dalam hati mungkin ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di airport Abu Dhabi. Tidak semua mengalami keberuntungan seperti yang kualami. Walaupun pekerjaan yang kuhadapi bertumpuk tapi aku masih bisa merasakan perlakuan yang cukup manusiawi. Tidak semua TKW beruntung menemukan majikan yang baik, pemaaf, tidak pelit, dan menjaga kehormatanku sebagai perempuan. Dan aku pun bersyukur bisa di’haji’kan sekalipun tugasku sebagai PRT tetap tidak berubah. Maklum aku ikut rombongan keluarga majikan saat itu.

Kesempatan terakhir kali di airport Abu Dhabi aku manfaatkan berbelanja emas Arab di Duty Free. Yas memberikan  ’pesangon’ padaku tanpa sepengetahuan keluarganya sebesar 3000 dirham. Emas ini akan kusimpan sebagai tabungan pendidikan Deden, putra bungsuku yang masih sekolah. 

Dari lima tahun bekerja aku memang bisa menggerakan ekonomi keluarga. Semenjak Kang Miftah wafat karena kolt Dieselnya dihantam truk trailer di jalanan Merak, Cilegon aku hidup menjanda. Dulu kawasan Cilegon banyak dibangun pabrik-pabrik besar. Hanya sayang, kami sebagian warga Cilegon belum bisa utuh menikmatinya. Kebanyakan memang karena alasan pendidikan yang belum bisa dikejar. Itulah salah satu alasan mengapa aku nekat pergi menjadi TKW. Aku ingin anak-anakku bisa sekolah tinggi. Minimal sampai SMA atau STM. Kiriman setiap bulan dari gajiku mampu menghantarkan kedua putraku lulus STM tinggal Deden yang masih dibangku SMP. Rencananya aku akan jualan dipinggir jalan. Sekedar nasi rabeg dan sate bebek mungkin ditambah nasi kebuli bisa menjadi pemikat orang untuk membeli.  Dari cerita Deden Cilegon sudah sangat ramai. “Mak, wis seh mrene balik. Aje adoh-adoh megawene. Ning kene wae..”

****

Attention,  Etihad Airways 702 Abu Dhabi-Jakarta already take off ..”. Kulihat kota Abu Dhabi semakin kecil dan menjauh. Sejenak ada perasaan haru dalam hati. Lima tahun aku hidup di kota itu dan ini kali pertama kali aku akan bertemu keluarga.

“Mau pulang kemana mbak?” suara perempuan memecah lamunanku.

“ketileng, Cilegon”

“Kamu sukses gak jadi TKW?”

“sukses gimana? setahuku TKW ya.. TKW, pembantu ya pembantu..!”

“walah..sampeyan ini memang dodol. Mungkin karena tampang sampeyan serba pas-pasan kali yah. Lain kali gaul sama kita-kita..hihihi” 

Aku bergidik mendengar tawanya yang centil. Memang banyak cerita kalau TKW kita sering menjadi ‘hareem’ atau ‘pemain cadangan’. Imbalannya bisa mendapat uang berlebih. Gaji TKW sepertiku memang kecil hanya 600-800 dirham. Beberapa teman ada yang mesti bersusah payah menyisihkan uang untuk dikirim pulang. Karena gaji sebesar itu mesti dipakai untuk beli pembalut dan kebutuhan perempuan lainnya. Majikan mereka tidak mau tahu urusan itu. Godaan pun akhirnya muncul di tengah kebutuhan serta keterbatasan. Ada saja yang suka memanfaatkan kelemahan kami. Bagi yang tidak tahan memilih kabur. Sebagian menjadi penghuni di ‘kamp penampungan sementara’ TKW. 

‘Kamp’ ini hanya seukuran kamar tidur yang bisa dihuni sampai seratusan orang!. Letaknya di dalam area embassy. Kebetulan memang embassy Indonesia di komplek Al-Bateen. Sebuah perumahan mewah di pinggir kota Abudhabi. Di sini rumahnya besar-besar. Satu rumah bisa dihuni beberapa keluarga. Kebiasaan orang lokal suka berkumpul dengan para kerabatnya. Bisa dibayangkan betapa beratnya kerja para pembantu di sini yang mesti melayani kebutuhan beberapa keluarga.

Rumah majikanku satu jalan dengan embassy. Tepatnya rumah pertama diujung jalan pintu masuk. Pokoknya yang garasinya lebar dengan macam-macam merk mobil berjejer.  Maklum, setiap anak majikan pingin punya mobil sendiri. Mereka memang anak-anak beruntung. Sejak lahir saja makannya sudah pakai ’sendok emas’.

Tidak terlalu sulit bagiku mendengar kasus  para TKW. Hilir mudik mereka yang mengantarkan TKW yang bermasalah atau mengadukan permasalahan bisa diamati dari rumah majikan. Terkadang aku sendiri kasihan dengan para diplomat kita. Mereka setiap harinya dipusingkan oleh masalah TKW. Para TKW yang bermasalah ditampung. Biasanya ada yang memakai jasa mereka menjadi PRT sambil menunggu ‘pengampunan’ dari imigrasi setempat. Namun tidak sedikit teman-teman TKW memilih menjadi pelacur.

****

Aku berderet dalam antrian panjang di pintu imigrasi bandara Soekarno Hatta. Lima tahun aku bisa merasakan kembali udara kebebasan. Aku bahagia bisa berada di negara sendiri. Tak perlu ada rasa takut dan waswas serta bisa bebas senyum sepuasnya. Seolah-olah aku ingin berteriak, “Indonesia.., aku datang!”. Aku memang begitu sumringah. Tiba-tiba seorang pria berseragam menghampiriku.

“Mbak TKW ya?!”

“Iya..!”

“Ikut saya!, antriannya sebelah sini!. Lihat tuh! ada tulisannya kan? Khusus TKI”. Pria berseragam itu menunjuk tulisan di depan meja imigrasi. 

Aku senang sekali. Ini kali pertama aku mendapatkan keistimewaan. Biasanya PRT urusannya belakang melulu. Tidak jauh dari dapur-kamar mandi-cucian, sampai urusan menampung hajat majikan yang meluap sampai ubun-ubun. Tak tahan rinduku pada keluarga menggelora di dada, cepat-cepat aku berdiri paling depan. ketika aku tengok ke belakang.

“Loh..kok ndak ada orang…” kulihat teman dudukku di pesawat Ani malah ikut antrian lain. Pura-pura acuh tak mengenalku.

“Ani..! sini..kamu kok gak ikut sama aku?, lama antri di situ. ini sudah ada yang spesial  untuk kita!. Ayo..!”

Kok dia pura-pura budek? ah biarlah peduli amat aku urusin orang lain.  Petugas berseragam di meja imigrasi memanggilku untuk segera maju. 

“Mbak, statusnya apa? cuti? mana surat cutinya dari majikan? keterangan dari embassy setempat mana? Ini pasport sebentar lagi mau habis!, bawa KTP tidak?”

“walaaah…pertanyaannya kok kayak berondong tho mas..aku ini pahlawan..tuh lihat! tulisan di belakang mas SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA, itu saya mas..! setiap bulan saya setor uang untuk nambah devisa negara kita”

Masih dengan wajah cemberut petugas berseragam tadi berkata, “mbak, dari sini langsung ke terminal 3 yah!”

“Ada apa mas?”

“Itu untuk para pahlawan devisa seperti mbak..!”

Wah, lima tahun tidak pulang ternyata banyak kejutan di Indonesia. Pemerintah memang tahu balas budi dengan pahlawannya. Bergegas aku berjalan menuju terminal 3 setelah barang bawaan serta oleh-oleh aku angkut. Sepanjang koridor menuju terminal 3, aku ditawari macam-macam. Mulai dari voucher, tukar uang, sampai jasa antar. Mereka seperti bernafsu mengkerubutiku. Mirip artis yang dikejar-kejar berita. Aku betul-betul tersanjung. Walah..baru sekarang aku orang ‘ngemis’ minta jasaku. Tatapan mereka nanar. Air liur mereka seakan tumpah. Sekali lagi aku betul-batul sumringah!.

‘Mbak TKW kan?” seorang wanita berseragam bertanya memastikan.

Aku mengangguk.

“Ayo, ikut saya. Biar saya bawakan barang bawaannya”

“Biar, ndak usah mbak..!”

“sudah, mbak ikut saja di belakang..”

Wanita berseragam segera bergegas menuju bis yang akan mengantarkan ke terminal 3. Sesaat sebelum masuk ke tengok ke belakang. Kok teman-teman yang lain sepertinya menghindar. Mereka malah mecoba menerobos pintu keluar terminal 2 sekalipun sempat dihalang-halangi. 

“Ini peraturan!, sampeyan harus masuk terminal 3!”

“Siapa yang buat peraturan?! mana peraturannya?!”

Aku tengok ke sekitarku seorang lelaki dirubungi 3 petugas berseragam. Lelaki itu kelihatannya ngotot tidak mau masuk ke terminal 3.

“Saya ini wartawan..! perempuan yang berjilbab ini rekan kerja saya! ia bukan TKW! kenapa kalian sampai memaksanya masuk ke terminal 3?!!”

Seorang lelaki gondrong dengan tas ransel di tangan sedang memegang tangan seorang wanita sementara tangan yang lain ditarik-tarik petugas berseragam. 

Ada keraguan dalam hati. Kok semua seperti menghindar masuk ke terminal 3. Ada apa dengan terminal 3? kok di negeri sendiri masih seperti ini? Aku lihat ke depan. Wanita berseragam melambai-lambaikan tanganya padaku. Tampak di sampingnya ada dua orang petugas. Tatapan mereka seperti harimau yang siap menyantap mangsa…

Glosary:

Wazarah Kharijiyyah : departemen luar negeri

Mutawa: Orang Alim. Cirinya jenggotnya panjang, celananya ngatung.

Mak, wis seh mrene balik. Aje adoh-adoh megawene. Ning kene wae..” : bu, sudah sih pulang ke sini. jangan jauh-jauh kerjanya. Di sini saja.

Musaffah : nama sebuah kota industri mobil dan pernak-perniknya. Di pintu keluar kota Abudhabi.

Terminal 3: Terminal yang disediakan untuk para TKI/TKW. Maksud pemerintah mungkin baik menyediakan terminal khusus untuk para TKI/TKW untuk memberikan pelayanan kepada para ‘pahlawan devisa’. Namun kenyataanya di terminal ini terlalu sering terjadi pemerasan terhadap para TKI/TKW. Cerita mengenai terminal 3 sudah menjadi ’sarapan pagi’ bagi para TKI/TKW yang pulang kembali ke Indonesia.

4 Comments For This Post

  1. Amirudin Says:

    yang bener ah
    masa ini cerita orang ketileng?
    bukannya orang ketileng banyaknya jadi kuli pabrik genteng? heheee

  2. qizinklaziva Says:

    Iye cerpen saya culik untuk dibawa ke mesin percetakan radar. Ok bro….

  3. Jejak-Jejak Says:

    ore ape-ape..
    mangga wae..

  4. The Balisugar Says:

    Aduh blog enggal nya ?

    Mani sae, sok lajengkeun :smile: Kagungan sabaraha hiji kitu blog teh mani seueur…

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here