Cerpen
WANITA PELARIAN
Matahari seperti berada sepenggalah di atas kepala. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Terkadang duduk bersandar pada pohon kurma yang sudah mulai berbuah. Pohon kurma memang hanya berbuah satu tahun sekali. Itupun hanya di musim panas saja. Kulit kakiku mulai merah terkelupas. Sejak dini hari tadi aku sudah mulai berjalan menyusuri kerikil dan pepasir yang rasanya seperti hamparan bara. Jika bukan karena nekat takkan kuat aku menunggu lama seperti ini. Sesekali angin bulan Juli menyapu kerudungku. Pasirnya menyelusup ke sela-sela cadar hitam yang kupakai. Terasa sekali membuat kulitku bertambah perih. Namun tak ada pilihan aku harus meneruskan pelarian ini.
Sebuah truk gandengan lewat dan menyembunyikan klakson di depanku. “Ton..ton..!”. Aku diam tak ubahnya seperti pohon kurma yang kusandari. Kulirik truk menepi. Aku tahu sang supirnya menawarkan tumpangan. Sesaat ada keraguan dalam hati. Biasanya supir-supir truk di negeri ini Pakistani. Dibandingkan dengan Kang Kasman yang berpostur kecil dan kalem, supir-supir truk disini memang tinggi besar dan gagah. “Tapi.., ah! biasanya mereka memanfaatkan wanita Indonesia seperti tampangku saat ini hanya untuk melepaskan nafsu birahi. Di Saudi sudah dikenal kalau para pembantu memang gampang dibujuk”.
Terdengar kembali bunyi klakson berulangkali. Aku berusaha berpikir cepat. “Toh, sekalipun polisi yang lewat mereka pun belum tentu membela nasibku. Tuduhan bahwa aku sengaja lari dari Dammam, tempat aku bekerja akan dianggap sebagai sebuah kesalahan berat. Mereka takkan mau menerima alasanku yang sudah berkali-kali selamat dari cobaan perkosaan. Alih-alih menyelamatkan malah aku dikerjai sebelum mereka mengirimku ke penjara atau kemajikan. Itu artinya usaha pelarianku sia-sia. Aku harus bisa sampai lebih cepat ke embassy!”.
****
Truk berjalan tidak begitu cepat. Aku tahu sang supir sering mencuri pandang lewat kaca spion. Bau badan khas imigran Asia Tengah beraroma biryani membuat nafasku terasa pengap. Kucoba membuka cadar sesaat. ” wein ruh binti Hawa?”. “Jeddah!” Jawabku sambil memalingkan muka. Sepertinya ia tahu kalau aku sedang mencoba melarikan diri. “Embassy ha?..” ia kembali bertanya. “Sialan!” rutukku dalam hati. Biasanya kalau sudah ketahuan bisa terbaca langkah selanjutnya. Aku mencoba mengumpulkan strategi sebelum ketakutan menyergapku. Jangan sampai di tengah gurun ini ia memperkosa kemudian mencampakkanku di gurun. Kubuka cadar hitam penutup wajahku dan kukembangkan senyum. Ku dekati Supir Pakistani ini. Aku mencoba mengajukan penawaran kalau ia boleh menjamahku asal tidak di tengah gurun. Aku minta sampai
kota terdekat, tunggu setelah aku makan dan mengumpulkan tenaga setelah capek melarikan diri dari rumah majikan. Aku bilang perutku keroncongan sekali tak bisa melayani sepenuh hati. Kulihat supir Pakistani ini mengangguk senang. Di depan ada deretan bangunan mirip restoran. Kulihat beberapa kendaraan berhenti di depan. Truk pun kemudian berhenti untuk parkir. Supir
Pakistan ini begitu bersemangat. Mungkin ia pikir sebentar lagi akan melepaskan hajat. Biasanya para supir seperti ini hidup bertahun-tahun tanpa keluarga. Hidup dalam kondisi alam dan sosial yang keras. Nafsu seks mereka memang sudah sampai ke ubun-ubun. Sambil turun aku berdoa, “Gusti Allah, tolong selamatkan aku. Tak mungkin kuserahkan mahkota suci ini selain kepada kang Kasman. Suamiku di Serang.” Di dalam restoran supir Pakistani tadi sudah terlebih dahulu menyantap makanan di depan meja. Aku permisi sebentar dengan alasan ke toilet. Kudengar Supir truk mencak-mencak kepada pemilik restoran. “Suhada anta? La ma’lum binti hawa!”.
Rupanya ia marah karena membiarkanku raib entah kemana. Pemilik restoran tadi rupanya tidak menerima perlakuan sang supir. Di suatu tempat aku melihat hampir saja terjadi baku hantam kalau saja tidak dilerai oleh karyawannya.
Sambil meluapkan kekesalan, sepanjang jalan menuju truk supir pakistani tadi berteriak-teriak. Mungkin dalam benaknya andai saja ia tidak mudah menuruti permintaanku, tercapai sudah keinginannya.
****
Aku masih meringkuk di sebuah taksi kosong. Sambil menahan lapar dan panas terkurung di dalam mobil. Saat keluar pintu belakang aku periksa setiap kendaraan yang parkir barangkali ada yang tidak terkunci. Beruntung ada taksi yang mungkin akan kembali ke
kota Jeddah setelah mengantarkan penumpang ke Dammam dan mungkin lupa mengunci pintu belakang. Kira-kira setengah jam lebih aku meringkuk di jok belakang.
Semoga saja tidak ada penumpang yang akan ikut naik. Tidak lama kemudian, sang supir taksi rupanya datang. Aku tak berani menatap siapa dan warga negara apa yang membawa. Bisa jadi masih Pakistani, Afghanistani, atau bisa juga Indonesian. Biarkan mobil ini melaju. Aku harus bisa lepas dari Supir Pakistani tadi. Kini, hanya abaya yang melekat dalam tubuhku menyertai pelarian ini.
****
Terdengar bunyi HP berdering, “Halo, assalamu’alaikum!”, “Alhamdulilah baik-baik pak!”. Aku terkejut ketika mendengar suara supir taksi. Alhamdulilah, ia seorang Indonesia. Paling tidak aku harus menunggu sampai ia menyelesaikan pembicaraannya.
“Astagfirullah..!” sesaat mobil oleng supir taksi sangat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. kemudian mobil menepi. I
a berbalik,” Sejak kapan mbak sudah duduk di mobil saya? saya kira kuntilanak gurun!”.
“Maaf mas, tolong saya mas..saya terpaksa naik diam-diam..saya kabur…” dan cerita mengalir dari mulutku.
Mungkin doaku dikabulkan. Hamdan mau menerima alasanku. Ia berjanji akan mengantarkanku sampai ke embassy .
“Makanya mbak, jangan mudah tergiur tawaran agen. Hukum perlindungan untuk para TKW masih rendah. Salah-salah, mbak hanya jadi budak pemuas nafsu majikan. Beruntung mbak bisa kabur. banyak kok yang gak bisa kabur. ujung-ujungnya pasrah menerima nasib jadi pemuas nafsu. Banyak yang pulang dalam keadaan bunting kemudian transit di Singapur untuk melahirkan, bayinya dijual trus balik lagi ke sini. Sampai kapan hidup terus seperti itu? Mending tinggal di kampung tapi deket sama gusti Allah daripada deket ka’bah malah jadi hamba pemuas nafsu!”
Aku hanya terdiam mendengarkan Hamdan memberi nasehat. Terbayang cita-cita serta harapanku bekerja di Timur Tengah. Aku ingin seperti Sarikah yang bisa membangun rumah baru. Pulang dengan membawa hp dan emas perhiasan. kulihat suaminya juga bisa dikreditkan bebek untuk mengojek. Kang Kasman suamiku, hanya buruh bangunan. Rencananya uang hasil keringatku akan dibuatkan warung makan mirip warteg.
“Prospek bisnis ini menjanjikan..”, kata kang Kasman.”Banyak buruh di Serang Timur yang butuh warung makan murah. sing penting kenyang dan sehat”. Ya, kami memang sedang berjuang memperbaiki kesejahteraan.
“Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Engko wis ane warung mangan, sire balik maning!”. Begitu kata kang Kasman.
Di perjalanan, Hamdan mencarikanku makanan untuk mengganjal perut. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkanku lewat tangan Hamdan.
Dammam - Jeddah memakan waktu lebih dari 24 jam. Menjelang subuh mobil yang aku tumpangi akan mencapai Jeddah. ”Mbak, kayaknya ada pemeriksaan di depan! Ada Syarthoh! berdoa saja mbak..!”. Kerlap-kerlip lampu patroli mobil begitu menyilaukan. Taksi melaju perlahan.
“kok di tempat sepi begini ada operasi sih mas?”
”biasa mbak.., di sini polisi juga cari tambahan”.
Seorang polisi melambaikan tangan meminta mobil kami untuk menepi.
“Assalamu’alaikum kapten!” Polisi tadi tidak menjawab salam Hamdan. Matanya memeriksa jok belakang.
Hamdan diborgol. Aku berdiri menatapnya. Ia dituduh membawa pelarian TKW. Hamdan menatapku. “Gak apa-apa mbak! ini sudah nasib saya. kalau ada kesempatan, mbak kabur dari mereka. Jangan mau dikembalikan kemajikan lagi. Bisa-bisa mbak disiksa dan diperkosa!”. Aku tercekat saat salah satu polisi menamparnya berulang kali.
”Uskut..!!”. Sepertinya Hamdan tak peduli. Ia terus bicara. ”Mbak, dibawah jok mobil saya ada uang beberapa real. Ambil saja buat jaga-jaga. jangan sampai ketahuan, nanti bisa diambil sama mereka!”. Kali ini Salah satu syarthah menendangnya. Rambut Hamdan dijambak.
Kudekati salah satu polisi yang sedang berbicara lewat pesawat HT. Setelah berbicara sebentar polisi tadi menghampiri temannya. kemudian mereka berbicara dalam dialek lokal. Tidak lama kemudian mereka memasukan aku ke dalam mobil polisi. Kulihat Hamdan tertunduk tak kuat rupanya ia menatap kebiadaban di depan mata. Sesaat suasana sunyi. Tak lama kemudian Mobil pun kembali bergoyang.
****
Fajar menyingsing di muka kota Jeddah. Tak ada pembicaraan antara aku dan Hamdan. Aku sendiri diam seribu basa. Seolah tidak ada yang terjadi.
”Di depan embassynya Mbak!”. Ujar Hamdan tanpa menoleh.
“Terimakasih mas sudah menyelamatkan saya sampai embassy!”. “Gak, saya yang mesti terimakasih!. Mestinya saya sudah meringkuk di penjara, sampai akhirnya mbak mesti berkorban”.
Aku tersenyum letih. Ada perasaan lega usaha pelarianku membuahkan hasil. Akhirnya kedua syarthah melepaskanku dan Hamdan setelah mereka melampiaskan nafsunya padaku di dalam mobil.
“Ini uang beberapa real, untuk jaga-jaga”. Aku ragu untuk menerima tapi aku memang butuh. Akhirnya kuambil dengan berat hati. Sampai di depan gerbang embassy Hamdan mengantarkanku. Ketika pintu gerbang di buka aku tersentak. Kulihat Walid majikanku sedang berbicara akrab sekali dengan petugas embassy.
glosary:
Wein ruh binti Hawa: mau pergi kemana binti hawa (panggilan untuk wanita)
uskut : Diam
Suhada anta? La ma’lum binti hawa : Bagaimana kamu ini, gak tahu kemana perginya wanita tadi.
Wis lah, ore ape-ape sire megawe ning Arab sedele. Eengko wis ane warung mangan sire balik maning: sudahlah, gak apa-apa kamu kerja di Arab sebentar. Nanti kalau warungnya sudah jadi kamu balik lagi.
Syarthah : Polisi
Dammam : nama salah satu kota di Saudi
Abaya ; baju khas berwarna hitam untuk wanita
Nama Penulis cerita: Lawang Bagja. penulis sebelumnya volunteer rumah dunia dan pernah menjadi pj Audio Visual. Beberapa karya film pendeknya: hari-hari Adi, BelokKiri Dilarang langsung, Rin..!, Jejak Multatuli, Ode Kampung,Makodim dll. Saat ini Penulis bekerja di UAE di sebuah perusahaan swasta. Mengelola blog rumahduniadubai.wordpress.com. .



May 7th, 2007 at 6:53 am
Jujur, saya penasaran dengan apa yg di posting oleh mas/akang di milis. sehingga situs ini saya klik, berharap sambungan cerpen di milis itu ada di sini. Voila! saya menemukannya dan membacanya dengan tuntas.
cerpennya bagus! memperlihatkan sisi buram para TKW indonesia di negara orang(khususnya arab) TKW yang selalu di iming2i hidup senang di lahan subur Arab tapi ternyata malah merasakan derita yang tak putus.
bagi saya, ini adalah cerpen yang sangat2 bagus:) terus berkarya kang!
May 7th, 2007 at 1:40 pm
Makasih ..
saya masih belajar mbak
banyak yg harus diperbaiki.
thanks sekali lagi untuk suportnya..
blognya imut yah punya mbak..
June 16th, 2007 at 12:43 am
cerita bagus, tapi yang jadi penasaran saya waktu si wanita masuk ke dalam mobil polisi dan tiba-tiba saja mobil itu bergoyang, layaknya penari dangdut.
kanap judulnya wanita pelarian?kenapa nggak lelaki pelari-larian? kan, capek. diom,bang-ambing naik mobil tanpa tujuan yang jelas mau kemana dia?
pokok wanita pelarian memang suka lari-lri. sampai-sampai di dalam mobil saja lari-lari, hingga mobilnya bergoyang dombret.
sayangnya, laki-laki sebagai hamdan nggak bisa berbuat banyak. mana kejantananmu bung? laki-laki cuma bisa melihat nista sanga wanita menikmati derita surga dunia. ketika harus diepit dan diboking oleh dua orang polisi arab yang lagi puncak-puncaknya diujung ubun-ubun.
apa iya, kondisi di arab seperti itu laki-lakinya. menurut kata orang katanya orang arab nggak punya calana dalam? apa betul. kalau memang iya. kasian amat. kenapa nggak pakai karung goni saja.