KOMUNITAS PASIR
disini kami Berkumpul…
Saat pertama kali sampai di Ruwais dan melihat-lihat kota kecil ini saya kemudian berpikir keras. Ya! saya harus berbuat sesuatu di sini. Semua berangkat dari cita dan cinta bahwa episode saat ini memang mesti saya lewati di salah satu negeri teluk ini. Berbeda dengan tetangganya -Saudi, masyarakat UAE lebih wellcome dan termasuk moderat. Tentunya ukuran moderat di sini dalam standar mereka. Dalam hal pergaulan tentu masih tertutup. Apalagi jika menyangkut keluarga dan perempuan. Di sini wanita memakai abaya (jubah hitam) jangan sekali-kali dipotret. Urusannya bisa berabe. Tapi sejauh pengamatan saya, generasi mudanya yang sudah terlahir di era 80-90 an memang jauh berbeda. Maklum, dari lahir pun mereka sudah pakai sendok emas.
Tidak lama menetap di Ruwais, oleh kawan-kawan saya diminta untuk menjadi bagian dalam jajaran kabinet Indo-Emirat di bidang Sosial-Kemasyarakatan. Sebuah komunitas rakyat Indonesia yang bekerja di kawasan Ruwais. Saat ini dengan bertambahnya pendatang baru untuk GASCO sebuah anak perusahaan ADNOC (Abudhabi National Oil Company) yang khusus ngurusi masalah gas jumlah pekerja Indonesia sekitar 160 an orang. Sebagian memang membawa keluarga dan anak-anaknya untuk sekolah di sini. Sebagian lagi masih menunggu proses pembangunan perumahan yang mungkin sekitar 2 tahun lagi rampung. Pekerjaan sosial kemasyarakatan salah satu lahannya adalah anak-anak. Maka, untuk mewadahi kegiatan mereka lahirlah komunitas pasir.
Kegiatan yang ada saat ini memang berjalan apa adanya. Semula dirancang dengan aneka macam kegiatan. Saya mencoba cari-cari volunteer untuk kegiatan anak-anak. Hanya saja tidak seperti yang saya harapkan. Beberapa orang bersedia meluangkan waktunya. Itu pun jika tidak berbenturan dengan jadual kerja. Kegiatan memang dijadualkan setiap Jum’at dan Sabtu. Kedua hari itu memang hari libur sekolah di Ruwais. Salah satu volunteer adalah Pak Dhe’. Namanya Pak Agus Pramono, usia 5o an tahun. Di usianya yang senja beliau tetap energik. Saya salut sama beliau. Jika ada waktu, Pak Dhe’ mengisi sesi mendongeng dan bercerita tentang Indonesia. Beliau juga mantan Presiden Indo-emirat yang pertama.
Kegiatan lainnya selain mendongeng, ada belajar bikin film (karena masalah waktu dan mood anak-anak akhirnya agak mandeg), Nonton bareng (yang ini sudah berjalan setelah Indo-emirat punya video projector), kadang saya dan anak-anak berkumpul ngalor ngidul. Menceritakan kegiatan selama seminggu yang sudah lalu. Pinginnya sih ada volunteer yang mengisi tiap minggunya. Maklum, saya pun bekerja shift jadi terkadang kedua hari itu tidak bisa. Saya pernah meminta ke para ibu yang punya keahlian menari bisa ikut mengisi juga. Setelah coba ditawarkan, giliran anak-anaknya yang tidak ada yang berminat. Terkadang kita sebagai orang tua hanya berpikir; Berhitung, berhitung, dan berhitung. Selanjutnya mengaji. Itu memang bagus, hanya untuk usia pertumbuhan jangan otak kiri saja yang dilatih. Kecerdasan majemuk yang saat ini digemborkan harus juga dikenalkan kepada anak. Dengan seni dan kreasi maka otak kanan serta emosionalnya ikut berkembang. Berikan media untuk mengekspresikan diri. Apalagi di lingkungan yang terbatas seperti di sini. Ada dunia lain setelah masuk ke dalam flat.
Berkumpul dengan anak-anak memang menyegarkan pembuluh darah saya. Mereka hadir dengan berbagai macam polah. Anak sendiri saja suka bertingkah apalagi dengan anak orang. Saya hanya belajar mgatur mood dan sekaligus menjadi ajang pembelajaran untuk bersabar. Saya ingin menjadi orang penyabar terutama ketika berhadapan dengan anak-anak. Wah, memang tidak mudah yah!. Sudah menjadi naluri manusia jika merasa kuat akan berbuat seenaknya. Di sini ‘kecerdasan emosi’ kita diuji. Pantes Rasul yang mulia mengatakan hanya orang yang kuat yang bisa menahan emosi.
Ke depan, saya masih harus terus ‘fight’ agar komunitas pasir ini hidup dan berjalan. Semoga ada volunteer yang kan terus berdatangan..mengisi hari dan meluangkan waktu berkumpul dengan anak-anak. Bukankah sesekali waktu kita pun perlu merasakan dunia mereka?. Agar tidak keras dan kaku selembar jiwa yang lusuh termakan usia ini…
Howgh!


