Categorized | Surat

TV BANTEN & MY DREAM

Posted on 27 April 2007 by goblog'er

jk1.jpg

TV BANTEN & MY DREAM

likeblueocean; Lawangbagja

Jauh hari sebelum Banten TV mengudara saya sudah percaya bahwa satu hari Banten pasti punya TV lokal. Entah kenapa itu menjadi semacam triger bahwa saya harus bisa mengejar teknologi audio visual di sela keterbatasan waktu dan tempat. Maklum, saya memang sudah digariskan hidup diantara cerobong asap pabrik dan bahan kimia. Semua memang berawal dari hobi. Belajar editing film, mengenalkamera film, berteman dengan orang-orang di ‘dunia narsis’,  ikut workshop, jadi volunteer di rumah dunia untuk bagian film, sempat juga punya sampingan terima shooting hajatan (walaupun sebenarnya dalam hati sih malu, hehe padahal gpp yah?), pernah bareng menggarap profil kampanye pilkadal (yang hamburin banyak duit), sampai pernah menjadi tim pemenangan pemilu untuk bagian media sebuah partai dan terkepung dalam sebuah kantor kecamatan di daerah Picung gara-gara kotak suara. Ya! semua memang berawal dari hobi.

Waktu itu saya seperti terobsesi utuk bisa mempersiapkan diri sebelum TV Banten ada. Saya pikir infrastruktur boleh belakangan yang penting saya bisa dan ngerti terlebih dahulu. Minimal untuk lokal bisa siap pakai lah!. Semua memang berjalan seperti sebuah proses. Dari tidak tahu sampai tahu dan mengerti. Setelah itu saya datang ke Gola Gong pada suatu hari. “mas, saya punya studio editing!”. “Oh, ya?”. Dan selepas Jum’atan di masjid Agung Serang Gola Gong mengkroscek studio editing saya yang terselip diantara gang kipatih. “hmm…berapa kapasitasnya? pakai software apa?, bisa bikin ini? itu?” semua pertanyaan mengalir dari mulut Script writer senior RCTI tersebut. Dan sebuah kerja kolaborasi pun kemudian dimulai.

PJ AUDIO VISUAL RUMAH DUNIA & SCENE TEN

pada suatu hari di pendopo saya di’baptis’ menjadi PJ AudioVisual Rumah Dunia. Kerja pertama tentu menularkan sedikit yang saya tahu mengenai film kepada teman-teman di Rumah Dunia. Kebetulan kelas menulis sudah diajarkan bagaimana membuat skenario film. Dan itu agak sedikit lambat karena mereka belum mengerti betul dunia film. Jangankan istilah kamera seperti zoom in, zoom out, close up, dll mungkin kamera film pun masih ada yang belum pernah pegang. Dimulai dari nol kami belajar bersama. sampai akhirnya lahir film pendek fiksi yang berjudul “Rin!..”. Saat itulah nafas kami menjadi terasa sangat panjang bahwa dengan keterbatasan kami tetap bisa berkreasi secara tim.

Menjadi PJ audio visual berarti dituntut melahirkan karya dengan semangat kerja dalam sebuah tim. Maka kemudian lahirlah karya-karya lainnya seperti Belok Kiri Dilarang Langsung, Toto ST. Radik’s Patang puluh,  Dokumenter Makodim, Ode Kampung, profil Rumah Dunia (saat ini sering diputar di TV Banten, katanya loh..wong saya di UAE sekarang), Hari-Hari Adi, dll. Bagi kami ini sebuah langkah awal dari semangat ‘think global, act local”.

Melihat perkembangan teman-teman relawan di RD yang bisa dibilang sudah lumayan. Tentu kita harus berbagi bukan?. Maka saya bicarakan ke Gola Gong untuk membuat workshop film dokumenter. Karena dikenakan bayaran maka workshop dialihkan menjadi kerjaan Imaji MM dengan menggandeng Rumah Dunia. maklum, semua yang ada di RD memang gratis. Workshop selama 3 hari digelar dengan berlokasi di Rumah Dunia. Peserta tidak kurang dari 25 orang. pembicara dari Metro TV, Production House dan Film Maker diundang. Sayang waktu itu Dian Sastro dan Riri Reza tidak bisa datang. Walhasil, dari workshop ini juga melahirkan karya Rumah Pohon dan Pabrik Tahu. Sebuah dokumenter pendek besutan para peserta.   Saya diamanahi Gola Gong bahwa selepas workshop ini teta bertanggung jawab dengan para peserta. Caranya? “kamu buat saja komunitas film!”, begitu katanya. Maka bersama teman-teman akhirnya lahirlah SCENE TEN (dibaca sinten). Anak ABG bilang “siapa lo?”, sebuah pertanyaan yang membuat kita berfikir eksistensi kita. dan eksistensi hanya bisa diukur dengan karya nyata. Maka hari-hari selanjutnya SCENE TEN menjadi warna di ranah Banten. Sampai pada suatu hari Gola Gong membuat event Banten Star melalui Gong Media Cakrawala (GMC). Sebuah miniatur home production di tanah Banten. Saya sendiri menilai GMC  seperti sebuah projek ‘doesn’t make sense’ alias Mustahil. Orang UAE bilang ‘musykilah’!.  Siapa yang ‘menyantap’ hidangan itu? dimana hendak ‘dihidangkannya?’ siapa kru koki yang akan ‘memasaknya?’ darimana bahan-bahannya didapat?. yah seperti itulah kira-kira..

 BANTEN STAR & GMC

 Gola Gong memang terlahir dari ‘luka seorang traveler’. Seperti tak henti menyusuri satu persatu ranting kehidupan. Sehabis menularkan ilmu bagaimana menulis skenario dan membuat film pendek. Tahu-tahu muncul GMC dan Banten Star.  Semula ia pernah bilang,”maaf, ini bukan kelas pj. audivisual dan timnya. Sorry yah, saya mau tawarkan ke Telkom, Radar Banten, dll”. Pokoknya kelas perusahaan ‘bonafide lah di Banten” plus hotel dan Krakatau Steelnya. Dan…semua berjalan terasa amaaat lambat. Sampai pada waktunya, “Banten Star harus tetap jalan!”. Saya bersama SCENE TEN harus menjadi ‘ruh’ dalam perhelatan pertama di Banten untuk dunia entertaiment untuk acara Banten Star ini. Bertempat di restoran S Rizki, simpang Ciceri acara live show dengan ‘multi kamera’ bisa dipertontonkan dengan ‘manis’ di depan publik termasuk beberapa kru banten TV yang pada saat itu ikut melihat acara kami. Sayang, pada acara final pemilihan Raja dan Ratu Banten Star saya keburu terbang ke UAE. Dari berita saya dengar sukses. Para finalis diberi kesempatan tampil di acara Ujang Santri di RCTI, ikutan workshop seni peran dan film, Banten Membaca, dll. Dna mungkin selanjutnya kita tunggu film perdana “Saijah & Adinda”nya.

Firman venayaksa menulis pesan kepada saya,”karyamu ada di TV Banten Bro”. Saya dengar profil RD yang dibuat iseng pada waktu itu akhirnya muncul di TV Banten. kalau saya serius dengan impian saya bahawa TV banten ada mestinya saya buat yang lebih bagus.  Ada haru dalam batin. TV Banten sudah mengudara!. Idealnya saya di sana mengisi aneka program acara yang kami pernah bicarakan sebelumnya di pendopo RD. Biarlah, paling tidak saya sudah berusaha membantu menyiapkan bibitnya. Ada Ican yang sudah gape editing. Ada Yoan, mang Ipit, Rizal, dll yang gape kamera. Selamat juga ke Banten Star semoga bisa menjadi pemeran yang baik. Mungkin saya disini cukup jadi produser saja…

my dream..was coming! So, Camera! roll…! Action!

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here