Lawangbagja; Likeblueocean
Daerah saat ini memang sedang demam tinggi akibat otonomi daerah. Sedikit demi sedikit dominasi Jakarta yang sudah terlanjur menggurita sedang dicoba untuk dipreteli satu persatu. Daerah ingin membangun kerajaannya sendiri. Wajar, karena mereka selama ini memang hanya penonton pasif dan menjadi objek para kapitalis dalam menaikan rating iklan TV yang notabene semua hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang itu-itu saja dan ironisnya para pemain itu numplek di Jakarta!.
Sudah saatnya daerah melihat peluang emas ini dengan hadirnya TV Lokal. Otonomi Daerah bisa ditularkan juga melalui media. Dan terbukti itu bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Saya menggunakan alasan kesejahteraan sebagai alasan utama. Karena memang yang dibutuhkan oleh kita adalah Sejahtera!. Contoh yang nyata jika virus Otda menular ke Media salah satunya di Banten adalah eksisnya Radar Banten!. Sekalipun ia memang bagian dari grup nasional tapi bisa menempatkan sebagai kekuatan media lokal yang ternyata bisa berkembang dengan melahirkan koran lokal lagi. Kita hitung berapa orang yang bisa terangkat ekonominya dari koran ini. Mulai dari tenaga adiministrasi, marketing dan tetek bengek lainnya, trus wartawan, penyalur, pengecer, sampai ke tukang pengumpul koran bekas untuk daur ulang. Ini pun berdampak pada institusi pendidikan yang harus bisa menyalurkan anak didiknya. Dan lebih menakjubkan lagi adalah potensi ekonomi dari iklan!.
Rantai ekonomi di dunia yang terlanjur matere ini sangat bergantung erat dengan iklan. Tentunya plus iklan dari Gubernur kita yang cantik itu. (Bu, ditunggu yah satu jutanya..hehehe)
Selama ini jujur saja, saya ngiri kepada para pekerja kreatif di Jakarta. mereka mengeksploitasi potensi daerah dengan aneka program wisata, jalan-jalan, kuis tebar mimpi, konflik daerah, sampai ke kriminal daerah pun menjadi anggur manis. Mereka hanya baru bisa berbagi dengan daerah ditingkat kontributornya saja. Selebihnya kita tidak menyadari bahwa setiap hari keringat kita diperas, impian kita dilambung-lambungkan, dan terus ‘dibodohi’ oleh berbagai iklan yang belum tentu kita butuhkan. Diskusi-diskusi yang setiap hari bukannya membuat kita pintar malah mengajarkan kita tambah bodoh. belum lagi ‘virus seks bebas’ yang tak henti menggedor zakar para pengangguran dipelosok desa. Ya, saya tahu mereka menjual mimpi dari gemerlapnya Jakarta dan ‘culasnya’ para pemodal entertainment. Saat kehidupan menghimpit, naluri manusia butuh hiburan agar bisa ekstasi sesaat. Seperti hash atau mariyuana, sinetron murahan yang menjual mimpi memang ‘obat’ yang bisa membuat fly. Kita bisa
lupakan sejenak harga minyak yang tinggi, beras yang selangit, serta antrian panjang gas elpiji. Biarlah tidur kali ini membawa mimpi menjadi ‘jutawan dalam semalam’.
Pernah saya ditanya oleh orang Bandung, “apa perlunya Banten menjadi provinsi kalau orang Banten sendiri korupsi?”. Saya bingung jawabnya. Daripada susah saya jawab,” Dari pada uang korupnya dibawa ke Bandung, mending uang korupnya disimpan di Banten. Dipakai buat anak cucunya. Trus anaknya bikin perusahaan, rekrut tenaga kerja orang Banten. Jadi, sekorupnya-korupnya paling gak banyak yang bisa makan. Ada jawara buat beking, ada tenaga pencatat hasil korupsi, dsb!”. Ya, jawaban yang gila memang!, maksud saya jika analogi itu disamakan dengan TV Lokal kira-kira begini; Untuk apa TV lokal? toh pemiliknya orang Jakarta juga!’. “Sekalipun pemiliknya dari Jakarta, dengan ada TV Lokal, tenaga yang direkrut pasti orang lokal. Paling tidak bisa sambil belajar teknologi film yang kedodoran, belum lagi semangat lokalitas yang bisa tersalurkan lewat media audio visual, Iklan sudah barang pasti!, dan topik diskusinya akan lebih membumi, Kita bisa nonton para pejabat daerah ‘mana yang
yang jelas visinya sama yang tidak’, anak mudanya gak usah jauh-jauh ke Jakarta untuk jadi bintang, ada Banten Star yang mungkin sesuai norma lokal, dan segudang lainnya.
Walhasil, perjuangan TV lokal memang masih panjang. Butuh waktu untuk menularkan ide segar ini ke rakyat Banten yang (maaf) kadang masih agak telmi. Perlu buat kegiatan yang segar dan menarik. Sederhana tapi asik. Sekali-kali wajah nongkrong di depan TV gak apa-apakan? Biar dari desa gak katro gituloh!. Peluang ini masih ditangkap ragu-ragu para pengusaha. Mereka masih mikir, ada gak yah orang Banten yang manteng di TV lokal ini?. Ini pun jadi tantangan bagi para tim kreatif. GMC cukup berani masuk mengisi program. Sekalipun masih sekedar isi contain paling tidak ini sebagai pemanasan. Kabarnya Imaji Multimedia berani ikut mengisi acara di TV Banten. Segmennya untuk anak muda tentunya. Biar anak muda Banten lebih banyak kreativitas dan tidak sering onani lihat artis Jakarta. So, Selamat kepada warga Banten yang sudah punya TV Lokal. Jadikan sebagai peluang untuk meraih kesejahteraan.
Salam dari Dubai,
Ambasador Rumah Dunia of Dubai



May 1st, 2007 at 8:35 pm
Logo atas bagus sekali, Gambarnya NdEsO BaNgET, di dubai memang ada orang gak pakai sepatu?
Kalau di banten buuuanyak kok orang gak pakai sepatu..Karena Kondisi tak terbeli
May 3rd, 2007 at 4:37 am
Boleh, boleh. Saya suka bannernya. tapi, saran saya, lebih bagus lagi kedua kami yang bersepatu boot di padang pasir. itu lebih smbolis. syukur-syukur ada kaki untanya. (gola gong)
May 3rd, 2007 at 4:39 am
Bagus. bagus. sya suka banernya. tp akan lebih bagus kalo kedua kakimu yg bersepatu boot di padang psir. syukur2 ada kaki untanya. wow! (Gola Gong)