MENJADI ‘ORANG TUA’? BISA GAK YAH?
Lawangbagja;
Menjadi orang tua ternyata memang tidak mudah. Tidak ada sekolah untuk yang khusus mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang sukses. Terkesan semua seperti trial and error. Coba-coba ah!, kalau yang ini gak mempan pakai cara yang itu. Begitu seterusnya. Padahal tidak seperti itu semestinya. Menjadi orang tua diawali dari sebuah kesadaran sang ayah dan ibu. sebuah kesadaran yang bulat, utuh, tiada celah sedikitpun. Totalitas memang dituntut dalam hal ini. Sayangnya hal seperti ini terkadang tidak utuh hadir dalam ruh kita. Coba saja kita lihat bagaimana mudahnya sebuah rumah tangga hancur tercerai berai dengan mudahnya. Dan anak adalah hanya sebatas ‘it’ belaka.
Saya ingin mengambil contoh dari kehidupan artis yang menjadi idola. Sebuah trend yang mewabah di masyarakat Indonesia. Rumah tangga mereka memang ditampilkan dalam hidangan entertainment sehingga terasa lezat dinikmati. Seperti gula-gula. Namun tiba-tiba saja dalam bilangan bulan rumah tangga mereka ditampilkan menjadi sebuah adegan tragis dan horor. Cerai!, itu ending dari cerita. Dan uniknya tetap saja itu terasa lezat seolah tidak ada yang menjadi korban. Padahal behind the scene dari cerita tersebut tidak berhenti sampai di situ. Pernahkah kita melongok bagaimana hati kecil anak-anak yang ditinggalkan? Pernahkah kita membayangkan pula perasaan si anak semua dengan telanjang disaksikan di depan jutaan orang. Kemana wajah malu akan disimpan di saat guru, teman sekolah, teman main sudah mengetahui keluarganya telah gagal. Jika kemarin ia masih bisa tidur di samping ayah dan bundanya. Menyaksikan mereka berdua dalam kidung cinta. Sekarang tidak ada cerita manis liburan bersama. semua gelap!.
Saya berargumen bahwa fenomena kawin cerai di masyarakat kita disebabkan kesadaran yang teramat rendah akan jati diri sebagai orang tua. Anak bukan hanya sebagai konsekuensi hubungan biologis semata tetapi lebih dalam dari itu bahwa ia adalah makhluk tuhan yang ‘ajaib’. Saya bingung untuk memilih kata yang mesti saya tulis. Karena kehadirannya memang benar-benar amazing!, menakjubkan. Ruarrr biasa!. Dalam logika, ilmu pengetahuan mana yang bisa mencapai tahapan ‘menciptakan’ sebuah makhluk yang sempurna akal dan jasad hanya dari setetes cairan. Yang dalam Al-Quran disebutkan ‘cairan menjijikan’. Kemudian diproses dalam ‘inkubator kehidupan’ yang high tech. Dan pada saatnya, ditiupkanlah Ruh oleh Sang Pencipta. Subhanallah…
Saya lelaki usia 30 tahun, masih berusaha menjadi ayah yang baik. Masih terus mencoba memahami dan mengenali makhluk baru yang hadir di tengah-tengah kehidupan saya. Anak kita memang hadir karena proses keterlibatan kita. Tapi ia bukan milik kita seutuhnya. Jiwa mereka hidup dalam alam yang berbeda dengan kita. Mereka layaknya seperti Peterpan yang terus berkelana dan berlari meninggalkan kita. Dan saya terus terseok-seok mengejarnya. Jangan tinggalkan aku nak!, seolah aku memohon padanya. Saya masih meraba-raba ‘border’ yang memisahkan saya dan anak. Mencoba menggali memori masa lalu saya pribadi saat seusianya dan ternyata itu tidak mudah. Dan memang tidak akan bisa sama. Karena hidup dalam zaman yang berbeda.
Kesimpulan yang saya dapatkan sampai saat ini bahwa proses belajar untuk menjadi orang tua tidak akan pernah berhenti. Walaupun dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman namun itu tetap harus dilakukan. Sedinamis mungkin kita menggerakkan imajinasi kita. Bahwa mereka adalah amanah dari Allah SWT itu sudah pasti. Dan mereka mewarisi sifat turunan kita itu pun jelas. Namun apakah anak-anak kita kan menjadi teman nanti di taman firdaus kelak, itu yang belum tahu.
Cinta yang hadir dalam hati ini sudah saya bentangkan dengan karpet merah sampai ke gerbang firdaus sana. Entahlah nak, bisakah kita bertemu di sana kelak? semoga, Allahumma amien.
Ruwais; 11 rabiul Awal 1428 H


