Saya pernah merasakan aroma flat sesaat.
Anak-anak tangga yang menghantarkan kita kepda pintu-pintu yang sepi.
Ketika kita ketuk, ternyata ada kehidupan di sana. Saya paling senang
berlari-lari di anak tangga.
Merasakan betapa sepinya hidup di flat. Mereka seolah takut berada di
luar pintu.
Kenapa kamu tidak ketuki semua pintu dan mgucapkan salam, “Hei, anybody
home? Apakah ada orang Indonesia di dalam? Kalau ada, ayo, pada kumpul
di lapangan parkir. Ayo, kita menyanui lagu-lagu perjuangan.”
Jaya, kamu bawa nggak film-film pendekmu?
Kamu mesti berkorban dulu. Beli peralatan audio visual. Screen, LCD
(infocus).
Bikinlah liflet kegiatan. Minta ijin sama pemilik flat.
Puter ‘Rumah Pohon”, dll. Percayalah, harus ada yang berani memulai.
Dan ketika meulai, walau pun mereka banyak duit, udah kodrat manusia,
enggan mengeluarkan uang, jika merasa apakah itu ada manfaatnya bagi
kita. Sistem jual beli itulah yagn sebetulnya merusak kita. Nila-nilai
ekomoni sudah meracuni benak kita. Gue beli, lu kasih itu barang.
Sekarang, kamu berjuang sendirian.
Kalau anak istrimu dibawa, jadikan mereka para prajuritnya.
Seperti saat saya memulai Rumah Dunia, Tias, Bella dan Abi adalah bala
tentaranya yang tak kenal lelah.
Oke, tiupkan terompet peperangan di Ruwais.
Begitu juga di Malimping, di Kanada, di Mesir, di mana-mana…
Hidup Barcelonma, eh,Indonesia!
Tetapsemangat
gg


