Categorized | Surat

MENCARI INDONESIA DI RUWAIS

Posted on 15 November 2006 by goblog'er

MENCARI INDONESIA DI RUWAIS
Lawang Bagja;likeblueocean

Sebelum berangkat ke Ruwais saya banyak berdiskusi dengan Gola Gong.
Apakah kesempatan ini mesti saya ambil atau saya tetap statue on di
rumah Dunia. Pilihan yang sebenarnya untuk saya cukup sulit. Saya
menemukan Rumah Dunia sebagai tempat rehat yang mengisi ceruk batin
saya. Namun Gola Gong sang Traveller tetap memberikan semangat. “Lelaki
mesti keluar rumah. Hidup itu memang sulit. Saat kita mampu mengambil
keputusan di tengah situasi sulit maka kita sudah bisa memaknai hidup”,
Begitu kira-kira GG menasehati. Ya! saya memang harus keluar rumah
(Banten). Tentunya dengan segudang semangat menularkan nilai-nilai rumah
dunia ke tempat yang akan saya kunjungi nanti.

Ruwais kota asri di tengah gurun. Komunitas Indonesia yang tinggal di
Ruwais hampir 100 kepala keluarga. Jumlah anak-anaknya pun cukup banyak.
Kehidupan di Ruwais ‘terlalu’ stabil menurut saya. Hampir seperti
baseline. Bagaimana mereka bersosialisasi, beraktifitas, dll. Yang
paling menyentuh adalah saat saya mencoba mengenal bagaimana dunia
anak-anak Indonesia Ruwais. Mereka malaikat2 kecil yang lucu yang
‘terpenjara’ diantara flat-flat mewah. Menu yang mereka dapatkan adalah
play station dan tontonan film kartun yang didapat dari satelit hot bird
yang bisa dibeli dengan harga 250 an dirham saja. Kalau anak-anak
Indonesia yang tinggal di Kampung bisa merasakan ‘nakal’nya bermain
lumpur di pinggir sawah, main di rumah pohon, atau main bola sambil
hujan-hujanan dan masih banyak lagi aktifitas yang dapat membuat hidup
jiwa-jiwa mereka namun tidak untuk di Ruwais. Paling untuk saat ini.
Tidak ada buku yang menceritakan Indonesia. Buku yang mereka jumpai
adalah buku pelajaran
yang isinya berbahasa Inggris dan Perancis. Makannya tidak heran kalau
anak-anak di Ruwais akan terbata-bata jika diminta membaca tulisan
berbahasa Indonesia.

Begitulah, Ruwais Membaca memang perlu dihidupkan. Setidaknya itu
sebagai penyeimbang bahasa asing. Bukan bermaksud menolak kehadiran
bahasa asing akan tetapi kehidupan anak-anak Indonesia yang tinggal di
Ruwais hanya sementara. Mereka suatu hari akan kembali ke Indonesia dan
jangan sampai terjadi gap yang akan menghambat mereka meneruskan
pelajaran di Indonesia. Kita tentu senang anak kita bisa berbahasa asing
dengan fasih tetapi bahasa Ibu adalah utama. Budaya literasi inilah yang
patut mendapat sentuhan oleh para orang tua di Ruwais.

Membaca tulisan GG bahwa ia sudah berpoligami kembali di Citra Gading,
hati saya tentu cemburu. Saya tahu alasan GG membuka rumah buku baru
selain untuk merambah dunia baca ke tempat lain juga karena saya sudah
tidak di Rumah Dunia lagi, hehe. Tidak ada sparing partner untuk membuat
film lagi. Its a Joke! Saya memang teringat pesan GG untuk menularkan
budaya literasi ke anak-anak Indonesia di Ruwais. Saya tahu pekerjaan
itu tidak mudah. Anak-anak di sini mungkin sudah berbeda alam fikirannya
dengan anak-anak kita umumnya. Ini hanya sekedar asumsi. Dunia mereka
adalah dunia di atas awang-awang. Tidak menginjak bumi. Sulit meraih dan
menangkap mereka. Semua tersekat oleh bangunan besar yang pintunya
selalu tertutup rapat. Saya sendiri takut jika kelak anak saya dibawa
kemari mereka akhirnya akan menjadi tawanan baru.

Mencari Indonesia di Ruwais adalah semangat yang terus saya pompa ke
dalam pembuluh darah saya. setiap pagi dan petang saya berdiri sesaat
melihat bulatnya mentari dengan cahaya jingganya. Ia datang dan kembali
pergi. Seiring waktu yang tak pernah berhenti berputar. Sementara saya
masih terus mencari Indonesia di Ruwais. Saya merasa harus menyesuaikan
kolam baru yang saya selami. Seperti berjalan sendiri di tengah gurun.
Sepi. Tidak ada teman untuk ‘berbicara’. Mas, I need someone like you
areĀ  here!.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here